Aji berdiri di depan pintu gerbang yang tingginya dua meter itu.
Pintu gerbangnya berbentuk jeruji – jeruji besi dengan gapura besar menaunginya. Dari balik jeruji – jeruji terlihat rumah yang tampak sepi. Aji berpikir sebentar, apakah benar ini rumah yang dicarinya?. Aji mengecek alamatnya lagi yang tertulis di selembar kertas. Ia teringat beberapa hari lalu saat baru datang ke kota Bandung dan temannya memberikan alamat ini untuk mendapatkan sewa kos yang murah.
“Rumah kosan na memang masuk gang, Ji, tapi ceuk baturan urang nu pernah ngekos didinya mah lumayan enakeun jeung murah, cek we kaditu. Imahna pang badagna, maneh moal nyasar, mun geus nyampe tanyakeun we imah Pak Mali, pasti nyarahoan da,” jelas teman Aji itu. (Terjemahan; rumah kosnya memang masuk gang, Ji, tapi kata teman gue yang pernah kos di sana tempatnya enak dan murah, cek aja kesana. Rumahnya paling besar, lo ga akan tersesat, kalau sudah sampai sana tanyakan aja rumah Pak Mali, orang – orang sana pasti tahu.) Aji manggut - manggut.
(Note : Percakapan di cerita ini sebenarnya 70% menggunakan Bahasa Sunda sesuai tempat kejadiannya, sisanya Bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia, tapi untuk menyingkat serta mempermudah yang tidak mengerti Bahasa Sunda dan Jawa, maka selanjutnya percakapan akan ditulis dalam bahasa Indonesia kecuali percakapan dan ungkapan – ungkapan tertentu.)
Berbekal alamat tersebut, maka pagi itu Aji berangkat. Dan sampailah ia di sebuah daerah bernama Cibeureum atau lebih dikenal oleh warga sekitar dengan nama, “Batas Kota.” Bukan sebuah daerah terpencil yang masih berbentuk hutan atau wilayah tak bertuan, sebaliknya daerah batas kota adalah daerah padat penduduk dan ramai. Bisa ditemui setelah perjalanan dari Jakarta melewati Cimahi dan Cimindi. Setelah turun dari kendaraan, Aji berjalan masuk ke sebuah jalan kecil atau gang yang hanya muat dua motor, sesuai petunjuk alamat yang tertulis.
Aji menyusuri gang – gang itu. Melewati rumah – rumah yang berdempetan, padat serta banyak orang. Untuk memastikan lagi, Aji bertanya dan ditunjukkan oleh orang – orang sekitar pada sebuah rumah yang berada di belokan gang. Beberapa orang menatap Aji lalu berbisik – bisik dengan yang lainnya. “Mau kos di situ ya?” tanya salah satu dari mereka. Aji mengangguk sopan, “Muhun Pak, marangga…” setelah menjawab kemudian Aji pamit meninggalkan orang – orang itu.
Setelah sampai di belokan gang, Aji melihat sebuah rumah besar yang memiliki halaman luas dengan dikelilingi pagar tembok yang tinggi. Memang tampak kontras dengan rumah - rumah di sekitarnya. Aji semakin yakin tak salah alamat karena ciri – ciri rumahnya sesuai dengan deskripsi temannya. Aji mengantongi kertas alamatnya. “Punten! Assalamualaikum!” seru Aji lagi dari balik jeruji – jeruji gerbang. Tidak ada tanggapan. Aji melihat sekitarnya, meski masih siang, tapi gang – gang di sekitar rumah ini tampak sepi dan tidak terlihat satu orang pun.
“Assalamulaikum, Pak Mali…” seru Aji. Setelah menunggu beberapa saat tak ada jawaban juga, Aji mendorong pintu gerbangnya yang ternyata tidak terkunci. Ia melangkah masuk lalu menutup pintu gerbangnya lagi. Halamannya betul – betul luas dengan rumah berada di sebelah kirinya. Mendadak, angin bertiup kencang mengagetkan Aji, menerbangkan debu – debu dari halaman yang sebagian tanah kering itu serta membunyikan gemerisik keras batang – batang daun dari sekumpulan pohon bambu di pojok kanan halaman.
