when i love you..
Layla tak pernah mengatakan suka secara langsung pada orang yang ia sukai. Dia tidak pernah mau mengatakan kalimat cinta dan sejenisnya terlebih dahulu.
Tapi bukan berarti dia tidak memiliki perasaan. Justru dia sangat perasa. Dia beberapa kali menyatakan pada dirinya sendiri bahwa dia suka pada seseorang tapi tidak pernah mau dia sampaikan. Paling mentok ya dia simpan orang itu dalam lagu.
Namun kali ini dia menyimpan seseorang bukan hanya dalam lagu, melainkan dalam lukisan, dalam mimpi dan dalam tempat yang mereka kunjungi. Yang kali ini Layla tegaskan pada dirinya bahwa rasanya ini lebih dari suka. Dia tidak tau ini termasuk cinta atau sayang. Yang kali ini satu level diatas suka.
Namun Layla tetaplah Layla. Walaupun kali ini lebih dari suka tapi dia tidak mau megatakan kalimat cinta terlebih dahulu. Selain gengsi dia juga takut bahwa ucapan cintanya ini terucap untuk orang yang salah.
Perasaannya belum tentu terbalas dan dia belum tau pasti mengenai hati seseorang yang ia suka untuk siapa. Lagipun hubungannya belum jelas.
Layla ingin hubungan mereka ada kemajuan namun dia takut akan kemajuan itu. Ini jelas membingungkan. Jika hubungan mereka sedikit ada kemajuan maka tentu saja Layla bisa mengatakan pernyataan cinta yang terbalas. Dan jika hubungan yang dikatakan maju itu berakhir maka rasanya akan berbeda dan itu yang Layla takutkan.
Atas dasar rasa takut itu maka untuk sekarang Layla memilih tidak usah ada kemajuan untuk hubungan mereka. Ini lebih baik daripada ungkapan cintanya terbalas lalu usai dan asing.
Tak ada ungkapan cinta yang ada hanya perhatian kecil yang saling keduanya berikan. Begini saja sudah lebih dari cukup.
Perhatian kecil yang Ezkiel berikan untuknya selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang hingga senyumnya sampai ke mata, dia seakan lupa jika beberapa menit lalu dia badmood sampai cemberut karena soal latihan yang sulit dia pecahkan.
Padahal hanya sebaris pesan yang berbunyi "La, sini ke kantin." Yang Layla jawab dengan satu kata "Iya."
Dan dengan begitu saja Layla melangkahkan kaki dengan riang sambil membawa kotak tupperware berwarna biru. Sampai di kantin dia langsung menemukan Ezkiel yang duduk di salah satu bangku kantin.
"Ada apa nih nyuruh kesini?." Tanpa disuruh Layla langsung duduk di hadapan Ezkiel yang memang kosong.
"Jus alpukat, kukis, dan nasi bakar." Ezkiel nenyebutkan makanan yang dibelinya dan disatukan di satu kresek.
"Buat gue?."
"Menurut Nona?."
Layla terkekeh menahan saltingnya. Dia berganti menyodorkan kotak tupperware yang dia bawa.
"Untuk Tuan Ezkiel yang udah desak-desakan buat beliin Nona makanan."
"Terimakasih Nona cantik."
Hanya dengan begitu saja keduanya sudah tertawa puas. Kemudian berhenti setelah tiga menit berlalu.
"Tau aja lagi pengen nasi bakar."
"Soalnya semalem ada yang badmood gara-gara nasinya di makan abangnya."
"Hehe, padahal semalem cuma cerita aja."
"Tapi ceritanya pakai emosi."
"Hehe."
"Ini kok sempet buat roti ginian sih?, apa gak capek?."
"Nggak sama sekali, semalem abis dari minimarket dan ternyata bahan buat rotinya ada semua."
"Ini enak banget, coklatnya lumer-lumer, mana kejunya banyak banget."
"Syukur deh kalau Tuan suka."
"Semua yang Nona buat Tuan akan selalu suka."
