Selimut putih mendekap erat tubuhku yang dingin. Alunan tempo angin yang berhembus halus membuatku meringkuk di atas gumpalan kapuk. Kuhitung, sudah lebih dari 2 pekan hujan mengguyur kota Jakarta. Sudah lebih dari 2 pekan pula aku tak menghirup deru nafas perkotaan yang terasa sesak. Ramalan cuaca tak ada bedanya di setiap waktu, apakah tuhan marah?. Mungkin saja tidak. Aku pun tak tau.
Aku beranjak pelan. Dengan rasa kantuk yang mengikat mata. Kulihat laptop putih di atas meja itu. Penuh dengan pekerjaan yang sama sekali belum kusentuh. Bekerja sebagai budak korporat memang cita-citaku. Namun hujan ini tak hanya membawa dingin. Mereka membawa sepi. Dua pekan lebih aku tak berbicara. Bibir ku seakan kehilangan tugasnya. Hujan yang deras ini mematikan jantung kehidupan kota.
"Tok tok tok "
Suara ketukan di jendela kaca terdengar begitu jelas di telinga ku. Mata ku melirik. Menatap korden putih itu lamat-lamat.
"Tok tok tok"
Suara itu timbul dari balik suara hujan. Aku penasaran. Aku beranjak lagi. Kusibakkan korden itu, cahaya semu mentari terasa hampa saat menyentuh kulitku. Namun bukan itu yang kumaksud. Kedua netra ini terpaku pada secarik kertas basah yang menempel di kaca buram.
"Apakah kau mau menjadi teman ku?"
Itu yang kubaca. Aku masih sadar. Aku tinggal di lantai 8. Bagaimana mungkin?. Aku menghela nafas panjang. Berpikir panjang.
"Ya."
Akhirnya bibirku mendapati tugasnya kembali. Mataku terpejam. Kilatan petir membuat netraku tertutup. Kudapati kertas itu sirna. Hanya bangunan tinggi yang kulihat. Apa itu. Apakah aku mulai gila dengan semua kesunyian ini?. Entahlah. Aku tak tau.
Detik demi detik telah kulalui. Hujan itu tak berangsur reda. Suara deru mesin mobil sama sekali tak ku dengar. Hanya beberapa. Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Namun ruanganku sama sekali tak berbeda. Aku beranjak dari bangku itu. Punggungku mati rasa. Kulihat korden itu lagi. Aku masih penasaran. Kubuka korden itu untuk ke dua kalinya. Namun sepertinya apa yang kulihat hanyalah halusinasi.
Aku hanya melihat tetesan air di kegelapan malam. Bahkan lampu kota tertutupi oleh kabut dingin. Helaan nafas kulakukan kembali. Hidup hanya sekedar menunggu hari. Tak ada kata lain kecuali jenuh.
"Tok tok tok."
Suara itu terdengar kembali. Cepat-cepat ku buka korden itu dengan kasar. Benar saja.
Kertas itu kembali ku lihat jelas. Kedua netra ku terpaku.
"Terimakasih karena telah menjadi teman ku. Dari teman mu hujan."
Itu yang kubaca. Aku tak paham. Namun entah mengapa. Aku merasa senang. Tanpa kusadari. Guratan senyuman timbul di wajahku. Sudah lama aku tak merasakan perasaan ini. Mungkin semenjak hujan mengurungku di tempat ini.
Tiga hari berlalu begitu cepat. Hujan yang begitu deras masih mengguyur dunia ini. Tak bosan. Tak pula lelah. Entah siapa yang terus menerus mengirimkan awan kelabu itu. Tiga hari itu pula. Hujan terus mengirimkan surat-suratnya.
Terkadang ia menanyakan bagaimana keadaan ku. Terkadang pula ia berkisah tentang dirinya. Aku merasa ramai di tengah kesunyian ini. Aku merasa memiliki seorang teman. Walaupun sebenarnya aku tak tau siapa temanku.
Hujan pada pukul 3 lebih deras daripada sebelumnya. Angin menerpa kencang. Memecah apapun yang ia lewati. Terdengar suara riuh dari luar. Sepertinya akan ada bangunan yang roboh. Dan apa yang ku nantikan benar-benar terjadi. Listrik padam membutakan mata ku. Gelap ruangan itu. Di selingi udara dingin yang merobek kulit. Aku tak tahan. Ku sibakkan selimut dingin itu ke tubuhku yang kaku.
Aku meringkuk tak kuasa. Menahan dingin yang semakin menjadi. "Tok tok tok" Suara itu terdengar lagi untuk ke sekian kalinya. Aku terbangun. Kuberdiri, lalu melangkah gontai menuju korden itu. Saat kusibakkan korden itu, netraku tak bisa lagi melihat pemandangan kota.
Hanya ada kabut tebal yang menutupi pandangan ku.
Kutatap kertas basah yang menempel di jendela kaca itu. Aku tak terkejut lagi.
"Mau kah kau bermain dengan ku di luar?" Kubaca dengan nada yang lirih. Salivaku tertelan dengan kasar. Nafasku menderu. Keringat dingin mengucur deras dari balik pori-pori tubuhku. Aku berjalan mundur dengan gugup. Mataku terus terpaku pada goresan tinta merah di kertas itu.
Aku tak sadarkan diri..
Aku terbangun. Dengan nafas yang memburu. Jantung ku terpacu. Cepat-cepat ku buka korden itu dengan kasar. Aku terpaku. Tubuhku tak bisa bergerak.
"Ayo... Kita bermain di luar" Aku melihatnya lagi. Itu bukanlah mimpi.
Aku tak tau apa yang harus kulakukan. Kubuka jendela itu. Bahkan aku belum pernah membuka jendela itu semenjak aku tinggal di sini. Tamparan angin Langung kurasakan. Kulitku terkoyak oleh dingin. Hangat sama sekali tak kurasakan. "Ayo... Bermain dengan ku." Indera pendengaran ku benar-benar mendengar suara itu dengan teramat jelas. Hujan membisikkan kata-katanya kepadaku. Aku menatap kosong. Berpikir apa yang akan kulakukan selanjutnya.
"Ayo... Bermain denganku." Aku mendengarnya lagi. Aku menghela nafas panjang. Berpikir jernih di keadaan yang keruh ini. Aku memanjat bibir jendela itu. Kurasakan rintik hujan begitu dingin. Namun, tanpaku sadari, senyuman timbul di wajahku yang kaku. Baru kali ini aku merasakan apa yang mereka sebut dengan 'Kesenangan'. Aku begitu gembira. Aku merasa bebas. Saat tubuh ku tak berada di kendaliku. Aku melompat. Kurasakan tubuhku benar-benar bebas. Angin menerpa wajahku dengan kencang. Rasa lelah ku benar-benar menghilang.
Hingga kurasakan tulang-tulang ku remuk. Hantaman keras itu membangunkanku dari tidur yang panjang. Nafasku memburu. Jantungku kembali terpacu. Netraku menatap tajam jam dinding itu. Kulihat masih pukul 3. Aku kembali beranjak. Masuk ke dalam kamar mandi. Lalu meneguk sisa opium semalam.