Kota Guiyang, China ( 2200 M )
“Prof Qing... Semua persiapan yang di perlukan telah siap. Mesin waktu bisa di jalankan kapan saja.” Ucap salah satu ilmuwan menjelaskan kepada seorang wanita yang juga seorang ilmuwan, sekaligus ketua dari pengembang mesin waktu. Wanita itu bernama Qing Xian.
Qing Xian pun menganggukkan kepalanya sebagai respon dari ilmuwan tersebut lalu berkata, “Kerja bagus. Sekarang kita hanya perlu menunggu Ling Bersaudara saja. Jiao’er tadi sudah mengabariku, ia sudah sampai di sini dan sedang turun ke bawah. Ya kau tahu sendiri bagaimana sulitnya Feng’er di waktu siang hari.” Ujar Qing Xian menepuk dahinya pelan tersenyum masam. Ilmuwan yang mendengar itu pun hanya bisa terkekeh, karena sifat dari Ling Feng memanglah seperti itu.
Baru saja di bicarakan, Ling Bersaudara pun keluar dari lift dan melangkah ke arah Qing Xian berada. Qing Xian menatap sang kakak yaitu, Ling Feng dengan pandangan sedikit kesal.
“Seperti biasa kau selalu saja menyusahkan adikmu ya... Bukankah bibi sudah bilang kemarin, bahwa ada misi penting hari ini, kenapa masih saja terlambat?” Kata Qing Xian kepada Ling Feng. Sang empu yang mendengar itu hanya menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya seraya cengengesan. “Hehehe... Maafkan Feng’er ya Bi, tadi malam sangat seru sekali, jadi lupa waktu deh...” Ucap Ling Feng dengan memelas. Qing Xian sekali lagi menepuk dahinya pelan, sedangkan Ling Jiao dan ilmuwan satu laginya, hanya bisa menghela nafas menanggapinya.
“Ya terserahlah.” Ujar Qing Xian yang sudah pasrah lalu memberikan berkas putih kepada Ling Feng. “Terima ini. Ini merupakan deskripsi singkat mengenai misi yang akan kau jalani kali ini.” Ujar Qing Xian mengubah nada bicaranya menjadi serius. Ling Feng menerima berkas-berkas tersebut lalu bergumam pelan.
“Sekte Naga Giok?” Gumam Ling Feng membaca tiga kata yang di letakan, di halaman pertama berkas tersebut lalu mulai membacanya selembar demi selembar, sampai lima menit kemudian, Ling Feng menganggukkan kepalanya selesai membaca keseluruhan berkas yang berisi deskripsi misinya kali ini.
“Apakah kau sudah selesai memahaminya?” Tanya Qing Xian menerima berkas yang diberikan oleh Ling Feng. “Aku sudah memahaminya Bi.” Jawab Ling Feng. “Kalau begitu kita bisa mulai sekarang. Ganti baju mu dulu sana.” Ucap Qing Xian seraya menyuruh Ling Feng mengganti bajunya.
Setelah selesai berganti pakaian, Ling Feng pun langsung memasuki tabung mesin waktu tersebut. Ling Feng sontak duduk di tempat yang telah di sediakan dengan santai seperti biasanya. Ia sudah terbiasa dengan misi perjalanan waktu ini, lebih tepatnya bukan sekali dua kali ia menjalankan misi yang sejenis.
[ Feng’er apakah kau dapat mendengar ku? ]
“ Ya bi. Aku dapat mendengarmu.” Jawab Ling Feng seraya mengangkat tangan, dimana sebuah jam tangan pintar melingkar di sana.
[ Laporannya jangan lupa di tulis di jam tangan antar dimensi ini. Ingat, JANGAN LUPA DI TULIS. ]
“Iya, iya, aku mengerti Bi. Kau tidak perlu mengatakannya sampai begitu juga kali.” Ujar Ling Feng terkekeh pelan ketika mendengar kalimat yang ditekankan oleh Qing Xian.
[ Hmphhh... Ingat, ketika mesin waktu di aktifkan koneksi kita akan terputus, pada saat sudah sampai di tempat tujuan misi, jangan sampai mati ya. ]
“Haihhhh... Tenang saja Bi, aku tidak semudah itu mati. Keberuntungan ku itu tinggi, jadi tidak perlu khawatir.” Timpal Ling Feng tanpa beban.
