Mungkinkah seorang lelaki muda yang tampan, cerdas, dan kaya mau melirik seorang janda berusia 40 tahun seperti Masita?
disinilah, kisah Masita dimulai.
Masita tengah duduk di bangku kayu yang ada di bawah pohon besar di tepi danau. Di pangkuannya, sebuah buku sirah nabawi terbuka lebar seolah menantangnya untuk segera dibaca tuntas.
"Ah." Dia mendesah pelan. Bagaimana dia bisa melanjutkan membaca, sedangkan angin itu begitu lembut membelai wajahnya, mengantarkan nyanyian kantuk yang menggoda.
Pluk! Sebuah ranting jatuh mengenai lengannya. Sesaat Masita menjengit, namun senyumnya mengembang dengan segera.
"Ya Allah. Kamu membuatku terjaga. Terima kasih." Dia meletakkan ranting mungil itu di sebelahnya. Lalu matanya kembali menyusuri kalimat demi kalimat yang terangkai dalam kitab itu.
"Assalamualaikum. Permisi Mbak, maaf mengganggu. Saya izin lewat ya? Mau ambil rumput di sebelah itu buat ternak sapi saya."
"Waalaikum salam. Oh, iya, Mas, silahkan," jawab Masita canggung. Seorang pemuda tiba-tiba melintas di depannya. Dia nampaknya masih muda sekali. Mungkin sekitar 10 atau 15 tahun di bawahnya.
Wajahnya yang putih bersih membuat Masita sedikit heran. Masa iya, gembala sapi, kok, kulitnya sekinclong itu? Apa dia artis yang sedang menyamar?
Masita sontak melihat kanan kiri depan belakang. Siapa tahu dia yang tengah terjebak dalam adegan sinetron. Tapi, sepi. Tak ada siapapun selain mereka. Pemuda yang tengah merumput, dan Masita yang tengah membaca buku.
"Astaghfirullah." Masita segera berujar pelan. Dia segera mengemasi barang-barangnya dan beranjak meninggalkan lokasi tersebut. Bahaya. Mereka hanya berduaan, dan itu dilarang.
*****
Husni menghela napas panjang. Baru kali ini dia melakukan tindakan diluar akalnya. Dia biasanya bisa menahan diri saat melihat wanita itu duduk di bawah pohon seperti biasanya. Kadang dia merasa cemburu dengan buku tebal yang selalu dibawanya.
"Astaghfirullah," bisik hatinya pelan.
Wanita itu telah menawan hati Husni sejak pertama kali dia melihatnya. Wajah teduhnya, senyum manisnya, bahkan kadang Husni juga mendengar bisik-bisik lirihnya saat melantunkan ayat-ayat yang ada dalam kitab yang dipegangnya.
Husni jatuh cinta.
Tapi, dia tahu diri. Mana mungkin wanita yang nampak seperti putri raja itu mau menatapnya yang hanya penggembala sapi.
"Huft!" kesal Husni. Bahkan wanita itu langsung pergi ketika Husni baru berusaha mendekatinya sedikit.
"Hus, ngelamun aja. Awas sapimu kabur." Bambang menepuk punggung Husni pelan.
"Hahaha. InsyaAllah tidak Mbang. Biarin aja mereka main air dulu. Nanti habis shalat Ashar aku bawa mereka kembali ke kandang." Husni mengawasi sapi-sapinya yang tengah mandi di tengah sungai. Dia biasanya punya trik khusus untuk segera mengeluarkan mereka dari sungai saat waktunya kembali ke kandang.
"Kamu itu, aneh, Hus." Bambang menatap Husni lalu duduk di sebelah pemuda itu.
"Aneh kenapa?"
"Kamu itu, kan, keturunan orang kaya. Banyak pemuda yang mengincar posisimu di perusahaan pamanmu itu. Kenapa kamu malah angon* sapi di sini?" Husni tertawa mendengar celoteh pemuda yang sudah tiga tahun ini dekat dengannya. Bambang sendiri menggantikan pekerjaan bapaknya yang meninggal tiga tahun lalu karena sakit paru-paru basah.
"Malah ngakak," gerutu Bambang.
Husni tersenyum menanggapi gerutuan Bambang.
