“Pagi Yesayang.”
Yesa menghentikan langkahnya ketika mendengar suara sapaan dari pemuda yang sudah setiap hari menganggunya. “Eh, tungguin dong.” Rafka masih saja mengejar Yesa saat gadis itu memilih untuk meninggalkannya.
“Yes, lo kenapa sih kalo gue deketin pasti ngejauh.” Yesa masih terua saja berjalan tanpa berniat untuk mendengarkan celoteh dari Rafka. “Ih Yes! Lo sariawan ya? Ngomong dong.” Kali ini Rafka berhasil meraih lengan gadis itu.
“Raf! Lepas!” Katanya kesal sambil menghentakkan tangan Rafka dengan keras.
“Gue heran deh Yes sama lo. Yang lain pada ngejar gue, lo malah ngejauh. Emang lo gak tertarik gitu sama gue?” kata Rafka yang langsung membuat gadis bername tag ‘Kayesa Asma’ itu terdiam. Bukan tak tertarik, hanya saja Yesa ingin menyelamatkan hatinya daru Rafka. Pemuda famous yang tak cukup hanya dengan seorang perempuan saja.
“Hai Rafka,” Yesa menoleh ke asal suara. Ada beberapa gadis yang sedang tesenyum centil menyapa pemuda tampan ini.
“Hai,” Rafka melambaikan tangan sambil tersenyum manis. Ini yang Yesa tak suka dari Rafka. Akhirnya Yesa memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Rafka bersama para gadis itu.
Gadis mana yang mau cinta nya terbagi? Tapi itu yang akan dia dapatkan jika berhubungan dengan Rafka. Pemuda itu tak mengerti dengan perasaannya. Semuanya hanya dia anggap permainan saja. Entah bagaimana Yesa bisa menyukai pemuda seperti Rafka.
“Yes! Kok gue malah di tinggal sih? Lo gak tertarik gitu sama gue? Kalo gue bilang sayang sama lo, lo percaya gak?” Kalimat beruntun dari Rafka itu sontak membuat Yesa terdiam beberapa saat.
“Gak.” Jawabnya.
“Kenapa lo gak percaya?” Rafka duduk di kursi kosong sebelah Yesa. Beruntung sekali pemilik kursi itu masih belum datang sepagi ini.
“Raf, lo sadar ya. Cowok yang gak pernah cukup sama satu cewek itu artinya gak punya pendirian. Dan orang yang gak punya pendirian kayak lo itu, kata-katanya gak bisa di pegang.” Yesa menatap pemuda di samping nya ini dengan lekat. Mungkin jika Rafka mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dia akan terlihat sangat sempurna dimata Yesa.
“Jadi, lo gak suka cowok yang famous kayak gue?” Tanya Rafka cengo. Yesa hanya menepuk keningnya pelan.
“Bukan gitu Raf, emang cewek mana sih yang mau cinta nya di bagi-bagi? Gue gak sanggup kalo sampe pacaran sama cowok modelan kayak gitu. Yaitu elo!”
Rafka terdiam. Memang salahnya dimana? Rafka pikir, itu biasa saja. Toh, Rafka masih bisa membagi waktunya untuk para gadis itu. Itu sudah resikonya kan memiliki hubungan dengan lelaki seperti Rafka, famous dan di kenal banyak orang. Hey, harusnya mereka yang berkesempatan dekat dengan Rafka bersyukur karena pernah mendapatkan seorang pemuda tampan seperti dirinya.
Saat istirahat tiba, Rafka masih saja membuntuti Yesa. Kemana pun gadis itu melangkah, Rafka selalu di belakangnya.
“Jadi tuh pertanyaan nya gini Yes, lo suka gak sama gue?”
Yesa yang semula fokus berjalan menuju kantin dan tak menghiraukan celoteh Rafka, kini dia mendadak menghentikan langkahnya. Terdiam beberapa saat sampai akhinya berujar. “Gak.” Jawabnya enteng. Kemudian melanjutkan jalan nya lagi.
Rafka benar-benar tak habis pikir. Ada apa di dalam diri Yesa sampai gadis itu tak pernah mau melirik nya sama sekali? Gadis yang aneh.
