Happy Reading
"Aku menunggumu di apartemenmu,"ucap Gulf melalui sambungan telfon kepada managernya
Gulf dengan segala kemarahannya, duduk di sofa sambil menonton tv yang mati. Tangannya terkepal menahan marah.
Tak berapa lama sang manager pulang, dengan perlahan masuk menghampiri Gulf, dia tau jika Gulf sudah bertingkah konyol pasti karena sesuatu mengganggunya. Pastinya karena gosip yang sedang tersebar.
"Apa maumu Mew Suppasit?"tanya Gulf dengan nada dingin bahkan tanpa menoleh kearah managernya
"Apa maksudmu?"tanya Mew bingung
"Aku melihat berita, kamu pergi berkencan dengan Art, dibelakangku,"ucap Gulf
"Aku hanya mengantarnya ke lokasi syuting, tidak lebih,"jelas Mew
"Apa harus kamu yang mengantarnya? Kemana managernya? Atau kamu masih ada perasaan sama Art?"cecar Gulf
"Jangan konyol Gulf,"ucap Mew
"Aku konyol? Ckckck,"ucap Gulf dengan nada angkuh, segera beranjak dari sofa nya, Gulf berjalan melewati Mew begitu saja
"Tunggu, kamu mau kemana?"tanya Mew sambil menahan tangan Gulf
"Lepas!"ucap Gulf tanpa menoleh ke arah Mew
"Aku tidak akan melepasmu, demi Tuhan Gulf, ini hampir pagi, aku tidak ingin kamu berkeliaran dijalan dijam segini,"pinta Mew
"Apa pedulimu? Peduli saja pada Art mu,"tegas Gulf
"Ayolah sayang, kamu hanya cemburu, masuklah kekamarku, aku akan tidur disofa malam ini,"pinta Mew
"Tidak akan Mew,"tolak Gulf
Dengan segera, Mew mengangkat tubuh Gulf untuk dibawa kekamarnya, meskipun ada sedikit pemberontakan dari Gulf, namun tak ada artinya bagi Mew.
"Aku ingin kamu tetap disini, kita bicarakan setelah kamu istirahat,"perintah Mew begitu merebahkan Gulf di kasurnya, tak lama Mew keluar dari kamar untuk merebahkan badannya di sofa depan tv.
Gulf tidak menolak lagi, nyatanya memang dia sangat lelah, sudah seminggu jadwal syutingnya semakin padat, bahkan untuk sekedar tidur saja, Gulf cuma bisa beberapa jam saja. Membuka pesan yg Art kirimkan, membuat amarahnya semakin menjadi. Pasalnya Art mengirim pesan gambar, dia dan Mew sedang berciuman. Gulf bertekat akan membalas perlakuan Art padanya.
Drrttt drttt
"Hallo,"sapa Gulf kepada orang di seberang telfon
"Halo Gulf, apakah kamu menerima tawaranku untuk casting? Aku merasa peran itu paling cocok untukmu,"tawar seseorang di seberang telfon
"Tapi bukannya film terbaru phi mame sudah ada cast nya ya?"tanya Gulf berusaha mengingat
"Ah memang, tapi kami belum tanda tangan kontrak, aku masih berharap bisa bekerja sama denganmu lagi Gulf, kamu bisa baca naskahnya dulu, jika kamu suka, kamu bisa casting, gimana?"bujuk phi mame, si penulis film
"Siapa cast yang terpilih phi?"tanya Gulf
"Art,"jawab phi Mame, mendengar itu, Gulf menyunggingkan senyum liciknya
"Baiklah phi, kirimkan naskahnya padaku, langsung padaku ya,"pinta Gulf
"Baiklah Gulf,"jelas phi Mame dan mematikan telfonnya
........
Gulf masih mempertimbangkan mengenai tawaran phi Mame padanya, jujur saja semua karya phi Mame tidak pernah gagal. Namun jika harus merebut peran dari orang lain, nampaknya Gulf harus benar-benar memikirkannya lagi.
Hari ini, dia menuju ke lokasi pemotretan untuk sebuah brand, tentu saja ditemani Mew sang manager.
"Apa kau sudah makan?"tanya Mew sambil merapikan baju Gulf yang ada dimobil.
"Eum,"gumam Gulf yang masih merasa kesal karena gosip yang dibuat Mew, membuat Mew menolehkan pandangannya pada Gulf.
