Malam Pertama Dengan Sahabat.
(18+)
"Jangan dekat-dekat sama gue. Gue geli lihat muka lo," kata Natalia pada Nathan sahabatnya yang bebrapa waktu lalu sudah sah menjadi suaminya.
"Ini malam pertama kita. Tapi jujur, gue juga geli-geli enak bayangin lakuin itu sama lo," kata Nathan tidak bisa menahan tawanya.
Natalia langsung memukul tangan sahabatnya. Tidak ada cinta diantara mereka, bagiamana mungkin dia bisa melakukan kewajibannya sebagai istri.
Belum juga melakukan malam pertama. Dia sudah berpikir untuk menendang wajah Nathan yang mentap tubuhnya sambil menahan tawa.
"Dari pada bayangin. Ayok lah, gas aja," kata Nathan sambil menaikan sebelah alisnya.
"Si bang Sat. Bisa-bisanya lo mikir kayak gitu," maki Natalia yang membuat tawa Nathan.
Tawa Nathan baru berhenti saat suara ketukan pintu terdengar. Dia langsung membuka pintu kamarnya.
"Gue bawain lo minuman dan makanan," kata Daffa, abang kandungan Nathan.
"Tumben lo baik," kata Nathan menatap curiga pada abangnya itu. Pasalnya mereka tidak pernah bisa akur selama ini.
"Gue seneng kampret. Gak disuruh nikah lagi. Anggap aja ini tanda terima kasih gue," kata daffa lalu menyerah makanan dan minuman yang dibawa pada Natha.
"Sial an lo."
Nathan menendang bokong Daffa. Abanganya itu langsung menghindar, walaupun kaki Nathan sudah mendarat di bokongnya. Daffa tidak membalas dan langsung melangkah pergi.
"Awas lo," acaman Nathan lalu menutup pintu kamarnya.
Natalia dan Nathan langsung makan tampa curiga sama sekali. Sedangkan daffa mengacungkan jempolnya pada mama dan papanya.
"Misi completed. Gak bakal gagal. Kalau gagal si Nathan impoten. Dosis gede itu," katanya sambil menaikkan turunkan alisnya.
"Hus jangan ngomong yang buruk soal adek kamu," kata Rianti mama kedua anak laki-laki bandel itu.
"Bukan adek ma, cuman orang yang numpang bareng di rahim yang sama selama sembilan bulan," kata ngeles Daffa.
"Jangan gitu nak," kata Rianti lagi. Setelah itu mereka kembali ke kamar masing-masing.
Nathan dan Natalia yang tidak tau makan dan minuman mereka di campur dengan obat perangsang. Makan seperti orang kelaparan yang tidak bertemu nasi seminggu.
"Tumben Daffa baik," kata Natalia curiga. Tapi apalah daya dia dan Nathan sudah terkenal jebakan Batman.
"Tau tuh. Tapi enak kok makannya. Gue juga gak ada yang aneh."
Belus tujuh detik Nathan mengatakan hal itu. Obatnya mulai bereaksi, tubuhnya mulai panas. Saat tanganya bergesekan dengan tangan Natalia. Desiran insting alami laki-lakinya menuap begitu besar.
Natalia juga merasakan kepanasan. Dia mulai mempertanyakan kinerja AC di kamar Nathan.
"Ac-nya kayaknya rusak deh," kata Natalia m ngibas-ngibaskan bagu bagian dadanya. Sehingga leher langsung menjadi objek utama pandangan Nathan.
Nathan yang mulai merasaka efek obat. Langsung mengambil bantal untuk menutupi panghal pahanya.
Dia bukan anak polos yang tidak bisa menebak apa yang terjadi. Dia dan Natalia sudah berada di atas pengaruh obat itu.
Dalam hati Nathan memaki Daffa. Bisa-bisanya kutu kampret itu menjebaknya. Makinya semakin keras dalam hati,saat melihat tatapan sayu Natalia.
"Nat badan gue panas banget," kata Natalia mendayu-dayu. Nathan sekuat tenaga menahan rasa sakit dan resah.
