Gea adalah gadis yang hanya memiliki 1 teman yaitu Freya, Gea sangat sering dibully oleh teman-teman seangkatannya dan juga oleh kakak kelasnya, Freya tidak bisa membantunya tapi ia bisa menyemangati Gea kapanpun.
Gea juga memiliki pacar, namanya Roy. Roy adalah cowo playboy, Roy suka selingkuh dan bermain dibelakang, tentu Gea tau kelakuan pacarnya itu dan seringkali meminta putus. Namun selalu ditolak dengan alasan "kalau tidak ada kamu nanti aku kesepian" dan Gea selalu luluh dibuatnya.
Yang lebih mirisnya lagi, Roy berselingkuh dengan pembullynya itu. Gea sebenarnya marah, kecewa, sedih, namun ia bisa apa? menangis? ya.
Sahabatnya Freya yang selalu disisinya juga sekarang sidah mulai berubah, ia bukan Freya yang dikenal Gea. Freya sudah mulai melanggar aturan sekolah, nilainya juga jadi turun, padahal ia termasuk murid terpintar di kelas Gea.
Freya juga seringkali menyueki Gea, bahkan juga pernah mendorong Gea lalu pergi begitu saja tanpa ucapan maaf atau sebgainya.
Gea merasa terkhianati oleh pacar dan sahabatnya itu, namun ia bisa apa? menangis. Itulah satu satunya jawaban yang bisa Gea berikan saat ini
Ibu dan Ayah Gea tidak mengetahui apa yang terjadi di sekolah Gea, mereka hanya tau Gea belajar dengan giat dan semangat. Kalau Gea terluka, pasti Gea akan memberikan alasan jatuh atau menabrak. Dan orang tua Gea juga percaya dengan alasan Gea.
Kakak perempuan Gea berada di luar kota, sesekali ia akan balik ke rumah. Dan hanya kepada kakaknyalah ia dapat bercerita semua kejadian yang terjadi di sekolahnya. Sebagai seorang kakak, tentu kakak Gea sangat marah terhadap anak-anak yang membully Gea.
Kakak Gea bernama Lea, umurnya selisih 4 tahun lebih tua dengan Gea. Ia pasti pulang sebulan sekali. Saat kehadiran kakaknya itu, Gea dan keluarga selalu menyambut Lea dengan hangat.
Gea akhir-akhir ini juga sering merasakan sakit yang luar biasa dari dalam tubuhnya. Ia tidak pernah bilang ini ke siapa-siapa, bahkan kakaknya pun. Gea menganggap ini hanyalah sakit yang biasa, karna mungkin ini adalah bekas pukulan dari pembully itu yang terasa kembali.
.....
"Hahahahaha! Liat anak culun itu! Hahaha hai culuun, bagaimana kalau pagi hari ini kita mulai dengan tamparan??!" ejek sang pembully. Mereka pasti datang untuk mengolok-olok Gea ataupun menyuruh Gea mengerjakan PR mereka. Sangat tidak tahu diri. Ia tidak pernah datang sendirian, ia pasti bersama dengan teman-teman segengnya.
"J-jangan pukul aku, kumohon..!" ucap Gea sambil menunduk,"Kalau begitu, berikan kami semua uang yang kau punya!" ucap Pembully itu. Gea terdiam dan tidak melakukan apapun, tentu itu membuat sang pembully menjadi sangat marah, ia menjambak rambut Gea dengan keras sampai Gea meringgis kesakitan "A-akh.. sakit.. kumohon.. lepaskan..!"
"Berikanlah uangmu culun! Dasar!" ucap teman pembully itu. temannya yang lain pun mengambil tas Gea dan merogoh tas itu, mencari dompet Gea. Kurang dari 1 menit, ia telah mendapatkan dompet Gea "Haha, dapat nih!" ledek pembully itu "K-kembalikan! J-jangan ambil uang itu!" ucap Gea sambil berteriak kepada pembully-pembully itu
"HEH! KAU SUDAH BERANI BERTERIAK KEPADA KAMI YA SEKARANG?!" balas pembully yang sedang menjambaknya itu, ia semakin menarik rambutnya dengan kuat "DASAR TIDAK TAHU DIRI!!" ucap pembully itu, ia melepaskan rambut Gea lalu pergi. Pembully yang memegang tas Gea juga melemparkan tas itu ke arah Gea dan membawa pergi dompet Gea.
"hiks, itu uang untuk membelikan ibuku kue hiks.. ibu, maaf aku tidak dapat merayakan ulang tahun ibu hiks..", air mata pun menjadi bagian dari kesedihan Gea pagi ini. Hujan pun turun seakan-akan mewakili perasaan Gea.
Pulang sekolah, ia hanya memberikan ucapan kepada ibunya. "Ibu, selamat ulang tahun. Maaf Gea tidak bisa membelikan ibu kue. Dompet Gea ketinggalan di loker sekolah ibu.." ucap Gea sambil tersenyum "Terima kasih nak, tidak perlu berlebihan. Doa darimu saja sudah sangat berharga untuk ibu nak." ucap ibu Gea sambil menangis haru
Keesokan harinya, rasa sakit itu menyambar tubuh Gea. Jantung Gea berdetak terlalu cepat. Gea tidak dapat bangun dari kasurnya. Ia berusaha mangambil hp nya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa itu.
