(based on true story)
Aku mahasiswa akhir di sebuah kampus negeri di Semarang, panggilanku Anye. Nama lengkapku Anyelir Putri.
Sebagai anak rantau, aku memulai kehidupanku di kota ini dengan sukaduka dan juga cita yang besar. Bagaimana tidak, ini adalah keputusan besar pertamaku untuk berkuliah jauh dari orangtua tunggalku, papa. Sebagai anak terakhir, aku sangat dimanja dan dekat dengan papa, sangat sulit awalnya meminta restu dan ijin untuk kuliah diluar daerah kota kelahiranku di Jakarta.
Sebenarnya papaku sangat dekat dengan semua anak anaknya. Selain aku, kakak laki-laki ku bernama Raihan dan juga kakak perempuanku Dahlia juga dekat dengan papa. Papa sangat dekat dengan tiga anaknya karena perannya yang harus menjadi orangtua tunggal sejak ditinggal oleh istri tercintanya. Ya, mamaku sudah meninggal sejak aku usia setahun kurang seminggu. Jangan ditanya apa perasaanku sudah tidak mempunyai mama sejak kecil, pasti sangat sedih dan juga pernah merasa tidak adil. Tapi aku bersyukur mempunyai papa dan kakak yang selalu mencoba menyemangati dan memberikan semua cinta mereka agar aku tidak terlalu merasa kehilangan sosok ibu.
Aku merasa, mereka berusaha keras tetap menciptakan sosok ibu untuk ku dengan kasih sayang mereka masing masing. Apalagi papa, aku tidak tahu bagaimana bisa laki laki hebat ini mengurus kami bertiga dengan baik tanpa bantuan seorang istri. Papa tidak menikah lagi, selain karena cintanya ke mendiang mama, papa merasakan fokusnya ke anak anak akan lebih dibutuhkan dibandingkan memberikan mama sambung. Padahal kalau dengar cerita dari kakak kakakku, dulu mereka pernah menyatakan sendiri bahwa tidak keberatan jika papa menikah lagi. Kalau memang itu bisa membuat papa nantinya akan ada teman dimasa tua dan orang yang akan membantu mengurus aku waktu kecil. Papa bersikeras akan menjadi orangtua tunggal dengan double perannya, ayah sekaligus ibu untuk ketiga anaknya.
Aku sendiri hidup dengan cukup baik, tidak kekurangan kasih sayang apapun. Foto mama tetap ada dirumah. Cerita kebersamaan mama tetap kurasakan dari hangatnya cerita papa dan kakak kakakku. Cerita saat aku masih kecil sebelum mama meninggalkan kami di dunia, aku hapal semua. Entah mereka sadar atau tidak, mereka selalu mengulang cerita yang sama hingga akhirnya aku hapal tapi aku tidak pernah mencoba menghentikan cerita mereka.
Kami juga ada kebiasaan rutin, sebulan sekali suka menjenguk rumah peristirahatan mama terakhir di kuburan. Katanya, semua hal ini dilakukan agar aku tetap merasakan sosok mama. Tapi menurutku pribadi ini juga cara mereka mengenang dan merindukan mama. Aku memang masih kecil untuk mengingat memori tentang mama, tapi papa dan kedua kakakku pasti sangat ingat sehingga dari mata mereka juga terlihat kerinduan yang sangat dalam saat mereka bercerita kepadaku.
Awalnya aku sangat sedih dan juga pernah merasa tidak adil tapi setelah masuk ke fase remaja aku tidak lagi merasa sedih. Jujur, aku sangat menerima takdir dan iklas jika memang aku besar tanpa mama. Tidak masalah asalkan aku terus diijinkan bersama papa dan kakak kakakku.
Dikarenakan latarbelakang ku seperti yang ku sampaikan tadi, aku tumbuh dengan kasih sayang yang banyak dan mungkin jadi sedikit manja. Aku merasa seperti itu, hingga akhirnya aku ingin berusaha mandiri dengan cara merantau ke kota yang jauh dari keluargaku. Aku ingin menempa diriku dengan baik, melihat sejauh mana aku bisa melangkah mandiri setelah selama ini semua kebutuhanku selalu terpenuhi dan berusaha diberikan cuma cuma oleh keluargaku.
