[ Cerpen ] [ Horor ] [ Misteri ]
Mata Batin ( Babak Pertama )
Oleh : L. Eric K.
#1
Bagaimana jika kalian mengalami kejadian, seperti yang aku alami ?
Aku suka sekali menonton film horor, bukan sejenis psikopat, pembunuh berantai, vampire penghisap darah ataupun serigala jadi-jadian yang setiap malam purnama berkeliaran mencari mangsa... Bagiku itu kuno.
Kalian mungkin pernah mendengar atau melihat film-film yang bertemakan tentang tenung/santet/teluh, bukan ? Atau mungkin pembukaan mata batin atau indera keenam ? Yah, aku suka film yang bertemakan itu.
Semula aku tidak pernah menyangka, akan mengalami hal-hal yang sulit diterima oleh akal atau nalar setelah menonton film.
Kejadian ini berawal saat pertama kali Aditya mengajakku menonton sebuah film ... aku lupa judulnya.
Yang kuingat adalah, sebuah adegan dimana salah satu tokoh utama mengucapkan mantra pembuka mata batin.
Semula aku menganggapnya itu adalah salah satu skenario dari sutradara film untuk menambah suasana lebih mencekam, tapi ternyata tidak....
Entah, begitu mantra selesai diucapkan dan bersamaan dengan saat aku mengedipkan mata semula semuanya terlihat wajar-wajar saja. Tidak ada yang berubah.
Namun, segalanya berubah saat aku keluar dari toilet, kembali masuk ke studio dan duduk di tempat semula dimana aku duduk, yakni di samping Aditya.
Seorang wanita berambut hitam, panjang dan kusut, berkulit putih pucat... ia mengenakan pakaian merah, duduk di tempat dudukku. Set B, no. 8, sementara, Aditya duduk di set B no. 9. Siapa dia ? Sejak kapan ia duduk disana.
"Mbak... ini adalah tempat dudukku, bisakah anda bergeser ?" tanyaku lirih.
Orang itu diam, seakan tak mendengar apa-apa.
Sekali lagi aku berkata, kali ini agak keras, "Mbak, bisakah anda bergeser ke tempat lain ? Ini adalah tempat dudukku,"
"Kau ini lagi ngapain ? langsung saja duduk... toh, dari tadi juga tempat dudukmu," kata Adit yang rupanya terganggu dengan suaraku.
"Wanita ini, sejak kapan duduk di tempatku ?!" kataku kesal sambil menunjuk ke arah wanita itu.
Aditya menoleh, "Wanita ? Dari tadi kau keluar ke toilet, tidak ada orang lain yang duduk di tempatmu... hanya orang gila saja yang merebut bangku orang. Sudah, kau duduk saja... ini, pas adegan seru-serunya,"
Aku terkejut. Jelas-jelas tadi aku melihat ada wanita duduk di bangkuku, tapi, mengapa sekarang tidak ada siapa-siapa ? Apakah aku berhalusinasi ? Tidak mungkin.
Aku memilih diam, mungkin juga aku memang berhalusinasi. Tapi, benarkah hanya halusinasi ?
Saat film selesai, aku dan Aditya berjalan menyusuri lorong pintu keluar yang gelap gulita, tercium aroma busuk menyengat, membuat perutku seakan-akan diaduk-aduk, kepalaku pusing dan pandanganku berkunang-kunang, lututku serasa lemas.
"Hei, ada apa denganmu Tash ? Apakah kau merasa tidak enak badan ?" tanya Aditya memegangi tubuhku yang sempoyongan.
Aku menatap ke arah Aditya berdiri, mencoba untuk tersenyum, namun, kali ini tampak olehku wanita berbaju merah itu berdiri di sisi kiri Aditya. Kali ini aku dapat melihat kepala kirinya terdapat lubang menganga, basah oleh darah merah kehitaman dan di permukaan kepala yang berlubang itu tampak banyak sekali belatung, cacing, kelabang dan kalajengking merayap. Dari situlah bau busuk itu berasal.
"Hhooeekkhh..."
Tak ayal lagi aku menumpahkan hampir setengah dari isi perutku. Akupun roboh tak sadarkan diri.