Ia mengetik pesan kepada ibunya
Gea
:Ibu, tolong Gea..
Ponsel ibu Gea pun bergetar, ia segera melihat ponsel tersebut, dan membuka pesan Gea, setelah membaca pesan Gea, ia segera berlari menuju kamar anaknya. "Ada apa nak?!" seru ibu Gea "I-Ibu, tubuh Gea sakit sekali ibu.." lirih Gea. Ibunya segera menelpon rumah sakit.
Untung Ambulance segera datang. Gea dibawa ke rumah sakit terdekat di sana. Gea dirawat di rumah skait itu. Dokter tidak mengatakan penyakit yang dialami Gea, Gea meminta untuk penyakitnya tidak diberi tahu kepada keluarganya.
Setelah Gea dirawat beberapa hari disana. Gea menyadari bahwa hidupnya ternyata sudah tak lama lagi. Ia memaksakan diri untuk pergi ke sekolah.
Tentu, di sekolah ia dibully lagi. Karena itu, Gea kumat. Tapi terasa lebih sakit dari pada yang biasanya.
Saat istirahat, Gea mengadu kepada kepala sekolah tentang apa yang terjadi kepadanya selama ini. Gea juga menitipkan salam perpisahan kepada sekolah penuh kenangan itu. Kepala sekolah tentu sangat marah dengan muridnya yang menindas orang lain. Gea menjelaskan bahwa ia dilarang melapor kepada siapapun. Dan Gea juga melapos tentang pencurian dompetnya.
Dan saat itu juga, Gea merasakan rasa sakit itu lagi. Kepala sekolah yang menyadri itu langsung menyuruhnya duduk dan segera menelpon orang tua Gea.
Karena itu, Gea dipulangkan lebih awal.
Gea kembali ke rumah sakit. Keadaan Gea setiap menit semakin parah. Pandangan Gea mulai kabur. Gea juga merasa pusing. Gea mulai berpikir kalau hidupnya akan berakhir sekarang juga.
Dan ya.. tanggal xx bulan xx tahun 20xx jam xx:xx. Gea Rillyia, Meninggal.
Kesedihan memenuhi lorong rumah sakit itu, kakaknya rela meniggalkan pekerjaannya diluar kota hanya untuk mengurus adik kesayangannya ini. Ayah Gea juga rela meninggalkan pekerjaannya demi anaknya.
Dokter sudah berusaha yang terbaik, namun takdir sudah ditentukan. Kita tidak bisa mengubah takdir.
Keesokan harinya.
Berita kematian Gea sudah menyebar kemana-mana.
Freya sangat terkejut mendengarnya, ia pikir itu hanya bualan semata. Lalu ia mengirim pesan kepada Gea
Freya
:Hei, ada rumor aneh di sekolah ini, katanya kau sudah meninggal. Padahal kau hanya tidak masuk.
Nomor Gea tiba-tiba menelpon dirinya "Tuhkan, si culun itu tidak mungkin mati." ucap Gea lalu mengangkat telpon itu "DASARR! KAU INI TEMANNYA GEA ATAU BUKAN SIH?! KATANYA TEMAN TAPI KAU TIDAK PERNAH MEMPERHATIKAN GEA LAGI. GEA SEKARANG SUDAH TENANG DI ALAMNYA, APA KAU PUAS SEKARANG FREYA?!" omel Lea, ia sangat kesal kepada Freya. Freya terdiam seribu kata. Telpon itu diakhiro oleh Lea.
Tanpa sadar Freya menangis, ia menangisi Gea sekaligus menangisi dirinya sendiri, mengapa ia tidak menjaga Gea lebih? Mengapa ia malah menjauhinya? Mengapa?
Penyesalan.
Roy juga mendengar berita itu. Ia bertanya kepada Freya yang sedang menangis "Mengapa kau menangis? Gea tidak benar-benar meninggal kan? Itu hanya bualan kakak kelas kita kan?" tanya Roy "Tidak, itu bukan bualan.. itu benar apa adanya.." ucap Freya dengan nada lirih
Roy juga tanpa sadar menangis, laki-laki playboy yang tidak dapat mengerti perasaan Gea dan selalu menyakiti hati gadis itu hingga berkeping-keping. Roy merasa bersalah, ia menangisi Gea, namun semua itu tidak bisa diulang kembali. Semua sudah terjadi
Penyesalan.
1 kata yang sangat penting. Penyesalan selalu datang di akhir. Nasi sudah menjadi bubur. Kalau sudah terjadi, pasti tidak bisa diulang lagi. Menangisi seseorang disaat orang itu sudah tiada, dengan dosa yabg telah kita perbuat kepadanya. Seperti hal yang snagat berat, ingin sekali mengucapkan kata 'maaf' tapi, bukankah sudah sangat terlambat untuk mengatakannya?