Di bawah rintik hujan dan dedaunan yang berguguran. Dia yang selalu aku kagumi, dia yang selalu menyinari hariku.
Sepatah kata ingin ku lontarkan padamu. Tetapi kamu selalu menghindar seakan tidak peduli. Ingin ku coba dekati. Namun aku tidak bisa menembus tembok baja yang menghalangi hatimu.
Pertemuan kami tidak disengaja. Hati kami juga menyimpang dan tidak akan pernah bisa bertemu lagi.
Keberanian bunga dandelion selalu kami tanamkan untuk kehidupan selanjutnya.
(«Anyelir & Sya'ki»)
...
Gadis rambut perak tersebut berlari seraya menginjak dedaunan yang berserakan di jalan. Dia berlari ke arah sekolah barunya. Hari pertama masuk sekolah baru dia hampir terlambat karena alarm milik nya ia banting dua hari lalu dan tidak sempat ia perbaiki.
Untung saja dia masing sempat walaupun agak mepet sampai di sana.
Hari-hari di sekolah baru nya tidak jauh berbeda dari biasanya. Sekolahnya tidak terlalu istimewa.
Murid baru dari Kelas A yang miliki paras sangat cantik. Anyelir. Semua orang di sekolah barunya langsung tahu jika mendengar nama tersebut.
Yap, perkenalkan namaku Anyelir. Aku murid pindahan dari sekolah xx. Aku anak terakhir dari dua saudara.
....
Setiap hari yang dilewati Anyelir biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Namun, suatu hari tanpa disengaja, ia bertemu dengan seseorang yang membuatnya seakan tersihir.
Rambutnya yang berantakan serta basah terkena rintik hujan. Sorot matanya yang fokus pada raket yang sedang dia ayunkan terlihat seperti butiran hujan yang terkena cahaya matahari.
Dia sadar aku memperhatikannya. Sorot matanya langsung menatap tajam ke arahku. Sepertinya dia tidak suka aku mengganggunya.
Tanpa basa-basi aku langsung lari pergi dan menuju gerbang keluar.
Keesokan harinya aku coba bertanya kepada teman sebangku ku tentang lelaki yang sering bermain bulutangkis sendirian di lapangan dekat pohon rindang sebelah gerbang.
Jadi, namanya adalah Sya'ki. Dia dari kelas sebelah ternyata. Kalau diingat lagi aku pernah satu sekolah dasar dengannya. Tetapi aku pindah setelah bersekolah dengannya selama 2 tahun.
Banyak rumor yang beredar, dia laki-laki yang misterius. Jarang bersosialisasi dengan orang lain. Hanya beberapa orang saja yang berteman dengannya. Dia pribadi berkepala dingin dan jarang tersenyum. Dia selalu mengandalkan logika dan tidak pernah membiarkan emosi membimbing nya.
»»»»
"Ahhhh, siapa sangka dia teman satu kelas ku dulu,"
Anyelir menghela napas seraya bergumam di bawah pohon rindang dekat dengan lapangan yang sering digunakan oleh Sya'ki.
"Apa yang kamu lakukan di sini?"
Suara anak laki-laki yang terdengar familiar mendekat ke arah Anyelir. Di detik itupun Anyelir sadar, orang itu adalah dia.
"Lagi duduk," jawab Anyelir seraya memaksakan senyum di wajah nya. Amarahnya hendak meluap tapi dia tahan. Apa yang membuat Anyelir marah? Tentu saja karena anak itu bertanya hal sudah dia lihat. Nada sok cuek nya membuat Anyelir ingin segera merobek-robek buku yang tengah ia baca.
Sya'ki tidak merespon lagi. Dia duduk di sebelah Anyelir dan membuka buku yang ia bawa. Sepertinya itu tugas sekolah. PR yang dikerjakan di sekolah ha ha.
He-----------ning....
Satu kata yang bisa menjelaskan situasi saat ini.
Hanya suara hembusan angin dan daun-daun yang berguguran.
"Aku menebak pasti tidak sampai lulus kamu akan pindah lagi"
Satu kalimat dilontarkan Sya'ki dan membuat Anyelir menengok ke arahnya.
Kemudian hening kembali. Anyelir tidak tahu harus berkata apa. Dia pun pergi meninggalkan Sya'ki sendirian di bawah pohon tersebut.
...
Keesokan harinya, Anyelir kembali menghabiskan waktu istirahat nya di sana. Sya'ki juga ada di sana. Namun dia lebih suka mengayunkan raket bulutangkis nya dari pada membaca buku filosofi seperti Anyelir.
Karena terlalu sering ada di sana di waktu yang bersamaan. Mereka mulai mengobrol dan bercerita satu sama lain.
