Apakah dia hanya tersesat? Atau memang dia-- Akan lebih baik jika ia hanya tersesat. Dan kuharap ia memang benar-benar tersesat.
Jangan sampai... Ngomong-ngomong dia belum juga menampakkan batang hidung, sampai hari ini, padahal... Telah genap seminggu ternyata. Jujur, aku jadi kuatir.
Apa jangan-jangan dia...
Ketika mengucapkan kalimat itu kupikir dia hanya bercanda saja. Tapi setelah... Ya, Tuhan bagaimana bisa ia bertindak seceroboh itu, aku benar-benar tak percaya!?
Kemarin malam, seseorang ditembak mati di jalan itu. Di tengah jalan yang sunyi. Sebutir peluru menembus tepat di bagian kening dan menciptakan sebuah lubang yang mengangga disitu.
Peristiwa itu bukan kali pertama, lebih tepatnya, sejak peristiwa ditemukannya mayat seorang lelaki paruh baya di atas tumpukan sampah di pasar. Lelaki paruh baya yang yang sehari-harinya bekerja sebagai seorang pemulung pasar. Lokasi pasar itu tidak jauh dari sini, kurang lebih jaraknya cuma selemparan batu. Di situlah lelaki paruh baya itu kerap hilir mudik, dengan sebuah karung tua yang digantungkan di pundaknya. Tak ada yang menyangka kalau karung itu ternyata berisi...
Sebenarnya bukan tak ada yang menyangka, tapi sesungguhnya orang-orang telah terkecohkan oleh sosoknya itu. Sosok dengan perawakan kucel, kecil dan kurus kering begitu, ternyata... Kecuali dia, benar-benar semua orang telah dibuat terperdaya olehnya. Dia sempat berkata kepadaku, meski tersirat, dengan telunjuk yang sengaja ia tudingkan ke arah datangnya lelaki paruh baya itu, mengatakan supaya aku tidak terkecoh dengan sosok orang-orang berlagak seperti orang itu. Lelaki paruh baya itu pun sempat tersenyum kecil kepadanya.
Dan orang yang ditembak mati di tengah jalan itu pun bukan orang yang tidak dikenal. Sepengetahuan orang-orang, dia adalah seorang pengajar. Kalau tidak salah dia adalah seorang dosen di salah satu perguruan tinggi di kota ini. Tapi kalau menurut penuturan seseorang, dia itu bukan cuma seorang dosen tapi, buat orang seperti aku satu kata ini agak lumayan asing di telinga, Aktivis. Aktivis!? Aktivis pa itu!? Dia hanya bilang, kalau itu semacam hama wereng. Aktivis itu semacam hama bagi orang-orang yang berkuasa. Hama?! Bukankah hama itu sesuatu yang merusak dan menganggu--kepalanya cuma terangguk.
Oh, iya hampir saja aku melupakan seseorang, seseorang yang dua hari setelah ditemukannya mayat lelaki paruh baya itu, juga ditemukan sudah tidak bernyawa lagi, di tepi kali dengan tiga luka tusuk di dada kiri. Seseorang ini lumayan punya nama di sini. Bukan lumayan lagi, siapa yang tidak mengenal keterlaluan namanya. Gimana nggak punya nama wong wilayah kekuasaannya itu membentang dari ujung jalan sana sampai ujung ke ujung jalan sana, kurang lebih ada enam kilometer jauhnya. Raja kecil dia! Seorang kepala preman lebih tepatnya! Kata orang-orang sewaktu masih berusia belia dulu dia ini sudah bolak-balik keluar masuk penjara. Dan kata orang-orang lagi, dia ini tak mempan ditembus timah panas. Tapi menurut seseorang, dia itu bukannya tak mempan di tembus timah panas, melainkan, sudah berkongkalikong dengan pemilik timah panas tersebut. Kata seseorang itu, setiap minggunya orang ini kerap memberikan upeti kepada si pemilik timah panas.
Ternyata dia banyak tahu!
Pikirku, dia itu cuma seseorang lelaki muda yang tak punya pekerjaan saja, pengangguran, kata orang-orang sekarang. Kerap kuliat dia menghabiskan hari-harinya hanya dengan mengarahkan kedua matanya ke arah jalan raya-- Di satu hari, pukul tujuh pagi, di halte, ketika duduk menunggu bis yang mengarah ke kampusku, kudapati ia duduk bersila, di atas trotoar, dengan bulir-bulir gerimis yang jatuh membasahi kepala. Di sebelah kiriku, ringan seorang perempuan muda nyelutuk kepada teman di sebelahnya, sesungguhnya celetukan tersebut tak lebih dari sebuah tuduhan, sepertinya. Berkata si perempuan muda itu, kalau dia, si lelaki muda yang duduk bersila di atas trotoar itu, perempuan muda itu menunjuk dengan mulut yang terarah ke depan, adalah seorang, si perempuan muda itu melanjutkan omongannya dengan berbisik, sialnya aku sempat mencuri dengar... sekonyong-sekonyong aku melirikkan mataku ke arah perempuan muda itu, antara percaya-tak percaya. Sebuah bis berukuran besar berwarna hijau berhenti tepat di depan halte, si perempuan muda dan temannya meloncat naik ke dalam bis, sebentar kemudian bis pun melaju. Aku ditinggal dengan sebuah pertanyaan, benarkah ia seorang...
