Secangkir Darjeeling Di Sore Hari
March, 1,2023
Kala itu, senja terlihat cerah dengan awan yang sedikit berger unggul. Aku duduk tepat di bangku berada di lantai dua dengan Grandma, memandangi semburat mentari berwarna kuning bergradasi oranye cerah. Tepat di sebelah bangku yang kududuki, berdiri meja kecil berwarna putih gading yang diatasnya terdapat dua cangkir dan sebuah poci antik n salah satu barang yang di simpan lama oleh keluargaku, barang yang dibeli dari negeri kincir angin nan jauh di sana, pada zaman Belanda masih ke jajah Indonesia.
Tiga ekor burung bertengger tepat di susutab tangan. Grandma mulai menuangkan teh hingga penuh ke mulut cangkir milikku, menghasilkan uap panas yang halus, mengudara ke atas kanopi berwarna hitam. Aku mengangkat salah satu cangkir dan mulai menyesapinya. Mataku berbinar setelah menyesapi sedikit teh tersebut. "Darjeeling teh ini segara sekali, Grandma!"
Grandma yang sedang menuangkan teh di cangkir miliknya menatapku sambil tersenyum. "Oh tentu saja. Itu teh yang Grandma pesan khusus."
Aku tertawa lebar. "Masih sih? Seperti nya aku tidak percaya." Dan kamu berdua tergelak tawa.
Saat tawa kamu mereda, Grandma menghela nafasnya sambil meletakkan cangkir nya di meja. Beliau menatapi mentari sore yang berbentuk bundar, tampak jelas terlihat dari tempat kami berada. "Apa kamu tau Ra? Jenis teh yang kamu minum adalah jenis first flush yang di petiknya setelah hujan pada saat musim semi. Jenis yang lainnya adalah second flush dan autumnal flush. Waktu pemetikan nya adalah Bulan Juni dan satu lagi di petiknya saat musim gugur setelah musim hujan. Mungkin seumur hidup Grandma baru minum teh yang musim semi ini." Grandma tersenyum, menatap kedua netraku yang tampak antusias.
"Darjeeling teh ini berasal dari daratan Darjeeling, di Benggala India. Perusahaan yang mengolahnya didirikan pada tahun 1859 oleh Girish Chandra Banerjee..."
"Berarti udah lama sekali ya Grandma? Mungkin pada saat pemerintahan Kolonial Inggris masih menjajah India." Aku menyeletuk.
Grandma hanya mengangguk. "Darjeeling teh mendapat julukan 'The Champagne Of Teas'. Khasiat yang di kandungannya amat banyak, bisa meningkatkan konsentrasi, menurunkan berat badan, dan bisa juga menurunkan stress ketika sedang patah hati." Grandma melirikku jahil.
Aku melotot dan tersipu malu. Grandma terkekeh pelan melihat muka cemberutku. "Belajar dulu, Ra. Urusan cinta nanti saja. Kalau masalah cinta, Tuhan pasti yang akan mengatur dan menentukan nya. Untuk sekarang, belajarlah. Tambah terus pengetahuanmu. Gali terus ilmu-ilmu." Setelah Grandma berkata seperti itu, aku menundukkan kepalaku.
"Grandma aku ingin bertanya. Saat ini, Grandma hampir dikenal oleh satu kota ini. Bagaimana bisa? Apa karena pengetahuan Grandma yang begitu luas?"
Beliau terdiam mencerna pertanyaan polosku. Setelah beberapa detik berselang, Grandma mengenal nafas. "Maukah kamu mendengarkan Grandma?"
Tentu saja aku mengangguk. Aku adalah pendengar setia segala kisah luar biasa beliau. Wanita berumur 67 tahun itu kembali tersenyum lembut dan menuangkan teh lagi ke dalam cangkir kosongku. "Ada satu poin penting yang harus kamu miliki dalam hidupmu, mungkin pengetahuan yang amat luas itupun nomor dua. Apa kamu tahu, Ra?"