Hari berganti Minggu, Minggu berganti bulan. Mereka berteman akrab dan memiliki rasa sendiri-sendiri.
....
Namun, hal tidak ingin Anyelir dengar akhirnya sampai di telinganya juga. Tiga hari lagi, Anyelir akan dipindahkan ke luar negeri. Ayahnya ingin Anyelir mendapat pendidikan yang lebih di sana.
"Jadi akan seperti ini lagi. Tidak akan ada yang berubah. Aku tidak akan pernah mengenal yang namanya cinta,"
"Apa yang kamu bicarakan?"
Anyelir tidak sadar dia bergumam saat sedang bersama dengan Sya'ki.
Anyelir hanya menggeleng pelan. Dia tidak rela berpisah dengan nya karena sudah sangat dekat.
Namun, nyatanya Anyelir takut. Takut Sya'ki tidak punya rasa seperti dirinya. Takut dia tidak bisa lagi mengobrol dengannya.
"Kamu tahu. Semua luka ada obatnya, semua masalah ada jalan keluarnya, dan semua rasa pasti ada balasannya. Jika tidak bisa sekarang maka di masa depan. Jika tidak bisa di masa depan maka di kehidupan selanjutnya.
Bunga juga pasti ada saat dimana ia akan layu,"
Setelah mengatakan hal tersebut Anyelir tersenyum ke arah ku. Aku tidak bisa mengartikan apa dia katakan. Apa yang dia rasakan?
Yang aku tahu hanya satu. Rasanya aku mulai mencintainya. Ingin ku ucapkan. Namun melihat Anyelir nyatanya aku tidak tega. Sejak dulu aku selalu mengejarnya. Tetapi dia pasti menghilang seperti bunga dandelion yang tertiup angin dan mendapatkan hidup baru jauh di sana.
Sejak aku tahu Anyelir mencari informasi tentangku. Aku selalu merasa dia merasakan juga apa yang aku rasakan. Itulah mengapa aku selalu memberanikan diri untuk bertanya padanya. Walaupun itu hanya pertanyaan sepele.
Setiap hari dia selalu membawa cerita yang menarik. Aku selalu ingin tersenyum namun takut dia menghilang.
Akhirnya aku memutuskan, tiga hari lagi aku akan menyatakan perasaan ku padanya.
....
Tiga hari kemudian di bawah pohon rindang dekat dengan lapangan. Sya'ki datang agak terlambat karena harus memasang Mading di depan kantor guru. Jaraknya agak jauh dari lapangan dan membuatnya harus memutari sekolah untuk sampai ke sana.
Namun di bawah pohon tersebut tidak ada Anyelir. Hanya ada buku yang sering dia baca dan secarik kertas serta sebatang bunga anyelir dua warna terselip di dalam buku.
Sya'ki langsung membuka secarik kertas tersebut dengan perasaan yang campur aduk. Padahal dirinya terkenal dengan pribadi berkepala dingin yang tidak akan pernah membiarkan emosi membimbing nya.
"Aku pernah melihat sebuah bunga yang sangat cantik tumbuh di antara alang-alang. Dia bergoyang-goyang terkena angin. Kamu tahu itu bunga apa?
Itulah dandelion. Banyak anggapan bahwa Dandelion ini adalah bunga yang rapuh. Ternyata tidak. Kita bisa melihat ketika dia lepas dan terbawa angin, bunga dandelion akan terus terbang sendirian hingga pengaruh angin itu hilang.
Bunga dandelion sangat berani. Bahkan sebelum angin menerpanya dia masih bertahan pada tangkainya.
Jangan pernah mengatakan terlambat untuk mengungkapkan sesuatu. Maaf aku pergi tanpa memberitahu mu. Selamat tinggal, semoga aku bisa membalas nya di kehidupan selanjutnya nya.
Salam dari Anyelir"
Bulir bening mengalir di pipi Sya'ki. Rasanya dia menyesal karena tidak mengatakannya sejak awal. Dia tidak berani mendekati Anyelir duluan dan akhirnya hanya meninggalkan penyesalan.
"Ku tahu. Ku rasakan. Ku menyesal. Aku lupa menaruh rasa juga di hatimu,"
...
Ku terisak di bawah pohon tempat kami bertemu. Kami yang memiliki jalan berbeda tidak akan bisa bertemu. Namun, aku tahu.
Dengan apa yang terjadi padanya, terbawa angin hingga terdampar di tempat baru, bunga ini bisa tumbuh kembali dengan berani. Karena walaupun dia Anyelir, dia tetap menanamkan hati seorang dandelion di dalamnya.
»»»«««
Kamu tahu. Anyelir dengan dua warna yang berbeda memiliki makna 'aku tidak bisa bersamamu'.
♪♪♪♪