Sandya seorang wanita cantik yang sedikit manja dan selalu bersikap seperti ke kanak-kanakan. Namun, dia juga wanita yang selalu ceria dan periang.
Dia memiliki sahabat yang sudah di anggap layaknya kakak baginya. Lantaran usia dan pemikiran sang sahabat yang menjadikan Sandya menganggapnya sebagai kakak. Walaupun begitu, mereka satu angkatan saat tengah duduk di bangku SMA.
Sabrina–namanya sahabat sekaligus tempat Sandya mencurahkan segalanya, mulai dari isi hati,masalah, bahkan apa yang terjadi di keluarganya. Begitu juga sebaliknya, Sandya juga tempat
Sabrina mencurahkan segalanya. Mungkin persahabatan mereka bukan terjalin semenjak mereka kecil. Akan tetapi, persahabatan mereka tetap terjalin dengan baik walau sudah jarang sekali bertemu.
***
Empat tahun berlalu semenjak kelulusan mereka berdua. Kini, mereka sudah bekerja. Sandya bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan yang cukup terkenal.Sedangkan Sabrina, dia bekerja sebagai karyawan di toko buku.
Saat hari minggu. Tiba-tiba saja Sabrina menghubungi Sandya melalui telefon gengam miliknya.
"Halo, San...."
"Iya, Sab. Ada apa?"
"Hari ini, kamu ada acara nggak?" tanya Sabrina.
"Hm.Kayaknya enggak ada deh,emangnya kenapa?"
"Kita keluar, yuk," ajak Sabrina.
"Ayo. Ya udah, aku siap-siap dulu ya."
"Iya, tapi kamu jemput aku ya. Soalnya motor aku enggak ada di rumah," pinta Sabrina.
"Ok.Siap."
Sabrina lalu mematikan sambungan telfonnya. Sedangkan, Sandya segera bersiap-siap untuk segera berangkat ke rumah sahabatnya.
30 menit kemudian, Sandya sudah tiba di rumah sahabatnya. Namun, saat dirinya tiba ternyata Sabrina justru masih belum bersiap bahkan masih menggunakan celana pendek dan kaos oversize.
"Sab, katanya kita mau keluar. Kok kamu malah belum siap-siap, Sih!" sungut Sandya yang sedikit kecewa pada sahabatnya itu.
"He-he,maaf San. Aku tadi udah otw mau mandi, tapi pacarku tiba-tiba telfon ya jadi aku telfonan dulu sama dia." Sabrina menjelaskan alasannya kenapa dirinya belum bersiap-siap sambil meminta Sandya untuk duduk di depannya.
"Sejak kapan kamu punya pacar? Terus dia orang mana? Kerjanya dimana?" Berondong Sandya dengan pertanyaan.
"Banyak amat pertanyaannya, San?"
"Hehe, maaf ya. Aku kepo soalnya," jawab Sandya sambil ketawa cengengesan.
"Iya. Aku ceritain."
Akhirnya, Sabrina menuruti permintaan dari Sandya yang kepo dengan kekasihnya itu. Sabrina mulai menceritakan dari awal ketemu hingga proses sang kekasih yang datang ke rumahnya untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Sandya setia mendengarkan kisah perjalanan sang sahabat dengan kekasihnya dengan seksama. Hingga tak terasa waktu berlalu, Sandya teringat akan rencana mereka berdua yang akan pergi bersama.
Sandya lalu meminta Sabrina untuk segera bersiap-siap. Sebelum Sabrina meninggalkan Sandya untuk bersiap-siap. Dia meminta Sandya untuk mengangkat telfon dari kekasihnya jika, kekasihnya menelepon. Awalnya, Sandya menolak permintaan sang sahabat. Karena baginya itu tidaklah sopan, walaupun sahabatnya sudah memberikan izin atau memintanya.
Tidak lama benda pipih milik sang sahabat berdering, dan tertera ada nama Galih Sayang yang muncul di layar benda pipih tersebut. Mukanya, Sandya ragu-ragu untuk mengangkat telfon dari kekasih sang sahabat. Namun, pada akhirnya dia tetap menjawab panggilan itu.
Tak banyak kata yang keluar dari Sandya maupun Galih dalam panggilan tersebut. Hanya satu yang pasti, Sandya mengatakan jika sahabanya itu tengah bersiap-siap.
Tak lama Sahabatnya sudah siap dan mereka berdua keluar untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu berdua. Lantaran, mereka yang jarang ketemu.Sampai malam pun tiba, setelah seharian mereka menghabiskan waktu. Mereka memutuskan untuk pulang.
