"TERNODA"
Diana, begitulah orang memanggilku,Aku terlahir berbeda dengan teman sebayaku,jika mereka bisa berbagi kisah melalui suara,diriku hanya bisa dengan gerakan isyarat yang tak semua orang memahaminya.namun aku masih bersyukur setidaknya tuhan tak menghilangkan pendengaranku.
Hari itu malam menjelma indah dengan bola raksasa menampakkan cahaya putih nya.hanya suara jangkrik peneman malam yang setia untuk ku,Ayah ibu ku sudah lama pergi meninggalkan aku dengan kegamangan dunia ini,aku pernah meminta tuhan untuk menjemputku ketika datang rindu yang tak terbendung akan orang tua ku.
Namun rasanya percuma,jika memang waktu ku belum tiba,siaplah aku yang memaksa tuhan sang maha perkasa.
Seperti biasa malam yang ku lalui selalu sama seperti malam sebelum nya.
Mencoba tidur awal walau kerap kali kantuk itu tak kunjung datang.
"PRANG!!"
Tiba tiba suara pecahan piring di sertai hentakan kaki mengagetkan ku.
"Pasti si meong lagi ngejar tikus,habis semua piring ku yang tidak seberapa itu"batin ku
Ku raih lilin di pojok lemari dekat jendela kamar ku,lilin yang tinggal setengah itu,aku nyalakan dengan korek kayu di samping nya.
Cahaya redup lilin memandu langkah ku menuju dapur,aku lihat begitu banyak pecahan piring berserakan di lantai,hawa sejuk membuat sekujur tubuh ku seakan membeku.
Ku cari arah angin sambil menutup lilin di tangan ku,aku tak ingin lilin ku mati karna disini sangat gelap.
"Loh,kok jendela ini terbuka,perasaan tadi sore sudah aku tutup"batin ku
Ku tutup saja jendela yang terbuka itu,tak ada perasaan was was atau pun curiga,hingga satu tangan membekap kasar mulut ku dari belakang.
"Jangan berisik,atau aku akan membunuh mu"begitulah bisik lelaki itu padaku.
Aku hanya mengangguk,mana mungkin aku berteriak meminta tolong,suara dari mana aku?dalam benak ku,akankah tuhan sedang mengabulkan doa ku yang lalu,untuk segera bertemu ayah ibu ku?
Lilin yang ku bawa kini sudah berpindah tangan,lelaki itu mengambil paksa dari ku.
Aku yang sedari tadi di bekap oleh nya,perlahan lahan ia lepaskan dan dia balikkan tubuhku menghadap dia,cahaya lilin menyenter wajah ku,kini dapat ku lihat dengan jelas wajah nya,dia tersenyum kepada ku,sedangkan aku masih terus mencari jawaban setiap pernyataan dalam hati ku.
siapa lelaki ini?
apa dia seorang pencuri?
lalu apa yang ingin dia curi di gubuk kecil ku ini?
"Hei Kamu,apa boleh aku bermalam disini malam ini,aku janji hanya semalam"ujar lelaki itu.
Aku hanya terdiam terpaku menatap nya,aku tak punya jawaban apapun kecuali iya dalam situasi ini.
"Jawab!!"bentak nya
Aku hanya mengangguk.
Tampak wajah lelaki itu seperti heran menatap ku.
"Kamu...tidak bisa bicara?"tanya nya penuh selidik.
Aku mengangguk lagi,dalam hati ku,aku sudah pasrah,terserah lah akan jadi apa malam ini,lagipun kemana aku meminta tolong,sedang tetangga sangat jauh.
Rumah ku pas di sudut kampung dekat gunung,hutan dan rawa,entah mengapa ayah dan ibuku membuat rumah di tempat seperti ini,namun aku masih harus bersyukur di banding yang tak punya rumah sepertiku.
Lelaki itu pun melepaskan aku,mungkin dia merasa aman karna tau jika aku tidak bisa berontak untuk meminta tolong.