Aji mengucek – ngucek matanya yang kemasukan debu. “Ah sialan, angin darimana sih,” cetusnya seraya melangkah. Setelah sampai di teras rumah, Aji mengetuk pintunya. “Assalamualaikum, punten..” tak ada jawaban, sepi. Aji mencoba menempelkan wajahnya ke kaca jendela untuk melihat ke dalam dan ia terpekik kaget ketika dari balik kaca sebentuk wajah sedang memelototinya. Tak lama terdengar kunci pintu dibuka.
“Aya naon?” tanya seorang pria dengan sorot mata tajam di depan pintu. Sepertinya umurnya belum terlalu tua mungkin sekitar 35 an. Tubuhnya kurus, tak terlalu tinggi, kulit tubuhnya hitam dengan otot – otot menonjol menandakan pria ini banyak melakukan pekerjaan yang mengandalkan fisik. “Punten, saya mencari Pak Mali,” jawab Aji sopan. “Ada keperluan apa?” tanyanya lagi tanpa ekspresi. “Bapak, Pak Mali?” tanya Aji, dia mengangguk. “Perkenalkan Pak, saya Aji, katanya di sini terima kosan? Kalau masih ada kamar, saya mau kos di sini,” jelas Aji. Pak Mali menatap Aji dari ujung rambut sampai ujung kakinya.
“Kerja? Kuliah?”
“Kuliah Pak, semester awal.”
“Asal mana?”
“Saya dari Bogor Pak.”
Pak Mali melangkah keluar, menutup pintu rumahnya dan berjalan menuju pintu samping. Aji tampak bingung, “Eh, jadi gimana Pak, ada kamar?” Pak Mali menoleh pada Aji, berkata, “Ini saya mau tunjukkin sama kamu, lewat jalan samping saja,” kemudian ia berjalan lagi. Aji buru – buru mengikutinya.
Mereka masuk dari pintu samping. Aji melihat di sebelah kanannya ada halaman terbuka luas yang dipenuhi tali – tali dengan tiang pancang. Ini pasti halaman buat menjemur pakaian, tebak Aji dalam hati. Aji menoleh ke sebelah kirinya, ia melihat sebuah kamar paviliun yang cukup besar diikuti berjajar di sebelahnya kamar – kamar yang berukuran lebih kecil dengan semua pintu menghadap halaman menjemur itu. Aji berharap mendapatkan salah satu kamar di situ karena sirkulasi udaranya tampak baik. “Kamar – kamar di luar itu sudah full,” cetus Pak Mali seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Aji. Mereka terus berjalan hingga masuk melalui belakang rumah.
Di belakang rumah tampak dua kamar mandi yang bersebelahan dengan dapur. “Itu kamar mandi buat yang kos, kalau ini kamar mandi saya,” terang Pak Mali. Aji mengangguk mengerti, “Mmm, punten Pak, boleh saya lihat kamar mandinya?” Pak Mali hanya menghela nafas sekilas, sepertinya itu tanda kalau Aji diijinkan. Kamar mandi berada dua level lebih tinggi dari lantai dapur, dengan pintu kayu yang dilapisi seng. Aji mendorong pintu kamar mandinya. Di dalam kamar mandi terdapat sebuah sumur timba, toilet dan beberapa ember. Sesaat bulu kuduk Aji merinding. “Sudah?” cetus Pak Mali, Aji mengangguk.
Mereka melanjutkan melangkah masuk melewati ruang terbuka berlantai semen dengan tali – tali yang menggantung di dindingnya. Ini pasti buat menjemur pakaian di dalam kalau di luar hujan, tebak Aji lagi. Mereka sampai di sebuah kusen tanpa pintu. Pak Mali berhenti, melepas sandalnya. “Buka sepatu kamu di sini, tidak boleh memakai alas kaki ke dalam,” ujarnya tanpa basa basi.
Aji melepas sepatunya. Mereka sudah berada di dalam rumah berlantai ubin. Di sebelah kanan Aji tampak sebuah kamar dengan pintu yang digembok, mereka melewati kamar itu dan sampai di ruangan terbuka yang luas, dengan sebuah televisi di atas lemari, kursi – kursi rotan beralaskan bantal – bantal tipis beserta sebuah meja. Sudah pasti ini ruang untuk menonton televisi dan menerima tamu, ucap Aji dalam hati. Di dalam ruangan itu nampak satu pintu kamar di sebelah kiri. Aji berpikir itu pasti kamar yang akan ditawarkan padanya tapi tidak, Pak Mali terus berjalan ke sudut ruangan yang berseberangan dengan kamar itu dan menunjuk pada sebuah pintu.