Aku iri dengan kakak kakakku yang diberikan kebebasan untuk memilih pilihan sendiri, bertanggungjawab atas semua barang yang dibelinya sendiri, bisa berpergian sendiri tanpa harus sulit meminta ijin ke papa. Kalau itu tentang aku, papa pasti akan sangat ribet. Aku tidak boleh pergi sendirian jika malam, apapun yang kubeli harus sudah diijinkan oleh papa dan teman temanku semua juga harus mengenal papa dan ada dikontak handphonenya untuk siap di hubungi.
Tidak jarang banyak yang meledekku 'si anak papi'. Kalau sudah seperti itu aku hanya malu dan kesal dalam hati. Tapi tidak pernah ku keluhkan ke papaku.
Bagaimana bisa aku setega itu mengeluh padahal papa berusaha keras berperan sebagai orangtua tunggal yang baik untukku. Tapi sepertinya papa kadang tahu apa yang kurasakan, seperti saat menjemput dan mengantarku ke sekolah saat usiaku tujuh belas tahun. Pertama kalinya aku menolak dicium papa dipinggir jalan. Aku masih mengingat wajah kecewanya. Tapi alih alih marah, papa hanya berkata, "Anak papa tetap anak papa walau sebesar apapun." Terus mengusap kepalaku untuk mengalirkan kasih sayangnya.
Aku masih dicium pipi kanan kiri hingga kening oleh ayahku. Baik dirumah maupu diluar seperti dipinggir jalan. Ini adalah tradisi keluarga kami, bukan hanya aku bahkan kakak laki-laki dan perempuanku juga. Kadang kami membalas mencium papa dengan cara yang sama. Kadang karena malu dilihat orang aku hanya membalas mencium punggung tangan bagian luar dan telapak tangan bagian dalam saja.
Saat meminta restu dan ijin kuliah diluar kota, aku melihat pancaran kesedihan dan ketakutan dari mata papa. Sedikit tidak tega, aku meminta tolong kakak perempuanku Dahlia untuk ikut membujuk papa. Kak Lia dan aku terpaut jarak hingga tujuh tahun. Sedangkan aku dengan kak Rai berjarak 15 tahun. Usiaku memang sangat jauh dari kakak kakakku. Tapi kami bertiga sangat akrab.
Kak Lia sangat dewasa, dia benar bener berperan sebagai kakak perempuan yang bisa diandalkan di dirumah. Tugasnya memasak, mengurus rumah dan kebanyakan mengurusku membantu papa. Kalau kak Rai, sejak lulus sekolah menengah kejuruan langsung mencari kerja dan membantu meringankan beban papa mencari uang. Karena Kak Rai tahu kebutuhan terus meningkat dan papa kadang harus membagi waktu mengurus tiga anak dirumah.
Setelah dibantu Kak Lia, aku mendapatkan restu dan ijin papa berkuliah di Semarang. Aku dan kak Lia mendaftar sekolah di kampusku ini hingga akhirnya bisa kuliah sampai ke tahap akhir ini.
Semester awal aku masih dikirimi uang untuk bayar kuliah dan biaya hidupku di Semarang. Setelah itu aku mendapatkan kesempatan beasiswa dari pemerintah.
Saat ini masa masa kuliahku sudah hampir selesai. Aku sudah menyelesaikan seminar proposalku dan masih terus bimbingan sampai hari sidang skripsi nanti. Saat awal masuk bulan puasa, papa menelpon untuk menanyakan kabar dan bertanya kapan aku akan pulang.
"Kapan pulang nak, papa kangen nih sama anak bontot papa. Yuk temani papa jenguk mama sebentar." kata papa di telepon. Aku yang mendengar sebenarnya tidak tega, tapi aku sampaikan bahwa sepertinya aku tidak bisa pulang karena sedang mengejar deadline bimbingan agar bisa ikut wisuda tahun ini.