Sudah sah, tapi dia malah tersiksa. Perjanjiannya dengan Natalia adalah tidak melakukan hubungan suami istri. Sehingga saat mereka bercerai nanti. Mereka bisa pergi tanpa kerugian apapun.
"Nathan, kok badan gue aneh," renggek Natalia dengan wajah memerah. Nathan melepar bantal yang menutupi pangkal pahanya.
"Persetan dengan perjanjian. Setelah ini lo milik gue seutuhnya," bisik Nathan sambil mengelus pipi Nahalia.
"Gue bantu lo menghilangkan semua rasa tidak nyamannya," kata Nathan sebelum bibirnya mendarat di bibir merah merekah milik Natalia.Malam Pertama Dengan Sahabat
(18+ yang belum cukup umur mundur dek)
2. Obatnya Perangsangnya Kebayakan?
Obat perangsang yang di berikan oleh Daffa. Benar-benar menguasai dua insan manusia yang syukurnya sudah dalam ikatan pernikahan. Insting alami Nathan dan Natalia benar-benar memacu mereka dalam gairah panas menyengat.
Melupakan perjanjian yang sudah mereka buat diatas hitam dan putih. Dua anak manusia itu, pasrah pada panasnya sensasi gairah. Walaupun ini pertama kali dan tidak memiliki pengalaman.
Mereka menyelam dan melayang dalam indahnya penyatuan dua insan. Jari jemari Nathan begitu piawai dalam mencari madu cinta penyatuan. Bibir merah itu juga, melukiskan tanda miliknya pada tubuh wanita pujaanya.
Mereka berdua tenggelam dan melayang secara bersamaan. Melupakan semua rasa geli dan canggung satu sama lain.
Tidak ada penolakan, tidak ada rasa enggan, yang ada hanya insting yang saling terpacu satu sama lain.
Nathan dan Natalia bahkan tidak tau. Jika mereka mengeluarkan suara yang bisa meningkatkan perasaan satu sama lain. Keringat yang saling membasahi tubuh mereka juga tidak menjadi penghalan mereka mengejar puncak dunia insting.
******
Keesokan paginya Nathan melihat Natalia yang tidur disampingnya. Istri sekaligus sahabatnya itu terlihat kelelahan dengan air mata di sudut-sudut matanya.
Nathan merapikan selimut yang menutupi tubuh Natalia. Mengacak rambutnya berulang kali. Berpikir jika Nathalia sangat menyesal melakukan hubungan suami istri dengannya.
Dia juga merasa kesal pada dirinya. Saat melihat darah yang ada di sprei. Harusnya tidak seperti ini. Dia seperti binatang buas yang memburu mangsa.
"Sial. Gara-gara Daffa, semua ini terjadi. Tapi juga salah gue. Gue harusnya gak kayak binatang buas, harusnya kalau Natalia enjoy gak bakal berdarah," kata Nathan dengan prustasi.
Namun Nathan juga tidak bisa memungkiri. Jika dia sangat suka apa yang terjadi tadi semalam. Walaupun Natalia mungkin tidak seperti dirinya. Saat akhir istri terlihat kesakitan. Namun kerena obat perangsang lebih kuat rasa sakit itu ditepis oleh Natalia.
"Maaf ya ai, gara-gara gue lo sakit," kata Nathan merapikan rambut Natalia yang berantakan karena ulahnya. Dia juga bersemu malu saat melihat lukisan yang dibuatnya di leher dan beberapa bagian tubuh Natalia.
"Aduh," kata Natalia saat mencoba mengubah posisinya. Rasa sakit langsung menyerang seluruh tubuhnya membuat air matanya menetes dengan deras.
Sekarang Natalia ingin mengutuk orang-orang yang mengatakan jika malam pertama itu indah. Indah bagian mananya. Rasanya sakit sekali.
"Lo nyesel?" kata Nathan dengan wajah kecewa yang amat sangat. Nathan memperhatikan Natalia yang menangis sambil menggenggam selimut.
"Gak nyesel. Cuman sakit banget Nat," kata Natalia jujur. Tidak ada yang perlu disesali, tapi dia juga tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya.
