“Besok antar aku ke klub sastra, ya!” ucap gadis cantik jelita itu. Masih terbayang-bayang di kepalaku senyum manisnya ketika mengatakan itu. Adalah Rebecca, seorang gadis cantik berdarah Korea-Amerika yang saat ini berpacaran denganku. Meskipun sudah 5 tahun pacaran, aku tidak pernah bosan ketika memandang wajahnya. Siapapun makhluk bernyawa pasti akan mengagumi kecantikan pacarku ini. Kecantikannya sungguh tidak nyata. Matanya sangat berbinar, kulitnya putih, rambutnya hitam kecokelatan, bahkan kecantikannya melebihi kecantikan model Eropa. Menurutku wajahnya mengingatkanku kepada seorang idol Korea blasteran Amerika favoritku. Namun, sekarang tidak ada lagi yang bisa membuatku terpesona selain Rebecca.
Rebecca selalu bersamaku setiap saat. Bagaimana tidak, jarak rumahku dengan rumahnya hanyalah satu meter. Bahkan, saking dekatnya, Pak Sueb, sopir Rebecca sering bilang, “Suatu saat kamu harus tinggal serumah dengan Rebecca”. Karena itu pulalah aku terkadang merasa tidak nyaman sewaktu-waktu ketika bersama Rebecca. Melihat Rebecca yang begitu sempurna, selalu saja membuatku khawatir akan kehilangan dia. Apalagi para laki-laki dI kompleks ini tidak sedikit yang tergila-gila dengan Rebecca. Hal ini membuatku cemas. Itulah mengapa aku selalu mengawasi Rebecca ke mana pun dia pergi. Mungkin terdengar posesif, namun hanya orang gila yang membiarkan permata kesayangannya hilang diambil orang, bukan?
Melihat Rebecca membaca buku di kamarnya adalah hobiku setiap malam. Rebecca sangat mencintai buku. Dia paling tidak bisa diganggu ketika sudah terhipnotis oleh buku-buku favoritnya. Haruki Murakami, William Faulkner, dan Raymond Chandler adalah penulis-penulis favoritnya. Perempuan dengan selera seperti itu pastilah berbeda dengan perempuan yang lain. Dia sangat introvert, pandai, dan sangat menghargai privasinya. Tidak mengherankan jika gaya kita berpacaran sedikit berbeda. Jika biasanya para sejoli itu memiliki panggilan kesayangan, maka hal itu tidak berlaku bagi Rebecca. Pernah sesekali aku memanggilnya dengan panggilan ‘sayang’. Namun, dia justru bermuka masam dan pergi meninggalkanku begitu saja. Terlepas dari keunikan sifatnya itu, Rebecca adalah perempuan yang setia. Dia pernah mengatakan sesuatu yang menjadi penyemangatku dan harapan besarku, “aku sudah sangat nyaman pergi denganmu.”
***
Akhirnya pagi yang ditunggu-tunggu telah tiba. Tepat jam 8 aku sudah bersiap-siap di mobil menunggu Rebecca yang sedang merias wajahnya. Tak lama Rebecca pun datang menemuiku sambil menyapa, “pagi!”. “Pagi juga,” balasku. Rebecca yang menawan itu semakin cantik dengan style ala mahasiswa. Sangat wajar karena acara pertemuan klub sastra adalah acara yang diadakan oleh komunitas di kampus. Sebenarnya Rebecca sudah lulus 2 tahun yang lalu. Namun, karena sosoknya yang karismatik dan pandai, dia sering kali diundang ke acara adik tingkatnya.
Perjalanan ke kampus cukup jauh. Selama di mobil, aku hanya fokus ke depan jalan. Sedangkan Rebecca sedang asyik bermain chat dengan sesorang. Aku sendiri yang pacarnya tidak pernah tau dengan siapa dia bermain chat. Rasa penasaran pasti selalu muncul. Sebagai pacar yang dewasa, aku harus belajar untuk menghargai privasinya. Sesekali kita ngobrol tentang pekerjaanku. Namun, dering ponsel Rebecca selalu merusak suasana.