"Anye bisa pulangnya dua hari sebelum lebaran pah. Tunggu Anye ya, nanti pas pulang bawa lumpia Semarang yang banyak buat papa." Janji Anye untuk menghibur papanya. Papa yang mendengar pura pura merajuk dan tertawa akhirnya. Papa mengerti dan mandoakan semoga semua urusan tentang skripsi Anye lancar. Setelah pembicaraan telepon itu, papa jadi sering menelepon lagi. Biasanya sehari sekali, tapi akhir akhir ini sampai sehari tiga kali, kadang dengan panggilan video.
Papa kangen banget soalnya nak, kalau ganggu kamu bilang ya, kata papa di panggilan video terakhir. Ya, itu adalah panggilan video terakhir dari papa untuk Anyelir. Karena keesokan harinya yang menelpon adalah kak Rai membawa berita yang membuat hati Anye tertusuk sembilu menahan tangisnya.
"Dek, kamu bisa pulang sekarang engga? Tapi kakak belum bisa jemput, kamu naik pesawat atau kereta ya." ujar kak Raihan. Kak Raihan kakak paling dewasa dan dihormati Anyelir dan Dahlia. Biasanya jarang bicara dan hanya banyak memperlihatkan kasih sayang dari tindakan. Dari sambungan telepon sayup sayup Anyelir mendengar suara tangisan yang dikenalnya seperti suara kak Dahlia.
"Kak Rai, kenapa kak Lia nangis? kalau tentang pulang, aku udah bilang ke papa juga kak kalau aku bisanya sebelum lebaran kak. Ada deadline untuk bimbingan skripsi." Anyelir mencoba memberi alasan kepada kakaknya.
Terdengar suara helaan napas dari kak Rai. Kenapa ya perasaanku menjadi tidak enak begini, batin Anyelir. "Kak Rai, kenapa kak? Papa minta aku pulang ya. Oke aku pulang seminggu.." Belum sempat Anyelir menyelesaikan kata katanya, Raihan sudah bicara lagi.
"Anye papa masuk rumah sakit, dek. Pulang ya sekarang. Kakak pesankan tiket atau kamu bisa cari sendiri?" Akhirnya keluar juga kata kata yang sedari tadi di kerongkongan Raihan.
Deg. Deg.
Rasanya detak jantung Anyelir berhenti sesaat. Kejanggalan dan perasaan tidak enak dari awal sudah dia abaikan dan sekarang dia baru memahami firasat itu. "Aku pesan sendiri sekarang kak." jawab Anyelir kalut.
"Kakak juga akan telepon Sandi ya, untuk temani kamu sampai bandara atau stasiun. Adek yang kuat. doain aja papa cepat sembuh ya dek. Jangan mikir yang aneh aneh." Meskipun Raihan bicara seperti itu sebenarnya dia juga sudah merasa sedikit frustasi dan kalut. Raihan menemukan ayahnya pingsan di depan teras rumah di pagi hari. Langsung berteriak memanggil adiknya Dahlia agar menelpon ambulans. Menunggu dua jam baru ambulans datang dan membawa papa masuk ke kawasan rumah sakit. Papa dilarikan ke ruang IGD. Papa terkena serangan jantung ringan ke menengah hingga sampai sekarang tidak sadarkan diri.
Sebenarnya penyakit yang diderita papa banyak, dokter bilang ini penyakit komplikasi. Penyakit jantung, asma dan asam lambung papa sudah sangat parah. Ditambah usia papa memang sudah sangat tua, jadi imun dari tubuhnya sendiri sangat menurun. Dari pagi tadi hingga sore hari ini saat Raihan menelpon Anyelir, papa belum benar benar sadar. Keadaan papa makin menghawatirkan karena dokter sempat bicara kalau kondisi yang dipantaunya terus menurun, terpaksa papa harus dipasang ventilator.
Sebelum itu, dokter menjelaskan tentang ventilator dan dampak baik dan juga resiko yang kemungkinan terjadi. Ventilator bisa membantu taraf hidup papa, tapi tetap tidak bisa dipastikan kondisi papa bisa bertahan atau sembuh langsung. Semua hanya tergantung kondisi pasien dan juga pertolongan dari Tuhan. Dokter hanya bisa membantu semaksimal mungkin dan menyampaikan keadaan kepada keluarga pasien. Keluarga pasien sendiri disuruh banyak banyak berdoa dan mempersiapkan diri kalau memang terjadi hal yang tidak diinginkan.
