Ah! Rasanya tubuhku benar-benar terasa hancur! Dari pagi aku disuruh ibuku untuk merapikan gudang di atap. Banyak barang-barang disana. Ah sial! Aku lelah sekali. Saat sedang merapikan gudang aku melihat sebuah kotak yang bertuliskan 'Halloween'.
Karena hari ini adalah hari Halloween, aku membuka kotak tersebut. Ternyata berisi kostum untuk malam Halloween dan aksesoris pelengkapnya. Aku memasukkannya kembali. Aku tidak peduli dengan Halloween. Itu hanya membuang-buang waktu. Lebih baik aku menghabiskan malam Halloween dengan bermain video game.
"Kennedy sayang! Apakah gudang kita sudah rapi?!" teriak ibuku dari bawah. Aku menghela nafas.
"Sudah ibu. Aku segera turun," balasku teriak.
"Honey, sebelum turun ambil kotak yang bertuliskan Halloween. Itu kostum untukmu nanti malam," aku melirik ke arah kotak tadi. Aku memutar bola mataku jengah.
"Aku tak ingin merayakan malam Halloween lagi ibu! Aku ingin bermain video game malam ini!" terdengar langkah ibu menaiki tangga. Tak butuh waktu lama, ibu sudah berdiri di hadapanku.
"Ayolah sayang. Lupakan kejadian tahun lalu, ayahmu hanya bercanda. Bukankah semua teman-temanmu akan pergi merayakan Halloween malam ini?" ibu melihat sekeliling. Ia merasa takjub, karena gudang sudah benar-benar rapi.
Aku mengingat kejadian tahun lalu. Ayah meninggalkanku di tengah-tengah kerumunan orang-orang. Lalu secara tiba-tiba menelfonku, kalau ia sedang diancam oleh seorang pembunuh. Bagaimana tidak terkejut? Saat aku sampai di alamat yang ayah berikan. Aku melihat ayah berlumuran darah sedang terduduk di sebuah kursi.
Lalu dengan tiba-tiba, ada seseorang dari belakang membekap mulutku. Aku terkejut bukan main, kemudian ayah tiba-tiba terbangun dan berjalan ke arahku sembari menodongkan pistol. Ayah dan orang yang membekap ku tertawa dengan keras. Aku benar-benar ketakutan. Aku memejamkan mata saat itu dan setelah itu aku merasakan keningku ditembak sesuatu. Kenapa hanya terasa sedikit sakit dan juga kenapa tak terdengar dentuman keras dari pistol? Atau aku langsung mati setelah ditembak, jadi aku tidak merasakan sakit yang teramat?
Aku membuka mataku, terlihat ayah tengah tertawa. Ia menembak-nembakkan peluru plastik ke dadaku. Orang dibelakangku pun melepaskan bekapannya. Ia melepas topengnya, dan ternyata itu teman ayahku. Mereka berdua tertawa.
"Ken jagoanku! Kau masih saja takut? Hahaha," ayah merangkulku. Kini rasa takut itu hilang berganti menjadi rasa kesal.
"Lelucon ini sama sekali tak lucu ayah!" ayah mengacak-acak rambutku.
"Ayolah Ken! Ini malam Halloween, sayang dilewatkan begitu saja," aku melepas rangkulan ayah.
"Aku tak peduli dengan malam Halloween. Semua lelucon yang ayah lakukan disetiap malam Halloween, ini yang benar-benar kelewatan. Tidak tahukah bahwa aku benar-benar terkejut melihat ayah penuh darah, lalu tiba-tiba terbangun menodongkan pistol ke arahku? Lalu paman Bryan yang membekap ku dari belakang?" paman Bryan tertawa.
"Aku bersumpah. Aku tak ingin lagi merayakan malam Halloween. Ayah pasti akan membuat lelucon lebih parah dari ini. Ayah tahu aku tak pernah suka bercanda yang berlebihan seperti ini," malam itu aku langsung pergi dan pulang ke rumah.
Aku mengingat kejadian itu. Aku benar-benar jadi tak menyukai malam Halloween karena lelucon yang selalu dibuat ayahku. Ibu yang berada di hadapanku menghela nafasnya lalu tersenyum.
