Namaku Kalina, umurku 16 tahun, aku tinggal didaerah pesisir, ayahku seorang nelayan, rata-rata mata pencaharian warga didaerahku memang nelayan. Sedangkan kaum wanitanya sebagian ada yang bekerja dipasar, memasarkan ikan serta produk UMKM warga, seperti terasi udang, Ikan asin, Kerupuk olahan dari ikan dan yang menjadi primadonanya bahkan menjadi makanan khas daerahku adalah olahan keripik belalang.
Ya ! keripik belalang saat ini memang menjadi makanan yang banyak diminati oleh pecinta kuliner.
Banyaknya kebun jati didaerahku membuat habitat belalang jati begitu melimpah.
Tempat tinggalku adalah daerah pesisir selatan yang memiliki topografi wilayah yang berbukit-bukit dengan ketinggian berkisar 0-1000 m dari permukaan laut.
Maka dari itu oleh pemerintah setempat bukit-bukit itu dimanfaatkan sebagai lahan perkebunan pohon jati.
Rumah produksi keripik belalang berada di rumah bu lurah, karena ide camilan keripik belalang itu sendiri tercetus dari bu lurah, sudah ada belasan karyawan yang dilatih dan dipekerjakan disana.
Mulai dari proses pencucian, penggorengan hingga pengemasan juga. Pemasarannya pun tidak hanya di pasar-pasar ataupun di toko-toko oleh -oleh, tapi juga secara online, jadi pemesannya banyak dari luar daerah.
Belalang- belalang itu sendiri Bu lurah dapatkan dari para pencari belalang yang memang mereka jual langsung ke Bu lurah, dengan harga lima belas ribu rupiah per satu kilonya. kalau sedang mujur, sekali jalan mereka bisa mendapatkan sepuluh kilo belalang jati.
Biasanya mereka para pencari belalang berangkat dari rumah jam satu siang, mereka naik bukit hingga jam empat sore mereka sudah turun dan langsung menjual hasil tangkapan mereka ke Bu lurah.
*************
Suatu hari saat aku dan ibuku bersantai dirumah, datang Bu Liya tetangga kami, dia begitu bersemangat untuk mengajak kami untuk mencari belalang jati besok pagi, karena Bu lurah sedang butuh pasokan belalang jati dengan jumlah yang sangat banyak, untuk dikirim keluar kota dan keluar negri, bahkan Bu lurah akan membeli dengan harga dua puluh lima ribu per kilonya. Maka tak ayal membuat para warga pun antusias untuk mencari belalang.
"Kita besok berangkatnya pagi Bu !"
Kata Bu liya penuh semangat.
"Kalin juga bisa ikut besok, kan masih libur semester !"
Ujar Bu liya lagi, aku hanya tersenyum sambil menoleh ke ibuku, sebenarnya akupun juga ingin naik bukit, karena selama libur semester aku hanya diam dirumah, ingin sekali rasanya refresing.
"Aduh ! kalau Kalin ikut, siapa yang mau jaga si Iyan ?"
Iyan adalah adikku yang baru berumur empat tahun.
"Diajak saja bu gak apa apa, besok Rena dan Yuki juga ikut kok !"
Mendengar Rena juga ikut, aku rasanya tambah semangat ingin ikut juga, Rena adalah anak Bu Liya yang kebetulan teman satu sekolah ku, dan Yuki adalah adik Rena yang baru berusia lima tahun.
Ibu agaknya masih menimbang ucapan Bu liya.
"Ayolah Bu, sekalian besok bawa bekal sambil camping disana !"
Ujar Bu liya sambil terkekeh dan akhirnya ibupun menyetujui.
Jangan ditanya bagaimana perasaanku, sudah pasti aku sangay bahagia, dan tak sabar menunggu hari esok.
**********
Keesokan harinya aku dan ibuku sudah siap, kami membawa peralatan untuk menangkap belalang serta membawa karung beras lima kiloan tiga biji untuk wadah hasil tangkapan kita nanti, siapa tau sedang mujur dan akan terisi semua karung- karung itu, ujar ibu.
Tak lupa kia juga membawa bekal makanan dan juga minuman berupa air mineral dua botol besar serta tak lupa membawa tikar.