Raihan menutup teleponnya dengan Anyelir. Dia mendengar isak tangis sesaat sebelum telepon ditutup. Dia tahu hati Anyelir pasti sangat sakit mendengar kabar ini melalui telepon. Tapi dia hanya terpikir untuk mengumpulkan adiknya semua. Siapa tahu papa akan bangun kalau mendengar suara Anyelir. Sama seperti dirinya dan Dahlia, papa sangat menyayangi Anyelir. Anak dan adik terakhir kami yang dalam hidupnya tidak pernah mengenal mama kecuali dari foto dan cerita. Anak yang selalu riang tapi kami yang paling tahu kerapuhan hatinya, begitu kekhawatiran Raihan dalam hati.
Raihan menghubungi Sandi, laki laki yang menjadi teman dekat adiknya. Sandi dekat dengan Anyelir dari sekolah menengah akhir di Jakarta. Bahkan Sandi mengikuti Anyelir untuk kuliah di Semarang. Sandi dan Anyelir belum pacaran karena Anyelir diminta tidak pacaran dulu oleh papanya setidaknya sampai lulus kuliah, agar fokus kuliahnya tidak terbagi. Tapi Raihan yang sudah mengenal Sandi, anak yang baik dan bisa menjaga adiknya. Dia akan merestui kalau nanti mereka pacaran. Kali ini Raihan meminta Sandi untuk menemani Anyelir sampai ke staisun, tapi Sandi menawarkan menemani Anyelir sampai pulang ke Jakarta. Untuk memastikan kondisi Anyelir baik baik saja sampai nanti tiba di Jakarta.
Sebenarnya ingin sekali Raihan menjemput adik paling kecilnya di Semarang. Tapi keadaan tidak memungkinkan, dia harus fokus mengurus perawatan papa disini. Istri dan anaknya tidak ikut dirumah, dia hanya menelpon istrinya untuk mengabarkan kondisi terakhir papa dan mengecek kondisi istri dan anaknya sesekali. Istrinya menenangkannya dan bilang agar Raihan fokus untuk perawatan papa dahulu, dia dan anak anaknya dirumah menunggu dan berdoa. Raihan bernapas lega, istrinya sangat membantu dan menegarkan hatinya saat kondisi seperti ini. Raihan benar benar tidak bisa banyak berpikir kalau sudah seperti ini.
Bahkan Raihan sudah ambil ijin cuti tidak masuk kerja. Sebagai kakak laki-laki dan anak pertama dia harus bisa menjadi pengganti papa sementara, jika kondisinya seperti ini. Setua apapun usianya ini tidak akan pernah mudah dan dia tidak pernah siap untuk kehilangan sosok ayah yang disayangi dan hormatinya ini.
Dahlia juga sama dengan kakaknya, Dahlia sudah minta ijin tidak masuk kerja. Bergantian menjaga dan mengurus keperluan perawatan papa. Tadinya Dahlia ingin menelepon adik perempuannya, karena dia yang paling dekat dengan Anyelir kalau dibandingkan dengan kak Raihan. Tapi daritadi saja Dahlia yang ditenangkan oleh kakaknya, Raihan. Dahlia benar benar kalut dan tidak bisa banyak bicara. Dia sangat sedih untuk pertama kalinya melihat ayahnya tidak sadarkan diri dalam waktu yang lama.
"Kalau papa meninggal bagaimana dengan kita kak. Hiks Hiks. Aku masih mau bersama papa. Aku takut. Hiks Hiks." Dahlia menangis lagi.