"Sakit banget Nat," kata Natalia lagi sambil menangis. "Lo mah enak masih bisa bangun
Gue mau mikir nyesal aja kagak mampu. Otak gue cuman merespon sakit," omel Natalia membaut Nathan tertawa terbahak-bahak.
"Sakit-sakitan nikamat lah kalau buat gue. Otak gue seketika gak encer. Mau nambah sih gue, tapi lo kayak orang yang abis disunat."
Nathan Kembali tertawa melihat Natalia yang ingin melempar bantal tapi tidak jadi. Sahabatnya itu malah meringis kesakitan.
"Gue ambil obat anti nyeri buat lo."
Nathan ingin meraih gagang pintu tapi di hentikan Natalia.
"Ganti dulu celana sama lo. Pakek baju juga," katanya menunjuk tubuh Nathan yang penuh tanda cinta darinya. "Kalau perlu mandi dulu baru keluar."
Sementara Nathan menghilangkan bukti adengan menyengat tadi malam. Daffa sebagaimana pelaku utama kekacauan makan dengan tenang. Menyuapkan roti dan minum susunya dengan lahap.
Dia yakin sekali kalai dua orang itu. Tidak akan mampu menolak reaksi obat perangsang yang diberikannya. Uangnya di habiskan untuk membeli barang jahat itu.
"Daf, kok adek kamu belum bangun juga?" tanya Rianti dengan penasaran. Jangan-jangan Nathan dan Natalia malah bertengkar bukanya malam pertama.
Walupun mereka itu sahabat, tapi mereka lebih banyak bertengkarnya daripada akurnya.
"Masih kelelahan kali ma. Kalau enggak ya impoten, prustasi gara-gara itunya gak bangun," kata Daffa santai.
Rama yang mendengar perkataan anaknya langsung tersedak.
"Jangan ngaur kamu. Keturunan papa gak mungkin impoten, pasti perkasa kayak papa."
"Kalau Daffa sih gak usah diragukan. Kalau Nathan siapa yang tau. Papa dan mama lihat sendiri aja gimana anak kalian itu."
Tidak lama kemudian Nathan datang dengan rambut yang masih basah dan muka cemberut. Dia langsung menendang kursi yang Daffa duduki.
Tidak ada yang berani bersuara. Sudah tidak di pukul saja Daffa merasa bersyukur. Dia sebenarnya takut bertemu adik kembarnya itu. Namun dia juga penasaran dengan kejadian tadi malam. Apakah berhasil, atau gagal total.
"Nyari apa nak?" tanya Rianti memberanikan diri saat melihat putra bungsunya mengobrak-abrik lemari.
"Nyari obat anti nyeri buat Natalia," katanya sembil menatap tajam pada Daffa.
Daffa sudah menginjak lantai dengan keras. Bersiap-siap lari, tapi dia tau itu tidak berguna. Kalau Nathan berniat untuk menghajarnya dia pasti tidak akan bisa kabur. Tanganya sudah bergetar takut sekarang.
"Gak makan dulu," kata Rianti saat melihat nathan yang buru-buru kembali ke kamarnya.
"Gak usah. Buat Daffa aja. Dia butuh banyak tenaga setelah ini."
Daffa langsung menjatuhkan roti yang dipegang. Matilah dia, sepertinya udah beberapa minggu kedepan dia harus mencari tempat persembunyian. Kalau tidak habislah dirinya di pukuli adiknya.
Bukan takut tapi jelas kalau tenanganya sangatlah kalah dengan Nathan.
"Mati gue. Kayaknya butuh kuburan buat diri sendiri," kata daffa dalam hati. Dia sekarang jauh lebih lemas dari Natalia yang sedang diberikan obat anti nyeri oleh Nathan.
"Kok mukanya Nathan kusut banget pa? Apa gak berhasil ya?" kata Rianti pada Rama suaminya.
"Entahlah ma. Kayaknya sulit bagi kita menimang cucu gemuk dan lucu."
"Udah berhasil itu," kata daffa sambil terbayang-bayang gambaran Kematian dia otaknya.
"Kok cemberut?" kata Rianti lagi.
