Sebelum menceritakan kisahku, biarkan aku memperkenalkan diri dahulu. Namaku Puspa, Aku genap berusia 29 tahun 2 bulan yang lalu. Aku bekerja di sebuah mall sebagai seorang penerima tamu atau lebih sering di sebut receptionist. Sudah sekitar 7 tahun aku bekerja di sini. Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku ini namun ada satu hal yang mengganjal hatiku, yaitu aku yang harus melepas kerudungku saat bekerja. Awalnya memang aku tak memakai kerudung saat pertama kali bekerja, tapi sejak 2 tahun lalu aku memutuskan untuk menggunakan hijab meski aku tahu bahwa kami di larang menggunakan hijab saat bekerja.
Baiklah, kita mulai saja ceritanya ya.
Di mulai dari 2 tahun lalu, setelah beberapa bulan aku memutuskan untuk menggunakan hijab. Beberapa bulan terakhir ini aku sedang dekat dengan seorang pria. Namanya Angga, Ia adalah seorang pria berbadan tinggi dan berparas manis di tambah lagi dia seseorang yang taat Ibadah. Awalnya kami berdua di kenalkan oleh seorang teman, namun setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Suatu ketika aku sedang membuka akun sosial media, Ku lihat dia mengirimkan permintaan pertemanan padaku. Awalnya aku terkejut, lalu aku memencet tombol terima. Dari situlah kami mulai sering berinteraksi lewat komentar mau pun pesan.
Suatu saat tiba-tiba saja ketika kami sedang saling berkirim pesan di sosial media, dia meminta nomor ponselku. Aku yang merasa kami sudah akrab pun langsung memberikan nomor ponselku padanya. Sejak saat itu kami berdua sering berkirim pesan, bahkan terkadang sampai larut malam. Semakin hari kami berdua semakin intens berkomunikasi layaknya teman dekat.
Setelah beberapa bulan kami berkomunikasi, kami berkesempatan untuk bertemu kembali. Saat itu tak hanya kami berdua, namun ada beberapa teman kami salah satunya laras yang mengenalkan kami pertama kali. Kami semua berbaur dan tak lagi ada kecanggungan seperti saat pertama bertemu.
Tiba-tiba Angga yang tadi duduk agak jauh dariku pun mendekat.
"Boleh aku foto berdua saja denganmu?" tanyanya.
Sebenarnya aku terkejut tapi aku berusaha untuk tidak memperlihatkannya.
"Tentu saja," Jawabku.
Lalu kami berdua berfoto dan kembali mengobrol.
Setelah mengobrol dan tertawa bersama-sama selama berjam-jam, tibalah waktunya untuk kami kembali pulang.
"Puspa, kamu pulang naik apa?" tanya Rio, salah seorang temanku.
"Aku mengendarai motor."
"Baiklah hati-hati kalau begitu," kata Rio lagi.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Tiba-tiba Angga berjalan menghampiriku lalu menunduk dan berbisik di ke telingaku.
"Hati-hati, kalau sudah sampai kasih kabar," Katanya.
"Deg...deg...deg," tiba-tiba saja jantung berdetak lebih kencang.
Aku tak menganggap ini serius dan hanya menjawab dengan singkat.
"Siap."
"Bye semuanya," kataku sambil menyalakan motor.
"Bye," Jawab mereka serempak.
Aku pun berlalu pergi meninggalkan mereka.
Saat sampai di rumah aku langsung meletakkan tas lalu pergi mandi. Setelah selesai mandi aku langsung berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselku. Ketika pertama kali membuka kunci layar, terdapat beberapa pesan masuk yang saat ku buka ternyata dari Angga.
"Apakah kamu sudah sampai rumah."
"Apakah kamu sudah sampai dengan selamat?"
"Kabari aku kalau sudah sampai."
"Kenapa kamu tidak menjawab pesanku?"
"Hey...Apa semua baik-baik saja?"
"Kamu baik-baik saja kan?"
Seperti itulah isi pesannya padaku, yang hanya ku balas dengan singkat.
"Iya aku sudah sampai."
"Kenapa lama sekali balasnya? Aku kan khawatir," Balasnya.
"Iya maaf, Aku baru selesai mandi."
"Oh pantesan."
Kami terus saling berkirim pesan sampai tak terasa ternyata sudah larut malam. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri percakapan dengan saling mengucapkan selamat malam.
"Selamat malam, sampai bertemu di dalam mimpi," Balas Angga.
"Selamat malam."
