Aku menjatuhkan badanku di bad kamar tidurku, kamar yang masih berantakan, pakaian bergantungan dan buku - buku pelajaranku yang bergeletakan tidak teratur. Aku belum berniat ingin membersihkannnya, karena badanku terasa lelah setelah pulang dari kampus. Mata kuliah hari ini benar - benar menguras pikiran dan tenagaku. Akupun memejamkan mataku sembari kupeluk guling yang ada didekatku, tiba - tiba aku mengingat sesuatu hal dan bergegas bangkit dari tempat tidurku untuk mengambil Hand phone yang masih didalam tas. Iya, Aku memang lagi menunggu balasan pesan dari seorang Pria yang aku suka. Dua hari yang lalu, aku memberanikan diri menayakan kabar Pria yang aku sukai lewat Instagram. Aku sudah lama menyukainya, aku pertama kali melihatnya lewat didepan Sekolahku. Yang kebetulan sekolahku bersebelahan dengan sekolahnya dulu. Dengan penuh harap aku membuka hand phoneku, melihat apakah ada notifikasi dari dia. Dengan rasa kecewa, akupun kembali meletakkan hand phoneku dan berbaring lagi. Ternyata dia belum membalasnya. Beberapa menit kemudian, Ibuku datang memanggilku dan menyuruhku agar segera membersihkan badan dan juga kamarku.
"Tok.. Tok.. " Suara ketukan Pintu kamarku.
"Lia, cepatlah bersihkan badanmu, bukankah tadi dikampus kau melakukan kegiatan menanam. Dan bersihkan juga kamarmu, jangan lagi bermalas - malasan." (Pinta Ibuku menyuruh.)
Dengan berat dan malas aku membangkitkan badanku.
"Iya Buk, aku akan segera mandi dan membersihkan kamarku. Ibu jangan khawatir, aku pasti akan melakukannya. " (Sahutku dari kamar)
Aku tidak mendengar suara Ibuku lagi, tampaknya dia telah pergi setelah mendengar ucapanku. Akupun langsung bergegas melakukan apa yang telah Ibuku Perintahkan. Malam akhirnya tiba, lagi - lagi aku memeriksa hand phoneku, nampaknya belum ada juga balasan dari Pria itu. Ku putar lagu kesukaanku dan berpikir positive jika suatu hari nanti cepat atau lambat Pria itu akan membalas pesanku.
"Kau sedang memikirkan apa? " (Tanya seseorang yang tiba - tiba menghampiriku)
Aku menoleh ke arahnya. Ternyata dia sahabatku, Nida.
"Aku lagi memikirkan sesuatu. " (Sahutku)
Mendengar jawabanku, Nida lalu duduk didekatku. Ia mengambil membuka hand phonenya, Tampaknya dia sedang membalas beberapa chat dari temannya.
"Aku tau, kau pasti lagi menunggu balasan pesan dari Pria aneh itu. " (Ucap Nida)
Mendengar ucapannya, Aku menoleh ke arahnya yang sedang sibuk dengan hand phonenya. Aku pun menghela nafas dan tidak menjawab apa - apa. Aku membuka hand phoneku yang sama sekali tidak satupun ku temui chat dari teman - temanku.
"Kau seharusnya lebih memahaminya sebelum kau melakukan pedekatan" (Pungkas Nida lagi)
Kali ini aku benar - benar tertarik mendengar perkataannya.
"Jadi apa yang harus kulakukan? bahkan sampai sekarang dia belum juga membalas Dm ku." ( Jawabku dengan kecewa)
Nida meletakkan hand phonennya, dan memperhatikan wajah cemberutku.
"Sudah 5 tahun kau diam - diam menyukai Pria itu, Dari SMA sampai kau kuliah. Dan kau selalu melihat segala aktivitas Pria itu di sosial medianya. Bahkan kau sibuk mencari tau nama sosial medianya. Sementara dia tidak melakukan apapun terhadapmu. Apakah kau tidak lelah? "
Aku menghela nafas dan menjawab perkataan Nida.
"Iya aku tau dan aku juga sadar akan hal itu. Tapi, waktu sekolah dulu, dia selalu menunjukkan sikap seolah - olah menyukai ku juga. Tapi kami tidak pernah bertegur sapa, kami hanya saling bertatapan dan tersenyum ketika kami berpapasan."
Nida terdiam mendengar ucapanku, tampaknya dia sedang memikirkan sesuatu.