***
Saat aku membuka mata, aku mendapati tubuhku terbaring di atas pembaringan yang empuk dan hangat... aroma busuk itu hilang dan digantikan dengan aroma harum yang sangat familiar sekali. Kamar pribadiku.
Di tepi pembaringan sudah duduk ibu dengan tatapan cemas.
"Kau sudah sadar, Nduk ? Aditya membawamu pulang dalam keadaan pingsan, apa sebenarnya yang telah terjadi ?"
Aku bangun, kepalaku sudah tidak pusing lagi, namun, bau busuk itu seakan masih tercium hingga saat ini, "Entahlah, Bu... kemarin Tash tidak apa-apa, tapi, sehabis nonton mendadak saja pusing dan mual-mual..." kataku.
"Ibu sudah bilang, jangan terlalu sering nonton film horor. Akhirnya, jadi terbayang-bayang... bisa berakibat buruk dengan pekerjaanmu, Lo..." kata ibu.
"Terima kasih atas nasihatnya, Bu... tapi, saya sudah terbiasa nonton film horor, ibu tidak perlu cemas. Mungkin kurang istirahat saja," kataku.
"Adit sempat berkata, sewaktu di gedung bioskop, kau sempat meracau tentang wanita... bisa kau jelaskan siapa dia ?"
"Entahlah, Bu...mungkin memang benar, saya cuma berhalusinasi saja," kataku.
"Hmm, sepulang kerja, kau harus periksa. Ibu khawatir kau sakit,"
"Baik, Bu..."
***
Aku sampai di tempat kerjaku, Star Image Building... hari ini sepertinya banyak sekali orang berseliweran di Selasar kantor dan mereka kelihatannya aneh-aneh... ada yang menggosok-gosok kan badannya ke jendela, ada anak-anak yang berlarian kesana-kemari sambil tertawa-tawa, ada duduk di tepi jendela sambil memandang keluar, ada pula yang mengetuk-ngetuk lantai... berisik sekali...
"Tolong ! Kalian jangan berisik ! Bekerjalah seperti biasanya, jangan membuat keributan !" tiba-tiba aku berteriak.
Teriakanku itu keras sekali di luar kendaliku, hingga salah seorang rekan kerjaku berjalan menghampiri dan berkata
"Ada apa denganmu, Tasha ? Kantor ini tenang seperti biasanya, kok... toh, yang datang baru beberapa orang saja,"
"Lalu, siapa mereka itu, bentuknya aneh-aneh, pakaiannya Kumal seperti tidak pernah mandi," kataku sambil menunjuk ke udara kosong.
"Tasha, jangan mengada-ada... disini belum ada pegawai yang datang cuma aku dan kau saja yang baru tiba,"
Kepalaku berdenyut-denyut, di pandanganku ada sekitar 15 orang aneh yang berada di sini, lalu mengapa Tamrin mengatakan di tempat ini hanya ada aku dan dirinya saja.
"Mungkin kau perlu istirahat sejenak," ujar Tamrin.
"Bu Arimbi sudah datang atau belum ?" tanyaku.
"Beliau sudah ada di kantornya. Apakah kau ingin menemuinya ?"
"Ya, ada yang perlu saya bicarakan dengan beliau,"
"Apa perlu kuantar ?"
"Terima kasih, Tam..."
***
Arimbi. CEO muda itu tengah duduk di tempat seperti biasa. Aku salut dengan beliau. Sekalipun dia seorang pimpinan, namun, perbuatannya itu cocok dijadikan suri tauladan bagi semua pegawainya. Tak tinggi hati, tak sombong... tegas dan bijaksana. Itulah sebabnya, beliau disukai oleh para karyawannya. Nyaman sekali rasanya, saat kami duduk dan berbincang bersama.
Sayangnya, ia selalu mengenakan masker menutupi hidung dan mulutnya. Aku sendiri tidak tahu mengapa ia selalu mengenakan masker. Kamipun tak berani terlalu lancang untuk menanyakannya.
"Bu Tasha, Mengapa kau tampak pucat sekali ? Tubuhmu gemetaran dan kau tampak kusut sekali," sapanya, "Ada yang bisa saya bantu ?"
