Awalnya aku merasa pernikahan itu menakutkan. Menjadikan dua kepribadian menjadi satu dengan kelebihan kekurangan masing-masing pasti tidak akan semudah itu. Apalagi jika punya dasar ego yang sama-sama tinggi. Pasti hanya akan saling menuntut dan menyalahkan tapi tidak mau menyadari keadaan pasangan. Semua itu tergambar jelas di otakku. Melihat kedua orang tuaku yang tidak pernah saling terbuka, memendam masalah masing-masing tanpa pembicaraan serius akhirnya malah menghadirkan pihak ketiga yang tidak diinginkan.
Dari situ aku menjaga jarak sepenuhnya pada laki-laki. Pacaran, okey, seringkali bergonta ganti pasangan. Namun untuk serius, nanti dulu. Aku selalu ragu dalam beberapa bulan setelah mengenal sebagian karakter dari pasanganku dan berakhir dengan kata pisah. Bahkan yang sudah terjalin 2 tahun pun juga berakhir karena adanya pihak ketiga.
Aku sempat berpikir, lebih baik hidup sendiri. Tidak perlu menikah, yang penting aku bisa mandiri mencukupi kebutuhan orang tua dan adikku. Hingga tidak ku sangka-sangka, aku bertemu kembali dengan teman masa kecilku. Ya, sekalipun hanya watak keras yang menyebalkan yang ku ingat namun aku nyaman dengannya.
Singkat cerita, tak lama setelah hubungan itu terjalin kembali dia melamarku dan di tahun yang sama kami pun menikah. Meski pada awalnya aku dan dia sering cekcok hanya karena masalah sepele namun lambat laun sikapnya berubah. Dia yang dulu kaku dan egois. Perlahan melunak dan mulai pengertian. Kebersamaan kami selama dua tahun ini bisa dibilang penuh lika liku, namun dia benar-benar belajar menjadi suami yang baik untukku. Dia tak banyak bicara, namun sikapnya sangat memperdulikanku. Akhirnya pemikiranku tentang betapa menakutkannya pernikahan berangsur berubah, tidak semua pernikahan seperti yang orang tuaku hadapi. Ada ujian, masalah yang berbeda satu dengan yang lain. Tidak bisa disamakan.
Dan satu yang aku pelajari selama menjadi seorang istri "PERNIKAHAN BUKAN HANYA TENTANG SELALU TERLIHAT BERSAMA. NAMUN TETAP MEMPERTAHANKAN VISI YANG SAMA WALAU DENGAN MISI YANG BERBEDA-BEDA"