Sudah tidak terhitung tangisan yang dia keluarkan dari pagi. Dahlia sangat takut kehilangan papanya, masih teringat jelas trauma dan sakit kehilangan ibunya saat usia Dahlia menginjak delapan tahun. Walau tidak benar benar sekecil Anyelir. Tapi untuk anak usia delapan tahun kehilangan sosok ibu juga bukan hal yang mudah. Sekarang dia hanya ingin papanya sadar dan memeluknya kembali. Banyak hal yang dicita-citakan Dahlia untuk papanya dan masih belum terwujud. Salah satunya pernikahan Dahlia. Dahlia sudah merencanakan pernikahan setahun lagi dengan tunangannya. Dia sangat ingin setidaknya sampai saat itu tiba papanya masih ada. Dahlia juga kepikiran dengan nasib Anyelir. Anyelir juga pasti berharap hingga wisuda bahkan pernikahannya masih ada papa.
Ah, Anyelir pasti sekarang sedang menangis. Pah, bangun untuk kami. Kami masih membutuhkan papa, batin Dahlia ingin sekali menangis meraung-raung.
Sedih sekali, bahkan sejak masuk ruang IGD dia memeluk papanya tapi papanya tidak memeluk balik. Dia mencium pipi kanan kiri dan kening ayahnya, tapi papanya tidak membalas cium seperti tradisi keluarga yang biasanya. Dia rindu dipanggil 'Dali' nama kecilnya oleh papa. Dahlia ingin sekali bisa memandang lagi mata coklat terang yang pinggir korneanya sudah berubah warna biru karena usia milik papanya. Dia menggenggam tangan yang biasanya memijat kepala anak anaknya. Paling sering adalah kepala Dahlia dan Anyelir. Sebagai anak perempuan, sangat beruntung dia dan adiknya sangat dekat dengan papanya.
Waktu terus berjalan, Dahlia ijin ke kak Raihan keluar sebentar untuk membeli makanan berbuka puasa. Meski keadaan sedang seperti ini, mereka tetap menjalani kewajiban berpuasa di bulan ramadhan seperti umat muslim pada umumnya.
Di seberang sana, tempat yang jauh dari rumah sakit di Jakarta. Sandi sudah memesan dua tiket pulang dan menjemput Anyelir di kosannya. Mata anyelir sembab dan raut mukanya sangat memprihatikan. Pasti Anyelir banyak menangis setelah ditelepon kak Raihan. Sandi pun membantu membawa barang bawaan pulangnya Anyelir sampai akhirnya mereka sudah tiba di stasiun Semarang Tawang. Mereka membeli tiket kereta tercepat yang berangkat malam ini juga. Mereka berdua juga juga berbuka puasa di jalan menuju stasiun. Anyelir tidak terlalu berselera namun karena dipaksa oleh Sandi jadi dia mau tidak mau makan juga. Sambil menunggu kereta yang di tiket tertulis jam 10 malam, Sandi mencoba menghibur Anyelir dengan kata kata.
"Anye kamu yang kuat ya. Doain om Farhan, semoga Tuhan masih kasih kesempatan buat kalian bahagiain papa kalian."
Maksud hati Sandi adalah menghibur dengan kata kata positif tapi Anyelir malah semakin menangis. Sandi kebingungan dengan cara apa dia bisa menghibur Anyelir. Dia memilih untuk membiarkan Anyelir menangis sebebasnya sampai hati Anyelir puas. Sandi juga menawarkan pundaknya kalau Anyelir mau menangis disana. Sandi tidak berani mengambil kesempatan untuk memeluk Anyelir. Biar bagaimanapun dia sudah berjanji kepada om Farhan dan kak Raihan untuk menjaga Anyelir dengan batasan. Meski mereka berdua tidak dilihat oleh papa dan kak Raihan, mereka berdua adalah anak yang baik dan bisa dipercaya jadi mereka menepati janjinya hanya untuk sebagai teman dekat saja sekarang.