“Ini kamar yang dikoskan, tinggal ini. Yang lainnya sudah full.”
Aji mengangguk pelan, meski sedikit kecewa. Ia berjalan ke sudut ruangan yang menjorok ke dalam itu. Pak Mali mendorong pintunya. Aji melongok dan melihat sebuah kamar yang tidak terlalu besar, berukuran 2x2,5 m tanpa jendela hanya ada lubang angin di dinding atas yang ditutupi kawat kasa agar tidak ada nyamuk masuk. Di dalam kamar juga terdapat satu dipan dengan kasur dan lemari kecil.
“Ok lah Pak, saya ambil,” ujar Aji.
“Sewa perbulannya dua puluh lima ribu, dibayarkan tiap tanggal satu tiap bulan tidak boleh telat, listrik gratis kecuali nambah alat elektronik lagi, penggunaan kamar mandi dan dapur bergantian dengan penghuni lain, jam dua belas malam gerbang akan digembok dan dibuka lagi saat solat subuh, kecuali ada urusan penting. Penghuni kos tidak dijinkan bawa teman perempuan kesini, teman pria boleh tapi tidak boleh menginap, tidak boleh berisik lewat tengah malam, tidak boleh ke kamar mandi menjelang subuh, paham?”
Aji melongo mendengar aturan yang diucapkan cepat dan tanpa nada itu.
“Ehem!”
“Eh iya, iya Pak, saya paham.”
“Kunci kamar tidak akan diserahkan kalau belum melakukan bayar sewa.”
“Oh iya, iya, bentar Pak,” ujar Aji seraya mengeluarkan dompetnya, mengambil uang dan menyerahkan pada Pak Mali yang langsung mengantonginya, memberikan kunci kamar pada Aji dan berlalu. Udah gini aja? kata Aji dalam hati. “Eh Pak, punten, kalau kamar ini semua sudah full, kok sepi ya?” tanya Aji. Tanpa menengok dan berhenti melangkah, Pak Mali menjawab, “Kerja semua.” Aji manggut – manggut.
Aji masuk ke dalam kamar, menurunkan tas ranselnya dan mulai membongkar pakaian serta buku – bukunya untuk disimpan di dalam lemari kecil tersebut. Mengeluarkan sajadah juga sarung lalu dengan sarungnya ia pun membersihkan kasur itu. Kata orang tua dulu, sebuah kasur yang lama tidak dipakai kalau mau dipakai tidur lagi harus dibersihkan dulu, takut ada apa – apanya, begitu.
Hahahahehehehihihi.
“Eh?” kaget Aji. Ia menghentikan aktivitasnya, mengerutkan kening, baru saja ia mendengar seperti suara orang yang tertawa pelan di luar. Aji melangkah keluar kamar, berdiri menatap ruangan menonton televisi yang kosong. Ia yakin sekali suara tertawa itu berasal dari sini. “Halo, ada yang sudah pulang kerjakah?” seru Aji. Tidak ada yang menjawab, semua hanya sepi dengan sisa gema suaranya memantul hingga ke dapur.
Sayup – sayup, terdengar adzan Ashar dari luar, Aji ingat ia belum makan siang. Maka ia mengunci pintu kamar, berjalan melewati ruang televisi dan kamar yang pintunya tergembok. Dalam hatinya ia bertanya – tanya kenapa ia tidak ditawari kamar ini tadi, kelihatannya kosong, tapi aneh, kamar yang berada di tengah ruang ini tidak ada jendela sama sekali, sangat tertutup. Rasa ingin tahu Aji bergejolak, tapi perutnya yang lapar minta diutamakan maka Aji segera menuju warung makan terdekat dengan rumah kos tersebut.
“Kamu anak kos baru di rumah Pak Mali ya?” tanya ibu warung sambil melayani Aji mengambilkan lauk pauk dari dalam etalase kaca. Aji mengangguk. “Yakin mau kos di situ?” tanyanya. “Emang kenapa Bu?” tanya Aji balik sambil mengunyah tempe goreng. “Cep, rumah itu teh angker ih, sudah terkenal, banyak yang ga kuat trus pindah kosan,” jawab ibu warung dan menyerahkan piring yang telah terisi nasi beserta lauk pauknya.