"Kau masih marah padaku?"tanya Mew.
"Apa untungnya bagiku?" ucap Gulf sekenanya.
"Lalu? Katakan padaku apa yang salah?"pinta Mew, dia sangat tau kekasihnya itu masih kesal, dia berusaha membujuknya sekarang.
"Jangan mengganggu, jika sudah sampai, bangunkan aku,"pintar Gulf yang masih memejamkan matanya.
"Baiklah, kau bisa istirahat, "ucap Mew mengalah.
Sesampainya di lokasi pemotretan, Gulf segera mengganti bajunya, lalu dia memulai sesi pemotretannya. Namun daritadi dia tidak fokus, dia masih mencari keberadaan kekasihnya. Bahkan beberapa kali fotografer berusaha membuatnya fokus, namun dia tetap tidak fokus.
"Istirahat 5 menit phi,"pintar Gulf pada fotografer.
"Baiklah, setelah ini kuharap kau bisa fokus,"ucap sang fotografer memperingatkan Gulf.
"Baiklah phi,"ucap Gulf lalu segera pergi mencari Mew.
Gulf sedikit kelabakan mencari Mew. Namun dia tidak menyerah begitu saja. Sampailah dia di ruang make up yang paling ujung, samar-samar dia mendengar ada suara Mew didalam.
Lalu dia memutuskan untuk mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka, alangkah kagetnya dia melihat sesuatu yang ada didalam ruangan.
"Mew,"ucap Gulf lirih, sambil membekap mulutnya, didalam sana, dia melihat kekasihnya berpelukan dengan orang lain, terutama itu Art. Sementara Art yang menghadap padanya melihat Gulf dan semakin mengeratkan pelukannya pada Mew, tak lupa dia menyunggingkan senyum liciknya.
Gulf tidak tahan melihatnya dan segera pergi dari sana. Dia tidak dalam mood yang baik setelah melihat kejadian baru saja. Namun yang bisa dilakukan hanya menyelesaikan pekerjaannya, dan segera pulang.
Satu jam kemudian, Gulf sudah selesai melakukan pemotretan, dan dia memutuskan untuk pulang. Sesampainya dirumah, Gulf yang berasal kesal hanya mengurung diri dikamar, tidak ada yang berani mengganggunya, bahkan Mew sekalipun.
Lalu dia melirik satu naskah yang ada diatas meja, bersama tumpukan naskah lain. Gulf sudah memutuskan untuk menerima peran dari phi Mame, tanpa membaca naskahnya terlebih dahulu.
....
Beberapa hari setelahnya, Gulf berangkat ke lokasi syuting film phi Mame, Gulf berangkat sendirian, berjalan dengan santainya menghampiri phi Mame.
"Hai phi, apa aku terlambat?"tanya Gulf ke phi Mame
"Tidak Gulf, kami sedang bersiap, kamu bisa keruang make up untuk persiapan,"jelas phi Mame
"Gulf? Untuk apa kamu disini?"tanya Art ditemani Mew yang juga merasa heran dengan keberadaan Gulf di lokasi syuting
"Aku pergi dulu phi,"ucap Gulf tak memperdulikan Art dan Mew dan segera berlalu pergi ke ruang make up
"Phi Mame, jelaskan padaku,"pinta Art
"Maaf Art, Gulf menjadi pemeran utama film ini, kamu akan menjadi pemeran pendukung,"jelas phi Mame
"Tapi aku casting untuk mendapatkan pemeran utama phi,"sanggah Art
"Gulf lebih cocok untuk peran utamanya Art, kamu bisa bersiap juga, kita akan mulai syuting sejam lagi,"jelas phi Mame tegas, membuat Art menggenggam erat handphone nya, merasa kesal dengan Gulf karena mengambil perannya
Mew lantas segera pergi ke ruang make up untuk menghampiri Gulf. Dia melihat Gulf sedang duduk didepan cermin, tanpa menatap Mew yang baru datang.
"Apa yang kamu lakukan Gulf?"tanya Mew pada Gulf.
"Aku sedang bekerja, apa kamu tidak lihat?"tanya Gulf dengan nada mengejek.
"Kenapa aku tidak tau mengenai pekerjaanmu ini?"tanya Mew.
"Itu juga yang ingin kutanyakan, siapa artismu? Sampai kamu tidak tau pekerjaan ini,"tanya Gulf balik sambil memutar kursinya menatap Mew santai.
