Bukit padang rumput hijau sejauh mata memandang dengan langit yang biru. Udara yang segar dan angin yang menghembus bulir – bulir rambut. Aku memejamkan mata menikmati semuanya. Angin, udara dengan hijau yang merata. Cahaya hangat matahari memeluk hangat tubuh mengucapkan selamat pagi. Suasana yang membuat tenang pikiran. Aku ingin terus di sini saja Tuhan, bisikku dalam hati.
Dari bawah bukit terlihat seorang pria menapaki jalan dari tanah kecoklatan di antara rumput – rumput tebal. Menaikkan kerah jaketnya, berjalan tenang menghampiriku. Berdiri di hadapanku. Membelakangi matahari. Rambut hitam ikalnya bergelombang ditiup angin. Seorang pria yang selalu datang menemuiku di tempat indah berumput hijau ini. Wajahnya samar terbias cahaya matahari yang bersinar di belakangnya tapi aku tahu dia tersenyum. Aku pun mengembangkan senyum. Kemana aja sih, ucapku di hati, aku telah menunggunya cukup lama di sini.
Ia menjulurkan tangannya, aku menyambutnya. Apa lagi yang tak lebih menyenangkan selain di bawah langit biru di tengah padang rumput nan hijau, kaki melangkah dengan tangan saling menggenggam bersama hati yang dipenuhi rasa nyaman.
Tak bosan – bosan aku menceritakan cerita yang sama tentang hari – hari buruk yang telah kulalui lalu mendengar tawanya, seakan mengatakan, “Sudah biarkan hari yang telah berlalu, sambut saja hari ini yang akan menjadi lebih baik lagi untukmu.” Setelah mendengarnya tertawa maka aku akan menyandarkan kepalaku di bahunya dan…
KRING, KRING, KRING!
“Arrghhh!” Missha mengumpat kesal, mengacak – ngacak rambutnya, mengambil telepon genggam di sebelahnya untuk mematikan alarmnya, lalu mengucek – ngucek matanya. Tidak langsung bangun dari tempat tidur tapi diam sebentar, begitulah seharusnya. Kata sebuah jurnal kesehatan, kalau bangun tidur itu jangan langsung melompat bangun karena organ – organ tubuh kita belum siap untuk beraktivitas, beri waktu sebentar, kalau kata anak sekarang, nyawanya belum ngumpul. Sambil menunggu seluruh organ tubuhnya bersinergi lagi, Missha menatap langit – langit kamar.
“Selalu mimpi yang sama, dengan pria yang sama, di tempat yang sama, dan selalu nanggung, terputus di akhir yang sama, argghh,” cetusnya gemas seraya bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi. Menyalakan shower membiarkan air dingin itu menyiram dari ujung kepala hingga ujung kaki untuk membangunkan secara optimal sel – sel yang ada di dalam tubuh agar siap bergerak gesit lagi hari ini.
***
“Missha!”
Seseorang memanggilnya. Missha melambatkan langkahnya. “Sha, sudah kamu siapkan bahan untuk persentasi hari ini kan?” tanya Rita. Missha mengangguk, “Sudah Mbak, tinggal dicek final aja sama Mbak, aku sudah letakkan di meja Mbak tadi.” Rita tersenyum, “Bagus, sebelum presentasi, kita meeting internal dulu ya. Aku pengen kita semua dalam good performa, supaya klien kita puas. Jangan lupa data pendukung kirim via emailku sebelum makan siang.” Missha mengangguk, “Baik Mbak.”
Missha menarik kursi, menghempaskan tubuhnya. Menghela nafas sebentar, mengikat rambutnya dengan pita berwarna merah yang memiliki rajutan namanya di ujung pitanya. Setelah itu ia menatap layar komputernya dan mulai mengetik menyiapkan data pendukung untuk presentasi nanti. “Heh Sha, tau info terbaru ga?” cetus sebuah kepala yang menyembul dari balik partisi di depan meja kerjanya. Tanpa memalingkan tatapannya dari layar komputer, Missha menjawab, “Ga, dan gue ga perlu tahu juga.”
“Ayolah Sha, it’s hot Beib, which is ini berita heboh tau,” ucapnya lagi. “Huuffhhh, Yun, gue nih lagi nyiapin data pendukung buat presentasi ntar, Mbak Rita udah nungguin soalnya,” sahut Missha masih terus mengetik pada keyboardnya. “Alah, lo kan wanita dengan bakat multitasking terbaik di kantor ini Sha, jadi literally bisalah nyiapin data sambil dengerin info terbaru dari kek gue gitu, hehehe,” balas Yuni dengan cengirannya. Missha melirik pada sahabatnya itu sekilas, kalau ia tidak mengiyakan maka Yuni akan terus mengganggunya, supaya cepat maka Missha mengangguk, “Ok, spill the tea then.”