"Kalau Nona buat makanan gosong?."
"Kecuali makanan gosong."
Lagi, keduanya tertawa hanya karena panggilan Tuan-Nona. Yang kali ini lebih lama.
"Nanti malam jalan yuk?." Kata Ezkiel yang dengan entengnya berhasil bikin Layla yang sedang khidmat meminum jus alpukatnya terhenti.
"Tiba-tiba?."
"Kayaknya malam ini cuaca cerah deh."
"Mau jalan kemana?."
"Kasih tau nggak ya?."
"Kasih tau dong, nanti Nonamu ini salah kostum."
"Tuan kasih satu clue ya."
"Kayak tebak-tebakan."
"Jadi mau dikasih clue nggak?."
"Apa?."
"Paka baju kasual, pakai sendal atau sepatu yang nyaman, pakai jaket atau hoodie, terus bawa senyum yang lebar."
"Kasih clue yang bener dong."
"Ini bener Nonaku."
"Tuan jemput habis maghrib ya."
"Ini nggak diculik kan?."
"Iya."
"Iya?."
"Iya diculik, biar tersesat gabisa balik."
"Nggak jadi deh, mama pasti nggak izinin."
"Kata siapa."
"Beneran, orangtua mana coba yang izinin anaknya diculik."
"Mama kamu izinin."
"Ngarang."
Lantas Ezkiel mengeluarkan handphonenya, menunjukkan roomchatnya dengan Mama Layla. Merasa kurang percaya, lantas Layla merebut handphone itu kemudian membaca berkali-kali susunan kata dari bubble chat sebelah kiri.
"Boleh nak, tapi pulangnya jangan lewat jam sembilan." Layla bacakan bubble terakhir yang mama kirimkan kemudian melirik Ezkiel.
"Gimana?."
"Nanti aku pulang sekolah tanya mama."
"Nanti abis maghrib aku jemput."
Benar saja yang dikatakan Ezkiel. Laki-laki itu datang dengan motor maticnya tepat jam setengah tujuh. Laki-laki itu izin langsung ke Mama dan Papa.
Maka Layla tidak bisa menolak. Dia kini terduduk di boncengan Ezkiel. Dengan kecepatan sedang motor Ezkiel melaju. Menikmati tiap waktu yang terlewati dengan embusan angin yang menyertai senyumnya.
Dari spion sebelah kiri Ezkiel bisa melihat Layla yang juga tersenyum lebar.
"Apa lihat-lihat."
"Ih santai dong."
"Spionya buat lihat jalan Kiel."
"Spionya buat lihat bidadari Layla."
"Ih!, awas aja kalau meleng."
"Ih!, awas aja kalau salah fokus gara-gara lihat bidadari."
"Kiell!!."
"Laylaa!."
"Badmood deh."
"Halah badmood tai kuda, kalau mau senyum jangan ditahan."
Layla sontak memukul punggung Ezkiel denga entengnya. Ya gimana ya, udah dibuat salting masih aja dijahili.
Perjalanan mereka diisi dengan saling menjahili sampai mereka tiba di salah satu taman yang disampingnya dikelilingi sungai.
Setelah parkir motor mereka memutuskan untuk jajan di sekitar taman kemudian membawa jajanan yang mereka beli ke pinggiran sungai. Tenang saja, sungainya sedang surut, hanya ada sedikit genangan air dan lebih banyak bagian yang kering dihiasi kerikil.
Mereka duduk di kursi tepat di bagian pinggiran sambil membuka satu persatu jajanan yang sudah mereka beli. Memakannya sambil sedikit bercerita.
"Lay."
"Hng?."
"Pacaran yuk?."
Layla yang sedang berusaha menggigit sempolan sontak terhenti. Sempolan itu masih nyangkut di mulut. Sampai beberapa detik kemudian dia menguasai diri.
"Pindah yuk, tempatnya agak serem." Gerakan Layla yang hendak beranjak tertahan.