Yesa mengambil tempat di sebuah meja dan disusul oleh Rafka. Dia hanya mendengus saat pemuda itu duduk di depan nya dan memperlihatkan sederet gigi putihnya yang tersusun rapi.
“Hai Raf.” Seseorang menyapa Rafka dan duduk di samping pemuda itu. Hey, siapa yang mengijinkannya duduk disana?
“Oh, Hai juga.” Sapa Rafka ramah. Yesa lagi lagi memutar bola matanya malas. Selalu saja seperti ini. Yesa tak memperdulikan keduanya dan mulai memesan makanan. Percuma jika Yesa akan pindah meja. Kantin ini terasa sesak dan penuh. Untuk mengusir pun rasanya Yesa enggan. Malas juga untuk berdebat.
“Yes, lo ngomong dong. Masak dari tadi gue ngomongnya sama dia? Gue kan kesini buat temenin lo.” Kata Rafka kesal. Memangnya kapan Yesa memintanya untuk menemani dirinya disini?
“Yang nyuruh lo ngomong sama dia siapa?” tanya Yesa lagi. Gadis yang tadi sempat berbincang dengan Rafka itu hanya terdiam dan menatap Yesa tak suka. Sedangkan Rafka mencebikkan bibirnya kesal.
Sudah sejak dua bulan ini Rafka mendekati Yesa. Entah kenapa terasa sangat sulit sekali di bandingkan mendekati perempuan yang lain nya. Mungkin saat Rafka melambaikan tangan di lapangan sekolah, maka satu sekolah yang akan menyambutnya. Kecuali Yesa, tentu saja.
Jam pulang sekolah. Yesa memilih tak langsung bangkit dari tempatnya. Menunggu pemuda yang bernama Rafka menghilang dari sekolah ini. Agar dirinya bisa pulang tanpa menghadapi gangguan apapun.
Saat dirasa sekolah sudah cukup sepi, Yesa mulai melangkahkan kakinya menuju keluar sekolah. Dia akan menunggu jemputan nya di halte bus. Namun saat dirinya tiba di tempat parkir, seseorang menarik rambutnya dengan kencang hingga membuatnya terhuyung. Untung saja dia masih bisa menjaga keseimbangan nya.
“Sok banget sih jadi orang! Sok jual mahal di depan Rafka. Emang lo pikir Rafka suka sama lo? Nggak! Lo kan Cuma boneka dia!”
Ah ya .. itu perempuan di kantin waktu itu. Sebenarnya selama ini Yesa memang berharap kalau Rafka tulus mengucapkan hal itu dan memang dirinya tak bisa tahan jika gak bersenang senang dengan gadis lain. Pasalnya, hanya Yesa yang Rafka buntuti setiap waktu. Mana tau jika perlakuan itu hanya untuk menjadikan Yesa bonekanya.
“Dih! Malah diem lo!” perempuan itu kembali mencengkeram rambut Yesa kuat-kuat. Yesa bisa apa? Dia hanya terdiam memikirkan perasaan nya pada Rafka. Katakan saja dia bodoh! Tapi Yesa tak bisa memungkiri bahwa dia juga benar-benar menyukai dan menyayangi sosok Rafka. Hanya saja Yesa terlalu erat memeluk hatinya agar tidak lepas. Karena dia tau akan terasa sakit rasanya jika dia berani melepaskan hatinya dan membiarkan pertahanan nya runtuh.
“Heh! Lo apa-apaan sih! Lepasin Yesa!” seseorang datang dan melepas cekalan itu. Dia Rio, ketua Osis di sekolah ini. Sahabat Yesa juga. Hanya saja akhir-akhir ini Rio terlalu sibuk hingga sering kali membiarkan Yesa sendirian tanpa dirinya. Perempuan itu hanya berdecak kesal.
“Bela aja terus! Apa bagus nya sih cewek sok polos kayak dia?!” kata perempuan itu sambil sesekali menarik rambut Yesa dengan keras.
“Lo itu punya masalah apaan sih sama Yesa?!” Bentak Rio geram.