Yuni menjentikkan jarinya, “Gitu dong…” Ia mendekatkan kepalanya pada Missha, memberi kode agar Missha juga mendekat. Yuni berbisik, “Lo tau ga kalau Nikita Mirzani lagi ribut sama Baim Wong?” Missha seketika melotot pada Yuni, “Brengsek lo! Gue pikir info soal apaan! Ini sih gossip!” Yuni tertawa, “Tapi banget loh Sha, seru Beib!” Missha geleng – geleng, “Lo baru aja membuang waktu gue dua menit Yun.” Yuni tertawa lagi.
“Eh Sha, baydewei busway, lo masih mimpi yang sama ga?” tanya Yuni setelah tawanya mereda. Missha terdiam seketika setelah mendengar Yuni mengatakan itu. Ia menatap Yuni, mengangguk. “Well, kayaknya lo harus meet up deh sama psikolog atau psikiater apa gitu…biar mereka bisa bantu which is bisa jelasin apa yang sedang lo hadapi, gue sih confuse kek ga ngerti lagi kenapa lo bisa mimpi sama terus gitu,” sahut Yuni.
“Tapi gue ga merasa itu menjadi masalah buat gue Yun, gue ga merasa terganggu juga, malah gue seneng, perasaan gue jadi nyaman, tenang dan entah gue ga pengen mimpi itu berakhir, gue seperti---“
“Jatuh cinta dalam mimpi?” potong Yuni.
Missha tercekat. Kalimat Yuni barusan begitu tepat dan menancap di otaknya. Missha mengangguk – ngangguk dengan matanya menatap kosong pada layar komputer. “Missha! Mana emailnya? Kok malah melamun?!” teriak Rita dari ruangannya yang berada di seberang meja kerja Missha. Missha terkejut dan tergesa – gesa kembali fokus pada pekerjaannya.
***
Missha telah merapihkan meja kerjanya, memakai maskernya dan bersiap pulang.
“Hey, Sha, thanks ya, tadi presentasi yang bagus, good job!” sahut Rita, “Besok siapkan draft untuk penawaran ke klien kita yang baru, jangan lupa.” Missha mengangguk. Setelah suara Rita tak terdengar lagi, kepala Yuni nongol dari balik partisi meja kerja. “Sudah pulang nyonya sibuk itu?” tanyanya pelan. ”Hmm-mm,” jawab Missha pendek.
“Gila ya dia itu, kek ga ada berhentinya gitu, real workaholic woman,” sahut Yuni geleng - geleng. “Bukankah kita semua di kota ini begitu?” tanggap Missha, “Heh cumi, jadi pulang bareng ga?” Yuni mengangguk dan segera mengambil tasnya menyusul Missha yang telah berjalan lebih dulu. “Masker lo, mana?” Missha mengingatkan. Yuni menepuk jidatnya, mengeluarkannya dari tasnya lalu segera memakainya.
Mereka duduk – duduk dulu di lobi, dan Missha bercerita lagi tentang mimpinya. Mimpi yang selalu mendatanginya, mimpi yang sama. Yuni adalah pendengar yang baik, selalu mendengarkan apa yang Missha ceritakan tanpa memotongnya. Pun Missha, ia selalu siap manakala Yuni membutuhkannya. Mereka tidak pernah saling menjudge, atau mau menang sendiri, mereka selalu saling mendengarkan, bukankah sahabat baik seharusnya begitu?. Setelah itu, mereka berpisah. Yuni menuju lantai dasar di mana parkiran motor berada, sedang Missha keluar gedung melewati pintu depan.
Matahari mulai tergelincir di horison sana.Missha melangkah keluar saat warna – warna senja turun di antara gedung – gedung tinggi. Ia menatap langit, tersenyum sendiri. Ia selalu suka dengan warna halimun sore seperti ini. Cahaya oranye cerahnya memantul dari ribuan jendela kaca terefleksi jatuh pada trotoar lebar antara langkah – langkah kaki yang bergerak cepat. Semua tak diam, berpindah dan menuju apa yang dituju. Sepanjang Jl. MH Thamrin, tak banyak lagi orang bergerombol untuk bicara yang tak perlu, menjaga jarak dan memakai penutup hidung serta mulut. Pemandangan yang tak biasa akhirnya menjadi terbiasa. Sebuah kenormalan yang baru.