Kereta menuju Jakarta sudah tiba di stasiun Semarang Tawang, posisi Sandi dan Anyelir juga sudah duduk di dalam gerbong masih menunggu keberangkatan kereta sesuai dengan jam yang sudah tertera di tiket boarding mereka. Anyelir akhirnya terlelap. Mungkin dia juga kelelahan karena menangis tidak berhenti. Selama menangis di stasiun tidak jarang orang yang melihat berbisik dan melirik. Mungkin mereka bertanya-tanya apa tangisan gadis perempuan itu disebabkan oleh anak laki-laki yang juga duduk di sampingnya. Tapi Sandi dan Anyelir seakan tidak peduli. Mereka berdua masih sibuk dengan pikiran dan perasaan masing masing. Anyelir yang memikirkan kondisi papanya. Sandi yang mengkhawatirkan kondisi Anyelir.
Pada akhirnya, kereta berangkat dari stasiun Semarang Tawang. Kereta malam ini akan menempuh perjalanan lima jam 22 menit serta melewati 21 stasiun sampai akhirnya tiba di stasiun akhir, Stasiun Jatinegara. Dari stasiun Jatinegara ke rumah Anyelir memakan waktu 20menit dengan taksi online. Anyelir hanya terlihat berdoa dan menangis meminta pertolongan Tuhan agar terus diberikan kesempatan melihat papanya lagi.
Anyelir sangat menyesal tidak mendengarkan kata kata papanya saat meminta pulang sebelum bulan ramadhan datang. Sekarang rasa bersalah juga datang karena dia abai terhadap kejanggalan kejanggalan yang terjadi sebelum sampai akhirnya papanya tidak sadarkan diri seperti sekarang. Apa karena itu papa sering menelponku dan melakukan panggilan video akhir akhir ini, sesal Anyelir.
Perjalanan sudah setengah jalan, tapi terasa sangat jauh dan melelahkan dibandingkan biasanya bagi Anyelir. Perasaannya mengatakan dia mungkin tidak akan sempat lagi melihat papanya kalau begini. Semua pikiran positif berubah menjadi semua kemungkinan pahit yang sangat ingin dia hindari. Tidak sadar kalau gumamannya ternyata terucap, Anyelir bicara pelan.
"Kalau tidak ada papa, buat apa aku berusaha untuk wisuda." Sandi kaget mendengarnya. Dari sepanjang jalan dari naik di Semarang sampai sekarang sudah di daerah Cirebon, Anyelir baru bicara ini saja tapi isi pembicaraannya sangat membuat khawatir. Sandi akhirnya memberanikan memegang tangan Anyelir, bukan untuk maksud lain hanya ingin sedikit menguatkan Anyelir.
"Anye, kamu engga boleh berkata seperti itu. Banyak berdoa saja tidak usah berpikir aneh aneh." Sandi mengusap punggung tangan Anyelir. Satu tangannya lagi mencoba menghapus air mata di pipi pujaan hatinya itu.
Kereta terus melaju. Sekarang posisi mereka sudah masuk akan masuk stasiun Cikarang. Sandi dan Anyelir tidak bisa tidur karena pikiran mereka masih sangat berantakan. Tidak lama, terdengar dering telepon dari handphone Sandi. Sandi melihat layar handphonenya dan melirik Anyelir. "ini dari kak Rai. aku angkat dulu ya." Anyelir mengangguk meski dia agak bingung kenapa kak Raihan malah menelpon Sandi dibandingkan dirinya.
Nyut. Hatinya berdenyut. Mungkin yang mau dibicarakan hal yang buruk makanya kak Rai engga menelpon aku, curiga Anyelir.
"Iya, kak Rai. Oh. iya ada kok disamping aku." ucap Sandi melirik ke Anyelir.
Ah, kak Rai menanyakan keberadaanku ke Sandi ya, pikir Anyelir masih menunggu penasaran apa yang sebenarnya dibicarakan kakaknya dengan Sandi di telepon.
Sandi terlihat mendengarkan dan diam lama. Kali ini dia tidak berani menjawab atau melirik ke Anyelir.
Innalilahi wa innailaihi rojiun. Om Farhan meninggal. Haduh aku gimana bilangnya ke Anyelir, Sandi merasakan tangannya berkeringat dingin. Kak Raihan masih terhubung di telepon dan berbicara.