Aku menoleh kesana-kemari, memastikan tak ada seorangpun selain kami di tempat itu. Setelah aku yakin aman, aku segera bercerita.
"Hmm, jadi itu masalahnya ?" tanya Arimbi.
"Saya tidak tahu, apa yang telah terjadi dengan saya, Bu... mudah-mudahan, ibu bisa membantu saya. Saya merasa tersiksa sekali, dimana-mana melihat sesuatu yang mengerikan, membuat saya tidak bisa tidur dengan nyenyak," kataku pasrah.
"Apakah ibu sudah pergi ke psikiater atau yang lain ?" tanya Arimbi.
"Saya tidak berani kesana, Bu... takut dianggap sebagai orang gila atau apa ..."
"Tak perlu cemas dan takut, Bu...
Jika kita beranggapan bahwa dunia ini milik kita saja... itu salah, Bu..."
" Apa maksud Bu Arimbi ?"
"Ibu suka nonton film horor, kan ? Pada film horor selalu terdapat kata-kata 'Dunia Lain', bukan ?"
Aku mengangguk, "Tapi, itu, kan cuma di film ? di dunia nyata mana ada, Bu ?"
"Ibu sudah menyaksikannya, bukan ? Saya hanya ingin menyampaikan perbedaan antara dunia nyata dan dunia lain, hanyalah setipis kertas. Dan, kita... berada diantaranya. Jadi, ibu bersiaplah... yang anda alami, hanyalah awalnya saja. Lebih bijak kiranya, kita menganggap itu sebuah anugerah,"
"Bagaimana mungkin ibu bisa berkata demikian ? Saya seperti orang gila, Bu... dimana-mana melihat hal-hal yang aneh dan mengerikan... saya ingin kehidupan saya kembali normal seperti dulu, Bu. Kalau tidak, bagaimana saya bisa bekerja dengan tenang dan baik, Bu,"
"Bu Tasha. Saya hanya bisa memberi saran... Sekali mata batin terbuka, selamanya akan melekat sampai kita kembali kepada-Nya. Saya paham bagaimana rasanya menjadi orang yang memiliki sesuatu yang tak dimiliki oleh orang lain. Maka, jalan satu-satunya adalah membiasakan diri dengan anugerah itu. Kendalikanlah, jangan sampai kau terlena atau dikendalikan olehnya," jelas Arimbi, " Tuhan memberikan itu pada Ibu, artinya, Tuhan ingin menunjukkan sesuatu pada anda, Bu... ikutilah petunjuk itu. Jangan berkecil hati atau terasing dengan anugerah tersebut,"
"Mudah sekali bagi Ibu untuk berkata seperti itu... mungkin karena ibu bukan saya. Seandainya saja, Ibu mengalami apa yang saya alami saat ini," kataku kesal.
Arimbi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ia menatapku dalam-dalam. Sepasang bola matanya seakan tidak terfokus pada satu titik, namun, tajam dan menusuk. Mendadak saja, bulu kudukku meremang, hawa di ruangan itu seakan menurun dan terus menurun hingga akhirnya...
***
Mendadak saja, aku sudah berada di tempat asing. Sepasang mataku menyapu ke sekeliling. Di kanan-kiri ku, ada banyak kursi berderet-deret, memanjang dengan nomor bangku pada sandaran. Di atas ada sebuah sinar putih menyorot, menerangi bagian paling depan. Layar perak. Aku berada di sebuah gedung bioskop. Gedung bioskop dimana aku dan Aditya menonton. Sejak kapan aku berada disini ? Bukankah, sebelumnya aku berada di kantor pribadi Bu Arimbi ?
"Di gedung inilah pertama kali kau mendapatkan anugerah itu, bukan ?"
Aku terkejut. Disamping kiriku Bu Arimbi berdiri, kali ini dia tak mengenakan masker. Sepasang matanya menatap ke layar perak yang tengah menayangkan sebuah adegan. Adegan dimana seorang wanita duduk sambil meletakkan tangan di dada. Itu adalah salah satu cuplikan adegan film yang beberapa waktu lalu kutonton bersama Aditya.
Disinilah awal dari segala yang terjadi padaku saat ini.
--- Bersambung ---