Aku terduduk diam di atas sofa merah dalam sebuah ruangan yang penuh sesak oleh manusia. Hentakan musik yang begitu memekakan telinga tak mempengaruhiku. Aku mencoba mengingat apa yang barusan terjadi. Ingatan samar-samar bahwa Yui memberiku minuman yang kemudian membuatku menjadi linglung.
Aku melihat sekeliling ruangan, beberapa orang yang kukenal ada di sana. Teman-temanku, mereka begitu menikmati kesenangan mereka, mereka menari dan tertawa keras. Mataku tak henti-hentinya menjelajahi tiap sudut ruangan yang hanya ada manusia, manusia di sisi kiri-kanan, sampai mataku berhenti dan menangkap sesosok pemuda yang tak asing duduk di sudut ruangan dan sibuk menatap gelas minumannya. Dia... Suichi?!
Beberapa wanita bicara padanya atau mungkin menggodanya tapi ia seolah tak memperdulikan mereka. Aku masih terus memperhatikannya. Orang yang tidak akan pernah bosan aku tatap.
Suichi menoleh kearahku. Merasa aku terus memperhatikannya, ia terus menatapku dengan tatapan dan senyum yang sinis. Aku segera memalingkan wajah. Ia tidak pernah suka aku menatapnya.
Yui datang dan duduk di sebelahku bersama Yasuo. Di sisi lain ada Akemi yang sibuk dengan make-up nya.
Belum sempat aku bertanya apa yang terjadi, tiba-tiba suasana dalam ruangan menjadi kacau, semua berlarian menuju pintu keluar. Aku masih tak mengerti apa yang terjadi, aku masih sedikit linglung. Dan tahu-tahunya Yui, Akemi dan aku malah tertangkap oleh polisi. Kami bertiga dibawa dengan mobil oleh dua orang polisi untuk diperiksa. Karena diduga memakai obat-obatan terlarang.
Aku baru mengerti kejadian barusan adalah aksi penggebrakan sebuah club ternama yang berkaitan dengan isu pesta obat terlarang setelah mendengar penjelasan salah seorang polisi. Tapi benar tidaknya isu tersebut aku juga tidak tahu, karena sialnya hanya kami bertiga yang tertangkap. Setelah ini aku hanya berharap tidak dilakukan adanya test-test aneh dan kami bisa segera dibebaskan.
Tak tahu berapa jauhnya menuju kantor polisi, tapi rasanya perjalanan sudah agak lama kami masih belum tiba juga.
Aku memandang ke luar jendela, ini seperti pemandangan desa. Sungai dan persawahan di sepanjang jalan, dengan rumah penduduk yang terkesan modern tapi pemandangan masih sangat asri. Sekarang aku tidak tahu di mana ini dan ke mana kami akan dibawa.
Tak lama kami sampai di sebuah kantor polisi. Sedikit dongkol kenapa dibawa ke kantor polisi yang sudahlah jauh dan begini mungil bahkan terkesan kumuh. Apa tidak ada kantor polisi yang dekat di kota?
Kami dibawa turun dan masuk ke dalam sana. Hanya ada dua polisi yang berjaga. Kami bertiga hanya disuruh duduk saja. Seorang polisi memanggil Yui dan bertanya beberapa pertanyaan padanya.
Aku masih berharap tidak ada test apapun yang harus dijalani. Masalahnya akan semakin panjang jika ketahuan kami adalah pengguna. Setelah menunggu sekian lama akhirnya kami bertiga dinyatakan bebas, entah bagaimana caranya. Aku bisa sedikit lega.
Kami diantar kembali oleh dua orang polisi yang menangkap kami. Tapi sialnya dua polisi itu meninggalkan kami di tengah jalan yang asing itu. Tidak tahu lagi harus menuju ke mana, ditambah dengan tidak adanya angkutan umum yang lewat di daerah ini. Butuh waktu berapa lama jika kami berjalan kaki menuju kota?! Tapi kami tidak punya pilihan lain.
Yui terus saja menggurutu. Akemi berkata, "setidaknya kita bebas".