"Paman memang mengajariku dari hal yang paling dasar. Dengan begini aku juga belajar bagaimana menjadi peternak sapi yang sejati, mulai dari makanan, vitamin, sampai kegiatannya aku harus perhatikan. Jadi, kalau ada yang tidak beres aku juga tahu berasal dari mana ketidak beresan itu. Bukan hanya sekedar duduk di belakang meja lalu menerima laporan, 'Sapi siap diantar ke pemotongan hewan.' Begitu, kan, Mbang."
"Iyo iyo. Sa karepmu." Husni tertawa melihat mulut Bambang yang mengerucut lucu.
"Eh, sebentar lagi azan Ashar. Yuk, siap-siap." Husni pun beranjak menuju sungai untuk membersihkan badan dan bersiap shalat Ashar.
****
"Hus! Husni! Tunggu sebentar!" teriak Mbak Sal sambil melambai-lambaikan tangannya memanggil Husni.
"Kenapa Mbak? Ada yang bisa aku bantu?"
"Aku mau minta tolong. Ibu Masita nyuruh aku berangkat ke Malang, kulakan buah apel dan beberapa sayur. Eh, ndilalah si Nduk tiba-tiba panas. Ini mau aku bawa ke puskesmas. Aku minta tolong gantiin, dong," cerocos Mbak Sal seolah mengabaikan pandangan heran Husni.
"Kok, aku, sih, Mbak? Aku ndak paham buah ama sayur. Terus piye?" Husni mencoba menolak dengan halus.
"Ora popo. Nanti ada Sugeng. Kamu cuma ngawasi ama bayar aja." Mbak Sal mengulurkan sebuah tas yang Husni yakini berisi uang untuk kulakan. "Aku ga percaya ama Sugeng," bisik Mbak Sal lirih. Pandangan matanya nampak sangat memohon bantuan Husni.
Sebenarnya, ada sedikit harapan dalam dada Husni ketika menyadari kenyataan bahwa Mbak Sal adalah orang kepercayaan Masita. Wanita yang telah menawan hatinya. Wanita yang bisa membuatnya melakukan apa saja demi bisa menatapnya lebih lama. Namun, ada sedikit keraguan akan kemampuannya kali ini. Karena dia tidak memahami dunia perdagangan buah dan sayur yang digeluti Masita. Husni takut mengecewakan wanita tersebut bila dia melakukan kesalahan.
"Ayolah Hus. Tolong aku," rajuk Mbak Sal sekali lagi.
Husni menghela napas sejenak, "Baiklah. Bismillah. Aku coba, ya, Mbak. Semoga Bu Masita tidak kecewa."
Husni melihat raut kelegaan di wajah mbak Sal.
"Alhamdulillah. Nggak pa-pa Hus. Aku tadi juga udah pamit, kok, ama Bu Masita. Aku sudah bilang akan melimpahkan tanggung jawabku padamu." Husni melotot mendengar jawaban mbak Sal.
"Ha? Jadi Bu Masita kasih izin?" tanya Husni setengah tak percaya.
"Ya. Tidak secara langsung. Tapi aku berhasil meyakinkannya, kalau kamu benar-benar bisa dipercaya." Mbak Sal mengedipkan sebelah matanya. Idih, genit. Batin Husni.
Husni tersenyum mendengarnya. "Semoga ini salah satu jalan dari-Mu ya Allah, agar aku bisa semakin dekat dengan pujaan hatiku." bisik hati Husni.
*****
"Assalamualaikum." Gemetar suara Husni saat mengucap salam pada Masita. Wanita yang tengah menunggunya datang dengan berbox-box buah dan sayur hasil kulakan di kota Batu Malang.
"Waalaikumsalam. Gimana? Ada kesulitan?" tanya Masita dengan senyumnya yang nampak wajar, tak dibuat genit sedikit pun, tapi mampu menggetarkan dinding jantung Husni.
"Alhamdulillah, lancar Bu," jawab Husni mencoba menenangkan debar di dadanya.
"Bagus lah, kalau begitu. Saya cek barang dulu, ya? Silahkan ke belakang untuk beristirahat. Ada Bik Isna di sana. Mas ...."