"Nggak, gua nggak apa-apa, tempatnya gak serem kok."
"..."
"Ini serius, ayo pacaran."
Perlu beberapa waktu untuk Layla berpikir. Jantungnya berdetak tak karuan, napasnya sedikit sesak.
"Serius?."
"Iya Layla."
"Perasaan kita sama kan?."
"M-mungkin."
"Iya, sama."
"Kenapa harus gua?."
"Karena yang gua mau cuma Lo."
"Banyak yang lebih cantik, lebih pintar dan lebih segalanya dari gua." Layla hanya perlu memastikan hal ini. Dia takut akan ditinggal setelah ada orang yang kiranya 'lebih' dari dia.
"Memang, tapi Lo tetap cantik, tetap pintar, tetap yang paling oke buat Gua, dan Gua nyaman sama Lo."
"Beneran nyaman?."
"Iya."
"Sama."
"Gua bisa bilang i love you duluan kalau Lo mau tau, dan kalau Lo duluan yang bilang pasti Gua balas."
"Tapi gimana kalau kita usai?."
"Gak akan."
"Bisa dipercaya?."
"Memang kenapa dengan usai?."
"Cuma takut kalau setelah ini usai terus kita asing dan semuanya berubah, buat gua itu rasanya hampa ketika rutinitas dan orang yang sering kita temui tiba-tiba hilang."
"Lay, dalam hubungan pasti harapan semua orang ya terus bareng-bareng, tapi di beberapa hubungan mungkin takdir maunya sebaliknya, tapi kalau semisal usai ya kita usai baik-baik."
"..."
"Dan semoga kita tidak termasuk ke beberapa orang itu."
"Takut..."
"Lay, kalau usai ya usai, kita ini masih remaja kalau kita memang bukan jodoh yaudah, mungkin emang takdir mau kasih kita sedikit pelajaran buat kedepannya."
"..."
"Katanya jodoh itu ditentukan Tuhan dari sebelum kita lahir, nanti kita berakhir dengan siapa dan bagaimana akhirnya kita belum tau.
"..."
"Tapi untuk sekarang kenapa nggak kita jalanin aja dulu, semisal usai ya kita usai baik-baik, dari usai itu kita ambil pelajaran."
Layla goyah dengan pendiriannya. Ketika kini rasanya terbalas dengan seimbang maka sesuatu yang ditakutkan terngiang. Namun mungkin dia bisa menuruti saran Ezkiel.
Dia tak akan tau akhirnya jika dia belum memulai.
"Jadi..mau nggak."
"Boleh."
"Boleh?."
"Iya mau."
Ezkiel tertawa pelan, nampak ceria dengan senyum yang sampai mata. Sedangkan Layla tersenyum dengan pipi merona.
"Mau dengerin playlist ini?." Ezkiel menunjukkan salah satu playlist musik yang dia beri judul '143L'.
"143L?."
"I love you Layla."
"Hng?."
"Artinya."
"Oh.., coba play musiknya."
Ezkiel memasang earphone sebelah kanannya pada telinga Layla lalu memutar playlist yang dia buat sejak lima bulan lalu.
Kemudian dengan begitu saja intro dari lagu Take A Chance With Me milik NIKI masuk dalam rungunya.
"Kenapa 143?."
"Karena I love you."
"Kiel..."
"I ada 1 huruf, love ada 4 huruf, dan you ada 3 huruf."
"Oh..."
"Lagu yang ada di playlist ini mewakili ungkapan yang nggak bisa Gua katakan."
"Kenapa?."
"Pasti Lo jijik kalau Gua ngungkapin apa yang Gua rasa kayak di lagu itu."
"Mungkin..."
"143 kayaknya nggak bakal cukup ngungkapin semuanya, makanya kita sama-sama dulu biar Gua bisa ngungkapin apa yang Gua rasa tanpa bilang I love you."
"Oke."
"Jadi Nonaku ini setuju?."
"Sangat setuju Tuanku."
when i love you..