"Ken sayang, ayolah nak. Kamu sudah besar, seharusnya tak terlalu serius menanggapi candaan ayahmu itu. Honey, kamu kan juga tahu, di daerah kita ada tradisi. Semua penduduk harus merayakan malam Halloween dengan menggunakan kostum," ucap ibu menjelaskan kepadaku tradisi yang selalu diucapkan orang-orang di daerahku.
"Kamu tahukan apa konsekuensi bagi yang tidak mengikuti tradisi itu?" lanjut ibu. Aku mengacak-acak rambutku.
"Ibu! Kenapa ibu percaya dengan tradisi konyol itu?! Ayolah Bu! Zaman sekarang kenapa masih percaya dengan tradisi yang tidak jelas asal-usulnya. Aku tidak mempercayai itu Bu," aku pergi meninggalkan ibu. Terdengar ibu ikut turun dari gudang sembari membawa kotak berisi kostum tadi.
"Kennedy sayangku! Jangan berkata seperti itu! Bisa saja tradisi itu bukan hanya bualan sayang," ibu mengikuti kemana aku pergi. Aku berhenti di ruang keluarga, membaringkan badanku di sofa yang ada disana.
"Ibu! Sudah ku katakan aku tidak mau memakai kostum dan pergi ke perayaan malam Halloween," ibu meletakkan kotak tersebut ke pangkuanku.
"Ibu tidak mau dengar apapun lagi, kamu harus pergi ke perayaan menggunakan kostum ini. Ibu tidak mau terjadi apa-apa pada dirimu," ibu menatap ke arah mataku dengan tatapan memelas.
"Ibuuuu...baiklah..baiklah. Aku akan memakai kostum dan pergi. Ibu sudah puas?" ini hanya kata penenang untuk ibu. Aku benar-benar tidak akan pergi ke perayaan apalagi mengenakan kostum ini.
Terlihat ibu tersenyum ke arahku. "That's my boy. Baiklah kalau begitu ibu harus bersiap untuk nanti malam," saat ibu akan pergi, aku menyadari ayah dan adikku tak tampak sama sekali.
"Kemana ayah dan Jody?" tanyaku.
"Ayah pergi menemani adikmu untuk mengumpulkan permen," jawab ibuku lalu pergi dari hadapanku.
****
"Ken kamu tidak bersiap-siap nak?" tanya ibu. Hari sudah malam, ibu dan ayah serta adikku telah bersiap pergi menuju rumah temannya untuk merayakan malam Halloween.
"Ibu dan ayah pergi saja duluan. Sebentar lagi aku akan bersiap-siap," ucapku sembari tersenyum tipis ke arah ibu.
"Baiklah kalau begitu. Pastikan kamu mengenakan kostum malam ini dan pergi ke perayaan Ken. Satu lagi, cepatlah pergi jangan membuat teman-temanmu menunggu," aku menganggukkan kepalaku menuruti perkataan ibu.
"Ken, tenang saja Halloween kali ini. Ayah takkan mengerjaimu," ayah pergi dan tertawa setelah mengatakan itu. Aku hanya menjeling mataku. Lalu aku mengantarkan keluargaku sampai depan pintu. Aku melihat mobil mereka mulai menjauh.
Akhirnya mereka pergi. Aku bisa bebas melakukan apa pun. Aku akan di rumah saja dan bermain video game sampai puas. Aku tidak akan pergi ke perayaan dan ikut mengenakan kostum konyol. Toh, ibu takkan tahu karena aku akan sendiri di rumah.
Sebelum kembali masuk ke dalam rumah. Aku melihat ada gantungan buah labu khas Halloween di dekat pintuku. Aku mencabutnya dan melemparnya ke sembarang arah. Lalu aku masuk ke dalam rumah.
Aku berjalan menuju kamarku. Berniat mengambil handphoneku. Saat di kamar aku melihat sekilas ke arah kotak berisi kostum tersebut lalu beralih ke jendela. Terlihat mulai banyak orang di jalanan, sepertinya berniat ke pusat perayaan. Aku hanya tertawa kecil. Untuk apa merayakan Halloween. Membuang waktu saja.
Saat aku berjalan menuju dapur. Handphone ku berdering, ada yang menelfonku. Aku lihat namanya, ternyata salah satu temanku.
"Hai Ken! Dimana kau? Kau datang ke perayaankan?" terdengar suara Taylor ditengah riuh.
"Tidak. Aku ingin bermain video game saja di rumah," balasku.
"Hei! Jangan seperti itu, tidak akan seru jika tidak ada kau," ucap Taylor.