"Husni. Nama saya Husni." Yes! Akhirnya ada kesempatan memperkenalkan diri. Teriak pemuda itu dalam hati.
"Ah, iya, Mas Husni bisa minta makan juga sama bibik."
"Ini catatan dan sisa uangnya. Saya permisi dulu ke belakang." Husni mengulurkan tas yang tadi diterimanya dari Mbak Sal. Masita menerimanya dan mengangguk pelan.
Husni melangkah pelan sambil sesekali melirik ke arah dimana Masita mulai memeriksa catatan dan barang-barang yang mulai diturunkan dari atas pick up.
Kenapa dia nampak berseri bahkan saat tidak duduk di bawah pohon. Dan sialnya, kenapa hatiku tak berhenti menyebut namanya.
Astaghfirullah. Astaghfirullah.
Husni merapal istighfar dalam hati. Mencoba menahan sedikit rasa dalam dadanya.
"Assalamualaikum, Bik Isna?" ucap salam Husni saat mendekati sebuah ruangan yang menguarkan aroma masakan rumahan.
"Waalaikum salam. Siapa ya?" jawab seorang wanita paruh baya yang tengah mengaduk panci besar di depannya.
"Maaf, Bik. Saya Husni, saya diminta Bu Masita ke sini. Bisa saya minta air putih, Bik?"
"Oh. Iya Mas. Ambil sendiri nggak pa-pa ya? Saya masih repot ngaduk ini," kata Bik Isna sambil menunjuk sebuah meja panjang yang terletak di ujung ruangan. Husni mengangguk dan tersenyum.
Di atas meja terdapat sebuah mug berisi air putih dan beberapa gelas kecil. Husni mengambil gelas lalu menuang air putih itu pelan. Sebelum meneguknya, dia mencari kursi lalu duduk. Setelah membaca basmalah, dia pun mulai meneguk air itu pelan. Setelah dua teguk, dia menjauhkan gelas dari mulutnya untuk bernapas. Lalu dia minum lagi dua teguk, dijauhkan lagi, dan minum lagi dua teguk, begitu seterusnya hingga air dalam gelasnya habis.
"Alhamdulillahi robbil aalamiin."
"Kenapa, kok, gitu Mas?" tanya Bik Isna tiba-tiba.
"Eh. Kenapa apanya?" tanya Husni heran.
"Kenapa kok, minumnya begitu? Kenapa nggak sekalian aja dihabiskan airnya dalam sekali tegukan?" tanya Bik Isna penasaran, "Biasanya orang-orang juga gitu kalau pas lagi kehausan."
Husni tersenyum singkat, "Ini cara minum Rasulullah Muhammad saw, Bik. 'Janganlah kalian minum pada satu bejana dengan satu kali teguk, sebagaimana minumnya keledai. Namun minumlah dalam dua teguk-dua teguk, atau tiga teguk-tiga teguk. Sebutlah nama Allah ketika kalian hendak minum, dan ucapkanlah Alhamdulillah ketika lepas dahaga kalian.' (HR. Bukhori)."
"La moso, Rasulullah itu juga ngajari cara minum to?" tanya
"Enjih, Bik. Semuanya diajarkan Rasulullah. Hal sekecil apa pun. Bahkan sampai memotong kuku aja diajarkan."
"Ha moso, sih, Mas. Guyon wae sampean iki." Bik Isna tertawa menampakkan deretan giginya yang masih nampak rapi.
"Loh, mboten guyon, Bik. Serius niki."
Husni dan Bik Isna kembali berbincang tentang Rasulullah dan juga hal lainnya. Nampak beberapa kali Bik Isna tertawa keras mendengar kata-kata Husni yang dirasanya lucu.
"Wah. Seru, nih. Lagi nge-gosip Bik?" Tiba-tiba Masita masuk dan mengangguk singkat pada Husni yang nampak membeku.
"Mboten, Bu. Ini, loh, Mas Husni ngelucu. Pintere Bu, cerita-cerita tentang Rasulullah. Cara minum, cara potong kuku, cara makan, terus embuh, cara opo maneh iku mau," ungkap Bik Isna sambil mengusap sudut matanya yang sedikit berair karena banyak tawa.