"Apa mungkin dia tidak menyukaiku? Jika dia benar menyukaiku kenapa dia tidak pernah menyapaku. Bahkan setelah lulus sekolah dia tidak pernah berfikir mencari tau tentang diriku di sosial media. Tapi, dulu waktu sekolah, dia selalu bertingkah aneh ketika didepanku, yang terkadang aku ikut malu melihat tingkahnya itu. Dan temannya juga pernah mengatakan padaku kalau dia menyukaiku. Tapi dia tidak pernah menyapaku. " ( Ucapku lagi dengan menahan tangis)
Aku sungguh - sungguh ingin menangis. Aku sesekali menyeka mataku dari linangan air mata ku yang sedikit menetes. Aku tidak mau Nida sampai tau kalau aku menangis karna hal ini.
"Mungkin kau perlu mencari tau hal - hal yang ia sukai. Tipe Gadis yang ia sukai, dan hal - hal yang tidak ia sukai. Jika suatu hari nanti dia membalas pesanmu, kau sudah tau apa yang harus kau lakukan dan apa yang tidak boleh kau lakukan. "
Mendengar saran dari Nida, aku lumayan tertarik dan ingin melakukannya. Aku pun tersenyum dan mulai berpikir apa yang harus aku lakukan setelah ini.
"Iya, aku akan melakukannya." (Jawabku dengan semangat)
Nida lalu tersenyum dan mengambil hand phonenya.
"Aku pulang dulu, malam sudah mulai larut. " (Ucap Nida keluar dari kamar Lia. "
Melihat Nida yang ingin pergi, Akupun memanggilnya lagi.
"Nida " (Panggilku)
Nida membalikkan badannya.
"Terimakasih udah selalu ada untukku." (Ucapku tersenyum bahagia)
"Iya. sama - sama." (Jawab Nida senyum)
Akupun menutup pintu kamarku, lalu ku ambil selimutku, dan tidur untuk melepas rasa lelah yang kurasakan hari ini.
****
Kring... kring.. kring.. Suara alarmku berdering kencang. Aku langsung terbangun dan membuka mataku dibuatnya. Aku bergegas mengambil handuk dan mandi. Setelah beberapa menit aku mandi, akupun keluar dari kamar mandi. Ketika hendak ingin membuka lemari bajuku, Hand phoneku berbunyi, sepertinya ada pesan masuk. Lantas dibenakku itu hanyalah pesan dari Nida atau pesan grub dari kampusku. Aku tidak memperdulikannya, Ku ambil bajuku dan memakainya. Dan lagi - lagi hand phoneku berdering, ternyata ada panggilan dari Nida. Aku pun segera mengangkatnya, mungkin dia marah karna pesannya belum juga ku balas.
"Hallo Nida. "
"Lia, bisakah kau menemaniku keluar sebentar?" (Jawab Nida)
"Bisa, kau mau kemana? " (Tanyaku)
"Aku ingin pergi membeli sepatu, aku akan datang kerumah sekarang." (Jawab nida, langsung mematikan teleponnya.)
"Oke.. "
terdengar bunyi, tut.. tut.. suara telepon putus.
"Aku bahkan belum selesai berbicara dia sudah memutuskan teleponnya." (Ucapku)
Aku pun melihat pesan masuk di hand phoneku. Sontak aku begitu kaget, pesan itu bukanlah dari Nida atau grup kampusku. Tetapi itu dari Pria yang aku sukai. Terpampang jelas namanya di notifikasi hand phoneku. Dia menjawab baik dan shopan ucapan salam dan pertanyaanku yang menanyakan bagaimana kabarnya. Aku sangatlah bahagia, badanku terasa bergetar. Kubuka pesannya, Ia menjawab jika kabar nya baik - baik saja. Sungguh aku tidak bisa menahan kebahagiaanku. Aku berteriak Hore dan meloncat - loncat kegirangan. Aku merasa hari ini adalah hari yang baik untukku. Setelah tiga hari aku menunggu, akhirnya dia membalasnya. Aku tidak sabar ingin menceritakan hal ini pada Nida. Aku bergegas mengambil tas dan sepatuku.
"Ibu.. Lia keluar sebentar menemani Nida. " (Ucapku pamit pada ibuku yang tengah menyiapkan sarapan.)