Lalu lintas yang meningkat padat saat jam – jam seperti ini. Menerbangkan debu ke udara, menyumbangkan angin berisikan asap polutan, untung saja masker ini melindungi setidaknya mengurangi apa yang terhisap ke dalam dada. Missha melangkah bersama yang lainnya, sepanjang trotoar. Bergegas, tak mau ketinggalan. Semua tampak sama. Ingin cepat sampai tanpa banyak bicara.
Berpapasan dan Missha terkejut. Baru saja ia seperti melihat seseorang yang dikenalnya. Missha menghentikan langkahnya. Ia menoleh untuk memastikan. Dari belakang tampak jaket yang sama dengan ukuran tubuh yang juga sama. Rambut ikal hitam yang tertiup angin. Meski tadi wajahnya tak terlihat jelas karena mengenakan masker tapi Missha hapal dengan alisnya yang tebal dan cara berjalannya yang tenang. “Tak mungkin…” desis Missha tak percaya setelah memperhatikan.
Di bawah langit terang tanpa awan, dengan senja yang tersisa. Tak mungkin ia salah lihat meski dari belakang. Missha mencubit lengannya. Ini mimpinya atau ia terperangkap dalam gelembung déjà vu yang berantakan?. Tanpa menunda lagi, Missha segera mengejarnya. Melewati banyak orang yang tiba – tiba seperti menghalanginya. Masih tampak dirinya di depan sana hanya berjarak beberapa meter. Missha mempercepat langkahnya.
Tiba – tiba sebuah sepeda keluar cepat dari gedung dan menabraknya hingga Missha terjatuh. Beberapa orang terpekik melihat itu. “Maaf, maaf Mbak, saya…saya ga sengaja!” ujar pria pengendara sepeda dengan penuh penyesalan. Semua orang seketika mengerubunginya. “Lihat – lihat dong Mas!” tegur seorang ibu yang langsung membantu Missha untuk berdiri. “Kamu ga apa – apa Mbak?” tanya ibu tersebut. Arrggh! Missha menggeram kesal dalam hati, pandangannya terhalang orang – orang, ia jadi kehilangannya.
Tidak menggubris kejadian itu, Missha berjalan cepat pergi begitu saja di bawah tatapan aneh semua orang. Ia hanya ingin menemukan pria itu.
***
Missha berdiri terpaku dengan telepon genggam di tangannya.
Ia menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya hingga ia tak mengindahkan WA dari sahabatnya itu. Di dalam MRT tepat pada gerbong di depannya ia melihatnya. Seorang pria bermasker berdiri membelakangi lampu. Wajahnya menunduk sedang membaca sebuah buku. Missha sungguh yakin dia adalah pria dalam mimpinya!. Jaketnya, siluet bentuk tubuhnya dan rambut ikalnya yang hitam, semua sama.
“Ya Tuhan, itu memang dia, dia ternyata ada…” gumam Missha sendiri.
MRT itu perlahan mulai berjalan. Missha terkejut seharusnya ia pun menaiki MRT yang sama. “Hey, hey…buka pintunya, buka!” teriak Missha ikut berlari di samping MRT sembari memukul – mukul pintunya. Kegaduhan itu membuat orang – orang memperhatikan begitupun dengan pria itu. Ia mendongak dari membacanya lalu melihat seorang gadis muda yang sedang berlari dan berteriak di luar, ia mengerutkan keningnya.
MRT tidak berhenti bahkan berjalan semakin cepat yang tidak bisa diimbangi lagi oleh lari Missha. “Jangan…tidaaak!” teriak Missha melihat MRT telah pergi meninggalkan dirinya. Seorang petugas datang menghampirinya, berkata, “Tenang Mbak, ga perlu sehisteris itu, ga lama juga ada MRT berikutnya kok, santuy aja.” Missha mendelik pada petugas itu lalu berteriak, “Arrgghh!!” kemudian melangkah pergi. Petugas yang terkejut itu hanya bisa cengar cengir tak mengerti sambil menggaruk – garuk kepalanya.
***.
“Mmmmh ini enak banget loh Sha, sumpah gue ga ngerti lagi deh, lo harus nyobain ini Sha, rasanya mau meninggal…mmmhhhh,” ujar Yuni dengan mata merem melek dan lidah yang menjilati bibirnya. Missha tertawa, “Kalau mau meninggal, meninggal aja, jangan ajak – ajak gue.” Yuni menyikut bahu Missha, “Brengsek deh lo, maksud gue ini enak banget, pake kebangetan gitu loh.” Missha melirik apa yang sedang disantap sahabatnya dalam sebuah kotak itu, “Oh Bittersweet?” Yuni mengangguk, “Mau?” Missha menggeleng, “Ga.”
