"Saat purnama merah naik, adalah saat dimana kamu resmi menikah dengan gadis sayap putih itu. Benar, kan?" tanya seorang pria paruh baya di atas singgasananya pada Elvan.
"Iya, Eyang. Memangnya kenapa?" tanya balik Elvan yang sedikit bingung akan pertanyaan Eyangnya itu.
"Gadis itu berasal dari Kerajaan Cahaya, kau akan menikahinya dengan adat kita atau adat kerajaannya?"
Elvan tak langsung menjawab. Pria pucat itu nampak berpikir.
"Kalau menggunakan adat kita, apa mungkin dia akan menerimanya atau... Justru akan menolak dan memberontak?" tanya Eyang lagi, berharap cucunya yang menjadi satu-satunya penerus dari Kerajaan Darkness itu mampu bersikap tegas.
Pria pucat itu hanya tersenyum smirk dan berkata, "Masalah itu tentu sudah aku pikirkan."
"Maksudmu???"
"Aku sudah menyekap seorang juru nikah dari kerajaan sebelah. Dia biasa menikahkan orang-orang dari Kerajaan Cahaya. Jadi aku akan membuatnya menikahkan aku dengan Rain, gadis sayap putih itu," jelas Elvan.
"Baiklah. Lakukan apapun yang kau mau, selama itu yang terbaik untuk kerajaan kita," tutur Eyang.
"Ya, Eyang."
***
Mentari sudah tenggelam. Langit terganti menjadi kelam tanpa bintang. Namun tugas mentari dialihkan kepada sang dewi malam.
Dalam ruangan kamar yang cukup luas itu, terduduk seorang gadis yang sangat cantik. Dengan balutan hijab dan gaun pengantin putih yang begitu indah.
Namun sorot matanya kosong. Wajah cantiknya nampak datar dan terkesan dingin.
Gadis cantik itu adalah Rain. Dia baru saja selesai didandani. Tanpa henti pula para maid memuji kecantikan seorang panglima sayap putih seperti Rain.
"Anda sangat cantik, Nona. Anda begitu beruntung bisa mendapatkan pria seperti Prince Elvan," puji salah satu maid.
Rain tidak merespon apapun dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Dia tetap menatap lurus ke depan dan hanya sedikit tersenyum kecil.
Lalu sebuah ketukan pintu mengganggu mereka.
Tok... Tok... Tok...
"Hey, apa kalian sudah selesai mendandani Nona?" tanya seseorang di balik pintu.
"Ya, kami sudah selesai. Kau masuklah," teriak salah satu maid.
Pintu pun terbuka perlahan dan menampilkan seorang pria yang berpakaian layaknya bangsawan Eropa kuno. Pria itu pun menghampiri mereka.
"Ah. Prince Bryan. Maaf tadi kami berteriak lancang," cicit salah seorang maid ketakutan.
"Tak apa. Kalian keluarlah! Aku ingin bicara dengan calon saudara iparku," titah Bryan.
Setelah semuanya keluar, kini tinggallah Bryan dan Rain di ruangan itu. Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam. Hening, hanya bunyi hembusan nafas yang masih tertangkap gendang telinga.
"Maaf jika aku mengganggumu. Dan mungkin kau akan sangat keberatan dengan pernikahan ini. Tapi, aku sangat berharap kau mampu mematahkan kutukan yang diderita Elvan selama ini," tutur Bryan.
"Hah! Kutukan? Kutukan apa maksudmu?" tanya Rain heran kala pria pucat itu mengucapkan kata kutukan.
Bryan jauh lebih heran dan bingung.
"Jadi kau tidak tahu, alasan Elvan membawamu kemari dan ingin menikahimu?" ucap Bryan bertanya balik.
"Aku pikir, dia hanya vampire gila yang terobsesi padaku," celetuk Rain tanpa filter.
Bryan sedikit menghela nafas. Lalu dia pun menjelaskan semuanya. Rain hanya mengangguk paham, tapi air mukanya tetap datar.