[ Baiklah kalau begitu, aku percaya pada mu. Kita akan mulai menjalankan mesin waktunya sekarang, kau bersiap-siaplah terhadap guncangan nantinya. ]
“Aku mengerti.” Jawab Ling Feng singkat, seraya melirik ke arah luar melalui jendela kecil yang tersedia tersenyum tipis. Qing Xian yang berada di luar langsung memberikan intruksi kepada para ilmuwan yang lainnya. Setelah semua persiapan selesai, Qing Xian berkata dengan lantang, “Mulai pengaktifan mesin waktunya.” Ujar Qing Xian kepada ilmuwan yang bertugas melakukan hal tersebut.
Ctaakkkkk
Mesin waktu pun mulai bersinar, sesaat tuas pengaktifan di tarik ke bawah.
“Mulai memasuki distorsi waktu. Mengirim subjek ke zaman yang dituju. Sukses, subjek berhasil sampai di zaman yang dituju.” Ucap Ling Jiao di hadapan super komputer seraya menghela nafas lega. Para ilmuwan yang lainnya pun langsung bersorak sorai senang.
>>>>>>______
Pegunungan Yulong, China ( 1120 M)
“Fyuhhh... Akhirnya sampai juga. Distorsi waktu benar-benar sangat tidak menyenangkan. Telinga ku masih saja terus berdengung, padahal telah keluar dari dalamnya.” Gumam Ling Feng bangkit seraya membersihkan pakaiannya dari benda berwarna putih halus. Ia menyapu pandangannya, dan sadar dirinya berada saat ini.
“Pegunungan Yulong sepuluh abad yang lalu tidak banyak yang berubah ya...” Ujar Ling Feng menyapu pandangannya, dimana sejauh mata memandang, hanya ada hamparan putih halus yang tidak lain adalah salju abadi menyelimuti puncak Gunung Yulong. Ling Feng sontak mulai berjalan memutari gunung, sesuai dengan arah yang ditunjukan oleh jam pintarnya.
Setengah jam kemudian, ia pun berhasil menemukan tempat yang ia cari, sekaligus juga merupakan misinya kali ini.
“Hehhh... Jadi ini Sekte Naga Giok pada masa jayanya. Benar-benar sangat menakjubkan.” Gumam Ling Feng memandang takjub bangunan-bangunan tersebut yang berdiri kokoh, padahal letaknya berada di atas gunung.
“Baiklah pertama-pertama, aku harus mempunyai identitas seorang murid terlebih dahulu, baru kemudian memikirkan langkah selanjutnya.” Kata Ling Feng lalu berlari seraya mengendap-ngendap mendekati pintu gerbang masuk menuju sekte naga giok. Dirinya tidak berniat untuk mendaftar tentunya, karena tentunya harus melewati tahapan-tahapan yang merepotkan. Oleh karena itu, ia memilih jalan yang tercepat.
“Baiklah... Masalah identitas sudah beres.” Gumam Ling Feng terkekeh, seraya menoleh ke samping dimana, seorang pemuda yang tidak lain adalah murid sekte naga giok yang sedang tidak sadarkan diri saat ini. Ling Feng menggunakan cara tercepat yaitu, menyamar langsung menjadi murid sekte naga langit. Seperti yang ia duga, dirinya pun lolos dengan mudah begitu saja melewati para murid yang berjaga di gerbang pintu masuk.
>>>>>>_______
Sudah satu minggu Ling Feng menyamar menjadi seorang murid Sekte Naga Giok. Ia mengubah identitasnya, karena sudah menjadi kebiasannya, jika bepergian menjalani misi menyamarkan identitas dirinya. Nama samarannya dalam misi kali ini adalah An Ling.
An Ling saat ini sedang berada di perpustakaan sekte naga giok dan duduk di salah satu sudut perpustakaan dengan banyak bertumpuk di sisinya. Adapun misinya di zaman ini, adalah untuk mempelajari teknik kultivasi milik Sekte Naga Giok. Namun, saat ini telah terjadi hal yang tidak terduga, Ling Feng datang tepat, di waktu Sekte Naga Giok mengalami konflik internal, alhasil dari konflik internal itu Sekte Naga Giok terbagi menjadi dua kubu.
Adapun kubu pertama diantaranya adalah Tetua agung, Tetua ketiga, dan Tetua keempat. Sementara itu, kubu yang berlawanan diantaranya adalah Tetua pertama, Tetua kedua, dan tetua kelima. Penyebab daripada konflik tersebut bisa terjadi, karena sebuah teknik kultivasi, yang juga merupakan tujuan dari datangnya Ling Feng ke zaman ini.
Awal mula konflik itu terjadi, karena masing-masing kubu keukeuh dengan pendirian nya masing-masing, yang mana keduanya masing-masing berpendapat, bahwa teknik yang mereka pelajari selama ini, adalah teknik kultivasi sebenarnya dari Sekte naga giok, dan karena hal itu, kedua kubu berdebat setiap saat, apabila sedang adan pertemuan antara tetua. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu perdebatan itu berubah menjadi sebuah konflik dan mulai semakin memanas seiring berjalannya waktu.