“Kalau angker, tapi kok kamarnya full Bu,” jawab Aji. “Ya itu mah kuat – kuatan Cep, coba deh Cep rasain, rumahnya kayak yang bikin merinding terus, anehnya nih, padahal mah di luar rame, tapi di dalam rasanya sunyi, hiiii…seperti masuk ke alam lain gitu…trus di rumah itu dulu banyak yang mati…” cerocos ibu warung. Aji tertawa. “Ah si Cep mah ga percaya ih,” cetus ibu warung lalu pergi melayani pembeli lain.
Sedang Aji melanjutkan makan siangnya yang telat dengan pikiran melamun teringat akan kata – kata ayahnya. “Ji, kamu bisa kuliah di Bandung, tapi carilah kos yang murah, kos yang murah memang akan jauh dari kampusmu tapi dengan begitu, uang wesel kiriman ayah perbulan sebesar seratus lima puluh ribu ini sisanya jadi lebih banyak, bisa kamu gunakan untuk ongkos dan makan sehari – hari.” Demi kata – kata itu, Aji sudah menguatkan hatinya juga keberaniannya untuk siap tinggal di mana saja, meski tempat itu angker sekalipun, mau bagaimana lagi, yang penting ia bisa tetap kuliah.
***
“Jadi apa nih yang membawa seorang anak kuliah mau kos di sini? Di kosan terpencil jauh dari kampus, gabung sama pegawai pabrik di batas kota?” cetus Slamet tertawa seraya mengambil biskuit dari dalam kamarnya dan meletakkannya di meja. Aji mengambil satu potong biskuit, melahapnya, sambil mengunyah Aji berkata, “Oh jadi ini kamar lo toh Met, tadinya gue pikir ini kamar buat gue hehehe. Ga taunya gue dikasih yang di pojok tuh.” Slamet nyengir.
Malam itu Aji sudah mulai mengenal para penghuni kos, salah satunya Slamet ini. Seorang laki – laki yang seumuran dengannya, berasal dari Purworejo, Jawa Tengah, merantau ke Bandung untuk bekerja di sebuah pabrik. “Jadi apa yang membuat lo mau kos di sini Ji?” tanya Slamet lagi. “Murah,” jawab Aji pendek sembari memutar – mutar antene televisi. Slamet mengangguk – ngangguk, ‘Tapi aku salut sama kamu Ji, mau kos bareng sama buruh pabrik kayak kita – kita ini, anak – anak kampus kan biasanya gengsian.”
“Eh Met, lo udah lama kos di sini?” tanya Aji seraya duduk di kursi rotan setelah menyerah tidak bisa menemukan gambar yang bagus meski antene televisi itu sudah diutak – atik. Slamet menyalakan rokoknya, menghembuskan asapnya, menjawab, “Sebetulnya yang paling lama itu si Chandra, dia yang tinggal di kamar paviliun luar itu, ntar aku kenalin, dia pulangnya malem, kerja di proyek soalnya. Dia kos di sini udah setahunan lebih, abis dia baru aku, aku sudah mau enam bulan di sini. Trus nyusul Gandung, dia sudah tiga bulanan.”
“Selain itu?”
“Ada si Pardi, kalau dia baru masuk juga kayak kamu Ji, cuma beda beberapa hari aja. Kalau penghuni kos lainnya aku ga apal, kayaknya sih ada yang udah lama juga tapi ga tau deh, aku ga akrab sama mereka.”
“Selama di sini pernah ada yang aneh Met?”
Slamet tertawa, “Pasti Ibu Euntar yang punya warung nasi itu yang ngomong kalau rumah ini angker ya?” Aji nyengir, “Loh kok tau?” Slamet menghembuskan asap rokoknya, menjawab, “Aku dulu pertama kesini juga dikasih tahu begitu, eh usut punya usut, ternyata Bu Euntar itu punya kontrakan, dia ngomong gitu supaya kita pindah ke kontrakannya Ji.” Aji tertawa.