"Eh...Kau bahkan belum saparan. Tidak bisakah kau sarapan dulu baru kau pergi. " (Sahut Ibuku memanggil)
"Ibu, aku akan membeli sarapan diluar, lagi pula aku hanya sebentar. Aku pasti akan menyantap sarapan yang telah ibu buat. " (Aku menyalim tangan dan mencium Ibuku)
Aku berlari kerumah Nida, hanya berjarak sekitar 50 meter dari rumahku. Tampak nida telah siap - siap dengan motornya dan ingin menjemputku.
"Nida... Nida.. " (Kataku memanggil sambil berlari menghampirinya)
"Kenapa kau berlari untuk menemuiku? bukankah tadi aku sudah katakan, aku akan datang kerumahmu untuk menjemputmu. " (Jawab nida heran)
Akupun beristirahat sejenak sembari mengatur nafasku.
"Yeiiiiiiiiii.... " (Kataku Teriak sambil meloncat - loncat)
Nida yang melihat tingkahku mencoba menenangkan dan bertanya apa yang membuat aku sebahagia ini.
"Hei, tidak bisakah kau bersikap tenang, kau seperti anak - anak yang mendapat lollipop, Apa yang membuat sebahagia ini. "(Tanya Nida)
"Akhirnya dia membalas pesanku. Dia mengatakan kabarnya baik." (Jawabku tersenyum bahagia)
"Benarkah? Kapan dia membalas pesanmu? " (Sambung Nida lagi)
"Tadi pagi. Hmm.. Menurutmu apa yang harus aku katakan lagi padanya?
"Coba kau tanyakan apakah dia mengenalmu. Bukankah sudah 5 tahun kau dan dia tidak pernah bertemu lagi. " (Saran Nida)
"Aku saja belum melupakannya, jika dia benar - benar menyukaiku dulu, aku rasa dia masih mengenalku." (Jawabku)
"Iya makanya tanyakan saja dulu kan tidak ada salahnya. "
Akupun mengikuti saran dari Nida, aku membalas pesannya dengan mengatakan apa ia masih mengenalku. Aku dan Nida berangkat ke toko sepatu. Aku sesekali melihat hand phoneku apakah ada lagi balasan pesan dari Pria itu. Sampai aku dan Nida pulang kerumah dia belum juga membalas pesanku. Aku meletakkan hand phoneku, dan menyantap sarapan yang telah ibuku siapkan. Lagi - lagi aku memeriksa hand phoneku, tetapi belum ada juga pesan darinya.
"Telepon siapa yang kau tunggu Lia, dari tadi Ibu lihat kau selalu memeriksa hand phonemu. " (Tanya Ibuku yang lagi mencuci piring)
"Tidak ada Buk, aku lagi menunggu informasi dari grub tentang mata kuliah besok" (Jawabku berbohong)
Maafkan kan Aku Buk, aku gak mungkin mengatakannya padamu. Aku belum siap menceritakan tentang teman Priaku pada Ibu. (Dalam hatiku)
"Kau letakkanlah hand phonemu dulu, makanlah dengan tenang. " (Pinta ibuku)
Akupun meletakkan hand phoneku dan melahap sarapanku.
******
Malampun tiba, dia belum juga membalas pesanku. Aku mengambil buku tulisku dan mengerjakan tugas kuliahku. Tiba - tiba aku mengingatnya. Aku lalu menulis namanya dibelakang buku tulisku. Namanya Azril, Azril Ananda. Orangnya pintar, dulu waktu masih sekolah aku sering mendengar orang - orang mengatakan dia selalu memperoleh juara kelas di sekolahnya. Sekolahnya dan sekolahku bersebelahan. Aku SMA dan Dia SMK. Umurku berjarak satu tahun dengannya, maka dari itu, dia lulus terlebih dahulu dan memutuskan untuk kuliah keluar kota. Semenjak itu Aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Sampai aku kuliah sekarang ini. Tetapi aku tidak pernah menerima Pria lain dalam hidupku, walaupun Aku dan Dia sudah tidak pernah bertemu lagi, aku selalu mencari tahu tentang kehidupan dan aktivitasnya di sosial medianya. Sampai sekarang ini, aku baru memberanikan diri untuk mengirim pesan padanya. 1 jam kemudian, hand phoneku berdering lagi. Kelihatannya ada pesan masuk. Aku mengambil hand phoneku dan memeriksa pesan masuk. Aku kaget lagi, setelah beberapa jam akhirnya Azril membalas pesanku lagi. Tapi kali ini aku sedikit sedih menerima pesannya. Azril mengatakan dia tidak mengenalku. Aku sangatlah sedih membaca pesannya, bahkan aku tidak lagi bersemangat membalas pesannya. Aku berbaring ditempat tidurku kutinggalkan hand phoneku di meja belajarku. Tiba - tiba aku mengingat yang Nida sahabatku katakan. Aku harus menjadi gadis yang ia sukai, supaya aku berhasil menarik perhatiannya. Aku pun mengingat - ingat lagi tentang bagaimana dia dahulu. Dia tipe cowok yang pekerja keras, dan ambisius. Aku pun beranjak dari tempat tidurku dan mengambil lagi handponeku. Aku mencari tahu tentang kepribadian dari sosok Azril, si Pria Scorpio yang sangatlah misterius. Aku memberanikan diri bertanya kepada teman - temanku yang mempunyai kekasih berzodiak scorpio, seperti apakah sebenarnya kepribadian dari sosok pria scorpio itu. Banyak temanku yang mengatakan bahwa benar pria scorpio sangatlah misterius. Dan dia menyukai gadis pintar dan juga mandiri. Akupun menutup handphoneku dan tidur. Mataku sangatlah lelah membaca semua tentang kepribadian scorpio.