An Ling tentunya merasa ada yang janggal dengan konflik ini, pasalnya pada saat ia mencoba untuk mempelajari teknik kultivasi versi dari kubu tetua agung, dan berhasil melatihnya, notifikasi tanda ia telah menyelesaikan misinya tidak muncul dari jam tangan pintarnya. Biasanya, ketika ia telah menyelesaikan misi, notifikasi tanda selesai misi akan otomatis muncul dari jam tangan pintarnya.
Oleh karena itu, ia pun memutuskan untuk menyelidiki lebih dalam lagi tentang konflik ini. An Ling mulai membaca buku-buku yang berkaitan dengan kultivasi, bahkan tidak sedikit buku yang ia terjemahkan menggunakan jam tangan pintarnya, karena tulisan-tulisannya adalah tulisan kuno. Penyelidikan nya ini memakan waktu yang tidak sedikit, sebagian besar waktunya ia habiskan di perpustakaan sekte. Sampai setelah dua bulan penuh menyelidiki nya, ia pun mengerti solusi untuk memadamkan konflik internal sekte naga giok.
An Ling pun mulai menyiapkan berbagai macam hal, guna bisa mengeksekusi rencana yang telah ia rancang dan mendapatkan hasil sesuai dugaannya, lalu satu bulan pun berlalu begitu saja. Maka disinilah ia berada saat ini, An Ling pun di panggil oleh kedua kubu untuk turut hadir dalam pertemuan bulanan para tetua sekte.
“Salam para tetua. Murid An Ling datang menghadap.” Ujar Ling Feng memberi salam dengan sopan kepada para tetua dari dua kubu.
“Baiklak nak, kami akan langsung pada intinya, sebuah rumor telah tersebar luas diantara para murid sekte, kami dengar kau menyampaikan sebuah teori bahwa Teknik Kultivasi Yin dan Teknik Kultivasi Yang adalah dua teknik kultivasi yang sebenarnya satu. Apa maksud mu berkata seperti itu?” Tanya Tetua Agung dengan nada tegas.
“Izin menjawab tetua agung. Seperti yang tetua katakan tadi, Kedua teknik kultivasi yang kedua kubu latih masing-masing, sebenarnya adalah teknik kultivasi yang satu.” Jawab Ling Feng dengan nada jauh lebih tegas.
“Apa alasan mu berani berpendapat bahwa teknik kultivasi masing-masing kubu adalah suatu kesatuan? Bukankah tubuh manusia itu tidak bisa menampung dua energi yang berbeda? Kalau pun ada, tubuh manusia tidak bisa menanggung kedua energi tersebut. Alhasil tubuhnya akan meledak, karena tidak bisa menampungnya.” Tetua pertama kali ini yang bertanya kepada Ling Feng.
“Tidak tetua. Tubuh manusia itu lebih misterius daripada yang kita ketahui. Tidak ada yang tidak mungkin selama kita berkemauan keras untuk mewujudkannya. Yin dan Yang itu saling melengkapi tidak mungkin terpisahkan. Sebaliknya, akan berakibat sangat buruk, jika tubuh manusia hanya di dominasi oleh satu energi saja.” Ujar Ling Feng mengutarakan dengan jelas pendapatnya, para tetua dari dua kubu pun mulai merenung, dengan pendapat Ling Feng yang memang terdengar sangat masuk akal di telinga mereka.
“Walaupun kau berbicara seperti itu, memangnya kau mempunyai bukti bahwa apa yang kau katakan itu benar adanya?” Ujar Tetua kedua membuat para tetua yang awalnya sibuk berbisi-bisik, tiba menoleh ke arahnya lalu mengalihkan pandangan ke arah Ling Feng.
Ling Feng sontak tersenyum tipis, karena kalimat itu adalah yang ia tunggu-tunggu selama ini. Lebih cepat untuk menunjukkannya secara langsung daripada berkata panjang lebar, pikir An Ling.
“Buktinya tepat di sini para tetua. Tepat berdiri di hadapan Anda semua.” Jawab Ling Feng seraya melepaskan energi dalam tubuhnya yang membuat para tetua dari kedua kubu, benar-benar terkejut ketika melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Setelah para tetua percaya dengan An Ling, jam tangan pintarnya pun tiba-tiba bergetar yang menandakan, bahwa misinya telah selesai. An Ling tersenyum tipis menanggapi getaran pada lengannya itu.
Yogyakarta, 2023.