Layla tak pernah mengatakan suka secara langsung pada orang yang ia sukai. Dia tidak pernah mau mengatakan kalimat cinta dan sejenisnya terlebih dahulu.
Tapi bukan berarti dia tidak memiliki perasaan. Justru dia sangat perasa. Dia beberapa kali menyatakan pada dirinya sendiri bahwa dia suka pada seseorang tapi tidak pernah mau dia sampaikan. Paling mentok ya dia simpan orang itu dalam lagu.
Namun kali ini dia menyimpan seseorang bukan hanya dalam lagu, melainkan dalam lukisan, dalam mimpi dan dalam tempat yang mereka kunjungi. Yang kali ini Layla tegaskan pada dirinya bahwa rasanya ini lebih dari suka. Dia tidak tau ini termasuk cinta atau sayang. Yang kali ini satu level diatas suka.
Namun Layla tetaplah Layla. Walaupun kali ini lebih dari suka tapi dia tidak mau megatakan kalimat cinta terlebih dahulu. Selain gengsi dia juga takut bahwa ucapan cintanya ini terucap untuk orang yang salah.
Perasaannya belum tentu terbalas dan dia belum tau pasti mengenai hati seseorang yang ia suka untuk siapa. Lagipun hubungannya belum jelas.
Layla ingin hubungan mereka ada kemajuan namun dia takut akan kemajuan itu. Ini jelas membingungkan. Jika hubungan mereka sedikit ada kemajuan maka tentu saja Layla bisa mengatakan pernyataan cinta yang terbalas. Dan jika hubungan yang dikatakan maju itu berakhir maka rasanya akan berbeda dan itu yang Layla takutkan.
Atas dasar rasa takut itu maka untuk sekarang Layla memilih tidak usah ada kemajuan untuk hubungan mereka. Ini lebih baik daripada ungkapan cintanya terbalas lalu usai dan asing.
Tak ada ungkapan cinta yang ada hanya perhatian kecil yang saling keduanya berikan. Begini saja sudah lebih dari cukup.
Perhatian kecil yang Ezkiel berikan untuknya selalu berhasil membuatnya mabuk kepayang hingga senyumnya sampai ke mata, dia seakan lupa jika beberapa menit lalu dia badmood sampai cemberut karena soal latihan yang sulit dia pecahkan.
Padahal hanya sebaris pesan yang berbunyi "La, sini ke kantin." Yang Layla jawab dengan satu kata "Iya."
Dan dengan begitu saja Layla melangkahkan kaki dengan riang sambil membawa kotak tupperware berwarna biru. Sampai di kantin dia langsung menemukan Ezkiel yang duduk di salah satu bangku kantin.
"Ada apa nih nyuruh kesini?." Tanpa disuruh Layla langsung duduk di hadapan Ezkiel yang memang kosong.
"Jus alpukat, kukis, dan nasi bakar." Ezkiel nenyebutkan makanan yang dibelinya dan disatukan di satu kresek.
"Buat gue?."
"Menurut Nona?."
Layla terkekeh menahan saltingnya. Dia berganti menyodorkan kotak tupperware yang dia bawa.
"Untuk Tuan Ezkiel yang udah desak-desakan buat beliin Nona makanan."
"Terimakasih Nona cantik."
Hanya dengan begitu saja keduanya sudah tertawa puas. Kemudian berhenti setelah tiga menit berlalu.
"Tau aja lagi pengen nasi bakar."
"Soalnya semalem ada yang badmood gara-gara nasinya di makan abangnya."
"Hehe, padahal semalem cuma cerita aja."
"Tapi ceritanya pakai emosi."
"Hehe."
"Ini kok sempet buat roti ginian sih?, apa gak capek?."
"Nggak sama sekali, semalem abis dari minimarket dan ternyata bahan buat rotinya ada semua."
"Ini enak banget, coklatnya lumer-lumer, mana kejunya banyak banget."
"Syukur deh kalau Tuan suka."
