Penculikan, pembunuhan dan orang hilang sudah menjadi hal yang sering terdengar di tv, seluruh petugas keamanan di kota selalu sibuk menyelidiki kasus demi kasus yang seakan tak memiliki titik henti. Meski terkadang pelaku kejahatan itu berhasil di tangkap polisi namun pembunuhan dan penculikan di kota ini tak kunjung berakhir…
Keluarga ku tak pernah menetap di suatu tampat dalam waktu yang lama, kami sering berpindah tempat karna perusahaan ayah ku selalu memindah tugaskan ayah. Dalam satu tahun kami biasa pindah dua atau tiga kali, itulah yang membuat ku sulit mimiliki teman dekat.
Aku tidak tau pasti pekerjaan ayah ku apa, dulu saat masih kecil kakak sering mengatakan bahwa ayah adalah seorang mata-mata, namun aku selalu menganggap itu leluconnya saja, karna ayah tak pernah membahas masalah pekerjaan di dalam rumah.
Namun aku tak masalah dengan semua itu karna aku memiliki ayah yang selalu bisa di andalkan dan ibu yang baik hati meski terkadang ia sering mngomeliku jika tak membersihkan kamar.
Berbeda dengan ku yang tak mudah bersosial kakak laki-laki ku jay salalu memiliki banyak teman atau musuh entah lah, setiap pulang sekolah ia selalu terluka, ada banyak luka goresan atau pukulan di sekitar wajah dan lengannya namun ia mengatakan anak laki-laki bermain dengan cara bertarung, sampai sekarang pun aku tak mengerti cara ia bermain atau berteman yang jelas ia selalu membuat ibu khawatir setiap ia pulang.
JAY POV
Kami baru tinggal selama tiga bulan di kota ini namun aku sudah bertemu dengan orang-orang yang tak pernah ingin ku temui, mereka adalah anak dari rekan bisnis ayah ku, setiap sore mereka memaksaku untuk datang ke gudang sekolah dengan ancaman-ancaman yang berbeda,
“hay jay taukah kau kemarin ayah mu membunuh orang lagi apa ia membawa mayatnya pulang? Mungkin nanti sore kau bisa melihat berita orang hilang untuk melihat wajahnya. Kau tau terkadang ayah mu seperti anjing peliharaan perusahaan yang siap memburu dan menggigit jika di perintahkan kajikanya kkk”
“terkadang aku merasa lucu kenapa ayah mu selalu memakai jas yang rapi saat kekantor bukankah seharusnya ia membawa tali untuk mengikat lehernya saja hahahah”
“dan apa kau menyadari jika ibu mu bisa menjadi actor dengan ektingnya yang baik untuk memancing mangsa itu… wah keluarga yang luar biasa…”
“apa adik mu juga berakting seperti ibu mu atau membunuh seperti ayah mu ha?”
Keempat orang itu tak henti tertawa aku tak tahan lagi, biasanya aku selalu menutup mulut mereka dangan pukulan namun kali ini berbeda aku akan menghabisi mereka sama seperti anjing yang mereka ceritakan pada ku. Aku mengeluarkan pisau lipat dari saku celana ku dan segera menghujamkanya pada salah satu dari mereka, pisau itu mengenai lengan kirinya, dengan membabi buta aku terus mencoba menusuk mereka namun mereka tak tinggal diam, Kami bertarung cukup lama hingga akhirnya
DOR.. seorang peria paruh baya tiba-tiba muncul di depan pintu gudang dan menembak tepat di dada ku, aku tumbang, nafas ku mulai tak beraturan aku mencoba merangkak menjauh namun salah seorang dari mereka minginjak tangan ku, mereka kembali memukul dan menendangku, aku terus berusaha untuk bangkit hingga suara-suara pukulan mereka tak lagi terdengar oleh ku.
EVA POV
Hari mulai larut namun kakak tak kunjung pulang, ayah dan ibu telah mengunjungi semua tempat yang sering di datangi kakak namun tak bembuahkan hasil, semua guru dan teman sekolahnya mengatakan bahwa ia tak lagi terlihat setelah bel pulang bordering.
Keesokan harinya tepat jam 03:30 rumah kami di kepung polisi ayah dan ibu di seret keluar rumah dengan paksa, aku yang terbangun dari tidurku karna kaget segera berlari ke luar rumah aku hendak menghampiri ayah dan ibu namun polisi telah memasukanya ke dalam mobil meninggalkan ku yang menagis tampa tau apa yang terjadi, polisi terus menggeledah rumah ku hingga beberapa jam dan akirnya meninggalkan ku sendiri dengan rumah yang berantakan.
Aku masuk kedalam rumah dan menemukan selembar kertas tepat di bawah meja belajar ku bersama buku-buku pelajaran yang jatuh di sana,”” EVA jika kamu menemukan kertas ini mengkin semuanya telah berakhir untuk kami, namun tidak untuk mu kau tak ada hubungannya dengan semua ini, jadi kau berhak memilih jalan hidup mu sendiri maafkan ayah dan ibu tetaplah bersama kakak mu dan hiduplah dengan baik””
Keesokan harinya aku melihar berita kematian kakak ku yang di duga di bunuh oleh rekan bisnis ayah ku dan teman-teman sekolahnya, yang di ikuti oleh berita di tertangkapnya orang tua ku dengan kasus pembunuh berantai yang di pekerjakan oleh perusahaan xxx.
Sudah seminggu sejak berita itu di siarkan, namun makian demi makian yang di luntarkan warga tak kunjung mereda bahkan bertambah parah, mereka melempari rumah ku dengan batu dan bangkai hewan, saat tiba di sekolah pun aku tak henti mendengar cacian dan hinaan dari teman-teman ku.
Namun aku terus berusaha bertahan dan menunggu hingga kemarahan mereka mereda, aku bahkan mendatangi kursus memasak seperti biasa, kelas selesai semua orang keluar kecuali dua orang gadis yang masih asyik menghinaku dan menatap ku dangan tatapan sinis.
“apa kau lihat dia, tidak tau malu sekali” “ ya begitulah, keluarganya membunuh tapi dia kelihatan tak perduli bahkan tak merasa bersalah”
“ku dengar kakaknya mati, mungkin dia mati karna merasa malu hahahah”
“Aku lelah bisakah kalian tinggalkan aku sendiri” pinta ku tampa menatap mereka
Namun mereka tek menghiraukan ku dan kembali mengoceh seakan aku tak ada di sana, perlahan aku mengambil gunting dari laci meja ku dan menggengamnya cukup kuat, aku menatap mereka yang masih mencibir ku namun kini aku tak lagi mendengar suara mereka, aku hanya mendengar deru nafas ku dan suara hati ku sendiri, apakah ini takdir ku? Apakah tak ada pilihan lain...
- Tamat -