“Semua rumah itu angker,” cetus sebuah suara dari belakang, Aji terkejut. “Ngagetin aja Ndung! Kenalin Ji, ini Gandung yang aku sebutin tadi itu,” cetus Slamet, “Dia sama kayak aku, ya desanya ya pabrik tempat kerjanya.” Aji menyodorkan tangannya bersalaman dengan Gandung. Gandung duduk bergabung dengan mereka menonton televisi. “Lanjutin tadi Ndung,” ujar Aji. “Iya, semua rumah angker, pasti ada penunggunya, apalagi di rumah besar dan tua seperti ini,” lanjut Gandung.
“Yang penting ga nganggu,” timpal Slamet. “Meski aku belum tahunan di sini, ya aku wis tahu sudut mana aja di rumah ini yang angker,” ujar Gandung kalem. Aji membuka lebar matanya, “Wah, lo punya indera ke enam kalau gitu ya Ndung?” Gandung menjawab, “Untuk merasakan kehadiran mereka, ga perlu indera ke enam Ji.” Tak lama datang lagi seorang pria bertubuh pendek, Pardi namanya, duduk bergabung bersama mereka. “Betul katamu Ndung, ga perlu indera ke enam untuk merasakan setan, ini setannya udah dateng sendiri,” seru Slamet menunjuk Pardi membuat Aji dan Gandung tertawa. “Huwasu tenan kowe Met!” cetus Pardi sebal. Aji pun berkenalan dengan pria ini, yang juga teman satu kampung dengan Slamet dan Gandung hanya saja bekerja pada pabrik yang berbeda.
Mereka semakin akrab, berbincang ngalor ngidul, tertawa, ditemani kopi dan biskuit sampai larut malam.. Hingga terdengar suara pukulan di dinding dengan keras. Buk, buk, buk!.
Slamet segera mematikan televisi, dan berkata pelan, “Pak Mali sudah kasih tanda, sudah jam dua belas waktunya jangan berisik dan masuk kamar.” Semua membubarkan diri termasuk Aji yang sebetulnya tak mengerti kenapa ada jam malam seperti itu. Lampu di ruang televisi dipadamkan. Aji merebahkan tubuhnya di kasur, tak bisa tidur. Dalam benaknya berpikir mengenai aturan – aturan aneh di rumah kos ini dan kata – kata ibu warung tempo hari.
***
Banyak orang mengelilingi pria itu.
Semua orang membawa obor dan sebagian membawa tongkat kayu juga parang. Pria itu berlutut tanpa bicara di sebelah sumur, darah mengalir dari kepalanya membasahi badannya yang telanjang tanpa pakaian. Tiba – tiba salah seorang maju mendekati pria itu, tanpa bicara menyabetkan parangnya. Cas!. Tak lama tubuh pria itu luruh jatuh ke tanah tanpa kepala.
Aji terpekik dan bangun dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya, seraya beristighfar. Dadanya naik turun, ketegangan masih meliputinya setelah mimpi buruk tadi. Ia melirik pada jam tangannya yang sengaja diletakkan di sebelah bantalnya agar tidak kesiangan solat Subuh. Jarum jam masih menunjukkan pukul 02.15 dini hari.
Paehan we mun ngalawan….
Aji terkesiap mendengar suara berbisik itu. Asalnya dari luar kamar. Orang itu mengatakan, bunuh saja kalau melawan. Aji mengerutkan keningnya tak mengerti apa maksudnya. Siapa yang masih ngobrol lewat tengah malam begini? tanya Aji dalam hati. Ia membuka kunci pintu kamarnya, dan perlahan keluar kamar. Ruang televisi tidak ada siapa – siapa. Hanya terdengar suara dengkuran Slamet dari kamarnya. Lalu siapa yang ngobrol berbisik – bisik barusan? Aji penasaran.
Moal wani moal…. (Ga akan berani, ga akan.)
Mendengar suara itu membuat Aji menengok pada dapur rumah yang bisa dilihat lurus dari tempatnya berdiri. Sepertinya suaranya dari dapur atau tempat menjemur pakaian di dalam. Aji melangkah melewati kamar yang digembok, menuju tempat menjemur pakaian di dalam. Ia menilik – nilik ruangan itu, tidak ada siapa – siapa di situ, hanya ada handuk – handuk serta pakaian anak – anak kos yang melambai – lambai tergantung di tali – tali.