"Aku benar-benar malas untuk pergi. Sudahlah nikmati saja waktumu. Jangan ganggu aku, aku ingin menamatkan game ku ini," ujarku.
"Huff...baiklah kalau begitu. Tapi Ken, pastikan kau memakai kostum. Jangan abaikan tradisi disini," kenapa Taylor juga mempercayai tradisi tidak jelas ini. Aku segera mematikan sambungan.
Aku membuka kulkas dan mengambil cemilan serta minuman untuk menemaniku malam ini. Setelah itu aku ke ruang keluarga dan bermain video game disana.
Cukup lama aku bermain, ku lihat jam sudah hampir menunjukkan tengah malam. Aku melihat cemilan di meja sudah habis. Begitu juga di kulkas. Perutku berbunyi, aku lupa untuk makan malam. Ku lihat tidak ada makanan sama sekali. Sial! Sepertinya aku harus pergi ke minimarket.
Aku segera bergegas menuju minimarket. Aku memutuskan untuk berjalan kaki. Tapi kenapa sepi sekali dijalanan rumahku. Sepertinya semua orang pergi ke perayaan. Apa mereka tidak khawatir pada rumah mereka? Bisa saja ada perampok yang menjarah rumah mereka. Hah! Benar-benar mereka mau saja membuang waktu untuk Halloween.
Karena minimarket terdekat itu berada dekat dengan pusat perayaan. Aku jadi bisa melihat perayaan malam itu. Berbagai macam kostum dikenakan mereka. Tapi ada yang membuatku aneh. Kenapa suasana perayaan hening sekali? Orang-orang juga hanya berdiri diam di tempat dan anehnya menatap ke arahku semua. Tidak ada pertunjukan sama sekali. Biasanya malam Halloween sangat ramai dengan suara orang bersorak-sorai.
Sudahlah daripada memusingkan itu. Aku segera masuk ke dalam minimarket. Aku mengambil makanan dan minuman yang ku inginkan. Setelah mendapatkan semua. Aku berniat untuk membayar, tapi lagi-lagi, ada yang membuatku aneh. Kasir minimarket menatap kosong ke arahku. Aku mengedikkan bahu, mungkin dia bersandiwara karena ini malam Halloween dan hanya aku yang ada datang ke minimarket ini.
Aku meletakkan barang belanjaanku. Tapi kasir itu sama sekali tak bergeming. Aku menggaruk tengkuk ku. Sedikit canggung, karena kasir itu hanya menatapku. Karena tidak ingin berlama-lama, aku mengscan sendiri barang belanjaanku dan membayar sesuai jumlah.
Aku pergi dari minimarket tersebut, dan berniat untuk pulang. Suasana benar-benar hening di daerahku. Cuaca pun cukup dingin, sepertinya akan turun hujan. Kasihan sekali yang pergi merayakan Halloween. Aku harus cepat sampai ke rumah. Namun, tiba-tiba aku mendengar banyak langkah kaki di belakangku. Aku melihat ke belakangku. Orang-orang yang ku lihat di pusat perayaan berada di belakangku. Aku terkejut, ada apa dengan mereka. Apa ada acara baru, berjalan keliling kota? Hahaha bisa jadi. Aku lagi-lagi tidak mengambil pusing itu. Aku tetap berjalan menuju rumah.
Saat sampai di rumah dan aku berniat masuk ke dalam. Tapi lagi-lagi, mereka yang berada di belakangku tadi berkumpul di pekarangan rumahku. Alisku bertaut karena kebingungan.
"Kenapa kalian berkumpul di rumahku?!" teriakku. Tidak ada satu pun yang menjawab. Tetapi, tiba-tiba mereka mengeluarkan suara secara serentak.
"KENAKAN KOSTUMMU! JIKA TIDAK DIA MENGINCARMU!" aku semakin dibuat bingung. Berulang kali mereka mengucapkan hal yang sama. Kini malah membuatku tertawa.
"Hei! Dengarkan aku! Untuk apa kalian membuang waktu untuk malam Halloween dan repot-repot mengenakan kostum! Hahaha!" setelah aku mengatakan itu, tiba-tiba mereka terbagi. Seperti membukakan jalan. Benar saja, setelah itu ada seseorang mengenakan kostum jubah hitam. Aku tak bisa melihat dengan jelas wajah di balik jubah itu.
