LOVE OR PRANK
Di pagi hari, aku tengah berjalan santai dengan memeluk buku serta mendengarkan musik melalui earphone yang terpasang di kedua telingaku. Sebelumnya perkenalkan namaku Mayshita Insyira atau biasa dipanggil Mayshita. Pagi ini, aku begitu ceria dengan senyuman di bibir tipisku dan berwarna cherry itu.
Sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku, pengendara di atasnya seakan tengah berteriak. Namun, aku tidak mengerti apa yang diucapkannya karena suara musik yang keras mengalun melalui earphone yang tengah menyumbat telingaku. Motor itu benar-benar mendekatiku, ketika aku hendak terserempet motor tersebut sebuah tangan dengan cepat menarikku ke arah samping.
Aku cukup kesulitan untuk menyeimbangkan tubuh sehingga aku jatuh menindih tubuh pria yang menyelamatkanku. Sementara itu, pengendara motor itu jatuh menabrak trotoar dengan beberapa luka di tubuhnya.
Bola mataku membulat dengan sempurna pada saat aku melihat mata indah milik pria itu. Mata kami saling menatap satu sama lain. 'Aku merasakan sesuatu yang aneh pada jantungku. Jantung ini berdegup tak seperti biasanya'.
"Radit?" Aku memanggil pria yang tubuhnya kutindih.
"Eoh! Gue Radit! Menyingkirlah! Tubuh lo berat banget!" Raditya menghindari tatapanku, begitupun denganku.
Muhammad Raditya, adalah teman sekelasku. Aku dan Raditya kelas 3 IPA 2. "Oh, maaf." Aku langsung bangun dan merapikan seragam sekolahku serta memungut buku yang berserakan di jalan.
"Tidak perlu meminta maaf. Lain kali, kecilkan volume-nya! Lo hampir ketabrak tadi!" tegur Raditya seraya berjalan meninggalkanku.
Sementara itu, aku hanya menggelengkan kepalaku mendengar teguran dari musuh bubuyutanku. Kemudian aku melanjutkan perjalanan menuju sekolah. Pada saat aku hendak memasangkan earphone-ku kembali yang tadi sempat terlepas, Raditya menepikan motornya tepat di hadapanku.
"Naiklah!" perintah Raditya padaku yang berdiri dengan kening berkerut.
"Tidak! Terima kasih atas tawarannya!" aku menolak tawaran Raditya secara terang-terangan.
"Gue bilang naik!"
"Enggak! Gue enggak mau!"
Raditya memang pria yang keras kepala, dia turun dari motor sport-nya. Kemudian dia mengambil helm yang berada di tangkinya, lalu dia menarik tanganku. "Jangan ngeyel! Lo harus naik motor gue!" pekik Raditya seraya memakaikan helm padaku.
Entah apa yang terjadi, aku hanya bisa diam tak berkutik dan menuruti perkataannya. Kali ini jantungku benar-benar tidak aman. 'Gue bisa mati kena serangan jantung kalau gini caranya'.
Tak lama kemudian, aku dan Raditya sudah sampai di sekolah. Aku turun dari motor Raditya dan mengembalikan helm padanya. "Terima kasih," ucapku pada Raditya.
Setelah itu, aku berjalan cepat menuju kelas. "Hei! Gadis jahil! Tungguin gue!" Raditya berteriak memanggilku.
Dalam secepat kilat kini Raditya sudah ada di sebelahku. Aku merasa canggung karena saat ini aku dan Raditya sudah menjadi pusat perhatian karena melihat kami jalan bersama. Ya, memang ini membuat murid lain terkejut karena biasanya aku dan Raditya hanya bisa bertengkar setiap saat. Entah ada apa dengan hari ini, aku dan Raditya bisa jalan bareng.
Begitu sampai kelas, seluruh mata tertuju padaku dan Raditya. Aku tidak heran melihat reaksi teman-teman sekelasku. "Pagi guys," aku menyapa teman-teman sekelasku.
"Pa-gi, May," sapa teman sekelasku secara serentak dengan tatapan masih tertuju padaku dan Raditya.
Berbeda dengan Raditya, dia berdiri dan berkaca pinggang. Matanya begitu tajam melihat satu persatu pada teman-teman. "Ngapain kalian ngeliatin gue sama May kek gitu?" tanya Raditya dengan nada ketus.
"Gue heran sama lo, Dit. Lo itu sama Mayshita kek musuh bubuyutan tapi kalian jalan bareng. Apa kalian udah jadian?" celetuk salah satu teman Raditya yang bernama Mahesa.