Tidak lama kemudian dari arah belakang datang sebuah motor mendekat. Ternyata Yasuo dan temannya.
"Aku mencari kalian," katanya.
"Polisi gila itu meninggalkan kami di tengah jalan seperti ini. Sekarang harus bagaimana? Harus berapa hari berjalan untuk sampai ke kota?" gerutu Yui.
"Tidak ada kendaraan umum yang lewat di daerah ini," tambahku.
"Baiklah, aku ikut jalan kaki bersama kalian," kata Yasuo sembari turun dari motor. Dan temannya mengikuti di belakang dengan pelan.
Kami masih terus berjalan. Kulihat jam di ponsel, sudah hampir pukul 3 sore.
Yasuo tersentak sebuah ide muncul di kepalanya.
"Hei, aku bisa menelepon teman lainnya untuk minta bantuan, kan!" ucapnya senang.
Kemudian segera merogoh ponsel yang ada di dalam tas punggungnya. Namun kemudian senyumnya hilang.
"Ponselku mati. Maaf, teman," ucapnya lesu.
"Pakai punyaku!" kataku sambil menyodorkan ponsel ku padanya.
Yasuo mengambilnya dengan sumringah dan mulai sibuk memencet beberapa angka.
"Kau bisa menyuruh temanmu yang ganteng itu untuk menjemputku? Aku tak tahu nomor ponselnya," kataku pada Yasuo tapi enggan menyebut nama Suichi.
Yasuo mengerti maksudku. "Maksudmu Suichi? Aku akan menghubunginya!"
Tak berapa lama, entah berapa nomor yang bisa dihubungi olehnya. Namun sepertinya semua tidak sesuai harapan. Ia nampak mengomel di telepon. Berapa kali dia menelpon, ujung-ujungnya selalu membuatnya kesal. Merasa putus asa akhirnya Yasuo mengembalikan ponselku.
"Ini kau bicara sendiri saja pada Suichi. Aku sudah memencet nomornya!"
Aku meraihnya dan mendekatkan ponsel ke telinga. Suara telepon diangkat. Tanpa basa-basi aku langsung berkata, "Suichi, jemput aku sekarang!"
"Kau ini menyusahkan saja!" jawab Suichi di sebrang sana.
"Apa maksudmu? Pokoknya jemput aku!" rengekku.
"Aku baru saja minum obat dan hendak akan tidur. Kau sudah menggangguku." marah Suichi.
"Kau sakit?" aku tersentak.
Namun tidak ada jawaban, telepon langsung ditutup. Aku merasa serba salah, tapi juga tidak percaya. Suichi sepertinya berbohong, padahal tadi dia baik-baik saja. Yasuo menghampiriku.
"Bagaimana?" tanyanya.
Aku menggeleng lemes tanpa bisa berkata apa-apa.
"Lalu bagaimana dengan yang lainnya?" tanyaku.
Yasuo juga menggeleng dengan lemes.
"Kita memang harus berusaha sendiri," kataku.
"Hei, di depan ada warung. Bagaimana kalau kita istirahat sebentar di sana!" ajak Akemi dan disetujui oleh yang lain.
Kami beristirahat di warung itu sambil menyegarkan tenggorokan yang sudah kering. Aku perhatikan jalanan yang sepi hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Padahal penduduk di sini lumayan banyak. Yang anehnya tidak ada satupun angkutan umum di sini.
Aku mencoba bertanya pada salah seorang penjaga warung.
"Onee-chan, apakah masih jauh menuju kota dari sini?"
"Masih lumayan jauh jika lewat jalan ini, sebaiknya kalian mengambil jalan pintas. Tidak jauh dari sini, ada sebuah belokan jalan kecil yang ditumbuhi pohon karet di sisi jalan. Kalian tinggal mengikuti arah jalan itu saja, tidak akan tersesat. Jika melihat taman bunga maka sudah dekat dengan kota," jelas penjaga warung tersebut.
"Oh, terima kasih. Aku akan ikuti saran onee-chan," kataku mulai menemukan kembali semangatku.
"Sama-sama."
