Soal Masa Muda, semua orang pasti melewatinya. Menjadi anak kecil, remaja, tumbuh dewasa seiring bertambahnya usia dan kemudian menua. Banyak yang bilang, masa sekolah, menjadi anak-anak adalah hal yang menyenangkan. Dimana seluruh perhatian orang tua akan terlimpah pada kita. Bahkan jika kita terlahir sebagai cucu pertama dalam keluarga, maka kakek nenek pun ikut andil dalam memberikan kebahagiaan. Itu juga yang ku pelajari dari banyak anak di sekitarku. Mereka selalu mendapatkan apa yang mereka mau, bukan hanya karena orang tua mereka adalah orang berada. Tapi juga, perhatian kasih sayang dan cinta dari orang tua terfokus pada mereka.
Sangat kontras jika kita terlahir sebagai anak yang tidak diinginkan. Meski menjadi cucu pertama, anak pertama dan bahkan satu-satunya anak kecil di kala itu. Hidup ini tidak seberuntung mereka. Ditolak oleh ayah kandung sendiri, dianggap pembawa sial dan berbagai umpatan kasar yang di dengar sedari dini menanamkan mindset tidak baik bagi kesehatan mental.
Untungnya Tuhan begitu baik, membekali otak cerdas yang bisa dimanfaatkan untuk menutup segala luka dan perih batin karena keluarga, dan mendapat perhatian penuh dari pihak sekolah. Berusaha bertahan menjadi juara kelas, mengikuti banyak lomba, hingga selalu menjadi andalan di sekolah dasar.
Ironisnya meski demikian, mencari nafkah saat menjadi seorang siswa tidaklah mudah. Mengupayakan untuk mandiri, tidak bergantung pada orang tua kadang menciptakan konflik batin dalam hati kecil ini.Lelah pasti, kadang kali merasa hampa karena hampir semua yang dilakukan selalu dinilai salah.
Lingkungan toxic yang terbawa sampai remaja.Kurangnya support dari orang tua, menjadikanku pribadi pendiam yang selalu disisihkan, di tertawakan atau bisa disebut dengan istilah bullying atas penampilan fisik yang sedikit berbeda. Tiga tahun di SMP tidak meninggalkan moment indah untukku. Selain, bisa lulus dengan nilai yang baik untuk melangkah ke jenjang selanjutnya.
Perlahan menjadi siswi SMK yang berprestasi. Setidaknya bullyan itu memudar seiring dengan pertumbuhan EQ ku . Mulai berani berbicara, menjadi ketua organisasi, belajar memegang peran penting dalam kegiatan sekolah membuat diri ini dihargai. Bukan berarti butuh pengakuan, hanya sedikit berterima kasih, karena diri ini bisa berkembang lebih baik.
Meski harus memupuskan harapan untuk kuliah karena memang tidak diijinkan oleh orang tua, menyerah bukanlah pilihanku, menjadi sales lapangan dengan gaji kecil ku lalui hampir dua tahun lamanya setelah kelulusan. Berangsur membangun karir sedikit demi sedikit, berpindah profesi beberapa kali, hingga campur tangan Tuhan menghadiahkan sebuah pekerjaan layak yang ku jalani hingga saat ini. Meski aku bukan sarjana seperti yang lain, gaji dan posisi yang didapatkan lumayan untuk mengumpulkan tabungan demi masa depanku nanti.
Namun satu pelajaran berharga yang aku dapatkan dari semua ini. Tuhan memberikan kisah yang berbeda atas diri manusia. Bukan hanya sekedar untuk diceritakan atau disesali pada akhirnya, melainkan membentuk karakter dari masing-masing tokoh yang menjalani.Menjadikan semua ini cerita bermakna yang bisa dipelajari penuh rasa syukur.Bahwa ketika kita merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung, di situlah kita melihat akan banyak orang yang lebih tidak bahagia daripada kita.
Penggalan singkat dari kisah pertumbuhan diri Author. Mohon ambil positifnya saja ya 😊