Aku langsung tersedak mendengar celetukan Mahesa. Bagaimana mungkin aku jadian sama pria es batu seperti Raditya. Selain itu, Raditya adalah pria yang sangat menyebalkan.
"Jangan konyol! Mana mau gue jadian sama gadis jahil kek dia!" sindir Raditya seraya memicingkan matanya padaku. Raditya selalu meledekku dengan sebutan gadis jahil. Aku memang salah satu siswi yang jahil, jika tidak jahil rasanya ada yang kurang dengan diriku.
Walaupun aku siswi yang jahil, aku tetap tidak suka jika Raditya meledekku seperti itu. Aku menggebrak meja membuat semuanya terlonjak kaget. "Siapa juga yang mau sama lo! Dasar pria es batu!" aku memaki Raditya sebagai balasan karena dia telah meledekku di hadapan teman sekelasku.
"Apa? Lo bilang apa? Woiiyy! Mayshita!" teriak Raditya karena setelah aku memakinya, aku langsung keluar dari kelas. Aku malas saja jika pagi ini harus bertengkar dengan manusia es batu itu.
Sementara itu, Raditya dicegah oleh teman-temannya. Begitu aku keluar dari kelas, kedua siswi berlari mengejarku. Berbeda dengan ketiga sahabat Raditya. Mereka tetap bersama Raditya.
***
Suatu hari aku mendapat tantangan dari kedua sahabatku. Tantangannya tidak masuk akal karena aku harus meluluhkan hati dan juga membuat seorang Raditya bucin padaku. Bagaimana bisa, manusia es batu bisa luluh olehku? Tapi, aku tidak menolaknya. Aku menerima tantangan itu karena hadiahnya cukup menarik, hadiahnya berupa sebuah motor sport yang sangat aku inginkan.
Bukan aku saja yang mendapat tantangan, tapi Raditya juga mendapat tantangan dari ketiga sahabatnya. Tantangan yang sama, yaitu membuatku bucin sama Raditya. Namun, aku tidak akan membiarkan Raditya menang dalam tantangan ini. Aku yang akan memenangkan tantangan ini.
***
Kejadian tak terduga pada saat jam pelajaran matematika. Ketika guru kami menyuruh mengumpulkan tugas, Raditya merebut bukuku dan membawanya ke depan untuk dikumpulkan. Tentu saja hal itu membuat heboh satu kelas. Bagaimana tidak, itu adalah trik Raditya untuk membuatku malu dan baper dengan perhatiannya.
Aku, tidak akan baper hanya karena perhatian kecil seperti itu. Sehingga, muncullah ide jahil dalam benakku. Aku tahu jika saat ini Raditya sedang memperhatikanku. Aku membenarkan posisi dudukku dan mendekatkan bibirku ke telinga Raditya.
"Kenapa menatapku seperti ini, Sayang? Apakah kamu menyukaiku?" Aku menaik-turunkan alisku untuk membuat Raditya salting.
Pada saat Raditya hendak membalas ucapanku tiba-tiba guru matematika menggebrak meja sembari memanggil Raditya dan menyuruhnya ke depan. Terlihat jelas ada kemarahan di mata guru kami itu. Dugaanku benar, jika Raditya kembali membuat onar.
Raditya tidak mengerjakan tugasnya melainkan menulis namaku di dalam bukunya. Tentu saja hal itu membuat guru kami marah. Namun, semua murid dibuat kagum dan bertepuk tangan dengan alasan Raditya tidak mengerjakan tugasnya.
"Karena setelah saya mengenal Mayshita, saya jadi kesulitan belajar matematika. Setiap pelajaran matematika yang ada di pikiran saya hanya ada Mayshita, karena saya ditambah Mayshita jadi kita," jelas Raditya. Alasan inilah yang membuatku mendengus kesal. Lagi-lagi Raditya berhasil membuatku malu setengah mati.
Alasan Raditya berhasil membangkitkan kemarahan tingkat dewa pada guru kami. Raditya disuruh ke ruangan guru kami. Sepertinya kali ini Raditya akan dihukum atas perbuatannya.
"Sayang, sampai ketemu di kantin." Raditya mengedipkan sebelah matanya kepadaku. Kemudian dia berlari menyusul guru kami.
"Ciee, ada yang udah jadian nih," ledek salah satu murid padaku.
"Woah, gila! Dia benar-benar udah gila!" Wajahku berubah menjadi pucat setelah apa yang terjadi di kelas hari ini.
Tak lama kemudian, terdengar bel istirahat berbunyi. Dengan secepat kilat, aku berlari keluar kelas. Aku tidak ingin terus diledek oleh teman sekelasku
***
Di kantin ...