*******
Kring... Kring.. Kring.. dering alarmku lagi. Aku beranjak dari tempat tidurku dan bersiap - siap berangkat ke kampus. Lagi - lagi hand phoneku berdering, aku pun langsung melihatnya, Sontak aku kaget sekali. Aku mendapat pesan dari Azril yang mengajakku untuk bertemu. Aku benar - benar tidak percaya akan hal ini. Aku langsung pergi menenui Nida dan mengatakan hal ini padanya.
"Nida.. Nida.. " (Panggilku dari luar rumahnya)
beberapa saat kemudian Nida keluar.
"Ada apa Lia, kenapa pagi - pagi sekali kamu datang menemuiku? " (Tanya Nida)
"Nida, aku baru saja mendapat pesan dari Azril, dia mengajakku untuk bertemu dengannya. " (Jawabku serius)
"Lalu, Apa yang kau katakan padanya. "
"Aku hanya menjawab untuk apa bertemu denganku, dia mengatakan supaya dia mengenalku,Itu saja. Dan aku belum membalas apa aku menyetujui untuk bertemu dengannya." (Jawabku lagi)
"Ya kau pergi saja, aku akan menemanimu jika kau tidak berani sendirian. " (Pinta Nida)
"Aku sejujurnya sedih, ternyata dia benar - benar sudah melupakanku. Bahkan dia tidak mengenalku lagi. Kalau aku bertemu dengannya dan dia mengingatku lagi. Aku sangat tidak bisa membayangkan hal itu. Aku malu sekali. Bisa - bisa dia berpikir aku sangatlah menyukainya. " (Jawabku menolak)
"Sudahlah Lia, kau tau kan dia pria seperti apa. Dia tidak akan mudah mengatakan jika dia menyukai seseorang. Dia pria yang sangat teliti dalam memilih pasangan. " (Tutur Nida)
"Baiklah aku akan bertemu dengannya nanti sore, tapi kau harus ikut menemaniku. " ( Pintaku kepada Nida)
"Iya, kau tenang saja, aku akan menemanimu. "
*******
Sore hari, Aku dan Lia pergi menuju kafe tempat dimana Aku akan bertemu dengan Azril. Aku benar - benar gugup sekali, aku bahkan gemetaran dan tidak berani menatap wajahnya dengan dekat. Setelah sampai diparkiran kafe, Aku turun dari motor Nida begitu pula dengan Nida. Aku berhenti sejenak sembari mengatur nafasku dan detak jantungku yang sudah seperti sedang lari maraton.
"Ayokk.. " (Ucap Nida menarik tanganku)
Aku dan Nida masuk kedalam kafe, dengan menahan rasa gugup, keringat dingin dan jantung yang berdebar kencang. Aku beranikan kakiku melangkah untuk menemui Pria yang aku sukai sejak lama itu. Setelah masuk kedalam, tampak seorang Pria sedang duduk sendirian. Memakai kemeja kotak - kotak dan jam tangan warna hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mungkin itu orangnya. " (Tunjuk Nida)
Akupun memperhatikan Pria itu dengan seksama.
