[Btw ini naskah event cerpen bertema 'Buruh' yg udh lama kutulis, mungkin ada yg mau baca, enggk jg gpp hehehe]
Sejenak kuperhatikan bias matahari senja di balik lubang-lubang kamar, dedaunan kering menerobos masuk dengan tak tahu malu bersama riuh rendah nan bising di luar sana. Menghancurkan pundi-pundi keheningan yang susah payah kubangun sejak tadi.
Berulang kali bahuku terangkat, mencoba berdamai dengan masa lalu namun tak mengusung secercah harapan. Dari manakah aku berlari dan di manakah harusku berhenti?
Hidup dalam perantauan seorang diri, diterjang ombak tinggi kemudian dihempaskan ke permukaan laut dalam beribu rantai penyiksaan. Aku terkekang dalam tiap-tiap penyesalan. Berharap kembali ke titik awal. Memperbaiki setiap kesalahan yang pernah kubuat.
Lalu harus ke manakah aku mengadu? Kepingan paradigma merayap melalui minda seorang pria kurus menyerupai pohon Cemara yang mati karena tersambar petir, hitam legam umpama arang diabukan si jago merah dan tak lain orang itu adalah diriku sendiri.
Dan di sinilah aku berada. Di balik kamar kos-kosan menyerupai bangsal yang sama sekali pengap. Seperti kandang ternak. Tak ada satupun barang berharga di sini, hanya lantai semen retak yang dipenuhi oleh semut-semut merah. Berjalan mengantri menunggu giliran. Jangankan manusia, angin sekalipun enggan masuk ke dalam jadi wajar udaranya panas mencekik. Berbau keringat dan juga ... Berhamburan seperti kapal pecah.
Aku hidup dalam ketidakcukupan, banting tulang mengumpulkan pundi-pundi uang agar kelak bisa kembali pada keluarga dalam kebercukupan. Tubuh ringkihku yang telah menyusut menyusuri gelap kejamnya kehidupan kota bersandar pada dinding kamar, berharap 'kan diistirahatkan walau sebentar.
Baru saja kuterima telepon dari Ibu di desa, mengatakan padaku agar segera kembali setelah lima tahun tak pernah pulang lagi. Ibu dan lima adikku yang masih kecil-kecil menungguku jauh di pedesaan sana.
Aku mengusap wajah dengan kasar, terasa mataku mulai memanas. Untaian kata demi kata terdengar bergetar di seberang sana, sarat akan kerinduan mendalam pada anak sulungnya. Kutahan tangisku agar tak membuat denyut hatinya kembali terluka. Lalu kututup telpon, menangis merindukannya. Wanita yang telah melahirkanku ke dunia ini. Meski kami hidup dalam kemiskinan aku tak pernah menyesal lahir dari rahimnya.
Semakin besar diriku, semakin bersyukur pula aku memiliki ibu sepertinya. Semua nasihat serta kebaikannya mengajarkanku untuk selalu berbuat baik. Ajaran agama yang kuatlah yang membuatku tetap menunaikan ibadah shalat tanpa tertinggal meski berada dalam gemerlap ibukota.
Ibu, andai aku diberi kehidupan kedua, aku takkan pernah menyesal pernah dilahirkan olehmu. Meski kerap bibir ini mengumandangkan pembangkangan, sungguh tak bermaksud untuk membelakangi semua nasihatmu. Aku hanya egois dalam satu waktu, tak terima saat merasa pernyataanku disalahkan.
Lagi-lagi aku hanya bisa berdiam di kamarku, menunggu waktu jam kerja yang sebentar lagi tiba. Kuperhatikan telapak tanganku dipenuhi gores-goresan kasar menggambarkan sebesar apa perjuanganku untuk menghidupi keluargaku dari perantauan ini.
Miris sekali, di saat orang lain setengah mati mencari sesuap nasi justru kerap usaha tak dihargai. Kehidupan buruh sungguh jauh dari kata merdeka, lantas mengapa kalian sibuk memusingkan kursi pemerintahan sementara kami tak dipedulikan? Indonesia merdeka telah berubah. Tidak sama seperti dulu, pun tak menjadi lebih baik.
Justru kami dijajah oleh rekan sendiri. Kamilah yang tak merdeka. Lalu siapa yang sudi merangkul kami untuk terus hidup? Untuk tikus tak berdaya sepertiku memang hak seperti apa yang bisa kuperjuangkan?