"Apa obat perasangnya kebanyakan? tau deh. Penting berhasil, tapi nyawa taruhan," kata dengan nada seorang laki-laki yang sedang memperbaiki towor kartu bewarna merah.
"Ah, mampus gue." Daffa kembali ke kamarnya dengan kondisi yang lemas.
Padahal Nathan sama sekali belun berpikir untuk menghajar abangnya. Dia sedang pokus untuk merawat Natalia dan membereskan semua kekacauan yang telah dia buat.
"Tanpa obat perangsang aja gue mampu. Lo malah ngasih dosis yang gak ngotak," katanya Nathan saat membantu Natalia kekamar mandi.
"Mama dan papa lo gimana? baru hari pertama. Gue udah gak sopan. Gak ikut makan," kata Natalia mengigit bibirnya. Dia tidak ingin dibenci oleh keluarga Nathan. Cukup keluarganya saja yang membencinya.
"Gak apa-apa. Kalau lo keluar nanti mereka malah hebih panik liat muka pucat lo yang ada nanti di panggilin ambulan. Masa gue bilang kedokteran lo sakit karena malam pertama," kata Nathan sambil tertawa.
"Sialan lo. Gak tau diri, udah bikin gue kayak gini." Natalia memukuli bahu nathan dengan semangat.
"Abis lo juga men de sah. Gimana gue gak semangat?"
"Lo bilang, bayangin aja lo geli. Tapi lo malah hilang kendali."
"Gue kan laki-laki normal yang gagah perkasa. Mana tahan, lihat cewek cantik didepan mata."
"Awas lo. Nat, kita udah langgar perjanjian. Gimana dong?"
"Mau gimana lagi gas aja. Abis enak kan," kata natham membuat Natalia melotot. Dasar laki-laki pemikiran selalu tidak jauh-jauh dari situ.
"Susah ai. Kalau udah ngerasain sekali. Udah gak mungkin buat nahan diri," kata Nathan dengan mata berbinar. Namun natalia langsung waspada.
Malam Pertama Dengan Sahabat
(18+)
3. Nathan Mau Ciuman.
"Nat, lo kenapa sih, dari tadi lihatin gue kayak gitu?" tanya Natalia sedikit ngeri melihat tingkah Nathan yang aneh. Sahabatnya itu terus senyum-senyum saat melihat dirinya.
Melihat senyum itu. Bukanya Natalia terpesona, tapi malah ngeri. Nathan itu tipe laki-laki tampan yang dingin dan galak. Beda sekali dengan Daffa saudara kembarnya. Daffa tipe laki-laki yang ceria dan murah senyum.
Kalau Nathan yang senyum-senyum. Bukanya membuat suasana ceria, tapi malah suram. Senyumnya seperti senyum orang jahat, yang sedang merencanakan pembunuhan.
"Gue lagi mikir, buat ciuman sama lo."
Nathan ini juga tipe laki-laki yang blak-blakan. Dia selalu mengutarakan apa yang ada di otaknya tanpa ragu.
"Gila ya lo. Lo bilang lo geli kalau mesra-mesraan sama gue. Lo sahabat gue, gue merinding kalau mikirin harus ciuman sama lo," kata Natalia menutup dadanya dengan bantal.
"Nah itukan sebelum gue gituan sama lo. Setelah gituan, otak gue mikir kesitu mulu. Lagian lo gak mau apa ciuman. Kita gak pernah pacaran setidaknya ayo kita coba. Siapa tau enak, kayak yang kemarin. Sudah halal juga," kata Nathan mengeluarkan isi pikirannya.
Kaki Natalia refleks menendang badan Natha. Hingga sahabatnya itu jatuh dari tempat tidur dan bokongnya mencium lantai yang dingin.
"Awas lo. Gue cium lo," kata Nathan bangkit lalu memeluk dan menindih tubuh Nathalia.
"Minggir lo. Gue tabok lo." Ancam Natalia, tapi Nathan tidak peduli dan malah menciumi seluruh wajah Natalia dengan semangat.