"Kamu tidak mendiskusikan apapun padaku, aku masih managermu Gulf, juga kekasihmu,"ucap Mew.
"Oh kupikir kamu manager dan kekasih Art sekarang, karena aku pergi kemanapun hanya sendiri, kemana manager dan kekasihku yang kau maksud?"tanya Gulf sembari berdiri menatap tajam pada Mew, membuat Mew tidak berkutik.
"Kamu bisa mengakhiri ini denganku, aku tidak membutuhkan orang sepertimu,"tegas Gulf sambil kembali duduk.
"Oh ayolah Gulf, kamu gak akan bisa tanpaku, aku yang menjagamu selama ini, aku yang tahan dengan sikap keras kepalamu, dan cuma aku yang bisa membantu traumamu,"ucap Mew, membuat Gulf mematung mendengarnya, Gulf melupakan perihal traumanya, bertahun-tahun berada di dekat Mew membuatnya bisa melupakan traumanya.
Gulf Kanawut, seorang artis yang pernah menjadi korban pemerkosaan dari seorang CEO sebuah rumah produksi saat dia mulai memulai karirnya, hidupnya hancur setelah itu, bahkan dia tak bisa mendapat sentuhan fisik dari siapapun. Dan Mew tiba-tiba datang kedalam hidupnya, menjadi managernya, membantunya menata ulang kehidupannya, mulai memasuki industri ini lagi, dan mulai membuat Gulf yakin, bahwa tidak semua orang itu jahat. Mew selalu membantunya menghilangkan trauma nya, hingga perlahan Gulf membuka hatinya untuk menerima cinta Mew, dan menjadi kekasih Mew, hanya saja mereka tidak pernah mengumumkan mengenai hubungan mereka ke publik.
"Keluar dari sini,"tegas Gulf terlihat santai didepan Mew
"Aku tidak akan pergi,"ucap Mew, dia tau benar Gulf akan mengingat traumanya lagi jika Mew pergi, namun Mew tetap keluar dari ruang make up Gulf.
Beberapa saat kemudian, syuting dimulai. Gulf mampu melakukannya dengan baik, semua scene dia kerjakan dengan baik, Mew hanya menunggu diluar lokasi, sambil membaca naskah yang sedang Gulf mainkan, matanya begitu serius membaca satu demi satu bab di naskah itu, sampai matanya membola ketika sampai pada scene yang tidak dia harapkan.
Sementara didalam lokasi syuting, Gulf akan melanjutkan scene berikutnya.
"Baiklah Gulf, bersiaplah sekarang,"ucap sutradara
"Oke phi,"ucap Gulf dan segera memasuki set
"Siap? Action!"teriak sutradara
Gulf langsung ditarik dengan kasar, lawan mainnya melemparkan tubuhnya ke sofa, dan mencumbunya dengan kasar, Gulf merasa kaget, dia tidak siap, lalu tiba-tiba kenangan pemerkosaan yang dia alami muncul dalam pikirannya.
"Le..pas,"lirih Gulf, tatapannya mulai kosong, dia tidak bisa fokus.
"Aku tidak akan melepasmu cantik, aku ingin bersenang-senang denganmu,"ucap pria itu sambil menciumi leher Gulf.
"Le..pas,"lirih Gulf bahkan sampai meneteskan air matanya, traumanya kembali, dia tidak ingin disentuh siapapun.
"Mew... To...long,"lirihnya lagi dengan bibir bergetar.
Samar Gulf dapat melihat Mew berlari kearahnya, namun tertutupi oleh air matanya yang menggenang.
"Gulf!!"teriak Mew menghampiri Gulf yang masih mematung dibawah kungkungan lawan mainnya.
"Lepaskan Gulf!"teriak Mew lagi sambil menarik lelaki itu, dan mendorongnya menjauh dari Gulf
"Gulf? Hei tenanglah, aku bersamamu,"ucap Mew pelan mengusap pipi Gulf yang masih merasa kosong.
"Le..paskan aku,"pinta Gulf lirih, nafasnya mulai terasa sesak, seperti ada sebuah batu yang menimpa dadanya, membuat isi lambungnya naik ke permukaan karena mengingat kembali kejadian silam.
"Hoek hoek!"Gulf memuntahkan semua isi perutnya, membuat Mew makin merasa khawatir.