Setelah Sandya mengantarkan Sabrina pulang. Sandya lalu bergegas untuk pulang kerumahnya dan segera beristirahat.
***
Keesokan paginya, Sandya mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dia kenal.
"Nomor siapa, nih?"
Sandya bertanya-tanya siapakah gerangan yang mengiriminya pesan pagi-pagi sekali. Dia mencoba membalas pesan singkat yang ia terima. Mencoba menelisik siapa yang mencoba bertukar pesan dengannya. Tak disangka orang yang mengirim pesan adalah Galih. Ya, Galih yang sama, kekasih sang sahabat.
Betapa terkejutnya Sandya mengetahui siapa orang di balik nomor yang tidak dia kenal itu. Bagaimana bisa kekasih sang sahabat menghubunginya dan darimana dia mendapatkan nomor terlfonnya? Apakah sang sahabat mengetahui jika kekasihnya menghubungi dirinya? Atau justru sang sahabat sendirilah yang memberikan nomornya kepada Galih. Apakah itu mungkin?
Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam benak Sandya.
"Dari mana lo, mendapatkan nomor gue?" tanya Sandya dalam pesan singkat yang ia kirimkan kepada Galih.
"Sabrina yang memberikannya kepadaku," jawab Galih.
"Apakah itu benar? tapi kenapa Sabrina memberikan nomorku kepadanya? Kurasa itu tidak benar,"batin Sandya.
Meski begitu, Sandya tak menghiraukan semua pertanyaan yang ada dalam benaknya. Dia juga tidak bertanya tentang hal itu kepada sahabatnya. Dia berusaha berfikiran positif tentang maksud dan tujuan dari Galih. Hingga tak terasa Sandya semakin nyaman akan kehadiran dari Galih.
Jam demi Jam, waktu demi waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa 2 bulan berlalu.Tiba-tiba saja Galih mengungkapkan perasaannya kepada Sandya. Namun, tentu saja Sandya ragu untuk menjawabnya. Karena dia sedikit tak percaya akan hubungan Galih dan Sabrina yang berakhir begitu saja.
Akhirnya, mereka memutuskan untuk bertemu di sebuah taman. Sandya memberitahu Galih jika dirinya ingin mendengar jawaban Sandya, Maka dia harus menemuinya di taman dekat rumahnya.
Di taman mereka duduk berdampingan dan saling berhadapan.
"Apakah kamu beneran sudah putus dengan Sabrina?" tanya Sandya yang masih ragu.
"Iya, sayang. Aku udah putus sama Sabrina," ucap Galih dengan menunjukkan senyumnya.
"Tapi... bagai–" Belum sempat Sandya melanjutkan ucapannya, jari telunjuk Galih sudah menutupnya.
"Sudahlah, sekarang jawab pertanyaanku. Kamu mau jadi pacarku 'kan?"
"Hmm. Iya aku mau."
"Yes ... Yes." Galih meloncat-lonvat kegirangan mendengar jawaban dari wanita yang kini menjadi kekasihnya itu.
***
Hubungan mereka semakin dekat hingga Galih datang menemui kedua orang tua dari Sandya untuk melamarnya.
Mereka juga sering menghabiskan waktu bersama. Namun, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama. Karena tanpa sengaja dua orang yang sudah seperti adik dan kakak itu bertemu.
Tiba-tiba saja wanita yang dia anggap layaknya saudara itu, menampar pipi milik Sandya.
"Kamu itu tega sekali San, kenapa kamu merebut Galih dariku!" Sungut Sabrina.
Sandya hanya diam tanpa suara mendengar dan menerima tamparan dari wanita yang ada di hadapannya kini.
"Kamu juga tau. Galih itu sudah melamar dan akan menjadi calon suamiku. Kenapa San? Apa tidak ada orang lain selain Galih!"
"Aku mengganggamu sebagai adikku dan kita juga sudah bersahabat sejak lama.Apa Salahku padamu San," Sabrina berbicara terus menerus sambil terisak.
"Aku kecewa denganmu." Sabrina pergi meninggalkan Sandya yang masih terpaku di tempatnya.
Setelah Sabrina sudah tak terlihat. Tubuh Sandya luruh tak berdaya, mata yang sejak tadi sudah ingin mengeluarkan air. Kini sudah tak tertahankan, cucuran derainya air yang mengalir bagaikan hujan kini membasahi kedua pipinya.
Dia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.