Percakapan kami hari ini berakhir namun berlanjut besok pagi,besoknya lagi dan seterusnya. Namun meski sudah berbulan-bulan saling berkirim pesan dan sering bertemu, Aku masih tidak merasakan apa pun. Sampai suatu saat beberapa temanku yang juga mengenalnya pun mengira bahwa kami berdua berpacaran. Mereka menduga seperti itu bukan tanpa sebab, semua karena interaksi kami di sosial media yang sering sekali saling mengomentari unggahan satu sama lain. Belum lagi setiap kami mengadakan pertemuan dengan teman-teman lain, dia selalu berada di dekatku. Seperti saat ini, kami juga sedang berkumpul dan Angga duduk tepat di sebelahku.
"Puspa, temani aku ke toilet yuk!" Ajak Laras.
"Ayo."
Aku pun pergi ke toilet bersama Laras.
"Boleh aku tanya?" tanya Laras lagi.
"Apa?"
"Kamu pacaran ya sama Angga?"
"Enggak kok....kamu kenapa tanya seperti itu?"
"Nggak apa-apa, aku pikir kalian pacaran soalnya kelihatan dekat banget."
"Nggak kok cuma teman."
"Ya sudah." kata Laras.
Kami keluar dari kamar mandi lalu kembali berkumpul dengan teman-teman.
Pertemuan hari ini pun selesai lalu kami semua pulang ke rumah masing-masing.
Hari demi hari pun berlalu, sudah sekitar 7 bulan aku dekat dengan Angga. Hubungan kami berdua pun tetap sama walaupun beberapa kali perlakuan Angga padaku terlihat berbeda dari perlakuan seorang teman. Aku masih menganggap angga sebagai teman dekatku dan belum menyadari perasaanku yang sesungguhnya.
Suatu hari Laras mengajakku dan Angga pergi jalan-jalan ke sebuah taman. Di sanalah aku mulai merasakan perasaan cemburu, saat Angga memperlakukan Laras sama seperti dia memperlakukanku. Entahlah, tapi saat itu aku benar-benar kebingungan. Sesekali Angga akan memperlakukanku dengan manis, sesekali dia akan memperlakukan Laras dengan cara yang sama. Bahkan sempat saat dia asyik mengobrol dengan Laras, dia seperti mengabaikan aku yang duduk tepat di depannya. Saat itu perasaanku benar-benar tak karuan yang membuatku lebih banyak diam, tak seperti diriku yang biasanya ceria.
"Puspa kenapa? kok diam saja?" tanya Laras yang menyadari sikapku yang tiba-tiba berubah.
"Enggak apa-apa kok, agak nggak enak badan saja. Sebaiknya aku pulang duluan ya," Jawabku.
"Kamu sakit? Mau aku antar pulang?" Tanya Angga.
"Nggak apa-apa, aku pulang sendiri saja."
Aku pun berdiri lalu pergi meninggalkan mereka.
▪
▪
Aku pun tiba di rumah dan langsung masuk ke dalam kamarku. Aku duduk di bibir ranjang sambil memukul-mukul dadaku yang terasa sesak.
"Kenapa aku seperti ini?"
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kenapa hatiku sakit saat melihat Angga perhatian ke Laras?"
"Apakah aku jatuh cinta pada Angga?"
Pertanyaan-pertanyaan ini silih berganti terlintas di benakku.
Aku berbaring menghadap ke kanan, tak terasa air mataku mengalir membasahi pipi dan bantalku. Kemudian perlahan aku tettidur lelap.
Pagi harinya saat aku membuka mata dan mengecek ponselku. Terdapat beberapa pesan dari Angga yang seakan khawatir dengan keadaanku. Untuk kali pertamanya aku mengabaikan pesan darinya. Namun dia tetap gigih mengirim pesan, sampai saat sudah sore aku pun memutuskan untuk membalasnya. Lalu sejak itu kami kembali berkirim pesan seperti biasa, bahkan lebih intens lagi seperti sepasang kekasih yang saling perhatian.
Suatu hari aku yang merasa bahwa hubungan kami ini tidak jelas mencoba untuk berbica lebih dulu padanya melalu pesan.
"Angga....Sebenarnya kamu itu anggap aku apa sih?"
"Maksudnya bagaimana?" baliknya bertanya.
"Iya maksudnya kalau kamu nggak suka sama aku, lebih baik kamu berhenti mengirimiku pesan setiap hari dan jangan perhatian sama aku."
"Aku takut," imbuhku.
"Takut kenapa?"
"Aku takut jatuh cinta sama kamu dan bertepuk sebelah tangan," kataku, saat itu aku benar-benar membuang rasa maluku dan memberanikan diri.