Hehehehe….
Jantung Aji serasa berhenti berdetak. Bulu kuduknya merinding. Ia mendengar suara tawa yang tertahan dari dalam kamar yang digembok!. Aji mundur beberapa langkah dan menatap pintu kamar bergembok itu. Ia mendekati kamar itu, menempelkan telinganya pada pintu. Tidak terdengar apa – apa. Ia memeriksa gemboknya berpikir untuk membukanya dengan kawat.
“Kalau gue jadi lo, gue ga akan berani bongkar itu gembok.”
Terdengar suara dari belakangnya, Aji menoleh dan terpekik, “Astaghfirullah!” setelah melihat ada orang dengan tubuh jangkung/tinggi berdiri sambil mengusap – ngusap kucing putih di tangannya. Orang itu tertawa melihat Aji terkejut, ia menjelaskan, “Sori, ga maksud buat ngagetin, gue barusan nyari si Kitty, kucing gue ini suka kabur, trus gue denger kayak ada orang di sini, pas gue lihat eh ada elo, oiya gue Chandra.”
“Hufffhhh, gue Aji,” balas Aji dengan melepas nafas lega. Chandra mengangguk, “Oh lo anak kuliahan itu ya? Slamet kemarin – kemarin udah cerita, baru sempet ketemu sekarang.” Klotak!. Terdengar suara kunci pintu dibuka. “Sssstt, itu Pak Mali!” bisik Chandra yang segera bergegas kembali keluar menuju kamarnya di paviliun.
Aji yang masih penasaran tidak kembali ke kamarnya melainkan bersembunyi di pojok gelap dekat pintu kamar yang digembok itu. Ia menunggu dan apa yang dikatakan Chandra benar. Pak Mali muncul dengan jaket tentaranya dan rokok yang terselip di bibirnya. Aji diam tak bergerak, tak bersuara, tapi memperhatikan.
Pak Mali berdiri di depan pintu, mengeluarkan kunci kecil dari kantong jaketnya membuka gemboknya. Sebelum pintu terbuka ia membungkuk tiga kali lalu menghembuskan asap rokok sebanyak tiga kali juga kemudian masuk dan menutup pintunya dari dalam. Aji mengerutkan keningnya.
***
“Kalau kamu perempuan wis aku nikahi kamu Met! Kamu bikin sambelnya muantep!” cetus Pardi yang lahap memakan nasi dengan sambal tomat, ikan jambal dan tahu goreng. “Kalau aku perempuan, aku mendingan mati daripada nikah sama kowe Di!” balas Slamet. “Huwasu!” timpal Pardi. Guyonan mereka berdua membuat Aji, Chandra dan Gandung tertawa. Mereka sedang *botram di kamar Chandra. *Botram artinya; makan bareng, biasanya dengan nasi panas, sambal dan lauk pauk sederhana yang semuanya diletakkan di atas daun pisang.
Slamet menyikut Chandra memberi tunjuk dengan dagunya. Semua melihat keluar melalui pintu kamar yang terbuka lebar. Pak Mali terlihat melintas di depan kamar Chandra. “Pak, mangga ngabotram,” ucap Chandra berbasa - basi. Pak Mali menoleh, menganggukkan kepala tanpa ekspresi apa – apa lagi dan terus berlalu. “Hihihi, ga dijawab---” geli Pardi. “Husssh,” potong Gandung. “Chan, di antara kita, lo kan yang paling lama kos di sini, memang Pak Mali itu gitu ya? Orangnya lempeng, ga banyak ngomong?” tanya Aji.
Chandra mengangguk, “Awalnya gue juga ga biasa, karena kita orang Indonesia kan banyak basa – basinya ya, tapi lama kelamaan jadi terbiasa. Dia kalau ngomong seperlunya, kata warga sini sih orangnya galak, tapi kata gue sih ga juga, kalau ada apa – apa sama anak kosnya dia suka bantu kok.”
“Betul Ji, dulu ada anak kos yang kehilangan motornya, trus malingnya ketangkep sama warga sini, sama Pak Mali disamperin trus dihajar sampai babak belur,” tambah Slamet. Aji terkejut, “Wah galak juga ya.” Pardi melongo mendengar itu. “Makanya ati – ati kalau kamu ngetawain Pak Mali,” bisik Gandung pada Pardi.