Ia berjalan ke arahku. Lalu secara tiba-tiba menggenggam tanganku dan meremasnya dengan kuat. Karena kesakitan, pegangan pada belanjaan di tanganku satunya terlepas. Genggamannya benar-benar kuat. Aku berteriak karena kesakitan dan orang yang meremas tanganku dan mereka yang berkumpul malah tertawa. Aku berusaha melepas genggaman itu. Tapi terlalu kuat, aku benar-benar tidak kuat melepasnya.
Tanganku benar-benar terasa hancur, bahkan aku mendengar bunyi seperti patahan dari sana disusul rasa sakit yang teramat. Aku berteriak dengan keras. Lalu orang berjubah itu melepaskan genggamannya. Aku masih berteriak, tanganku yang diremas tidak bisa digerakkan. Ku pastikan tanganku patah. Kenapa ini?! Apa yang terjadi?!
Orang berjubah itu dengan perlahan tapi pasti membuka tudung jubahnya dan memperlihatkan sosok dibalik jubah hitamnya. Aku tercengang melihatnya, benar-benar mengerikan. Sosok berwajah merah menyala dengan mata yang melotot. Kepala yang lonjong dengan dagu runcing serta gigi-gigi tajam yang menjulang keluar dari mulut yang mengeluarkan cairan yang ku yakini adalah darah. Ada tanduk di kepalanya, lalu sosok itu tiba-tiba mulai membesar. Itu pasti bukan manusia, makhluk itu jadi benar-benar tinggi.
Saking terkejutnya, aku sampai tak merasakan sakit di tanganku ini. Tiba-tiba saja rasa takut memenuhiku. Aku melihat ke sekeliling, mereka menatapku dengan tatapan menyeramkan dan tertawa. Aku kembali menatap makhluk besar di hadapanku. Ia terlihat mau menangkapku, sebelum itu terjadi aku berlari. Berusaha menjauh, aku benar-benar ketakutan, jantungku terus berpacu dengan cepat. Tuhan! Tolong aku! Aku melihat ke belakang, makhluk itu tertawa, suaranya menggelegar membuat keinginan untuk terus berlari pada diriku. Ia mengikutiku, Tuhan aku mohon. Aku benar-benar memohon lindungi aku.
Aku menangis ketakutan. Apa yang terjadi padaku?! Aku terisak, kemana aku harus berlari. Aku berjalan tak tentu arah, aku sampai ke pusat perayaan, disana ku lihat ayah, ibu, dan Jody adikku. Aku berlari ke arah mereka, lalu dengan cepat aku memeluk ibuku.
"Ibu! To-tolong aku! Aku takut Bu! Tidaaaak! Ibu lihat dia datang! Tolong lindungi aku! Huaaaa!" teriakku dipelukan ibuku.
Namun, belum cukup diriku terkejut. Ibu tiba-tiba mendorongku dan membuatku melepas pelukan. Aku menatap nanar ke arah ibu. Kenapa ibu seperti ini? Ah! Ini pasti lelucon yang diciptakan ayah dan ibu untukku!
"Ayah! Aku tak suka lelucon ini! Aku benar-benar takut! Tolong hentikan ini! Hiks! Hiks!" aku melihat ayah menatap kosong ke arahku.
Aku lihat ke arah belakang. Sosok itu mulai mendekat, aku menarik tangan ayahku. "Ayah aku mohon, sudahi leluconnya,"
"KAU PIKIR INI LELUCON?! HAHAHA," suara menggelegar milik sosok itu memenuhi pendengaranku. Aku semakin kencang mengguncang tangan ayahku.
Sama dengan ibu, ayah melepas kasar pegangan tanganku. "Tidak! Tidak! Ayah aku mohon! Huaaaa...tidaaaak! Sudah cukup! Ayah hentikan" aku berteriak-teriak. Aku benar-benar takut, apalagi dengan sosok di belakangku.
Ku lihat sosok itu sudah berada dekat denganku diikuti rombongan orang-orang dibelakangnya. Ku lihat sosok penuh taring itu tersenyum. Ia dengan cepat, mengambil tubuh ayah dan ibu bersamaan, lalu meremasnya dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Tubuh ayah dan ibu hancur, makhluk itu tertawa dengan keras dan meletakkan tubuh orang tuaku yang sudah hancur lebur di depanku.