"Kamu coba tenangkan Anyelir sebisa kamu ya. Kalau kamu merasa lebih baik bilang pas udah sampai di dekat rumah juga gapapa. Kakak titip Anyelir sebentar ya Sandi. Kak Rai dan kak Lia mau mengurus pemakaman dan surat kematian papa dulu." Kak Rai terdengar tabah. Tapi dari suaranya yang parau semua orang juga tahu, kalau mungkin laki laki ini sudah menangis sebelum melakukan panggilan telepon.
"Baik kak, nanti aku coba sampaikan ke Anyelir." Sandi pun mengakhiri panggilan teleponnya.
"Kak Rai bilang apa San? Papa udah sadar ya?" Anyelir coba menanyakan dan berharap pertanyaannya diiyakan oleh Sandi, meski kekalutan terlihat jelas di mata Sandi, jelas ini bukan berita baik yang mau disampaikan.
Setelah menimbang nimbang baik dan buruknya. Sandi akhirnya jujur ke Anyelir dari sekarang. Dia tidak mau berbohong, dia hanya memilih kata kata yang sekiranya tidak terlalu menyakitkan untuk disampaikan.
"Anye, dengerin aku ya. Kamu boleh nangis sepuasnya. Ijinin aku juga kalau nanti aku harus peluk kamu. Aku bakalan namenin kamu sampai kita nanti sampai di rumah."
"Apa sih, Sandi. Jangan bicara yang ga jelas deh. Kak Rai bilang apa??!" tanpa sadar Anyelir bertanya dengan kondisi berteriak kecil. Dia sepertinya tahu firasat buruknya akan terjadi.
"Papa baik baik aja kan!" Sekarang Anyelir sudah tidak bisa menahan tangis dan teriakannya lagi.
Waktu masih dini hari. Sebentar lagi mungkin akan tiba waktu sahur. Sebagian penumpang di gerbong kereta masih terlelap. Ada yang terbangun kaget karena suara kencang dan tangis dari Anyelir. Ada juga yang daritadi tidak tidur tapi ikut mencuri dengan percakapan dua orang yang memang agak keras itu.
"Tenang Anye, maafkan aku bilang begini. Relakan papamu ya. Om Farhan sudah berpulang ke Tuhan."
Nyut. Hati Anyelir benar benar sakit bukan lagi seperti diiris. Tapi seperti dihantam benda keras.
Anyelir tak kuasa menahan tangisnya memanggil nama ayahnya. Meraung-raung tidak terkendali. Dia tidak perduli bagaimana pandangan orang orang sekitar. Yang dia rasakan dan pikiran hanya papanya.
Satu satunya orangtua yang dimilikinya sudah tidak ada. Kemana lagi dia harus berpegang.
Sosok Ayah yang selalu memotivasi dan jadi panutan baginya. Bahkan sering sekali papanya menjadi teman baginya. Kondisi keluarga mereka yang tidak utuh tanpa seorang ibu, membuat secara natural kedekatan papa dan anak anaknya dekat tanpa jarak. Papanya tidak sungkan cerewet selayaknya orangtua perempuan. Masakan papa juga sangat enak tidak kalah enak seperti masakan mamanya dulu, kata kak Raihan. Fungsi orangtua perempuan dilakukan papanya dengan baik. Papanya ingin anak anaknya tidak merasa kurang. Tapi sekarang semua sudah berbeda.
Anyelir menangis didalam pelukan Sandi. Baju Sandi sangat basah dengan airmata Anyelir yang tidak berhenti. Penumpang dekat bangku mereka menghampiri menanyakan keadan dan kenapa gadis itu menangis.
Sandi menjawab sesesui porsinya saja, kalau ayah dari gadis ini meninggal dan sekarang menuju ke rumah dari Semarang. Banyak yang ikut sedih dan prihatin. Ada seorang ibu dan balitanya yang jadi ikut menangis bersama. Dia juga memeluk Anyelir berbicara ikhlaskan orangtuamu nak.
Ada seorang kakek yang menghiburnya berkata, Ayahmu meninggal saat bulan suci, pasti ayahmu orang baik ya nak. Ikhlas nak. Percaya ini jalan Tuhan yang paling baik. Kata kakek itu mencoba membesarkan hati Anyelir.