"Aku mohon, kau mau membantu Elvan mematahkan kutukan itu. Karena akibatnya adalah kerajaan ini yang akan hancur," mohon Bryan.
"Tapi kan kau tahu kalau aku ini berbeda dengan kalian. Dalam agamaku pun melarangku menikah dengan seseorang yang berbeda kepercayaan dengan ku," sanggah Rain.
"Tapi pada kenyataannya, hanya kau yang mampu mematahkan kutukan Elvan," ucap Bryan.
Bryan pun sempat melirik ke luar jendela dan mendapatkan cahaya merah yang tersorot di sana.
"Ini sudah waktunya. Mari ku antar kau ke aula pernikahan," ajak Bryan.
Rain tak langsung berdiri. Dia terdiam dengan tatapan yang tajam.
"Kamu tak perlu cemas. Kalian menikah menggunakan adat dari kerajaan mu. Jadi mau bagaimanapun pernikahan kalian tetap sah," ucap Bryan lagi meyakinkan Rain.
Terpaksa Rain pun berdiri dan mengikuti Bryan ke acara pernikahan itu.
Sesampainya di sana, Rain dibuat takjub dengan semua orang yang hadir. Belum lagi dekorasi ruangan yang sangat indah dan cantik, membuat gadis itu menatap penuh kagum.
Gadis itu mengikuti Bryan. Hingga dia menemukan seorang pemuda tengah duduk berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan peci. Pria paruh baya itu duduk membelakangi Rain, sehingga gadis itu dapat melihat jelas senyum calon suaminya yang sangat tipis.
'Dah gila kali ya? Memangnya dia tidak gugup mengucap ijab di hadapan banyak orang?' runtuk Rain dalam batinnya.
Setelah cukup dekat, Rain disuruh duduk di samping Elvan. Mereka tampak serasi dengan Elvan yang bersetelan tuxedo putih dan dasi kupu-kupu, menambah kesan gagah dan tampan bagi pria pucat itu.
Rain cukup terpesona akan ketampanan pria itu. Bahkan jantungnya terasa berdegup kencang.
Lalu lamunannya terhenti kala juru nikah itu menanyakan kesediaan para calon mempelai.
Setelah kembali tersadar, Rain hanya mengangguk dan berkata, "Bersedia."
Kala Elvan bersiap akan mengucapkan kalimat yang akan mengubah status mereka, dari kejauhan dan di balik kerumunan para tamu Rain menangkap bayangan seseorang yang tengah bersiap dengan senjata panahannya. Namun karena ukuran panahan itu terbilang kecil, para tamu tidak ada yang menyadari adanya penyusup diantara mereka.
Karena mata Rain yang jeli, hanya dia yang mampu melihat orang itu. Dan nampak jelas penyusup itu akan menyerang Elvan.
Anak panah itu langsung melesat begitu cepat hingga.....
Jleb.
Rain menatap perutnya yang tertusuk anak panah dengan simbahan darah yang sangat banyak. Gadis itu terduduk lemas di pangkuan Elvan. Elvan yang terkejut pun hanya bisa terdiam beberapa saat, lalu pria pucat itu pun menangis.
"Hiks... Hiks.... Rain... Kenapa kamu melakukan ini? Hiks.... Kenapa kamu mengorbankan dirimu untuk aku?" tangis Elvan tak terbendung.
Rain hanya tersenyum manis dan tangannya yang bersimbah darah mengusap air mata di pipi dingin pria itu.
"Mung... Mungkin i-ini salah sa-tu cara agar kau bisa bebas dari kutukanmu," lirih Rain lemah.
"Tidak... Tidak.... Aku lebih baik hidup dalam kutukan selamanya, daripada aku harus kehilanganmu."
"Tap... Tapi semuanya sudah terjadi. Maafkan aku. Aku harus pergi."
Kedua matanya Rain tertutup sempurna dan Elvan langsung berteriak.
***