"Semua yang Nona buat Tuan akan selalu suka."
"Kalau Nona buat makanan gosong?."
"Kecuali makanan gosong."
Lagi, keduanya tertawa hanya karena panggilan Tuan-Nona. Yang kali ini lebih lama.
"Nanti malam jalan yuk?." Kata Ezkiel yang dengan entengnya berhasil bikin Layla yang sedang khidmat meminum jus alpukatnya terhenti.
"Tiba-tiba?."
"Kayaknya malam ini cuaca cerah deh."
"Mau jalan kemana?."
"Kasih tau nggak ya?."
"Kasih tau dong, nanti Nonamu ini salah kostum."
"Tuan kasih satu clue ya."
"Kayak tebak-tebakan."
"Jadi mau dikasih clue nggak?."
"Apa?."
"Paka baju kasual, pakai sendal atau sepatu yang nyaman, pakai jaket atau hoodie, terus bawa senyum yang lebar."
"Kasih clue yang bener dong."
"Ini bener Nonaku."
"Tuan jemput habis maghrib ya."
"Ini nggak diculik kan?."
"Iya."
"Iya?."
"Iya diculik, biar tersesat gabisa balik."
"Nggak jadi deh, mama pasti nggak izinin."
"Kata siapa."
"Beneran, orangtua mana coba yang izinin anaknya diculik."
"Mama kamu izinin."
"Ngarang."
Lantas Ezkiel mengeluarkan handphonenya, menunjukkan roomchatnya dengan Mama Layla. Merasa kurang percaya, lantas Layla merebut handphone itu kemudian membaca berkali-kali susunan kata dari bubble chat sebelah kiri.
"Boleh nak, tapi pulangnya jangan lewat jam sembilan." Layla bacakan bubble terakhir yang mama kirimkan kemudian melirik Ezkiel.
"Gimana?."
"Nanti aku pulang sekolah tanya mama."
"Nanti abis maghrib aku jemput."
Benar saja yang dikatakan Ezkiel. Laki-laki itu datang dengan motor maticnya tepat jam setengah tujuh. Laki-laki itu izin langsung ke Mama dan Papa.
Maka Layla tidak bisa menolak. Dia kini terduduk di boncengan Ezkiel. Dengan kecepatan sedang motor Ezkiel melaju. Menikmati tiap waktu yang terlewati dengan embusan angin yang menyertai senyumnya.
Dari spion sebelah kiri Ezkiel bisa melihat Layla yang juga tersenyum lebar.
"Apa lihat-lihat."
"Ih santai dong."
"Spionya buat lihat jalan Kiel."
"Spionya buat lihat bidadari Layla."
"Ih!, awas aja kalau meleng."
"Ih!, awas aja kalau salah fokus gara-gara lihat bidadari."
"Kiell!!."
"Laylaa!."
"Badmood deh."
"Halah badmood tai kuda, kalau mau senyum jangan ditahan."
Layla sontak memukul punggung Ezkiel denga entengnya. Ya gimana ya, udah dibuat salting masih aja dijahili.
Perjalanan mereka diisi dengan saling menjahili sampai mereka tiba di salah satu taman yang disampingnya dikelilingi sungai.
Setelah parkir motor mereka memutuskan untuk jajan di sekitar taman kemudian membawa jajanan yang mereka beli ke pinggiran sungai. Tenang saja, sungainya sedang surut, hanya ada sedikit genangan air dan lebih banyak bagian yang kering dihiasi kerikil.
Mereka duduk di kursi tepat di bagian pinggiran sambil membuka satu persatu jajanan yang sudah mereka beli. Memakannya sambil sedikit bercerita.
"Lay."
"Hng?."
"Pacaran yuk?."
Layla yang sedang berusaha menggigit sempolan sontak terhenti. Sempolan itu masih nyangkut di mulut. Sampai beberapa detik kemudian dia menguasai diri.
"Pindah yuk, tempatnya agak serem." Gerakan Layla yang hendak beranjak tertahan.