Masita tercengang mendengar celoteh wanita yang sudah puluhan tahun mengabdi pada keluarganya tentang pemuda di depannya. Benarkah pemuda ini bercerita tentang Rasulullah?
Masita mengalihkan pandangan. Sejenak pandangan mereka bertemu. Tapi, secara sepihak Husni memutus kontak mata itu dengan menunduk dan bersiap untuk berdiri dan meninggalkan tempat.
"Maaf Bu. Saya rasa tugas saya selesai disini? Saya pamit dulu. Terima kasih." Husni segera beranjak keluar meninggalkan Masita yang masih tercengang dengan semua kejadian tadi.
Kenapa dadanya tiba-tiba bergetar mendengar suara pemuda itu? Bukannya dia masih sangat muda? Jauh lebih muda dari usia Masita? Tapi kenapa dia nampak sangat matang di usia tersebut. Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin Masita tertarik dengan pemuda itu, kan?
"Eh, Mas Husni." Masita reflek berteriak manggil pemuda itu.
Husni pun seketika mematung mendengar namanya disebut. Seolah kakinya ikut mengkhianatinya untuk segera menjauh dari wanita itu. Sial!
Husni belum berani memutar badannya menghadap Masita. Hatinya bertarung antara segera pergi atau berlama-lama menikmati kesempatan berdua dengan wanita pujaannya.
"Mas?"
Mau tak mau Husni pun berbalik, demi sebuah hormat.
"Maaf. Ini upah buat Mas hari ini." Masita mengulurkan sebuah amplop yang sedari tadi terlepas dari perhatian Husni.
"Oh. Iya Bu. Terima kasih." Husni dengan cepat meraih amplop tersebut dan memasukkannya ke dalam saku celananya. "Saya pamit dulu. Assalamualaikum." Husni tetap menundukkan pandangan, tak berani menatap wajah ayu di depannya.
"Waalaikumsalam, saya juga terima kasih," jawab Masita lirih. Husni mengangguk pelan lalu segera berbalik dan meninggalkan Masita yang tak bisa mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. Ada desir aneh menjalari jalan darahnya. Aneh, sangat aneh.
Ada apa dengan pemuda itu?
Ada apa dengan Masita?
*****
"Kamu kenapa Hus?" tanya Bambang melihat Husni tak seperti biasanya. Duduk melamun dan sesekali melempar batu-batu kecil ke sungai.
"Aku bingung, harus gimana, ya?"
"Gimana apanya?"
"Apa kulamar langsung aja, ya?"
"Ha? Ngelamar siapa?"
"Masita."
"Masita? Bu Masita maksudmu?"
Husni mengangguk pelan.
"Edan. Kamu tahu nggak, dia itu janda, loh. Umurnya sudah 40 tahun. Lah, kamu? Kamu masih 25 tahun. Jauh Hus. Kamu kena pelet ya?"
"Hust! Sembarangan!"
"Lah, kamu yang sembarangan. Ngapain cari perempuan yang udah tua gitu. Janda lagi. Masih ada Cindy, Bella, Diana, Santi, Tiara, dan lain-lainnya yang lebih muda, lebih seksi, lebih bohay. Lha kamu ... malah milih janda tua," celoteh Bambang mengeluarkan segala isi hatinya.
"Mbang, Mbang, janda juga manusia. Mereka tidak sehina itu. Apalagi Masita itu janda ditinggal mati, bukan janda cerai. Lantas kenapa kalau aku jatuh cintanya sama janda?"
"Yang suka kamu itu banyak Hus. Mereka juga ga sembarangan, loh ..."
"Tapi aku yang nggak mau, gimana?" potong Husni cepat, "Memangnya Masita keliatan tua banget, ya?"
"Ya ... nggak juga, sih," cengir Bambang salah tingkah.
"Nah. Berarti masih cocok, kan, ama aku?" tanya Husni sambil mengedip-ngedipkan mata.
"Ah, yo embuh lah. Sa karepmu." Bambang pergi meninggalkan Husni yang tertawa geli.
Sepeninggal Bambang, Husni mulai memikirkan banyak hal. Apakah dia berhak mempertanyakan kenapa Allah mendatangkan rasa ini untuk Masita? Kenapa harus Masita? Kenapa bukan yang lain? Apakah layak dia mempertanyakan tulis takdir Allah.