"Sana pergi lo. Kempret, gue gebuk lo," kata Natalia dengan kesal. Nathan malah semakin semangat menciumi Nathan.
"Gila lo. Geli geli anjir. Sana minggir."
"Enak Ai, kalau tau nikah itu enak. Gue nikah dari dulu."
"Mau nikah sama siapa lo. Lo jomblo abadi. Cewek-cewek pada takut karena lo galak."
"Oya, lupa gue. Kalau gue gak punya pacar, tapi sekarang punya istri."
"Kita punya kontrak." bantah Natalia walaupun wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Gak mau. Gue gak mau lo harus tanggung jawab udah ngambil keperjakaan gue. Lo harus hidup seumur hidup sama gue. Titik!"
"Anjir harusnya gue yang minta tanggung jawab. Lo malah kebalik. Lagian lo juga ngambil keperawanan gue anjir," kata Natalia kesal. Lalu menjambak rambut Nathan. Sahabatnya itu tidak membalas sama sekali biasanya dia akan menekan wajah Natalia. Namun kali ini Nathan hanya diam saja dan memeluk Natalia dan meletakan kepalanya di dada Natalia.
"Bakar aja kontraknya. Gue tanggung jawab seumur hidup sama lo. Ai, lo gak kasian sama gue. Gak bakal ada yang mau hidup sama gue."
"Makanya jangan galak. Lo udah kayak kucing oren kalau di deketin cewek."
"Gue gak suka dekat-dekat sama cewek Ai."
Natalia tentu sangat tau hal itu. Dai sangat ingat saat di coffee shop tempat yang dibangun oleh dia Nathan dan Daffa bangun. Ada seorang wanita yang mendatangi Nathan dan sambil tersenyum.
Dengan galaknya Nathan berkata, "ngapain lo cengar-cengir lihatin gue. Gosok gigi sana, gigi lo udah kering noh," katanya dengan muka yang sangat tidak bersahabat.
Wanita itu langsung lari beruraian air mata. Untung saja coffee shop mereka tidak pernah sepi, dan itu berkat wajah tampan kembar dan wajah cantik Nathalia.
Tentu saja sikap ramah daffa dan friendly sangat berpengaruh besar. Kalau peran Nathan sih sebagai model yang good looking. Ibaratnya dia cuman bungan cantik yang beracun, tapi indah dipandang.
"Ai gue geli tapi suka kalau dekat-dekat lo," kata Nathan lagi. Walaupun dia galak dan omongan sangat pedas. Nathan itu lebih ke tipe laki-laki polos yang mengatakan isi hatinya apa adanya. Karena itu persahabatan Nathan dan Natalia bertahan sangat lama.
Mereka juga bisa menikah walaupun karena kesempatan pada awalnya. Tapi jujur Natalia juga tidak tahu harus melakukan apa setelah semua ini terjadi. Mereka tidak mungkin lagi kembali menjadi sahabat setelah seperti ini.
"Gue bingung Ai, tapi lo tenang aja. Gue pastiin gue gak bakal lepasin. Setelah semua ini lo milik gue seutuhnya."
"Gue bisa gila kalau gini," kata Natalia bigung. Nathan yang terlihat polos itu bisa obsesif juga.
Nathan melepaskan pelukannya dari Nathalia dan mengacak rambut sahabat.
Gue punya urusan. Lo bisa disini aja atau keluar menemui mama. Gue punya pekerjaan penting," katanya dengan nada yang tidak biasa.
*****
Daffa tiba-tiba merinding. Bulu kuduknya tiba-tiba berdiri semua. Suasana kamarnya juga sudah terasa lebih dingin. Firasat buruk tiba-tiba menghantui dirinya.
Dia buru-buru mengunci pintu kamarnya. Tapi sialnya, pintu kamarnya tidak mau terkunci. Daffa berdoa dalam hati semoga tuhan melindungi nya dari mara bahaya.
"surprise, my brother," kata Nathan yang berhasil membuka pintu kamarnya. Daffa langsung lemas, wajahnya pucat seperti kehilangan semua darah dari tubuhnya.
Nathan seperti sangat marah. Apalagi dia sampai mengatakan Abang pada dirinya. Sudahlah, tamat sudah riwayat.
