" assalamualaikum " tegur sebuah suara
" walaikumsalam " jawab semua pemuda dalam ruangan itu
" apa boleh tanya " tanya suara itu dengan lembut sambil menunduk
" silahkan mau tanya apa yah " tanya salah satu dari pemuda itu
" apa disini ada yang bernama kak hafiz " tanya nya lagi
" oh hafiz kebetulan dia sedang ada kajian apa kah ada yang penting " ujar pemuda itu lagi
" ah tidak kak tolong sampaikan saja bahwa nanti malam di udah oleh mas rhaka kerumah ada yang mau di bicarakan " ujar wanita itu
" oh baik lah "
" saya pamit kak "
wanita itu pun berlalu dari depan studio tempat biasa hafiz dan kawan kawan nya berlatih vokal.
dia berjalan kearah sebuah mobil yang terparkir tidak jauh dari sana. setelah masuk kedalam mobil Zia pun langsung menghidupkan mobil dan langsung berlalu membelah jalanan yang sudah cukup mulai padat.
sesampai di rumah Zia pun langsung masuk keruangan kerja rhaka.
" mas aku sudah kesana tapi kak hafiz nya ga da " ujar Zia
" terus " tanya rhaka tanpa melihat kearah suara
" yah aku titip pesen aja sama kawan nya " ujar Zia lagi
" terus "
" apa mas udah jadi bangkrut dan belajar jadi tukang parkir " tanya Zia dengan nada kesal.
" maksudnya " tanya rhaka heran sambil menatap manik mata sang adik
" itu terus terus kaya tukang parkir " ejek Zia
" hahahahah " tiba tiba rhaka tergelak
" malah ketawa " dengus Zia kesal sambil berlalu dari ruangan sang Kaka
saat makan malam pun tiba Zia turun dari kamar nya hendak makan malam namun langkah nya terhenti saat mendengar nama nya di sebut oleh seseorang yang sedang berbincang di ruang tamu.
dengan berbekal rasa penasaran Zia pun mendekat kearah sumber suara.
dia pun bersandar di balik tembok mencoba mencuri dengar.
" sudah lah Zia kesini aja ngapain sih pake nguping " tegur rhaka yang sadar akan kehadiran adik tercinta nya
" ah ga seru mas rhaka selalu aja tau " ujar Zia sambil mencebikan mulut nya.
" yah wangi parfum mu itu sangat khas sayang " tutur rhaka
" ah ternyata begitu "
" zi kenalkan ini hafiz " ujar rhaka lagi
" Zia " ujar nya pada hafiz
" hafiz " balas pria yang duduk tepat di samping rhaka
" zi asli kamu ga kenal sama dia " ujar rhaka
" ngga mas orang baru juga ketemu "
" kamu yakin " tatap rhaka
" ish mas rhaka ini apa sih "
" apa kamu lupa pada pemuda yang selalu kau ikuti saat kau kecil " tanya rhaka
" ngga lah mana mungkin aku lupa dulu aku kan selalu minta mas Ahmad buat nikahi aku " ujar Zia tanpa ragu
" ah jadi ini pengantin kecil aku " tanya hafiz
dalam seketika mata Zia membulat dan wajah nya memerah. dalam hitungan detik Zia langsung berlari dari ruangan itu masuk kedalam kamar nya.
dan dari ruang tamu terdengar suara gelak tawa yang sangat keras membuat wajah Zia semakin merah.
Zia membanting pintu kamar nya kuat membuat kedua pemuda itu terdiam.
" adik Lo marah bro " ujar hafiz
" ah Lo kaya ga tau aja adek gua sifat nya "
" tapi semakin besar dia makin cantik bikin gua makin ga bisa lupain dia " lirih hafiz
" lo masih cinta sama Zia fiz "tanya rhaka berubah menjadi serius
" Lo kan tau Ka Zia cinta pertama gua " ujar hafiz
" cinta monyet kali fiz " ledek rhaka
" enak aja Lo cinta gua Lo samain ma monyet " dengus hafiz
setelah obrolan yang cukup panjang akhirnya hafiz pamit pulang. sedangkan Zia masih mengurung diri dikamar karena rasa malunya.
Zia baru keluar kamar ketika pagi.
Zia asyik mengunyah sarapan nya ketika rhaka turun dari kamar nya.
" kemana semalam " tanya rhaka sambil tersenyum
" apa sih mas " ujar Zia dengan nada kesal
" ga usah pake sewot kali " ujar rhaka
" udah ah cape ngomong sama mas rhaka Zia mau ke kampus aja " ujar Zia
" zi jangan kemana-mana bentar lagi calon suami kecil kamu datang " ledek rhaka
" massss rhaaaakkkkaaa " teriak Zia dari depan pintu
" anak gadis ga boleh teriak teriak pamali " tegur sebuah suara
" mas hafiz " panggil Zia sambil menahan malu.
" iya pengantin kecil ku " ujar nya
" apa sih " ujar Zia semakin merah pipi Nya.
" zi ada yang mau mas omongin boleh " tanya hafiz
" boleh mas tapi kaya nya jangan disini deh ada pengacau " ujar Zia sambil menatap kearah Rhaka
" apa maksudnya itu dek " tegur rhaka.
namun yang di tegur bukan menjawab malah melarikan diri masuk kedalam mobil hafiz.
kedua pasangan itu pun menuju tempat yang nyaman untuk bicara.
hafiz hanya muter muter aja di jalanan membuat Zia lama lama makin jengah.
karena selama perjalanan pun mereka hanya diam.
" mas mau ngomong apa sih sebenarnya udah dua jam kita jalan tau ga " ucap Zia
" eh itu itu " jawab hafiz gugup
" mas hafiz abis nelen karet yah jadi ngomong nya gagap " ujar Zia
" aku abis nelen senyum kamu " jawab hafiz enteng
blush wajah Zia tiba tiba memerah. melihat itu hafiz semakin gemas
" zi " tegur hafiz setelah memarkirkan mobilnya disudut taman kota
" yah mas "
" apa kamu masih berharap menikah dengan pengantin kecil mu " tanya hafiz sambil menatap manik mata Zia mencoba menenangkan diri dari kegugupan yang sedang melanda nya.
" ngga mas " ucap Zia tanpa dosa
deg
bagai di hantam batu hati hafiz terasa sangat sakit. harapan cinta yang dia simpan dari dia remaja harus kandas.
hafiz tertunduk lesu. pengantin kecil yang dia cinta ternyata tidak mencintai.
" kita pulang yah zi " ucap hafiz pelan
" kok pulang mas " tanya zia
" ga apa kok zi "
" kan Zia belum selesai jawab pertanyaan mas hafiz " ujar Zia
" ga usah zi mas maklum kok kalo kamu nolak mas mungkin kamu sudah mencintai orang lain. tidak lagi mencintai pengantin kecil mu " jelas hafiz pasrah
" memang benar Zia udah ga mencintai pengantin kecil Zia lagi tapi "
" iya " jawab hafiz singkat
" tapi Zia mencintai pengantin besar sekarang yang sekarang ada di hadapannya Zia " ujar nya
" oh ya sudah " jawab hafiz masih belum menyadari apa yang si ucapkan Zia
" apa nya yang sudah mas " tanya Zia bingung
" itu tadi kamu cinta sama pengantin besar di hadapan kamu ... tunggu PENGANTIN BESAR DI HADAPAN KAMU berarti aku " jawab hafiz sambil membelalakan mata nya
" heem " jawab Zia
" Zia " panggil hafiz
tak mau melewatkan kesempatan hafiz mengecup bibir Zia sekilas
i love you pengantin kecil ku .