Aku membayangkan betapa serunya nanti. Tak henti- hentinya kulihat tingkah adikku yang sangat lucu dan menggemaskan itu dengan topi bundarnya.
Setelah jam sembilan kami pun berangkat, ada sekitar lima belas orang yang ikut rombongan kami. Dengan mengendarai motor, kamipun berangkat bersama- sama menuju bukit yang jauhnya sekitar lima ratus meter dari rumah, aku dan adikku dibonceng motor oleh ibuku.
Setelah sampai dikaki bukit, kamipun berhenti, disana ada pos penjaga, ada sekitar lima orang yang ada di pos itu, bagaimana pun kami tetap harus ijin untuk naik ke bukit untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan apabila kita nanti di sana, dan kita semua dihitung berapa jumlah semua orang yang ikut naik, motor kamipun dititipkan disana.
Ternyata memang sudah banyak warga yang naik ke bukit, dilihat dari jumlah motor yang terparkir di pos penjaga.
"Bagaimana ini, sepertinya kita kurang pagi, jadi keduluan sama mereka !"
Ujar Pak Nursalim, dia adalah ketua rombongan kami. bagaimana tidak, bagaikan syayembara, para pencari belalang kini hingga dari luar daerah.
"Kalau kita tetap naik, pasti hanya akan dapat sedikit nanti, gimana kalau cari tempat lain saja ?"
Ucap salah satu warga dari rombongan kami.
"Dimana ?"
Tanya yang lain.
"Gumuk Jati misalnya !"
Ucap salah satu pemuda yang bernama Dimas, membuat yang lain langsung terkejut, bagaimana tidak, konon gumuk jati itu tempat yang angker, ada yang bilang disana adalah tempat bersinggah Ratu pantai selatan, atau yang disebut juga Nyai Roro Kidul, gumuk jati itu sendiri adalah sebuah tanjung, karena letaknya berada di bibir pantai dan menjorok ke laut.
"Eh ! jangan kesana, angker !"
"Kata siapa, saya pernah cari belalang disana, bahkan belalangnya lebih besar- besar !"
"Bagaimana yang lain, apa setuju kalau kita ke Gumuk Jati ?"
Tanya Pak Nursalim kepada yang lain.
"Kalau kita tetap dibukit utama, pasti hasil tangkapan kita sedikit !"
"Kita ke Gumuk Jati saja sudah, insya allah tidak apa- apa"
Akhirnya mereka semua menyetujui untuk ke gumuk jati, gumuk jati tidak seberapa jauh dari bukit utama, kita cukup berjalan kaki kearah selatan melewati kaki bukit utama.
Kami begitu riang gembira, berjalan sambil bersenda gurau bersama, sesekali ku gendong adikku, sambil bernyanyi 'Naik- naik ke puncak gunung' adikku benar- benar senang, aku dan Rena berjalan beriringan.
Setelah sampai dikaki bukit, ternyata disana ada sebuah posko namun tak nampak satu orangpun disana. Kami beristirahat sejenak disana.
Tiba- tiba mendung dan suasana nampak begitu gelap, gerimis rintik- rintik mulai turun, walau sidikit kecewa karena cuaca, namun kami tetap bertahan di posko, karena kami sudah terlanjur berjalan sejauh ini.
Kabut tebal tiba- tiba muncul, hingga tak terlihat apapun. Kami semua mulai takut dan mulai ada yang saling menyalahkan karena datang ke gumuk jati. akhirnya Pak Nursalim menengahi dan menyarankan kepada mereka agar tetap tenang dan berdoa, Pak Nursalim pun memimpin untuk berdoa kami pun berdoa bersama.
Ku peluk Iyan sambil ku usap- usap punggungnya karena dia begitu ketakutan dan ingin menangis.
Alhamdulillah, kabut tebal itu tak berlangsung lama, setelah menghilangnya kabut itu kini suasana menjadi cerah kembali, sinar matahari kini menyinari lagi, kamipun bersyukur dan hendak menaiki gumuk jati dengan segera, karena jam sudah menunjukkan pukul 10.30 wib.