Setelah perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya sampai juga ke tempat yang dituju. Setelah parkir mobil, Rebecca menggodaku dengan bercanda “apa kau mau masuk juga?” tanyanya. “Ah tentu saja tidak. Lagi pula aku tidak suka sastra,” jawabku menolak. Dia pun tersenyum kecil kemudian meninggalkanku ke tempat acara. Dari jauh, ku lihat Rebecca sudah disambut oleh adik-adik tingkatnya saat di pintu masuk. Aku sendiri memutuskan untuk mengikuti dan melihat Rebecca sebentar. Dari jauh kulihat dia sedang memimpin diskusi tentang novel terbaru. Entahlah, aku sendiri tidak terlalu jelas mendengar yang dibahas Rebecca dari ruangan itu. Namun, setidaknya telingaku masih cukup peka ketika dia mengatakan nama ‘Haruki Murakami’ berulang kali.
Acara itu berlangsung cukup lama. Setidaknya pantat ku terasa keram setelah menunggu selama 2 jam. Tidak lama Rebecca keluar dari ruangan itu sambil membawa buku baru sebagai kenang-kenangan dan tanda terima kasih dari panitia acara. Aku pun bergegas menemui pacarku itu seraya berkata, “bagaimana acaranya?” Dia tidak menjawab karena sibuk membalas chat dari orang yang aku tidak tahu siapa. Merasa sedikit tersinggung, aku pun bertanya untuk kedua kalinya “bagaimana tadi acaranya?” tegasku. “Ah maaf, tadi acaranya lancar,” jawabnya dengan kaget dan sedikit canggung. “baiklah kalau begitu,” aku mengakhiri.
Kami pun berjalan menuju tempat parkir. Selagi berjalan, aku tiba-tiba merasa khawatir. Bukan dengan Rebecca, melainkan dengan diriku sendiri. Apakah aku sudah terlalu berlebihan? Apakah aku sudah mengganggu privasinya? Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba muncul di kepalaku. Namun, di sisi lain aku juga merasa bingung dengan sikap Rebecca. Dia tidak biasanya seperti ini. Dia terlihat ceria ketika membalas chat itu hingga tidak terlalu memedulikan kehadiranku. Siapa orang di chat itu? Apakah dia laki-laki? Apakah Rebecca bisa berselingkuh? Hmmm, entahlah, namun firasatku sangat tidak enak saat ini.
Sesampainya di tempat parkir aku menanyakan Rebecca tujuan selanjutnya, “habis ini mau kemana?". "Entahlah, bagaimana kalau pulang saja?” jawabnya.
***
Sesampainya di rumah aku bergegas menuju ke kamar. Inginku menelepon Rebecca untuk mengucapkan kata-kata indah. Namun, disaat yang sama aku takut mengganggu privasi pacarku itu. Meskipun bertetangga dekat, kita jarang kencan bersama. Dari awal kita berjanji untuk tidak berkencan setiap hari. Rebecca bukanlah perempuan manja yang sangat gila akan cinta. ‘Budak cinta?’ istilah aneh itu tidak akan pernah ada di kepala Rebecca. Rebecca sangat mencintai karirnya sebagai penulis. Mengikuti jejak penulis-penulis idolanya. Saking seriusnya, kencan kami yang seharusnya syahdu, mesra, justru hanya berkutat membahas pekerjaan. Mungkin buat sebagian orang, hubungan seperti ini sedikit membosankan. Namun, rasa bosan itu hilang seketika ketika melihat wajah eloknya.