Gelap malam seiring waktu telah berganti dengan terbitnya cahaya fajar,aku tertidur di bawah jendela dapur,begitupun lelaki yang semalam bersama ku.
"Dia tidak membunuhku semalam ketika aku tidur,syukurlah"batin ku.
Aku bangun dan melakukam rutinitas harian ku seperti biasa,tiba saatnya aku ingin ke kebun yang jarak 5 km dari rumah ku,lelaki itu terbangun,ia terkejut karna aku ingin keluar dari rumah,
Mungkin pikirnya aku akan melaporkan keberadaannya pada orang kampung.
"Mau kemana kau?"tanya nya sedikit membentak.
Aku memberi isyarat jika aku ingin ke kebun mencabut ubi kayu untuk ku olah jadi makanan.
Lelaki itu bingung menatap ku,sepertinya ia tak mengerti dengan yang ku isyaratkan.
"Jangan keluar,tetap disini"ujar nya lagi.
Lelaki itu pun kini datang menghampiri ku,entah kenapa aku jadi sedikit takut,kulihat ada golok tergeletak dekat kaki ku.
Akupun berjongkok mengambil golok dan menggarahkan ke lelaki itu,dia hanya tersenyum mengejek melihat tingkah ku.
Aku yang memang tak seberani itu,tampak pada golok yang kupegang,golok itu bergetar hebat seirama getaran takut di hati ku.
"Heh,kau kira aku takut dengan gertakan remeh mu itu?"ujar lelaki itu.
Aku mencoba mengambil nafas dalam ingin berteriak,walau ku tau itu akan tak berguna,namun apa salah nya mencoba.
"A.E......."Hanya seperti itu bisa ku keluarkan,namun siapa yang akan paham?siapa yang akan penduli.
Lelaki itu mendatangi ku dengan santai,dan mengambil golok yang aku pegang.
Sungguh aku sangat bodoh,tidak ada suara,tidak ada kekuatan dan juga kepintaran.
"Kamu cantik juga,walau tak bersuara"ujar lelaki sambil itu mengelus pipi ku.
Air mata yang ku tahan tumpah sudah,aku tau kemana jalan cerita ini.
"Kenapa kamu menangis?,stt.....jangan takut"kata lelaki itu meletakkan satu jari nya di bibir ku.
Dengan kasar dia menarik ku,menjatuh kan ku kelantai lalu merobek baju yang ku pakai,aku menangis sejadi jadi nya.
Sungguh bodoh aku,seharusnya aku lari semalam,kenapa aku hafus tertidur dan percaya bahwa lelaki ini orang baik,sungguh naif sekali aku.
Lelaki itu terus menjamah setiap inci tubuh ku,dia memuaskan semua hasrat nya padaku,betapa hina nya diriku.
Ada rasa perih di bagian bawahku,dia telah merenggut kesucian ku.
Setelah nafsu nya ia tuntaskan,ia pun berbaring di samping ku.
Aku yang telah hilang tenaga karna melawan nya tadi,mencoba menyeret tubuh ku mencari lembaran baju helai demi helai yang tersisa.
Ingin rasa nya aku berteriak dengan keadaan ini,namun kembali lagi,aku berteriak untuk apa?jalan hidup ku sudah hancur.
"Hei kamu,aku khilaf,maaf,aku tidak bermaksud menyakitimu"ucap lelaki itu.
Aku hanya tersenyum sinis
"Hah,enak sekali kata kata mu,khilaf,aku memang bodoh dan bisu,tapi kamu terlalu naif"ingin rasanya ia tau batin ku ini.
"Aku akan pergi,aku takut hal tadi terulang lagi,aku akan bertanggung jawab,tapi tidak sekarang,kumohon maafkan aku"lelaki itu tampak menitikkan air mata.
Entah lah air mata apa itu,aku terlanjur tak mempercayainya lagi.
Kulihat lelaki itu pergi,sepertinya ia akan pergi dari rumah ku,ada rasa lega di hatiku.