Petugas kereta sempat datang karena mendengar adanya kehebohan dari gerbong ini. Setelah mendengar ceritanya mereka berkata turut berduka dan bela sungkawa. Menawarkan kabin dekat masinis atau gerbong makanan jika Anyelir ingin memenangkan hatinya sampai tujuan. Tapi Anyelir hanya bisa menangis tidak bisa merespon siapapun. Jadi yang menjawab hanya Sandi.
"Terima kasih, pak. Tapi kami disini saja sampai tujuan. Mohon maaf kalau kami agak mengganggu kenyamanan penumpang lain." ujar Sandi santun.
Penumpang lain menjawab tidak masalah tidak ada yang terganggu. Malah ada yang menawarkan kalau sudah sampai di Jatinegara, keluarganya dan dia akan mengantar Sandi dan Anyelir sampai rumah. Dibandingkan harus menunggu taksi online, mobil keluarganya sudah ada di stasiun untuk menjemput. Sandi berterima kasih atas perhatian dan bantuannya.
Staisun Jakarta tinggal tiga stasiun lagi dari tempat mereka berada sekarang. Sandi, Anyelir dan penumpang lain bersiap turun. Sandi juga sudah menghubungi kak Raihan. Kak Raihan bilang semua urusan tentang papa sudah hampir beres. Anyelir diminta langsung kerumah saja. Rencannya, akan dikuburkan pagi sambil menunggu Anyelir tiba di rumah.
Sesuai janji, penumpang baik hati itu mengantar Anyelir dan Sandi ke rumah Anyelir. Anyelir sebenarnya sudah bisa sedikit menguasai hatinya. Banyak menjawab pertanyaan yang ditanyakan penumpang baik hati itu dan keluarganya. Anyelir sempat mengucapkan rasa terima kasihnya sudah diantar. Sampai pada waktu Anyelir melihat bendera kuning dekat rumahnya. Kesadarannya kembali menghilang. Dia kembali menangis menjerit lagi.
Setibanya di rumah, Anyelir berlari masuk ke rumah. Rumahnya sekarang sudah penuh dengan tetangga dan keluarga yang datang. Semua orang melihat Anyelir dengan tatapan sedih dan simpati. Anyelir terlihat berantakan sekali, apalagi hatinya. Saat datang Kak Dahlia langsung memeluk adiknya erat. Dia juga tidak berbicara apapun karena kurang lebih hatinya sama berantakan dan hancur seperti adiknya ini. Dia hanya memeluk dan memberi kehadiran bahwa mereka akan terus sama sama menghadapi semua yang akan datang setelah ini.
Kak Raihan, yang sekarang langsung berperan sebagai kepala keluarga bagi adik adiknya. Menerima tamu berbicara mewakili keluarga dan banyak mengucapkan terima kasih kepada orang orang yang datang. Di usianya yang sudah dewasa, wajar dia terlihat bisa mengkontrol perasaan dan emosinya saat ini. Istrinya juga sudah membantu didalam bersama Dahlia. Sekarang ketika dia melihat adiknya Anyelir menangis didekat tubuh ayahnya, akhirnya pecah juga tangisan yang dia tahan.
"paaaaah. Bangun ini Anye pah. Katanya papa mau liat Anyelir wisuda. Sebentar lagi paah. Bangun dulu."
Semua orang yang melihat pemandangan ini sangat sesak. Mereka membiarkan Anyelir mengungkapkan perasaannya terakhir kali. Anyelir terus memeluk tubuh papanya, berbisik di telinga berharap bisa membangunkan papanya yang seperti tertidur.
Mencium pipi kanan kiri dan kening seperti biasa. Mendekatkan kepalanya keatas dada papanya, berharap tangan papanya mengelus puncuk kepala Anyelir seperti biasa. Memeluk erat seakan tidak mau melepaskan.
Pelukan yang akan menjadi pelukan terakhir dirinya bersama papa.
TAMAT
.
.
sebuah apresiasi postingan cerpen untuk mengenang setahun kepergian papa tercinta (AMS)
love of my life 🌻🌻