*****
"Sal. Pemuda kemarin itu siapa, ya?" tanya Masita sambil memeriksa catatan penjualan yang disodorkan Salma, asisten kepercayaan sekaligus sahabat karibnya.
"Husni?" Masita mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari buku catatannya. Tiba-tiba dia merasakan wajahnya memanas saat mendengar nama itu disebut.
"Dia tetanggaku Ta. Anaknya rajin banget. Sebenarnya pamannya itu punya peternakan sapi yang besar. Kalau Husni mau, dia bisa langsung jadi bos menggantikan Pak Gondo pamannya. Tapi, ternyata dia lebih memilih mendalami usaha pamannya mulai dari nol. Dia belajar dengan menggembala sapi. Katanya sih, biar dia lebih paham dunia sapi. Hahaha, ada-ada saja dia," cerita Mbak Sal bersemangat.
"Ooh, gitu. Dia nggak kuliah?" tanya Masita hati-hati, takut pertanyaannya dicurigai Salma.
"Sudah selesai lama. Dia kuliah jurusan peternakan di ... mana gitu, di Jawa Barat sana, loh. Tapi setelah lulus dia ndak langsung pulang, katanya mondok dulu 3 apa 4 tahun gitu, baru dua bulan lalu dia datang, dan ikut membantu mengelola usaha peternakan pamannya."
"Oh. Gitu. Kamu tahu banyak, ya?" cengir Masita.
"Gimana ndak tahu, wong Husni itu sudah kuanggap adek sendiri, Ta. Dulu yang momong dia, ya, aku," kata Mbak Sal berbangga. Masita memamerkan deretan giginya yang putih menanggapi info itu.
"Kenapa, sih, tanya-tanya Husni? Naksir ya?" todong Salma tanpa basa basi.
"Hahaha. Bisa aja kamu. Aku penasaran aja sama dia. Kata Bik Isna, kemarin dia cerita banyak tentang Nabi Muhammad. Aku belum bertemu dengan pemuda seperti dia sebelumnya. Jadi ... yaa ... penasaran aja." Derai tawa sedikit nampak dipaksakan keluar dari bibir Masita. Salma hanya mengangguk-anggukkan kepala.
"Iya, sih, kan memang dia setelah kuliah sempat mondok lama. Jadi dia juga paham lah ilmu agama."
Mereka terdiam untuk beberapa saat.
"Kalau aku mau minta tolong lagi, kira-kira dia mau nggak, ya?"
Salma mengedipkan mata beberapa kali, heran dengan dengan pertanyaan Masita kali ini.
"Minta tolong siapa?"
"Husni."
"Ada apa?"
"Begini, kemarin ada pengusaha Telur Bebek dari Madiun mau menawarkan kerjasama untuk distribusi telur dan juga bebek potong untuk pasar Surabaya. Nah, aku belum begitu memahami bisnis ini. Kira-kira Husni keberatan nggak, ya, kalau aku minta tolong untuk survey?"
"Oh gitu. Coba nanti aku tanyakan, ya?" Masita tersenyum senang mendengar janji sahabatnya.
"Tapi ...." Ucapan Salma yang menggantung membuat Masita mengernyitkan keningnya.
"Tapi?" tanya Masita bingung.
"Kenapa Husni? Kan, Sugeng juga bisa."
"Eh." Masita kebingungan menjawab pertanyaan Salma
"Jangan jangan ...." Salma mengedip-ngedipkan mata genit.
"Apa, sih? Aku tiba-tiba kepikiran dia saat kamu cerita tentang basic pendidikannya tadi. Berarti dia ada kapasitas di dunia peternakan, kan?" Masita mencoba mengungkapkan alasan agar Salma tidak terlalu curiga dengan permintaan itu. Masita malu. Dia belum siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan diajukan sahabatnya.
"Oh gitu. Iya juga, sih. Nanti aku akan bujuk dia sampai mau, ya? Asal cocok aja bayarannya." Mereka pun tertawa bersama.
Sebenarnya Salma curiga, karena rasanya dia sudah lama tak melihat binar itu di mata Masita. Mungkinkah wanita itu sedang jatuh cinta.