"Iya, itu orangya. " (Jawabku)
Nida menarik tanganku dan menghampiri Azril. Azril pun menoleh ke arahku dan Nida, Dia terdiam sejenak begitu juga dengan Aku. Aku dan dia saling bertatapan. Dipikiranku mungkin dia kaget ternyata akulah orangnya. Wajahnya tidak banyak berubah, dia masih setampan dulu. Bahkan semakin tampan dan keren semenjak ia kuliah. Apalagi dia mengambil jurusan Tehnik disalah satu Perguruan Tinggi ternama.
"Ayo, silahkan duduk." (Ucap Azril menyuruhku dan Nida duduk)
Aku benar - benar tidak bisa menatap wajahnya lagi. Jantungku semakin berdebar kencang. Bahkan aku tidak dapat mengatakan satu kata pun.
"Kalian mau pesan apa?" (Tanya Azril)
"Aku pesan Jus Jerus aja." (Sahut Nida)
Dan Aku hanya terdiam, bibirku terasa bungkam.
"Kau mau minum apa Lia, apa kau mau makan? Katakanlah. " (Tanya Tia)
"Kau pesan apa, Aku juga memesan itu saja. " (Kataku kepada Nida)
Azril memesan beberapa makanan dan jus alpukat. Bahkan dia tidak banyak bercerita, suasanapun terasa kaku sebelum pesanan kami datang.
"Kau kuliah dimana? " (Tanya Azril tiba - tiba padaku)
Sontak aku sangatlah kaget dengan pertanyaannya.
"Aku kuliah di salah satu perguruan tinggi di Kota ini juga." (Jawabku malu - malu)
Beberapa saat kemudian pesanan kami pun datang. Aku yang merasa haus karna gugup langsung meminum jus yang aku pesan. Sesekali aku memperhatikannya saat ia tidak tau.
"Berbicaralah." (Katanya menyuruhku)
Aku pun semakin gugup dan tidak tau apa yang harus aku bicarakan dan katakan padanya. Jika ingin bertanya padanya, haruslah hati - hati dan tidak boleh bertanya tentang kehidupannya. Karna dia tidak mudah menceritakan tentang kehidupannya kepada setiap orang, Apalagi yang baru ia kenal, keculai dia benar - benar telah mempercayai seseorang itu.
"Jika aku tidak mengenalmu, apa yang harus aku lakukan?" (Tanyanya kepadaku)
Aku dan Nida saling bertatapan mendengar perkataannya.
"Kalau kau tidak mengenalku tidak apa - apa, cukup aku saja yang mengenalmu" (Jawabku dengan tenang)
"Lalu, kamu mau seperti apa? " (Tanyanya lagi kepadaku)
Akupun mulai bingung dengan pertanyaannya. Dan aku sudah mulai kesulitan menjawab.
"Tidak ada yang aku inginkan lagi. Aku bertanya bagaimana kabarmu sebelumnya di pesan yang aku kirim padamu. Dan kau menjawabnya baik, itu sudah membuatku bahagia. Dan kau juga mengatakan, kau tidak mengenalku. Tidak apa - apa, aku sungguh baik - baik saja dengan hal ini" (Jawabku dengan tenang lagi)
Dia kemudian meminum jusnya dan tidak bertanya lagi. Lalu aku berpikir ingin bertanya kepadanya.
"Lalu, kau maunya seperti apa? " (Tanyaku padanya)
Ia diam sejenak dan terus meminum jusnya.
"Yasudah, seperti itu saja. " ( Jawabnya singkat)
Ia lalu memanggil pelayan dan membayar makanan dan minuman kami.
"Aku duluan, lagi ada urusan juga" (Ucapnya pamit lalu pergi meninggalkan Aku dan Nida)
"Dia kenapa sih? aku bahkan tidak merasa ada perkataanku yang salah. " (Kataku menggerutu)
"Dia Tipe Pria yang mudah sekali bosan, jadi jika kau ingin mengobrol lama dengannya buatlah suatu cerita yang unik dan tidak monoton. " (Jawab Nida)
Aku pun terdiam mendengar hal itu.
"Bukankah sudah kukatakan, sebelum kau bertemu dengannya kau cari tau dahulu seperti apa kebribadiannya." (Ucap Nida lagi)
Aku semakin pusing, aku merasa menaklukkan pria scorpio sangatlah susah sekali. Apalagi dengan sifatnya yang mudah sekali merasa bosan. Menjadi gadis yang Ia sukai benar - benar sangatlah sulit.