Sepulang kuliah aku turun di halte yang sama, pada saat itu waktu telah menunjuk ke pukul lima sore, dengan letih yang telah membumbung tinggi aku melirikkan mata ke kanan dan ke kiri, gerah kedua biji mataku mencari-cari wujud si tukang ojek langganan. Tapi yang kudapati adalah seorang lelaki muda. Seorang lelaki muda yang melambai di depanku dari atas motor tua yang pemiliknya aku tahu siapa.
Biji mataku membuka lebar, ia tersenyum tipis. Begitupun aku masih tegak berdiri sampai ia berucap... Sekonyong-sekonyong aku terkaget! Dengan bergegas aku meloncat ke atas motor memintanya untuk langsung tancap gas, sekali gas ditekan motor pun melaju dengan kecepatan maksimum. Sepeda motor bebek itu pun meliuk ke kanan dan ke kiri gesit membelah lautan kendaraan tanpa hambatan yang cukup berarti. Ternyata dia punya bakat sebagai seorang pembalap juga, pikirku.
Tak sampai setengah jam kami sudah sampai ke tempat yang dituju. Aku berlari meninggalkannya di parkiran. Dan aku terus saja berlari hingga sesampainya di depan pintu seseorang petugas jaga buru-buru mencegatku. Sambil terengah-engah aku bertanya kepada si petugas jaga. Sambil membuka pintu kaca si petugas jaga menunjuk ke satu lorong, setelah itu tangannya berbelok ke kanan dan ke kiri, dua kali, setelah itu si petugas jaga mengakhiri petunjuknya sembari ia memintaku untuk tidak berlari. Aku mengangguk, si petugas jaga membalas dengan anggukan seraya mempersilahkan aku untuk masuk. Aku pun melangkah ke dalam ruangan yang tinggi langit-langitnya tiga kali lebih tinggi dari badanku. Aku pun berjalan sesuai dengan petunjuk yang telah diarahkan oleh si petugas jaga tadi.
Aku berhenti di sebuah pintu, aku melirik ke atas, kubaca kalimat yang tertera di situ. Ini ruangan yang dimaksud, pikirku. Aku mendorong pintu, seketika puluhan orang kulihat terbaring di atas ranjang. Mataku mencari-cari, seseorang menepuk pundakku, aku terkaget, ternyata si lelaki muda itu. Si lelaki muda berbisik ke telingaku, lagi-lagi aku terkaget, dia mengangguk pelan. Tak berselang lama berdua kami berlari ke satu arah, kamar jenazah!
Kini waktu telah menunjuk pukul setengah sebelas malam, aku pulang diantar oleh si lelaki muda. Di teras depan terlihat seorang lelaki paruh baya menunggu dengan gurat cemas yang jelas terpancar di wajahnya. Si lelaki muda berjalan di sebelahku. Sesampainya di depan teras, dengan ramah si lelaki muda mengucapkan salam, salam tersebut disahut oleh si lelaki paruh baya dengan tak kalah ramah. Si lelaki muda pun memperkenalkan diri, yang baru aku tahu kalau itu adalah namanya. Si lelaki muda berbicara memberitahukan kepada si lelaki paruh baya perihal kenapa aku bisa terlambat pulang hari ini.
Si lelaki paruh baya mengangguk, setelahnya aku meminta diri untuk masuk lebih dulu, aku benar-benar letih.
Dapat memahami, sambil tersenyum tipis si lelaki muda menyahut dengan sebuah anggukkan di kepala. Begitu juga dengan si lelaki paruh baya, alhasil, aku meninggalkan mereka berdua di teras depan.
Mereka berbincang berdua di teras depan, waktu yang mereka habiskan tiga setengah jam kurang lebih, hal tersebut dapat kutahu dari pengakuan si lelaki muda keesokan hari, ketika ia datang menjemputku.
Ngomong-ngomong, adapun si lelaki muda yang kumaksud tak lain dan tak bukan adalah si lelaki muda yang oleh si perempuan muda di halte bisa pagi tadi telah ia tuduh sebagai seorang... Mantan Narapidana.