Aku sedang asyik makan mie ayam dengan kedua sahabatnya. Tiba-tiba Raditya datang dengan membawa mie ayam dan es jeruk. Saat itu aku tidak tahu jika Raditya datang menghampiriku.
Pantas saja kedua sahabatku langsung meninggalkanku yang masih asyik makan. Aku heran kenapa kedua sahabatku tega ninggalin sahabatnya sendiri padahal jelas-jelas aku belum selesai makannya. "Hei! Gue belum selesai makannya!" aku teriak dengan mulut yang penuh dengan makanan.
Aku tersedak. "Minumlah." Seseorang memberikan minumannya untukku.
Aku terperanjat ketika melihat Raditya ada di sebelahku. Aku tidak menolak minumannya, aku menerimanya karena saat itu aku memang membutuhkan minuman untuk melegakan tenggorokanku. "Terima kasih, Sayang." Aku tersenyum pada Raditya. Aku tidak membiarkan kesempatan emas ini terlewat sia-sia, aku pun kembali menjalankan misiku.
'Jika bukan karena tantangan dari bestie, mana mau gue mengatakan hal alay kek gini'.
Raditya tertegun mendengar ucapanku, jakunnya terlihat jelas naik turun. "Eoh, sama-sama," jawab Raditya tanpa ekspresi. Aku tahu jika Raditya saat ini sedang salah tingkah dengan seranganku hanya saja dia bersikeras menutupi kegelisahannya itu.
"Kenapa berdiri terus di situ? Duduklah, Sayang!" Aku menarik lengan Raditya agar duduk.
Kali ini Raditya lah yang terdiam, aku sengaja membuat Raditya seperti ini. Aku ingin membalas Raditya atas perbuatannya saat di kelas tadi. Dalam hatiku, aku tertawa puas melihat ekspresi Raditya yang sudah pucat bak mayat hidup.
"Sayang, kenapa makan siangmu tidak sehat seperti ini sih? Kamu harus makan yang sehat." Raditya mengambil tisue dan mengelap bibirku yang belepotan. Sontak kedua mataku membola dengan sempurna karena serangan balik dari Raditya.
Kali ini aku yang tertegun mendapat perlakukan Radit. Lalu aku membalas ucapan Raditya. "Sayang, Bapak Ibu guru sering bilang jika makanan sehat itu, 4 sehat 5 sempurna. Akan tetapi, aku belum merasakan kesempurnaan sebelum kamu menjadi milikku. Jadi, untuk apa aku makan-makanan yang sehat." Aku mengedipkan sebelah mata.
Wajah Raditya benar-benar pucat tegang, apalagi jantungnya terus berdetak begitu cepat dari biasanya. Melihat itu, aku mendekatkan wajahku pada Raditya. "Bernapaslah, Sayang. Wajahmu terlihat sangat gugup, tenanglah." Aku mengelus lembut wajah putih mulus Raditya dengan tangan kananku. Aku sedikit gemetar karena ini pertama kalinya aku mengelus wajah seorang pria.
Hal tak terduga kembali terjadi. Aku membelalakkan mataku pada saat Raditya menarik tanganku sehingga bibirku dikecup singkat olehnya. Tidak, bukan hanya aku saja yang kaget, Raditya pun terkejut karena dia tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan saat ini. Keadaan saat ini benar-benar sangat canggung sehingga aku dan Raditya pun berlari ke arah yang berbeda. Benar-benar konyol.
***
Hari ini adalah hari terakhir dari tantanganku dan Raditya yang diberikan oleh sahabat kami. Entah apa yang terjadi, aku melihat para murid berlarian menuju aula. Tiba-tiba aku terjatuh karena tersenggol beberapa murid yang berlari melewatiku. "Hei! Kalau jalan itu hati-hati!" aku berteriak kepada murid yang menyenggolku.
"Kak May, kak Adit, Kak." Tiba-tiba datang seorang siswi dengan wajah panik. Siswi itu bisa memanggil Raditya dengan Adit.
"Ada apa? Kenapa dengan Radit?"
"Kak Adit, celaka. Dia tidak sadarkan diri. Ayo, Kak." Siswi yang saat ini ada di hadapanku adalah adik kelasku. Kemudian siswi itu menarik tanganku, lalu dia membawaku ke aula.
Tak lama kemudian aku sudah ada di aula. Aku sangat terkejut sampai aku menjatuhkan tas dan bukuku. Jantungku rasanya seperti tertusuk dengan tombak melihat Raditya yang tergeletak dengan darah di hidung dan kepalanya. Aku berlari dengan wajah yang menunjukkan ketakutan dan kecemasan di mataku.