“So, jadi rencana lo sekarang ngajakin gue nongkrong di trotoar sini buat nungguin cowok itu muncul gitu?” tanya Yuni. Missha mengangguk. Yuni geleng – geleng, “You crazy, tahu ga sih?” Missha manggut – manggut, “Mungkin…karena jatuh cinta butuh hal – hal gila.” Yuni tertawa, merangkul bahu sahabatnya, “Missha sahabatku yang cantik, gila karena cinta itu betul tapi jatuh cinta dengan bayangan seorang pria dari sebuah mimpi, itu literally bodoh, which is ga mungkin…kalau ada yang bilang jatuh cinta dengan pria impian nah itu literally buat elo, ye kan? Iya ajalah ya.” Missha tersenyum.
“Eh baydewei busway, pita lo yang merah itu kemana? Gue baru ngeh lo ga pake pita itu buat ngiket rambut lo,” cetus Yuni memandangi rambut Missha. “Kayaknya lepas waktu ditabrak sepeda kemarin, gue juga baru nyadarnya setelah di rumah,” jawab Missha. “Too bad ya, itu pita favorit lo ga sih?” sahut Yuni. Missha tak menanggapi ia sedang terpaku pada seberang jalan dekat stasiun MRT Bunderan HI. Matanya melebar.
“Itu, itu dia Yun! Lihat, lihat, lo lihat kan?” seru Missha gugup dan bersemangat seraya menyikut tangan Yuni yang akan menyuap bittersweetnya. Yuni terkejut, sikutan Missha membuat bittersweet itu malah mampir ke hidungnya. “Lo yakin?” tanya Yuni dengan bittersweet yang menetes dari hidungnya. Missha mengangguk seraya melirik langit yang berwarna oranye cerah.
Senja turun di antara lalu lalang orang. Sore saat Jakarta sedang bagus – bagusnya. Sore selalu membawa kehadirannya.
“See?” ujar Missha dengan wajah sumringah pada Yuni, membuktikkan kalau ia tak salah lihat. “Sekarang lo percaya kan?” ujar Missha lagi. Yuni ikut senang melihat sahabatnya begitu bahagia. “Yah sebetulnya itu bisa siapa aja sih, which is dia pake masker, lo belum bisa pastikan kalau dia cowok yang sama dengan yang ada di mimpi lo, tapi kalau lo udah yakin, why not, so kenapa lo diem aja? Udah sana kejar dia!” seru Yuni.
“Ayo lo juga ikut,” ajak Missha. “Terus motor gue gimana? Udah deh lo aja sana! Cepet ntar ilang lagi tu manusia!” seru Yuni memberi semangat. Missha mengangguk dan segera berlari mengejar pria impiannya.
Yuni hanya bisa tersenyum melihat Missha, bergumam sendiri, “So sweet, fall in love di masa pandemi gini, kek yang indah banget ga sih.”
***
Masih sempat dilihat jaketnya yang berjalan di antara orang-orang.
Missha tak ingin kehilangannya lagi. Ia terus saja mempercepat langkahnya. Melewati manusia – manusia yang bergerak. Terbayang dalam benaknya padang rumput yang hijau saat matahari bersinar hangat. Missha terus mengejarnya hingga masuk ke dalam stasiun MRT. Menuruni tangga – tangga, tak terlalu jauh ia melihat pria dalam impiannya berada di depannya. Terbayang genggaman tangannya yang kuat memberikan rasa hangat. Saat kepalanya direbahkan di bahunya, nanti tak akan ada yang bisa menganggu mimpinya lagi, bahkan alarm itu. Sekarang ia akan bisa melihat akhir dari mimpi cinta ini.
Missha celingukan melihat ke kanan ke kiri. Tak kelihatan lagi batang hidungnya. Ia kehilangan pria itu tenggelam di tengah banyak orang berlalu lalang. Arrggghh! Missha menggeram kesal. Ia menyusuri setiap sudut stasiun, dengan matanya terus mencari dan mencari. Hingga akhirnya ia menemukannya. Di antara orang – orang yang sedang menunggu MRT, tampak pria itu berdiri memunggungi dirinya berjarak tak lebih dari beberapa meter saja.