Salma tahu, Masita bukan orang yang mudah jatuh cinta. Sejak suaminya meninggal sepuluh tahun yang lalu, banyak lelaki yang mendekatinya. Baik yang masih lajang maupun duda. Tapi semua tak menggoyahkan tekatnya untuk menggelengkan kepala ketika mereka berniat menikahinya.
"Kamu mau menjanda di sisa usiamu?" tanya Salma saat itu.
"Aku tidak menarget itu Sal. Kalau suatu saat Allah datangkan suami untukku, aku bisa apa selain menerimanya?" jawab Masita retoris.
"Halah. Wong selama ini kamu nolak terus. Gimana caranya kamu tahu, kalau itu bukan kiriman suami dari Allah, coba?" cibir Salma
"InsyaAllah aku akan tahu pada waktunya. Hati tidak akan membohongi." Masita tersenyum menatap sahabatnya.
"Atau ... jangan-jangan kamu memang sengaja tidak mau menikah lagi, supaya nanti di surga bisa bertemu suamimu lagi?" Masita tertawa mendengar pertanyaan Salma.
"Tidak. Aku hanya ingin mengikuti apa yang Allah gariskan untukku. Kalau Allah sudah pastikan jodohku akan datang lagi, ya, aku pasti berdosa kalau mengingkarinya. Iya, nggak?" Salma mengedikkan kedua bahunya cuek.
****
"Paman. Aku mau izin keluar kota beberapa hari, ya?" ucap Husni pada Gondo, pamannya.
"Mau kemana lagi?"
"Ke Madiun, mau survey peternakan bebek di sana."
"Oh gitu. Sama siapa?"
"Sendiri mungkin."
"Kenapa tiba-tiba mau ke peternakan Bebek?"
"Bu Masita yang minta tolong survey untuk pengembangan bisnisnya."
"Masita? Pengusaha besar yang tinggal di gang sebelah?"
"Iya Paman."
"Wah, mau nambah bidang usaha lagi dia? Pinter banget. Jaringannya juga kuat dia. Tapi sayang ...."
"Sayang kenapa?"
"Dia janda."
"Ya Allah. Apa hubungannya janda dan tidak janda dengan usahanya?" Tawa Husni merekah mendengar kata-kata pamannya.
"Ya udah. Hati-hati, ya. Nanti sapi-sapimu biar diurus Bambang aja." Pamannya tak menjawab pertanyaan Husni dan justru mengalihkan bahasannya.
"Oh, iya, Paman. Si Cepi kemarin kakinya kena pecahan beling pas pulang dari sungai. Nanti minta tolong supaya dia nggak usah dilepas dulu dari kandang. Sudah diobati, sih. Biar pulih dulu aja." Husni memang menamai sapi-sapinya, hal itu membuat pamannya sering berdecak heran. Kekanakan sekali.
"Oke boy." Pamannya pun pergi meninggalkan Husni yang tengah bersiap untuk keluar kota.
Seusai memasukkan beberapa pakaian ganti, Husni mengambil wudhu dan mendirikan shalat sunnah dua rakaat sebelum melakukan perjalanan, memohon perlindungan dari Allah.
"Bismillah. Semoga Allah mudahkan jalanku." Husni mengangkat tangan untuk berdoa.
Bila Engkau berkehendak, maka jadikan ini jalanku untuk bisa mendapatkan hati Masita? Doa Husni mantab.
*****
"Assalamualaikum," ucap salam lelaki paruh baya di depan rumah Masita.
"Waalaikum salam," jawab Masita yang langsung berdiri saat mengetahui siapa yang mengucap salam, "Paman, ya Allah. Kok, tidak kasih kabar sebelumnya. Tahu gitu tadi Masita jemput." Masita meletakkan kitab sirah nabawinya di meja dan segera berlari menyambut pamannya yang datang dari luar kota.
"Hehehe. Nggak pa-pa, Ndhuk. Paman memang tadi nggak rencana kesini. Cuma mau muter-muter aja. Tapi, kayaknya Allah punya rencana lain dengan membelokkan langkah paman kesini."
"Subhanallah. Mari Paman, duduk dulu. Sudah makan? Sita minta Bik Isna ambilin makan, nggeh?" Masita membersihkan meja dan menata barang-barang yang nampak berantakan di atas meja.