“Kenapa nih? Yes, lo kenapa?” Ah, dia lagi. Yesa pikir pemuda ini memang benar-benar sudah pulang. Ternyata ... ah lihat saja dia saat ini berada di hadapan Yesa. “Heh, apa lo pegang-pegang calon pacar gue?" Hardiknya ke arah Rio. Rio menghela nafas sejenak sebelum akhirnya dia melepaskan cekalan tangan nya di bahu Yesa.
Perempuan tadi yang melihat Rafka langsung menghampiri Yesa pun hanya mendengus sebal dan memilih untuk pergi dari tempat itu.
“Thanks Rio.” Katanya. Rio tersenyum dan mengangguk.
“Mau gue anter Yes?” tawarnya. Yesa tau jika pemuda ini masih ada rapat sebentar lagi. Itu sebabnya dia masih berkeliaran di area sekolah. Akhirnya Yesa menolak. Dia tak ingin merepotkan Rio dan membuatnya telat menghadiri rapat Osis sebentar lagi.
“Yes?” Yesa tak menjawab. Dia terus saja berjalan keluar sekolah meskipun Rafka terus saja membuntutinya.
“Yes? Ish.. gue ngomong dari tadi ini. Lo kenapa sih? Giliran Rio yang ngomong respon nya baik banget. Giliran gue? Boro-boro respon baik, respon jahat aja gak pernah. Malah sering di kacangin!”
Yesa jengah mendengar celoteh Rafka yang selalu tak ada habisnya. “Kenapa kalo gue deket sama Rio?” tanya Yesa. Dirinya sudah menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang sekolah.
“Lo kan calon pacar gue!” kata Rafka sewot.
“Lo segitu aja kesel, marah, lalu apa kabar sama perasaan gue yang tiap hari lo giniin Raf? Lo pikir enak ngeliat orang yang disayang malah ngecengin orang lain? Mikir dong Raf! Itu yang selama ini gue rasain. Gue sama Rio sahabatan udah lama, dan lo marah pas Rio nolongin gue barusan? Sedangkan kita belum ada hubungan apapun. Lalu gimana kalo sampe kita punya hubungan dan sikap lo masih kayak gini? Gue gak bakal sanggup Raf.” Yesa pergi meninggalkan Rafka yang masih terdiam mematung di tempatnya.
Rafka kini paham apa yang Yesa ingin kan. Tapi Rafka tidak bisa jika hanya mengabdikan keseluruhan yang ada di dirinya kepada Yesa. Rafka tidak bisa jika hanya menempatkan seorang perempuan saja dalam hatinya. Mungkin Rafka tau apa ini nama nya. Dia bukkan menyayangi para gadis itu. Tapi hanya menyukainya. Dirinya hanya menyayangi Yesa seorang. Tak ada lagi.
Tapi apa yang harus dia perbuat saat rasa suka dan sayang itu tak bisa Rafka bedakan? Tak bisa Rafka pisah? Apa dia harus melepaskan Yesa demi menjaga perasaan gadis itu?
Rafka kini mengerti arti sakit yang Yesa bicarakan. Arti sesak yang Yesa rasakan. Memang sejatinya Rafka tak pernah tau dan tak pernah ingin tau bagaimana perasaan Yesa. Dia hanya ingin Yesa menjadi miliknya saja. Hanya itu.
Mana tau jika itu semua membuat Yesa mendapatkan sebuah luka dari Rafka sendiri? Ah, sebut saja Rafka egois. Tapi memang itu kenyataan nya.
“Maafin gue Yes, gara-gara gue lo ngalamin luka ini. Setelah ini, gue janji gak bakal ngenalin luka apapun lagi ke lo.”
Dia harus melepaskan perasaan nya untuk seseorang yang mungkin akan terluka jika dirinya terus saja memaksa agar dia tetap singgah. Mungkin, suatu hari nanti saat tiba waktunya. Jika memang Rafka untuk Yesa, maka pemuda itu akan kembali. Dan bahkan sebaliknya. Jika Yesa memang hanya untuk Rafka, maka dia akan kembali. Yang kau perlu hanya menunggu. Menunggu takdir menyelesaikan permainannya.