Missha melangkah perlahan mendekatinya. Jantung Missha berdegup cepat dalam jarak yang semakin dekat. Apa yang harus dikatakannya? Bagaimana ia harus menyapanya. Kalimat pembuka seperti apa yang tidak akan membuatnya tampak bodoh di depannya? Hai namaku Missha, kita bertemu di mimpi, ah bukan begini. Halo namaku Missha, boleh kita berkenalan? Ah terlalu murahan. Lalu senyum seperti apa yang harus ditunjukkannya agar tidak terlihat seperti nyengir kuda yang memalukan?.
Kini Missha sudah berada tepat di belakang pria itu meski tetap menjaga jarak. Jemarinya perlahan bergerak untuk menepuk lembut pundaknya, tapi Missha mengurungkan niatnya, ia memutuskan untuk menyapanya saja. Ia berdehem pelan untuk menenangkan hatinya dulu, mengecek tali maskernya agar tidak melorot atau lepas saat bicara lalu mengumpulkan keberanian untuk membuka suaranya.
Baru saja Missha akan menyapa, ia mengerutkan keningnya, dilihatnya Rita sedang berjalan menghampiri pria itu, setelah dekat terdengar mereka saling menyapa dan tertawa renyah. Tatapan Rita begitu mesra.
Missha berdiri membeku. Seluruh persendian tulangnya serasa akan lepas. Tubuhnya melorot lemas seketika. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya demi melihat adegan itu, mencegahnya untuk berteriak kecewa. Ia beringsut – ingsut mundur perlahan dengan langkah gemetar. Semua terasa hening, seakan bergerak tanpa suara. Orang – orang, detik waktu, bahkan kereta MRT yang datang segalanya seperti di film bisu. Missha hanya bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri yang lemah.
Kakinya melangkah kembali menaiki tangga – tangga stasiun hingga ia berada di luar.
“Arrgghh!!”
Missha melepas kecewanya membuat terkejut orang – orang di sekitarnya tapi ia tak perduli. Ia tercenung di situ di depan stasiun MRT Bundaran HI. Langit terang masih menyisakan cahaya senja. Memantul dari ribuan jendela kaca gedung – gedung tinggi yang mempesona. Kata orang, warna senja adalah warna jatuh cinta, tapi tidak untuk satu anak manusia yang sedang berdiri terdiam di antara lalu lalang manusia ini. Ia masih terpaku dan tak percaya. Secepat itu hatinya patah, secepat itu pula impiannya musnah.
Missha masih berdiri di tengah – tengah orang yang datang pergi silih berganti. Tidak seorang pun perduli. Semua bergerak cepat tak henti. Tak bisakah kota ini mengurangi kecepatan untuk sekedar mengambil nafas, menikmati senja? Tak perlu bicara, tak perlu tergesa, aku tidak minta banyak. Hanya berhenti saja sejenak beberapa saat. Bisakah, please?.
Jawaban yang dicari menguap bersama partikel udara. Mimpi – mimpi yang sudah tersapu angin. Missha menundukkan kepala, malam ini tidur akan menjadi masalah. Memejamkan mata tidak semudah itu lagi. Tidak di saat hati sedang tidak baik – baik saja. Bertanya – tanya apakah kita sama, apakah semua orang bahagia dalam dunia yang sering mematahkan? Kita tidak setangguh itu. Ambil malam sebagai teman, lalu terpaku menatap langit – langit kamar, atas nama insomnia yang panjang lalu bersikap biasa saja, aku tak bisa.
Airmata mengalir dari ujung mata Missha. Menjadi bulir yang berkilau diterpa cahaya senja, jatuh pecah menghempas trotoar. Di antara milliaran manusia, mengapa aku hanya bisa mencintaimu?. Dalam ribuan kemungkinan, mengapa jatuhnya padaku?. Tiga ratus enam puluh lima hari jauhnya dan selesai dalam hitungan jari. Aku butuh mengerti untuk semua rasa sakit yang mendadak datang ini. Setiap orang sudah lelah dengan rasa kecewa. Aku butuh mencerna semua.
“Missha?”
Missha terdiam saat mendengar namanya dipanggil. Ia mengusap airmatanya dan memutar badannya untuk melihat siapa yang memanggilnya. Seorang pria dengan rambut ikal hitam dan berjaket, berdiri di hadapannya membelakangi lampu Stasiun MRT Bundaran HI. Missha terpaku menatapnya. Pria itu menjulurkan tangannya. Sebuah pita merah dengan rajutan nama ‘Missha’ tampak di telapak tangannya.
Mereka saling bertatapan di antara lalu lalang manusia – manusia yang hilir mudik di bawah langit sore nan terang di kota Jakarta.
TAMAT