"Gulf tolong, sadarlah, aku bersamamu,"ucap Mew menatap mata Gulf, dia ikut menangis melihat wajah Gulf yang tersirat ketakutan disana.
Tanpa menunggu lama, Mew menggendong Gulf dan membawanya ke rumah sakit, bertemu dengan dokter New menjadi pilihan utamanya. Seseorang melihat itu dengan senyum liciknya.
Sepanjang perjalanan Gulf tidak memberikan reaksi apapun, hanya mata sayu yang terbuka dan menatap sekeliling dengan kosong, Mew dengan setia menemaninya.
"Tetap bersamaku Gulf, maafkan aku tidak menjagamu dengan baik,"ucap Mew sambil mengecupi kening Gulf, namun Gulf tetap tidak nemberikan respon apapun.
"Hallo dokter New, temui aku di IGD, trauma Gulf kembali, tolong aku, kami dalam perjalanan kerumah sakit,"ucap Mew melalui sambungan telfon, Mew semakin dibuat panik kala Gulf perlahan memejamkan matanya.
"Gulf? Hei? Jangan tidur, kumohon tetap buka matamu, pak supir tolong cepat,"ucap Mew dengan kepanikan dan air mata yang terlihat dari wajahnya.
.....
"Apa yang terjadi Mew? Bukankah aku sudah memberitahumu mengenai kondisi Gulf?"tanya New, dia sudah selesai memeriksa Gulf, trauma Gulf kembali, pasti ada pemicunya.
"Aku yang kurang bisa menjaganya dok, aku sebagai managernya selalu membaca semua kontrak dan naskah yang masuk ke Gulf, tapi untuk film kali ini, Gulf sepertinya salah paham denganku, dia mengambil perannya, namun dia pasti tidak membaca naskahnya dengan teliti, hari ini ada scene dimana dia dilecehkan, dan sepertinya itu pemicu traumanya kembali,"jelas Mew.
"Apa Kali ini kondisinya serius? Aku bisa meminta pembatalan kontrak jika harus untuk kesembuhan Gulf,"ucap Mew tegas.
"Respon yang ditunjukkan lebih pasif Mew, jika sebelumnya dia akan berteriak histeris, responnya kali ini dia lebih merasa kosong kalau dengar dari ceritamu, kuharap kamu bisa menjaganya lebih baik lagi Mew,"ucap New sambil berpamitan untuk pergi dari ruangan Gulf.
Mew menghampiri Gulf, menggenggam tangan kekasihnya, mengecupnya berkali-kali.
-flashback-
Art menemui Mew dikantornya, sejujurnya dia sangat membenci Gulf, lebih tepatnya dia iri kepada Gulf. Itu bermula karena orang yang dicintai Art, sangat menyukai wajah rupawan Gulf, bahkan meninggalkan Art ketika mereka akan menikah. Namun Gulf sama sekali tidak mengenal pria itu dan demi menolong Gulf yang sedang diperkosa saat itu, kekasih Art tertusuk pisau, dan tak lama meninggal karena kehabisan darah. Gulf bahkan tidak tau ada penusukan itu, yang dia tau setelah kejadian itu, dia tidak mengingat apapun.
"Aku ingin kamu meninggalkan Gulf, aku tau kalian lebih dari sekedar artis dan manager,"ucap Art lancang.
"Apa hak mu meminta itu? Siapa kamu sampai menyuruhkan meninggalkan Gulf, tidak akan!"tegas Mew
"Oke baik lah, aku ganti permintaannya, jika aku membutuhkan mu untuk mengantarku kemanapun, kamu harus bersedia, jika tidak? Aku akan membongkar hubungan kalian, dan media akan dibuat heboh setelahnya bagaimana?"tawar Art
"Baik lah, tapi jangan sakiti Gulf,"ucap Mew setelah beberapa pertimbangan .
"Bagus,"ucap Art dengan senyum liciknya.
Art berulang kali meminta Mew mengantarnya ke lokasi syuting, dan membuat beberapa foto dengan posisi seperti berciuman, lalu di lokasi syuting, Art juga lah yang meminta lawan main Gulf untuk menyakiti Gulf, dan terjadilah kejadian yang dialami Gulf barusan.
"Gulf? Kamu sudah bangun sayang?"tanya Mew yang merasa lega.