Ah ... Andai mereka tahu apa yang sedang kualami di saat ini, susah iya miskin pun iya. Menyisihkan uang untuk membeli kopi saja susah, apalagi untuk membayar uang sewa. Bahkan untuk hidup tanpa terlilit utang terasa lebih. Aku tidak pernah mengatakan keadaan ini pada Ibu bahwa hidupku di kota ini sangat buruk; berada di roda terbawah dalam strata masyarakat.
Karena dia percaya omonganku lima tahun lalu, aku akan hidup senang di kota ini. Mengingatnya saja sudah menyiratkan kenangan buruk kembali, teman yang membawaku ke tempat asing ini telah tiada. Dan kini tersisa aku hidup sendirian di tempat antah berantah. Berjalan tertatih-tatih dalam kebingungan. Sungguh, Tuhan, setidaknya jika aku tumbang sebelum dapat kembali ke pelukan ibu, jangan buat adikku kelak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang kulakukan. Jangan.
Upah buruhku tak sanggup membiayai biaya pulangku kembali ke desa yang amat jauh, semua uang telah kukirim pada ibu dan keluarga agar mereka tetap hidup. Yang tersisa di kantongku hanya dua lembar uang kuning dan satunya berwarna hijau untuk menanggung beban hidupku di sini. Tidak ada uang merah berisi senyuman Pak Soekarno yang membuat hatiku gembira tak alang kepalang di dalamnya. Tidak, tidak pernah sama sekali.
Lihatlah, aku hanya tikus kelaparan di negara ini. Berdiri gemetaran di antara singa-singa pemakan uang berkeliaran di luar sana. Aku terkurung pada bilik kemelaratan, tak ada satupun dapat menyelamatkan tikus kumal yang lelah dipermainkan oleh cakrabuana. Aku hanya hidup demi sesuap nasi tapi lantas mengapa jalur ditempuhku dipenuhi bara api?
Pernah sesal merayap dalam setiap langkah kakiku, membayang-bayangi hidup lantaran tak mempercayai omongan sang ibu. Lantas aku termakan omongan seorang teman di waktu dulu.
"Bayu, kalau kita hidup di kota apapun bisa kita dapatkan! Mau apa? Harta, tahta atau wanita? Tinggal pilih!"
Tak kusangka aku terayu oleh kata-katanya yang berbisa. Membuat bibirku kelu lalu dengan keras hati kuhanturkan keinginan itu pada sang ibu. Menepis setiap ucapannya yang dipenuhi kekhawatiran. Menganggap apa yang sedang kuperjuangkan bak sebuah petisi yang mulia. Lantas tak memedulikan sebuah fakta menyakitkan.
Bahwa hari itu, saat aku mengangkat kaki menjauhi rumahku. Di hari itu aku terlupa membawa sesuatu yang amat penting.
Aku pergi tanpa membawa restu ibuku.
Tiba di tempat bekerja ternyata lamaran kerja kami ditolak karena sudah ada pekerja lain yang datang lebih dulu. Aku dan temanku hidup di pinggiran jalan, mengusung harapan kecil anak pedesaan dan dipermainkan keji oleh permainan kekuasaan.
Kami tersesat dan berakhir di pabrik kotor, menjadi buruh dengan gaji kecil sampai-sampai tak memiliki kesempatan untuk kembali. Hari itu aku menyesal, seharusnya aku hidup di desa dan mencari pekerjaan seadanya meskipun takkan membuatku kaya setidaknya sanggup mengisi perut yang keroncongan ini.
Aku tidak akan berjauhan dengan keluargaku dan setidaknya takkan membuat ibuku menangis setiap tahun, ketika malam idul Fitri tiba dan anaknya belum bisa kembali dengan alasan sibuk bekerja.
Aku menepis segala pemikiran tersebut. Ingin pulang kembali ke desa kurasa tak mungkin untuk tahun ini. Kehidupanku akan menjadi semakin berat seperti yang kukatakan di awal, Indonesia merdeka telah berubah, kawan.
Biar kulihat loncatan petasan dari langit ibukota saja, keluargaku pasti berebut melihatnya saat Malam Idul Fitri tiba. Meskipun tidak melihat bersama-sama setidaknya kami melihat di langit yang sama. Di langit Indonesia Raya tercinta.
Waktu kerjaku telah tiba, mungkin kisah ini akan kuceritakan di esok hari. Saat hidupku mulai membaik? Atau juga saat kisah ini telah kehilangan sosok di dalamnya, bisa kau temui aku lewat aksara. Aksara pahit seorang tikus kurus yang lelah dipermainkan dunia.