Aku mulai berfikir. Yang harus dimiliki dalam hidup? Apa itu?
Setelah lama berfikir, kedua mataku membesar, tahu jawaban atas pertanyaan Grandma. "Jawabannya adalah adab kan?"
"Benar! Poin yang paling penting dalam hidup adalah sebuah adan dan akhlak. Tiasa harga seorang manusia yang memiliki kecerdasan dan prestasi luar biasa, tanoa sebuah adab." Grandma menatap mentari yang mulai tenggelam di kaki barat. "Kita ambil contoh, seorang koruptor. Apakah para koruptor adalah orang-orang yang bodoh?"
Aku menggeleng. "Tidak, aku yakin mereka orang yang pintar."
"Itulah orang pintar yang tidak memiliki harga. Apakah kau ingin minta contoh lagi?"
Aku mengangguk pelan.
Grandma memejamkan mata. "Tahun lalu, ada seorang warga negara kita melakukan hal yang sangat, sangat, dan sangat tidak berperikemanusiaan. Kamu tahu kan? Grandma tak perlu menjelaskan lebih lanjut." Grandma tertawa, dan menegak secangkir teh karena tenggorokan nya kering.
Aku memutarkan bola mataku. "Aku tahu, Grandma. Bahkan orang itu bisa kuliah hingga ke tanah Ratu Elizabeth. Apakah dia tidak memiliki moral? Rasanya hal itu tidak akan pernah dilakukan oleh manusia yang memiliki moral."
Senyum getir terukir di wajah Grandma. "Kamu benar, Ra. Padahal ia bisa sekolah jauh ke tanah Eropa disNa. Tapi mengapa dia bisa begitu? Karena dia tidak memiliki sebuah adan dan akhlak. Mau setinggi dan sejauh apapun kamu bersekolah, adab tetaplah nomor satu. Jangan pernah meremehkan satu ini, walau sepele, ini sangat berpengaruh dalam kehidupanmu hingga tutup usia."
Grandma beranjak dari kursinya, memegang susutab tangan sembari menatap nanar matahari yang sudah menghilang, ia memejamkan matanya. Aku juga beranjak dari kursi dan berdiri di sebelah Grandma, sama-sama menyaksikan raibnya mentari di horizon barat.
"Bersekolah setinggi mungkin ya, Ra. Jadilah manusia yang memili Budi pekerti baik dan berpengetahuan yang luas. Jangan pernah sekalipun kamu melenceng dari jalan kebaikan, menjauh dari ajaran agama. Ingat nasehan Grandma baik-baik, sampaikan gak ini pada anak cucumu hingga 10 sampai 40 tahun mendatang. Kenapa? Karena... Semakin lama dunia akan semakin jahat melebihi kejahatan dunia yang di lalui Grandma dahulu. Grandma ingin, jika generasi mendatang sudah banyak yang ternodai oleh kejahatan itu, kuharap masih ada secerah harapan untuk meneranginya dengan cahaya kebaikan, seterang bahaya sore hangat yang menerpa kita ini. Apa kamu paham, Ra?"
Detik itu, aku seperti tersihir dengan nasehat Grandma yang penuh kehangatan, dan terus mengiang di kepalaku. Sungguh, jika kalian berada di sini, kalian akan merasakan nasehat nya sangat menggetarkan seluruh jiwa dan raga. Kalimat-kalimatnya penuh dengan harapan, agar seluruh pemuda pemudi bangsa di masa depan senantiasa menjadi penerus bangsa yang berbudi luhur dan mengharumkan nama tanah air tercinta.
Aku mengangguk dan memeluk Grandmaku tersayang ini. Dan ekor mataku, terselip sebuah air mata kebahagiaan, bahagia oleh segala hal yang terjadi si sore penuh keberkahan ini. "Terimakasih atas nasehat yang amat indah ini. Aku akan berusaha menjadi perempuan generasi penerus bangsa yang baik. Ra janji akan menyanyikan nasehat ini pada anak cucu Ra nanti. I love you, my dear Grandma."