"Katakan apa yang kamu rasakan?"tanya Mew karena tidak mendapat respon dari Gulf.
"Hei sayang, aku disini, bicaralah,"pinta Mew yang mulai menangis karena Gulf tidak meresponnya sama sekali.
"Maafkan aku Gulf,"ucap Mew sembari memeluk Gulf
Gulf hanya diam, dia tidak tau harus memberi respon seperti apa, kejadian itu kembali menghancurkannya, dia lelah, dia merasa kotor, tak ada lagi yang bisa dia percaya.
Mew tidak pernah berhenti menemani Gulf, mengajaknya bicara, menyuapi Gulf makanan, kadang-kadang Mew menangis melihat kondisi Gulf.
Siang itu Mew mengajak Gulf untuk berkeliling disekitar rumah sakit, dengan Gulf duduk di kursi roda, Mew duduk didepan kursi roda Gulf, menggenggam tangan kekasihnya, dan berkata,"aku mencintaimu Gulf, aku ingin kamu bahagia, aku minta maaf karena tidak bisa menjagamu dengan benar."
Gulf sedikit menggerakkan matanya, melihat ke arah Mew, mengusap rambutnya yang berada dipaha Gulf. Gulf juga mencintai Mew, namun dirinya merasa seperti tong kosong, tak ada harapan untuk masa depannya. Dia tak ingin menghancurkan masa depan Mew.
"A..ku sudah kotor,"ucap Gulf pelan sambil meneteskan air matanya, membuat Mew mendongak kearahnya.
"Ayo kita akhiri, kamu bisa pergi,"tambahnya dengan nada lirih
"Gak Gulf, aku gak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi, kamu adalah berlian, aku ingin terus bersamamu untuk waktu yang lama, ijinkan aku tetap bersamamu ya?"pinta Mew.
"Gak, aku tidak mencintaimu,"ucap Gulf penuh dengan kebohongan, Mew menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan pendengarannya.
"Kamu bohong,"ucap Mew tak percaya
"Aku tidak, pergilah,"pinta Gulf dengan berlinang air mata.
"Baik lah. Aku akan pergi, aku...aku akan membeli eskrim didepan, aku harap begitu aku kembali, kamu tidak mengusirku lagi,"ucap Mew dan berjalan menjauhi Gulf.
"Jika aku kehilangan orang yang kucintai, maka kamu juga harus kehilangan orang yang kamu cintai, segera tabrak orang itu,"perintah Art dari ujung jalan kepada orang suruhannya yang sudah bersiap dalam mobil.
Mobil itu melaju kencang ke arah Mew, Gulf melihatnya, dengan sekuat tenaga dia bangkit dari kursi roda, berlari kearah Mew, dan menarik Mew menjauh dari laju mobil itu.
"Gulf? Kamu tidak apa?"tanya Mew panik, dirinya yang hampir tertabrak, tapi masih mengkhawatirkan Gulf.
"Aku baik, bagaimana denganmu?"tanya Gulf.
"Aku mencintaimu Mew, kumohon jangan pergi,"peluk Gulf sambil memeluk leher Mew, kejadian barusan membuatnya sadar, jika dia tidak sanggup kalau Mew pergi.
"Aku disini sayang, aku bahagia bisa bersamamu,"ucap Mew sambil mengelus kepala Gulf.
"Ayo kita hadapi ini bersama sayang,"pinta Mew dijawab anggukan kepala oleh Gulf.
......
"Saya Gulf Kanawut, melalu konfrensi pers sore ini, ingin memberitahukan bahwa saya sudah memiliki kekasih,"ucap Gulf yakin sambil menggenggam tangan Mew dibawah meja.
"Kekasihku adalah Mew Suppasit, yang juga manager saya, semoga kedepannya tidak ada berita miring dari kami berdua, untuk syuting film terbaru saya, saya sudah membicarakan ini dengan phi Mame, dan kami sepakat bahwa kami tidak akan melanjutkannya, terimakasih untuk semuanya,"ucap Gulf sembari berdiri dengan Mew dan memberi hormat pada para wartawan dan pergi meninggalkan ruangan bersama Mew.
Setelah kejadian perencanaan kecelakaan itu, Art ditahan di kantor polisi karena menjadi dalang tindak kejahatan. Mew dan Gulf tidak ragu lagi untuk mengekspresikan cinta mereka di publik.
-THE END-