Kami melanjutkan perjalanan. Tidak berapa jauh memang ada sebuah belokan jalan yang sisinya ditumbuhi pohon karet. Sesuai dengan petunjuk yang kudapatkan dari penjaga warung itu kami pun melewati jalan itu. Jalan ini sangat kecil dan kami seperti masuk ke dalam hutan, di mana penuh pepohonan dan tak ada rumah penduduk.
"Benar ini jalannya? Kenapa hutan semua? Orang itu tidak berbohong, kan?" kata Yui merasa tak beres.
"Tenanglah. Semoga saja tidak dan kita bisa cepat pulang," kataku.
"Aduh, capek nih. Kalian koq tidak capek-capek sih. Mana seram begini lagi tempatnya," rengek Akemi.
"Ya, jelaslah tidak capek, orang yang habis ditangkap karena ketahuan main obat-obatan," ejek Yasuo.
"Hei, kalau kita ketahuan mungkin sekarang sudah nginap di hotel bintang lima kali," ujar Yui.
Aku hanya nyengir.
Berjalan beberapa meter akhirnya kami sampai di sebuah tikungan jalanan seperti gang pemukiman rumah penduduk.
"Nah, itu banyak rumah penduduk. Katanya kalau ketemu taman bunga berarti sudah dekat dengan kota," jelasku.
"Yey.. Go home.. Ayo semangat!" teriak Yui menyemangati.
Kami berjalan dengan semangat. Jalan ini sangat padat dengan perumahan. Kebanyakan rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Beberapa penduduk memandang kami dengan asing. Berjalan lebih jauh terdapat sebuah kebun bunga kecil yang sangat indah.
"Nah lihat mungkin itu taman bunganya?" sorak Akemi.
"Ah iya berarti sudah dekat ya!" kataku.
Kami semakin bersemangat. Berjalan sambil menikmati pemandangan yang indah. Meskipun jalan di sini kecil tapi sangat tertata. Kiri kanan penuh bunga warna-warni yang indah. Hampir semua penduduk di sana memiliki tanaman-tanaman bunga di depan rumah ataupun pagar mereka. Sungguh cantik sekali. Karena begitu takjubnya melihat keindahan jalan ini sampai-sampai tidak memperhatikan jalan dan akubpun tersandung.
"Auww..." teriakku.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yasuo yang membantuku berdiri.
"Tidak apa-apa, hanya lecet sedikit. Terima kasih," ucapku pada Adut.
Dan perjalanan pun berlanjut. Sampai pada ujung jalan tidak lagi rumah penduduk ataupun bunga yang berwarna-warni. Tetapi hanya semak dan rerumputan, berjalan terus dan nampak rumah-rumah modern yang besar. Melewati sebuah lorong kecil yang diapit kedua rumah besar tersebut dan sampailah tujuan kami.
Yui bersorak kegirangan. "Yey.. Aku pulang.. Mom i go home!" teriaknya.
Aku perhatikan bagian depan kedua rumah ini. Kenapa ada sebuah jalan menuju tempat asing yang tidak kami ketahui. Ini bukan tempat yang asing bagiku. Sepertinya sangat sering melewatinya. Dan benar saja, club yang digebrak tadi pagi itu ada di seberang jalan sana. Hanya tidak pernah sadar ada sebuah lorong kecil menuju tempat lain.
Perjalanan yang melelahkan berakhir juga. Beberapa langkah dari sana ternyata masih banyak teman-teman yang kutemui di club tadi pagi berkumpul. Entah apa yang mereka lakukan. Aku berjalan melewati mereka. Beberapa menghampiriku, Yui dan Akemi. Tapi aku tak peduli. Sedangkan Yasuo tampak mengomel diantara beberapa kerumunan. Aku mencari sosok yang ingin kutemui tapi tidak kutemukan. Aku mengeluarkan ponsel dan menghubungi sebuah nomor, tapi tidak aktif. Aku kembali berjalan pulang, sendiri.
"Suichi, kau membuatku patah hati!"
═.✵.═════════════.✵.══════════════
"Kaya ga sesuai judul? gapapa lah ya karena ini cerita ngawur yg terinspirasi dari mimpi semalam n akupun bingung mau kasi judul apa. hahaha