Aku berteriak histeris. "Tidak! Ibuuuuuu! Ayaaaaaahh!" aku benar-benar seperti orang gila. Saat aku melihat adik kecilku akan diambil juga oleh sosok itu, aku segera memeluknya.
"Aku mohon, jangan sakiti aku dan adikku. Aku mohon padamu," aku memohon-mohon pada makhluk itu.
"Ken! Lepaskan aku! Ini bayarannya karena kau tak mematuhi tradisi disini! Keluargamu jadinya harus ikut menanggungnya!" seru Jody. Ia menatap marah ke arahku.
"Apa maksudnya bayaran?! Jody jelaskan padaku!" aku mengguncang tubuh Jody. Tapi tak ada keluar jawaban. Apa maksudnya? Kenapa ini?!
Makhluk itu kembali tertawa. Kemudian ia mengangkat tubuhku dan Jody. Nafasku tercekat, makhluk itu mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku bisa merasakan dengan jelas deru nafasnya. Aku terpaku ketakutan, ia lalu menyuruhku menatap ke arah Jody. Ia memperlakukan Jody sama seperti kedua orang tuaku. Di depan mata kepalaku sendiri, tubuh Jody hancur.
Aku lagi-lagi hanya bisa menangis dan berteriak. Aku benar-benar syok melihat keluargaku mati dengan mengenaskan di hadapanku. Kemudian, aku mendengar seruan dari orang-orang dibelakang makhluk ini.
"AMBILAH DIA YANG TIDAK MENGHORMATI MU! AMBILAH DIA! TERPUJILAH KAU IRYMAS! AMBILAH DIA YANG TIDAK MENGHORMATIMU!" seruan itu terngiang-ngiang di telingaku. Aku benar-benar tidak berdaya.
IRYMAS. Apakah itu nama makhluk ini? Siapa sosok ini? Apa yang terjadi padaku? Banyak pertanyaan di pikiranku. Makhluk yang berulang kali dipanggil IRYMAS itu tertawa.
Ia dengan cepat, mencabut tanganku. Aku berteriak kesakitan, ini benar-benar sakit. Bibirku bergetar menahan rasa sakit teramat ini. Ku lihat tanganku yang tercabut, dimakannya. Aku tak sanggup lagi, tubuhku benar-benar terasa lemas. Kegelapan mulai menghampiriku. Sepertinya aku sudah berjalan menuju kematian.
****
"Ken! Anakku! Bangunlah! Kenapa ini bisa terjadi padamu? Kenapa kamu tidak mau mendengarkan perkataan ibu?!" suara tangis ibu Ken memenuhi kamar rumah sakit. Ia benar-benar terkejut melihat keadaan putra tertuanya.
Ken ditemukan di aula tempat penduduk daerah setempat berkumpul. Ia ditemukan dengan berlumuran darah. Tangan kanannya ditemukan sudah tidak ada lagi. Terputus. Potongan tangan kanannya tidak bisa ditemukan.
"Sayang, seharusnya tadi malam kita memastikan ia menggunakan kostum. Ini salahku karena tidak memastikannya," ibu Ken menangis histeris.
Ia dan Madison ayah Ken, tahu apa penyebab anaknya mengalami hal seperti ini. Ini pasti ulah makhluk itu. Makhluk yang penduduk daerah ini sembah termasuk mereka berdua. Seharusnya mereka jelaskan ini pada Kennedy sebelumnya. Seharusnya mereka tak menghalangi Ken untuk tahu hal ini. Mereka adalah pemuja sesosok makhluk bernama Irymas. Yang puncak penyembahannya bertepat pada malam Halloween, dan untuk menghormatinya semua penduduk harus mengenakan kostum. Bagi yang tidak mengikuti itu artinya mereka adalah pembangkang.
Ibu Ken, Daisy lagi-lagi hanya bisa menangis dengan pilu. Namun, tangisannya terhenti, ketika melihat Kennedy putranya membuka mata. Daisy tersenyum, ia langsung memeluk Ken. Tapi, Ken tiba-tiba berteriak.
"Pergi kau! Pergi! Huaaaa...jangan sakiti aku! Aku mohon!"
Setelah hari itu, Ken dinyatakan mengalami gangguan jiwa. Ia selalu saja berteriak-teriak dengan kalimat yang sama. Ia benar-benar mengalami trauma berat akibat kejadian yang menimpanya.
.
.
.
~THE END~