"Nggak usah repot-repot. Paman kesini nggak minta makan, kok," tolak pamannya halus.
"Nggak repot Paman. Sita ingin makan bareng Paman. Sebentar, biar disiapkan dulu nggeh. Ini diminum dulu, paman." Masita mengulurkan sebotol air mineral yang sebelumnya sudah dia buka tutupnya, supaya pamannya tidak kesulitan membukanya.
"Terima kasih, Ndhuk." Masita mengangguk lalu beranjak ke belakang, meminta Bik Isna menyiapkan makan untuk mereka berdua.
Tak lama kemudian, beberapa hidangan sudah tersaji di atas meja. Mereka menikmati makan siang dalam diam, sudah menjadi kebiasaan tidak ada pembicaraan saat makan.
"Gimana usahamu, Ndhuk?" tanya pamannya seusai Masita membantu Bik Isna membereskan meja makan, sedangkan pamannya masuk ke ruang kerja Masita untuk mencari beberapa buku yang dikoleksi Masita.
"Alhamdulillah sekarang mulai belajar merambah dunia travelling. Ada kawan yang menawarkan jasa travel agent, masih coba saya pelajari Paman." Sang paman hanya manggut-manggut, dia tidak meragukan lagi kemampuan Masita dalam bidang perbisnisan. Dia adalah wanita yang cerdas dan tangguh.
"Lalu, kemajuan dalam bidang asmara?" Masita tertawa ringan. Pertanyaan yang selalu tak lupa ditanyakan pamannya setiap kali mereka bertemu.
"Paman ini, masih aja menanyakan hal yang sama. Nggak bosen apa?"
"Paman itu sayang sama kamu. Paman khawatir tidak ada yang akan menjagamu kalau paman pergi menghadap Allah."
"Paman, tujuan menikah itu tidak hanya mencari penjagaku, kan? Suamiku haruslah orang yang mampu membimbing jiwa, menenangkan hati, dan memuaskan dahagaku akan ilmu Allah. Yang darinya aku akan mendapat Ridha Allah." Pamannya puas dengan jawaban itu.
"Sudah bertemu dengan lelaki seperti itu?" tanya pamannya pelan. Masita terdiam, tiba-tiba ingatannya menampilkan sosok Husni yang beberapa hari ini memenuhi ruang memory-nya.
"Ndhuk?"
"Eh, iya paman?"
"Ada. Biar paman minta dia untuk jadi suamimu." Masita terdiam sejenak. Sepertinya dia harus menceritakan Husni pada pamannya. Dia tidak mau memikirkan hal ini sendiri.
*****
"Menikah?" tanya Gondo sambil melotot. Tak percaya keponakannya itu membicarakan pernikahan dengannya.
"Iya Paman. Aku ingin menyempurnakan setengah Dien-ku dengan menikah?" jawab Husni mantab.
"Tapi kenapa Masita? Dia ...."
"Janda?" potong Husni cepat, "Janda juga manusia, kan, Paman. Lagian apa salahnya menjadi janda. Aku sudah mencari semua informasi tentang Masita dari sumber yang insya Allah terpercaya. Aku juga sudah shalat istikharah, memohon petunjuk dari Allah. Dan pilihanku sudah mantab. Aku ingin memperistrinya."
"Memangnya apa yang menarik dari Masita? Apa karena dia wanita sukses yang kaya raya?"
"Tidak."
"Apa karena kecantikannya? Dia memang cantik." Husni terdiam.
"Dengar Hus. Dia itu wanita idaman. Cantik, kaya, cerdas, baik, sopan santun, lemah lembut. Sedangkan kamu? Punya apa?" Husni terdiam, sesaat keyakinannya menurun dari seratus persen menjadi empat puluh persen. Benar juga, dia punya apa? Harta tak seberapa. Dia hanya punya lima sapi hadiah pamannya itu.
Diamnya Husni membuat pamannya menjadi salah tingkah. Sebenarnya dia kasihan juga melihat keponakan tersayangnya itu. Tapi, dia juga tidak ingin membuat harapan Husni melambung. Dia tidak mau Husni akan stress bila lamarannya nanti ditolak Masita.