Berbeda dari kemarin, kini Rebecca sedang tidak membaca buku seperti biasa di kamarnya. Rebecca justru asyik bercanda, tertawa, dengan seseorang yang meneleponnya. Entah kenapa, Rebecca terlihat sangat berbeda. Seolah-olah dia bisa menjadi dirinya yang sebenarnya. Rebecca bahkan tidak pernah kulihat seceria dan sebahagia itu saat bersamaku. Siapa sebenarnya orang di telepon itu? Ah, kenapa aku jadi semakin penasaran begini. Aku tidak bisa terus-menerus disiksa seperti ini. Seolah-olah kesabaranku tentang privasi dan semua omong kosong ini telah terkuras habis. Aku menjadi merasa dipermainkan oleh pacarku sendiri. Apakah bahkan selama 5 tahun ini aku hanyalah permainan baginya?
Kekesalanku seketika hilang ketika melihat Rebecca dengan terburu-buru keluar dari kamarnya. Tidak lama ada seseorang yang mengetuk pintu rumahku. Aku pura-pura tidak mendengar hingga akhirnya aku tidak asing dengan orang yang memanggil namaku. Suara yang lembut, halus, manja membuat siapa pun bergairah mendengarnya. Ya, sepertinya itu suara Rebecca. Bergegas aku membuka pintu. Melihat Rebecca sedikit terengah-engah. Bak seorang peramal, Rebecca seolah-olah bisa membaca pikiranku. “Tadi mamaku menelpon. Aku akan tinggal ke Amerika selama 2 minggu. Jadi besok bisa antar aku ke bandara?” tanyanya dengan santai. Mendengar hal ini aku menjadi bahagia sekaligus sedih. Aku bahagia karena selama ini dugaanku tentang Rebecca ternyata salah. Di sisi lain aku merasa sedih karena harus berpisah dengan Rebecca selama 2 minggu. Mungkin momen inilah waktu di mana aku berpikir lebih dewasa ketika berhubungan dengan Rebecca. “Ya aku bisa,” jawabku pasrah.
***
Entah kenapa kekesalanku terhadap Rebecca muncul kembali ketika menunggu Rebecca selama 3 minggu. Ya, ini benar, Rebecca sudah menetap di Amerika selama 3 minggu. Namun, bukan itulah yang menjadi sumber kekesalanku. Aku tidak pernah menyangka ketakutan terbesarku menjadi nyata. Hatiku begitu perih, bagaikan teriris dengan silet berkarat ketika melihat Rebecca pulang dengan membawa laki-laki lain ke dalam rumahnya. Tidak ada prasangka lain selain menganggap laki-laki itu adalah selingkuhannya. Bagaimana mungkin Rebecca bisa melakukan ini kepadaku. Selama ini aku selalu menjaga perasaannya, bahkan aku selalu meminta maaf ketika salah bicara. Namun, apa maksud semua ini? Bagaimana mungkin Rebecca bisa sedekat dan semesra itu dengan selingkuhannya. Dua hari ini aku menyaksikan Rebecca tidur dengan pacar barunya dengan bergairah. Selama 5 tahun, jangankan tidur dengannya, menciumnya saja aku tidak pernah. Perasaanku campur aduk. Entahlah, mungkin selama ini Rebecca sengaja membuatku gila.
Pagi yang cerah tampak tidak mendukung suasana hatiku. Terkadang aku berpikir bahkan matahari saja tidak pernah memahamiku. Aku jadi pusing sendiri. Sebaiknya aku mencuci mobil kesayanganku yang sudah menganggur selama 3 minggu. Mobil yang memiliki banyak kenangan terindah bersama Rebecca. Tidak lama aku melihat Rebecca bersama laki-laki itu berjalan bersama menemuiku. Oh tidak, apakah Rebecca ingin membunuhku secara perlahan? Laki-laki itu menuju ke sini dengan wajah sombong lalu berbicara di hadapanku. “Wah, rajin sekali Pak Sueb. Pagi-pagi sudah mencuci mobil istri saya. Nanti bisa kan minta tolong ngantar saya dan Rebecca ke bandara? Soalnya kita mau bulan madu ke Bali,” tanyanya ramah. “Bisa tuan,” jawabku mengiyakan.