"Kita nggak pernah tahu jodoh kita nanti siapa, kalau nanti kamu memang jodohku meskipun saat ini aku menjauh pun kita akan bersatu. Tapi untuk saat ini kita tetap seperti ini saja dulu."
Aku membaca balasan darinya yang ambigu itu lalu air mataku menetes dan tak berhenti mengalir. Aku tak tahu lagi harus bagaimana.
Setelah kejadian itu Angga masih tetap mengirimiku pesan seperti biasa namun lebih sering aku abaikan. Saat bertemu pun Ia bersikap seperti biasa, seolah terjadi apa-apa. Ini berlangsung cukup lama, jujur saja aku masih tidak memahami isi hatinya.
Suatu saat aku merasa tidak lagi bisa memendamnya sendirian. Aku memutuskan menceritakan semuanya kepada Bunga sahabatku.
"Coba saja minta petunjuk sama Allah SWT, Coba sholat Istiqoroh," kata Bunga.
"Baiklah nanti aku coba."
Benar saja setelah aku bertemu Bunga, malam harinya aku langsung melaksanakan sholat Istiqoroh. Aku memohon untuk di tunjukan, kalau Angga memang yang terbaik dan dia jodohku maka aku minta di dekatkan namun jika bukan aku minta di jauhkan. Malam pertama setelah aku melaksanakan sholat Istiqoroh, aku memimpikan Angga dalam tidurku. Malam kedua aku melaksanakan sholat lagi dan saat tidur aku memimpikan seorang pria namun wajahnya tak terlihat. Lalu ketiga kali aku melaksanakan sholat Istiqoroh, aku tak memimpikan siapa pun.
Sejak saat itu Angga pun perlahan menjauh, dia tak lagi mengirimiku pesan setiap hari. Aku pun berusaha untuk melupakannya. Sesekali kami masih bertemu tapi aku menjaga jarak meskipun dia masih suka dekat-dekat denganku.
Sudah sekitar 5 bulan berlalu sejak pertemuan terakhir kami dan sejak saat itu kami tak pernah lagi berhubungan. Saat aku bangun tidur, tiba-tiba saja ponselku berbunyi. Ku lihat ada pesan masuk dari Angga lalu aku langsung membukanya karena jujur aku sangat merindukannya.
"Assalamu'alaikum, Saya mau memberi kabar bahwa hari ini saya akan melamar Laras,"
Begitulah isi pesannya.
Sejenak aku membeku, namun setelah beberapa detik ponselku jatuh ke kasur. Aku tak bisa membendung air mataku yang tiba-tiba megalir deras. Hatiku terasa sangat perih dan dadaku sesak seakan tak bisa bernafas. Aku menangis sesenggukan sendiri di dalam kamar.
"Ya Allah, kenapa sesakit ini?"
"Sakit sekali".
"Aku tahu kalau Laras adalah wanita yang sholeha makanya kamu pilih dia. Tapi kenapa sakit sekali sih."
Aku terus berbicara sendiri dalam kamar seolah aku berbicara dengan Angga.
Aku menghapus airmata lalu ku raih ponselku untuk membalas pesan dari Angga.
"Selamat ya...semoga di lancarkan segalanya. semoga kalian berdua bahagia," balasku sambil menyeka air mataku yang terus mengalir.
Setelah agak tenang aku langsung menelpon Bunga dan menceritakannya. Namun ternyata Bunga sudah tahu lebih dulu.
"Sebenarnya jauh sebelum dekat dengan kamu Angga memang pernah dekat dengan Laras, tapi saat itu Laras punya pacar," kata Bunga.
Saat mendengar cerita dari Bunga, dadaku terasa lebih sesak lagi dan hatiku makin terasa perih. Bagaimana tidak, ternyata selama ini aku berada di antara mereka berdua. Aku merasa kecewa pada Laras yang tak pernah bercerita kepadaku, tetapi aku lebih kecewa lagi pada diriku sendiri karena mencintai Angga.
.
.
.
Selang beberapa bulan kemudian, hatiku sudah mulai pulih. Hari ini adalah hari pernikah mereka berdua, aku memutuskan datang karena biar bagaimana pun Laras adalah sahabatku.
Saat melihat mereka menikah, aku tak lagi merasa sedih meski sempat terbesit dalam benakku "Alangkah bahagianya kalau aku yang jadi mempelai wanitanya."
Tapi itu semua hanya khayalan dan tak perlu aku pikirkan. Aku benar-benar bahagia melihat mereka berdua bahagia.