"Paman benar. Aku memang tidak mempunyai apa-apa," bisik Husni pelan.
Pamannya mendekat lalu menepuk pundak Husni pelan. Dia sebenarnya sedikit merasa bersalah telah membuat Husni meragu, tapi lebih baik tidak melambungkan harapan terlalu tinggi dulu agar tidak sakit terlalu dalam di kemudian hari.
Husni terpekur dalam diam. Dia merasa telah salah menilai arti petunjuk dalam shalat istikharahnya. Semua yang dikatakan pamannya benar. Apa yang bisa dia banggakan untuk bisa melamar wanita seperti Masita.
"Ya Allah. Inikah akhir yang Kau inginkan? Bila memang demikian, beri aku kekuatan untuk melupakan perasaan ini. Mencinta dalam diam itu sungguh sangat sakit ya Allah." Desah Husni dalam doanya.
*****
Dua bulan kemudian
"Aku tak pernah melihat Husni lagi, Sal?" tanya Masita ragu.
"Kenapa nyari Husni?" tanya balik Salma curiga.
"Eh. Nggak boleh, ya?" cengir Masita sambil mengusap pucuk hidungnya. Kebiasaan gadis itu bila sedang salah tingkah atau malu-malu. Salma terkikik geli melihat hal itu.
"Sebenarnya ada apa, sih, Ta? Bilang sama aku." Salma merasa harus meluruskan sesuatu.
Masita terpaku mendengar pertanyaan itu. Dia benar-benar terjebak dengan perasaannya sendiri. Dia sudah mendengar banyak hal tentang Husni. Dari Salma dan juga teman-temannya selama ini. Dia merasa bahwa Husni adalah imam yang selama ini dia cari. Lelaki yang dia yakin bisa menjadi kunci Ridha Allah atas dirinya. Tapi, nyatanya, lelaki itu malah menghilang entah kemana. Dua bulan yang sangat menyiksa bagi Masita.
"Aku ingin menikahi Husni."
"Apa?!" pekik Salma, "Kamu serius? Kenapa Husni? Karena dia tampan?" cerca Salma.
"Salah satunya," cengir Masita, "Karena dengannya aku yakin bisa meraih Ridha Allah."
"Tapi dia nggak punya apa-apa. Dia bukan bos. Dia hanya penggembala sapi. Sedangkan kamu ...."
"Bukan itu yang aku cari. Bagiku cukup lelaki yang bisa membimbing jiwaku yang resah dan merindukan kedamaian kasih Allah, itu saja. Masalah duniawi itu tidak penting." Salma mengangguk mantab. Dialah Masita sahabatnya, dan Salma bangga padanya.
"Aku akan membantumu. Dengan seluruh jiwa dan ragaku," janji Salma sambil merangkul Masita.
*****
Gemetar seluruh tubuh Husni ketika dia mendengar jawaban Masita, saat pamannya datang melamar.
Ya. Setelah tiga bulan lalu Salma menghubungi Husni dan meminta pendapatnya tentang Masita yang ingin menjadikannya suami.
"Bagaimana caranya? Bagaimana bisa?" Berkali-kali ucap itu keluar dari bibirnya disertai senyum kelegaan. Dia tidak bisa lagi memahami bagaimana sekenario yang Allah tulis untuk kisah cintanya pada Masita. Yang dia tahu, nama Masita tak pernah lupa dia sebut dalam setiap doanya.
"Saya terima lamaran Mas Husni atas diri saya," ucap Masita membuyarkan lamunan Husni.
"Alhamdulillah! Allahu Akbar!" Gema syukur segera memenuhi ruang tamu di rumah Masita. Dengan disaksikan seluruh keluarga Husni dan Masita, mereka sepakat untuk melaksanakan akad nikah satu minggu kemudian.
Persiapan pernikahan sendiri tidak terlalu merepotkan. Mereka tidak perlu memesan baju khusus, tempat khusus maupun makanan khusus. Hampir seluruh keluarganya ikut turun membantu proses persiapan pernikahan tersebut. Semua ikut berbahagia, sehingga tidak ada yang merasa terbebani dengan pernikahan itu. Mereka adalah pasangan pengantin yang paling berbahagia.
End.