"Nggak, gua nggak apa-apa, tempatnya gak serem kok."
"..."
"Ini serius, ayo pacaran."
Perlu beberapa waktu untuk Layla berpikir. Jantungnya berdetak tak karuan, napasnya sedikit sesak.
"Serius?."
"Iya Layla."
"Perasaan kita sama kan?."
"M-mungkin."
"Iya, sama."
"Kenapa harus gua?."
"Karena yang gua mau cuma Lo."
"Banyak yang lebih cantik, lebih pintar dan lebih segalanya dari gua." Layla hanya perlu memastikan hal ini. Dia takut akan ditinggal setelah ada orang yang kiranya 'lebih' dari dia.
"Memang, tapi Lo tetap cantik, tetap pintar, tetap yang paling oke buat Gua, dan Gua nyaman sama Lo."
"Beneran nyaman?."
"Iya."
"Sama."
"Gua bisa bilang i love you duluan kalau Lo mau tau, dan kalau Lo duluan yang bilang pasti Gua balas."
"Tapi gimana kalau kita usai?."
"Gak akan."
"Bisa dipercaya?."
"Memang kenapa dengan usai?."
"Cuma takut kalau setelah ini usai terus kita asing dan semuanya berubah, buat gua itu rasanya hampa ketika rutinitas dan orang yang sering kita temui tiba-tiba hilang."
"Lay, dalam hubungan pasti harapan semua orang ya terus bareng-bareng, tapi di beberapa hubungan mungkin takdir maunya sebaliknya, tapi kalau semisal usai ya kita usai baik-baik."
"..."
"Dan semoga kita tidak termasuk ke beberapa orang itu."
"Takut..."
"Lay, kalau usai ya usai, kita ini masih remaja kalau kita memang bukan jodoh yaudah, mungkin emang takdir mau kasih kita sedikit pelajaran buat kedepannya."
"..."
"Katanya jodoh itu ditentukan Tuhan dari sebelum kita lahir, nanti kita berakhir dengan siapa dan bagaimana akhirnya kita belum tau.
"..."
"Tapi untuk sekarang kenapa nggak kita jalanin aja dulu, semisal usai ya kita usai baik-baik, dari usai itu kita ambil pelajaran."
Layla goyah dengan pendiriannya. Ketika kini rasanya terbalas dengan seimbang maka sesuatu yang ditakutkan terngiang. Namun mungkin dia bisa menuruti saran Ezkiel.
Dia tak akan tau akhirnya jika dia belum memulai.
"Jadi..mau nggak."
"Boleh."
"Boleh?."
"Iya mau."
Ezkiel tertawa pelan, nampak ceria dengan senyum yang sampai mata. Sedangkan Layla tersenyum dengan pipi merona.
"Mau dengerin playlist ini?." Ezkiel menunjukkan salah satu playlist musik yang dia beri judul '143L'.
"143L?."
"I love you Layla."
"Hng?."
"Artinya."
"Oh.., coba play musiknya."
Ezkiel memasang earphone sebelah kanannya pada telinga Layla lalu memutar playlist yang dia buat sejak lima bulan lalu.
Kemudian dengan begitu saja intro dari lagu Take A Chance With Me milik NIKI masuk dalam rungunya.
"Kenapa 143?."
"Karena I love you."
"Kiel..."
"I ada 1 huruf, love ada 4 huruf, dan you ada 3 huruf."
"Oh..."
"Lagu yang ada di playlist ini mewakili ungkapan yang nggak bisa Gua katakan."
"Kenapa?."
"Pasti Lo jijik kalau Gua ngungkapin apa yang Gua rasa kayak di lagu itu."
"Mungkin..."
"143 kayaknya nggak bakal cukup ngungkapin semuanya, makanya kita sama-sama dulu biar Gua bisa ngungkapin apa yang Gua rasa tanpa bilang I love you."
"Oke."
"Jadi Nonaku ini setuju?."
"Sangat setuju Tuanku."