Sampai diatas bukit kamipun begitu takjub dengan pemandangan diatas, laut terlihat begitu indahnya, angin laut menerpa, membuat rasa sejuk begitu terasa, dan yang paling penting adalah belalang jati yang begitu melimpah, benar kata Kak Dimas, bahwa disini belalangnya banyak dan besar- besar.
Kamipun dengan gembira menangkap belalang- belalang itu tanpa alat, seakan mereka begitu pasrah untuk kami tangkap, bahkan dengan sekejap saja satu karung yang ibu bawa sudah penuh dengan belalang, Iyan dan Yuki juga ikut menangkap belalang- belalang itu.
"Kalau tau banyak begini, saya sudah bawa karung besar sepuluh kiloan !"
Ujar Bu Liya kepada yang lain.
"Aku bilang juga apa, disini belalangnya banyak dan besar- besar"
Kata kak Dimas, dia memang penangkap belalang, yang memang sudah tau dimana tempat- tempat yang banyak belalangnya.
Kami masih asyik menangkap belalang, namun tiba- tiba, datang seorang wanita cantik menghampiri kami semua, kecantikannya bagai boneka barbie hidup bajunya seperti baju kerajaan zaman kuno, ada dua pengawal di sebalah kanan dan kirinya. Seketika kami semua bengong melihatnya, antara takjub, aneh dan takut, kamipun langsung diam tak beraktifitas.
"Ambillah apa saja yang kalian butuhkan disini, secukupnya dan jangan berlebihan, dan yang harus kalian ingat, jagalah selalu kelestariannya, jangan merusak ekosistem, dan jangan membuat kotoran"
Suaranya begitu tegas namun sangat merdu.
Setelah berbicara demikian wanita cantik itupun undur diri dengan sedikit menganggukkan kepala kepada kami sambil tersenyum, lalu dia berlalu keujung bukit diikuti dua pengawalnya.
Kami masih diam seribu bahasa, dan masih diam tak melakukan apa- apa. Suara Iyan menyadarkan kami semua.
"Ibu ! belalangnya ada yang lari tuh !"
Seketika ibu langsung memunguti belalang- belalang itu dan kami semua melanjutkan aktifitas kami, wajah - wajah kami diliputi kebingungan atas apa yang terjadi barusan, namun tak seorangpun yang membicarakannya lagi, karena khawatir wanita itu mendengar pembicaraan kami.
Akhirnya kamipun mempercepat mengisi karung- karung yang kami bawa dengan belalang, setelah semua terisi penuh, kamipun pulang. suasana masih terang benderang di atas bukit, matahari masih menyinari.
setelah kami turun dan sampai di posko, tiba- tiba dengan seketika suasana berubah gelap seperti larut malam, kamipun langsung ketakutan karena begitu gelap gulita tanpa penerangan, Pak Nursalim langsung menginstruksikan kepada kami agar tenang dan aaling berpegangan satu sama lain. Tak henti-hentinya kami berdoa, ada yang sudah sesenggukan, dan ada pula yang melantunkan ayat qursi dengan khusuk, dan beristigfar, sedangkan aku sendiri, jangan ditanya lagi, aku.sedari tadi sudah menangis sambil menggendong Iyan, sedangkan ibu membawa tiga karung belalang dan bekal yang belum termakan oleh kita.
Alhamdulilah, setelah berjalan terus sambil berpegangan kami mulai melihat sebuah lampu yang berada di pos utama tempat kami menitipkan motor. Ada beberapa orang disana yang langsung menghampiri kami.
"Darimana hingga larut malam begini pak ?"
"Dari Gumuk jati pak !"
Ujar Pak Nursalim.
"Astaugfirullahaladzim !"
Ujar orang itu.
Kamipun pulang dengan perasaan lega, karena bisa pulang dengan keadaan selamat, walau harus mendapat kejadian gaib saat di gumuk jati. Piknik yang aku pikir menjadi cerita seru, ternyata kini menjadi cerita mistis yang menyeramkan bagi kami.
**Tamat**
Terima kasih yang sudah apresiasi cerpenku, semoga kalian suka, dan akan ada cerita-cerita seru lainnya.🤗🙏
ditunggu like, coment nya 🙏