"Syukurlah aku kembali sendiri"batin ku.
4 bulan sudah setelah kejadian itu,aku merasa ada yang aneh didiriku.namun aku tak mengerti apa itu.
Pagi ini matahari kembali menampakkan cahaya emas nya.
Aku bermaksud akan ke pusat desa untuk menjual hasil panen di kebun ku.
"Diana,kok wajah mu pucat sekali"ucap seorang ibu ketika aku sampai di pasar.
Aku hanya memberi isyarat aku baik baik saja.
"Wah banyak sekali hasil kebun mu hari ini diana,saya beli semuanya"ibu itu menghitung semua hasil kebun ku dan menyerahkan uang sebanyak 30.000 rupiah,cukuplah untuk membeli beras,mie instan dan beberapa butir telur.
Aku tersenyum sambil mengucapkan terimakasih.
Setelah selesai berbelanja aku memutuskan untuk segera pulang.
"Diana....tunggu"panggil seorang ibu,aku berhenti dan melihat ke arah suara,rupanya itu suara buk RT.
"Diana ibu lihat kamu seperti sakit,ibu antar kan ke polindes ya"ucap nya sambil menggandeng tangan ku.
Aku ingin menolak tapi rasa nya sedikit tidak sopan,yasudah aku ikuti saja.
Sesampainya di polindes,seorang bidan memeriksa keadaanku,dia mengukur tekanan darah dan juga nadi ku,itu katanya makanya aku tau apa yang bu bidan itu lakukan.
"Diana,kamu kebelakang dan tampung air kecil ke dalam wadah ini ya"ujar bu bidan itu.
Aku meng iyakan saja,kulakukan sesuai yang ia perintah,setelah itu kulihat bu bidan mencelupkan sesuatu ke dalam wadai air kencing ku dan kami di suruh menunggu.
"Bu Rt sini"panggil bu bidan
"Gimana?betul tidak kecurigaan kita?"tanya bu Rt
Aku yang memang tak jauh dari mereka dapat mendengar jelas percakapan keduanya.
"Garis 2 bu rt"ucap bu bidan
"Ya tuhan..."bu rt tampak menutup kedua mulut nya karna syok dengan apa yng bu bidan katakan.
"Diana,kamu tau kamu sakit apa"tanya bu bidan
"Hah,aku sakit?"batin ku
Karna merasa aku tak tau aku hanya menggeleng.
"Aduh bu bidan,kasian sekali,siapa yang melakukan ini?"
Aku bingung mereka membicarakan apa,akhirnya dengan bahasa isyarat aku menanyakan pada bu bidan,ada apa ini,ada apa dengan ku?
"Diana,kamu hamil,apa kamu tau siapa yang melakukan nya?"tanya bu bidan.
"Haamiil..aku haamil,ya tuhan kejadian bejad hari itu membuah kan benih di rahim ku,dan bodohnya aku,aku tak menyadarinya"batin ku,airmata menetes derah dari kedua belah mata ku,rasa ingin mati kembali lagi menghantui ku.
Aku pukul perutku bertubi tubi,aku tak ingin anak ini,aku tak invin benih dosa ini di dalam tubuh ku.
"Diana...sabar diana"ucap bu bidan.
Bu Rt yang sedari tadi terdiam kini bersuara.
"Diana,tolong kamu bilang pada kami,siapa pelaku nya"kata bu Rt
Aku terlalu malu dan marah,malu karna aku menjadi perempuan ternoda,marah karna aku tidak tau menjelaskan bagaimana tentang lelaki itu,akhirnya aku putuskan untuk keluar dari polindes dan lari pulang kerumah.
Namun naas langkah ku terlalu cepat aku tak melihat sebuah truk datang melindas tubuh ku.
Semua gelap dan gelap.
Aku kini sudah bisa menatap kedua wajah orang tua ku,walau aku malu mereka menatapku dalam keadaan aku terhina.
Maafkan anak mu ayah,ibu.
TAMAT