“Mmm, terus gue mau nanya nih, setelah lama kos di sini gue baru berani nanya, kalau kamar yang digembok itu, kalian tahu ga sih itu kamar apa? Soalnya gue suka mergoki Pak Mali melakukan sesuatu sebelum masuk ke kamar itu kayak nyembah dulu, niup lilin dulu, baca - bacain kembang dulu,” tanya Aji. Mendadak semua saling pandang.
“Loh kenapa pada bengong? Apa ada yang salah sama pertanyaan gue?” ucap Aji lagi. “Kayaknya ga ada yang tahu Ji, ga ada yang bahas juga,” sahut Slamet. “Gue kayak ngerasa aneh setiap lewatin itu kamar. Apa ga ada yang berani nanyain langsung ke Pak Mali?” tanya Aji.
“Dulu pertama kali gue mau kos di sini, gue pernah nanya soal itu Ji…”
“Trus apa jawaban Pak Mali, Chan?” selidik Aji.
“Katanya itu bukan urusan gue, kalau mau kos di sini, ambil kamar yang ditawarkan kalau engga cari kosan lain, gitu katanya.”
“Aku juga jadi mau nanya nih, kalau aturan ga boleh ke kamar mandi menjelang subuh itu piye? Ada apa?” tanya Pardi. “Kalau ada apanya aku ga tau Di, tapi ya ngapain juga dini hari kamu mau ke kamar mandi?” sahut Slamet. “Lah kalau mau pipis piye? Aku jadinya suka nahan pipis loh, trus kalau mau tahajud juga piye?” balas Pardi.
“Kan menjelang subuh yang ga boleh Di, masih bisa tahajud sebelumnya, kalau mau pipis ya bawa botol aja ke kamar, lo kencing di botol,” cetus Chandra tertawa sembari memberi makan ikan jambal pada kucingnya.
“Kucing lo pernah menunjukkan hal aneh ga Chan? Biasanya binatang suka lebih peka untuk hal – hal aneh,” celetuk Aji. Chandra menarik menghela nafas, dan berkata pelan, “Sebetulnya pernah sih, dan itu ga sekali.” Semua jadi menatap Chandra dengan serius. “Aslina Chan?” tanya Slamet. “Iya, ga tau kenapa, si Kitty ini suka diam di depan pintu yang digembok itu, memandanginya, kadang menggeram juga,” lanjut Chandra, “Terus ga mau masuk ke kamar mandi sampai hari ini.”
“Hawanya memang sanget sih kamar mandi itu, tapi anehnya sumur di kosan sini ga pernah kering meski musim kemarau panjang sekalipun ya, malah banyak tetangga yang minta air kesini,” ujar Slamet. “Kata Mbahku di kampung, sumur yang ada penunggunya itu, malah bagus airnya Met,” sahut Pardi. Aji pun mengakui hal itu, “Kalian betul, tapi gue masih penasaran sama kamar itu. Apa kita coba pinjam sebentar kunci gemboknya Pak Mali ya?”
Semua menatap Aji. “Jangan gila kamu Ji,” cetus Slamet. “Gue tahu kok di mana Pak Mali suka naro kuncinya, yaitu di kantong jaket tentaranya itu. Kalian suka perhatiin ga, Pak Mali suka menggantung jaketnya itu buat diangin – angin di jemuran luar? Itu kesempatan,” ujar Aji. Chandra dan Slamet menggelengkan kepalanya bersamaan. “Ga, ga, jangan cari masalah Ji, lo jangan coba – coba deh, bisa ngamuk Pak Mali nanti,” Chandra mengingatkan.
“Ada sesuatu yang besar di dalam kamar itu,” tiba – tiba Gandung berkata setelah diam sedari tadi. Kini semua menatap Gandung. “Apa itu Ndung? Lo bisa lihat dengan mata batin lo ke dalam kamar?” tanya Aji serius. Gandung menggeleng, “Aku hanya merasakan, tidak enak dan tidak menyenangkan.”
“Wis ah, jangan bahas beginian, kita lanjut botram aja,” ujar Pardi. Akhirnya semua kembali makan dengan lahap.
BERSAMBUNG PART 2