Mantan Narapidana kasus pembunuhan tingkat tinggi!
Sesampainya di halte, tanpa Tedeng aling-aling, perihal tuduhan dari si perempuan muda itu kukonfirmasi balik. Dan tanpa bak-bik-buk, dengan mulut yang membuka lebar ia kaget luar biasa setelahnya ia ganti ngakak bukan kepalang. Berselang kemudian, tuduhan tersebut ia ulang seraya menggeleng-gelengkan kepala. Bilangnya, bagaimana ia bisa melakukan pembunuhan tinggi sedangkan membunuh seekor kecoa saja aku tidak berdaya, begitu ia mengakhiri tawanya, dengan perasaan yang tak habis pikir.
Dan anehnya, aku jadi ikutan tertawa, terutama sekali ketika ia, tanpa perasaan ragu dan malu, dengan begitu bersungguh-sungguh, berani mengungkapkan ketakutannya terhadap seekor kecoa.
Bilangnya, perasaan takut tersebut semata-mata lahir bukan karena perasaan jijik melainkan karena perasaan takut yang murni. Tentu saja buatku itu sesuatu yang lucu, aneh dan sekaligus janggal. Seorang lelaki muda tak punya keberanian ketika berhadapan dengan seekor kecoa, bagaimana ceritanya. Terlebih ketika seekor kecoa itu ia tuduh sebagai Intel dari makhluk luar angkasa, semakin-makinlah aku tertawa! Untung saja bus yang mengarah ke kampusku segera tiba, barangkali kalau harus menunggu lebih lama lagi, kurang semenit saja, barangkali aku bisa mati tertawa dibuatnya--semenjak itu aku dan dia menjadi akrab-- sampai dengan tanpa ragu-ragu ia pun dengan berani mengungkapkan perasaan tersebut.
Iya, dia mengungkapkan perasaan tersebut-- setelah lima setengah bulan keakraban itu terbina--ia mendahuluinya dengan membaca sebuah puisi, yang katanya ia tulis sedari ia menunggu di halte itu. Kurang lebih begini bunyi puisi tersebut:
Di buta pagi seorang anak dara menari-nari di pelataran kabut yang mengurung hari tanpa irama sekedar mengiringi tanpa lagu-lagu merdu yang mengakrabi.
Sebegitu lincahnya ia meliuk-liukkan diri, hingga para resi pun tak urung memuja-muji. Anak dara itu adalah jelmaan bidadari, begitu bilangnya para resi. Tapi bagiku dia adalah...
Jika kalian tahu selantunan lagu yang berkisah tentang keabadian, dengan merdu suara dan hentak irama yang lembut mengelupas kerasnya kulit peradaban begitulah dirinya buatku.
Seketika olah Pikir, rasa, dan kehendak serta-merta ingin memiliki-- dibuatnya tangan ini ingin menggenggam; dijadikannya mata ini tak jenuh menatap; diciptakannya bibir ini tak henti memuja; sampai-sampai aku ingin rebah di bahunya pada suatu ketika--tentulah sampai senja usia merengkuh kita.
Apakah ini sekedar mauku, kuharap tidak! Jadi aku bertekad, jika ini bukan takdirku kan kubuat menjadi jalanku!
Dia mengakhiri puisi itu setelahnya, dengan tatapan mata yang menatap tajam ke mataku, tanpa kedip, dan entah hampir berapa lama ia berlagak seperti itu-- dia seolah-olah hendak menyelami perasaan di dalam diri ini. Rikuh, tak urung aku pun menyela tatapan mata itu, dengan sebuah celetukan tentunya, puisi yang aneh, begitu tuduhku.
Apakah aku hanya tersesat ataukah aku benar-benar telah berlabuh di hati yang tepat!? Begitu ia berbicara padaku.
Biar waktu yang membuktikan, ucapku sekenanya-- lalu gerimis mengguyur, kecil-kecil bulirnya jatuh membasahi jalan yang sedari tadi dihajar oleh panas terik matahari.
Ternyata waktu benar-benar telah membuktikan kalau ia hanya tersesat bukan berlabuh seperti yang dia inginkan, itu kalimat yang tengah bermain-main di konakku-- sampai satu kabar sampai ke telingaku.
Dan sampai hari ini, detik ini, aku berharap kalau semua kabar itu adalah salah semata-- tapi kalimat terakhir yang ia ucapkan kepadaku, sehari sesudah ia membacakan puisi tersebut, perkataan tersebut benar-benar telah membuat aku cemas-- kalau dia akhirnya tahu siapa pembunuh orang-orang itu-- bukan cuma keselamatannya semata-mata tapi juga-- iya Tuhan, ternyata Penguasa telah membuat bapakku menjadi seorang pembunuh!