"Radit! Lo kenapa?" Aku sangat panik sampai aku menaruh kepala Radit ke pangkuanku.
"Dit! Bangun! Lo kenapa?" Entah apa yang terjadi padaku sehingga aku menangis seraya menepuk-nepuk wajah Raditya agar Raditya terbangun.
Kemudian aku memeluk tubuh Raditya karena takut hal buruk terjadi padanya. Saat ini aku tidak peduli dengan semua murid yang menyaksikanku. Yang ada dipikiranku hanyalah Raditya, aku tidak bisa berpikir apa-apa selain ketakutan dan kecemasanku pada Raditya.
Setelah beberapa menit kemudian, Raditya bangun. "I LOVE YOU, MAYSHITA INSYIRA!" ucap Raditya dengan sedikit berteriak.
Aku membulatkan mataku dan langsung berdiri. Aku benar-benar malu tingkat dewi sampai hendak meninggalkan Raditya namun, Raditya menarik tanganku. "Gue bisa jelasin semuanya." Raditya berdiri dan mengusap noda merah yang menyerupai darah di hidung dan kepalanya.
"Apa maksudnya ini, Dit? Lo ngeprank gue?" tanyaku dengan tatapan yang tajam.
"Untuk celaka ini, gue memang ngeprank lo tapi--"
"Tapi apa? Tega lo, Dit! Sumpah ini enggak lucu!" aku memekik pada Raditya. Aku tidak habis pikir dengan ide konyol yang dibuat oleh Raditya demi memenangkan tantangan ini.
Memang benar jika aku mulai menyukai Raditya tapi, dia tidak menyangka jika Raditya akan memakai cara ini untuk mengetahui perasaanku padanya. Aku tertunduk malu karena seluruh murid masih menatap diriku dan Raditya.
"Mayshita." Raditya bersimpuh di hadapanku dan memegang kedua tanganku membuat semuanya kembali bersorak dan bertepuk tangan.
Jantungku langsung berdetak cepat, aku tidak tahu apa yang akan Raditya lakukan. Apakah dia akan mengeprank-ku lagi atau tidak. Aku hanya menatap Raditya dengan kening berkerut.
"Dit! Lo mau ngapain? Jangan kek gini, malu diliatin banyak orang! Bangun!" Aku benar-benar malu, wajahku berubah merona bak kepiting rebus.
Raditya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Gue mau mengatakan sesuatu sama lo,"
"Apa? Buruan! Gue malu kek gini, Dit." Aku menundukkan wajahku karena malu.
"Gue cinta sama lo. Memang awalnya gue enggak suka sama lo, dan gue dekat lo karena tantangan tapi ... setelah gue kenal lo lebih dekat, gue jatuh cinta sama lo. Jangan tanyakan kapan gue jatuh cinta karena gue juga tidak tau, gue baru sadar jika lo juga punya perasaan sama gue. Jadi, lo mau enggak jadi pacar gue?" Raditya menyatakan perasaannya dengan matanya yang penuh dengan kejujuran.
"Lo, ngomong apa sih, Dit? Gue enggak suka sama lo!" Aku tidak mempercayai perkataan Raditya sehingga aku menghindari tatapan Raditya.
Raditya berdiri dan tersenyum. "Benarkah? Kalau begitu coba lo tatap mata gue! Lo katakan kenapa lo begitu panik dan ketakutan saat liat gue celaka? Kenapa lo peluk gue dan nangis? Bisa lo jelaskan semua itu?" tantang Raditya.
"Gue ... gue ...." Aku benar-benar dibuat gugup oleh Raditya. Lidahku kelu dan sulit untuk menjawab pertanyaannya.
"Terima! Terima! Terima!" Semua orang bersorak dan bertepuk tangan.
"Kenapa gugup, heoh? Ya udah jika lo enggak mau ngakuin perasaan lo sendiri." Raditya hendak pergi meninggalkanku.
"GUE CINTA SAMA LO MUHAMMAD RADITYA!" Aku berteriak dengan matanya terpejam. Tidak ada pilihan lain selain mengakui perasaanku sendiri. Aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku pada Raditya lebih lama lagi karena itu membuatku menderita.
Raditya menghentikan langkahnya, lalu dia berjalan menghampiriku. Raditya menatapku penuh kebahagiaan, saking bahagianya, Raditya langsung memelukku di hadapan semua orang yang menyaksikan kami berdua. Seluruh murid yang ada di aula bertepuk tangan. Begitupun dengan sahabatku dan Raditya yang ikut bersorak dan loncat kegirangan karena mereka berhasil menyatukan dua murid yang sejak awal tidak pernah akur sama sekali.
END