"Lo punya urusan sama gue, my brother."
"Nat kita bisa bicarakan baik-baik loh. Gak usah kayak gini. Kita ini saudara kembar. Kalau gue terluka lo juga bisa terluka," kata Daffa merayu.
"Sialan lo. Karna lo gue jadi gila," katanya mencoba menonjok perut Daffa, tapi dafga berhasil menghindar.
"Sini lo. Kita selesaikan secara jantan."
"Jantan kepala jelek lo. Jantan-jantan, malam pertama aja kagak bakal jadi kalau bukan karena gue. Dasar lemah syahwat lo," ejek Daffa, seakan lupa kalau sudah menggali kuburan sendiri.
"Lo bakal gue gantung ke pintu depan," kata Nathan dengan senyum dingin. Daffa langsung buru-buru melompati jendela kamarnya dan kabur. Sementara Nathan terlihat sangat geram.
"Anjir apes gue," katanya sambil menjauh dari area rumahnya. Tapi penampilan dirinya sungguh menyedihkan. Hanya mengenakan celana pendek. Tidak pakai baju dan sandal. Mirip orang mesum yang ketahuan selingkuh dan kabur.
"Demi gumpalan lemak yang lucu dan imut gue rela. Awas aja kalau gak mirip gue. Gue suruh ganti rugi kalian," katanya membayangkan bayi-bayi lucu dan imut.
Kembali lagi ke sisi Nathan. Sebenarnya dia bisa mengejar daffa dengan mudah. Daffa itu sangat lemah dalam olah raga, berbeda dengan dirinya yang unggul dalam olahraga. Tapi Nathan sudah kena mental terlebih dahulu.
Beraninya dia mengatakan dirinya lemah syahwat. Daffa tidak tahu saja kalau dia jauh lebih dari sekedar mampu tapi pura-pura dulu.
"Nat, Daffa masih hidup kan?" kata Natalia yang buru-buru menyusul nathan setelah berpikir ada yang tidak beres. Pantas saja dia selalu merasa ada yang ganjil. Barulah Natalia sadar jika apa yang terjadi itu ulah daffa.
"Dia kabur."
"Syukurlah. Gue kira udah gak hidup."
"Rencananya tadi gitu, udah keburu kabur. Tapi nanti lihat saja gak bakal lepas lagi."
"Udah Nat. Kita lupain aja ya. Gak usah dibahas lagi ya," bujuk Natalia. Serem juga kalau nathan berniat balas dendam. Coffee shop mereka masih butuh Daffa untuk membawa banyak pelanggan. Kalaj gak dibutuhkan sih, Natalia juga mau bantu gebukin Daffa.
"Gue lupain kalau lo mau ciuman sama gue," kata Nathan mencari kesempatan. Kapan lagi kan ada kesempatan emas ini.
"Kampret lo. Lo yang gue gebukin," kata Natalia bersiap-siap memukul Nathan.
Nathan malah lebih dulu mengecup bibir Natalia dan berlari menjauh.
"Tangkap aja kalau lo bisa," katanya sambil tersenyum mengejek.
"Nathan sialan. Awas aja lo!"Malam Pertama Dengan Sahabat.
(18+)
4. Mama Minta cucu.
Natalia sadar tidak ada gunanya ngejar Nathan. Sahabatnya itu berlari sangat kencang. Untuk urusan olahraga tidak ada yang bisa mengalahkan Nathan. Staminanya sangat luar biasa, apalagi di barengi dengan latihan rutin dan hidup sehat.
Daripada berusaha untuk sesuatu yang hasilnya nihil. Natalia lebih memilih untuk menemui Rianti, mama mertuanya.
Natalia tersenyum malu. Saat menginjakkan kakinya di ruang makan. Niatnya ingin membantu gagal sudah. Rianti dan beberapa asisten rumah tangga sudah selesai menyiapkan makan malam.
"Ada yang bisa Lia bantu, ma?" tanya Natalia dengan nada yang tidak enak.
Rianti hanya tersenyum dan mengisyaratkan Natalia untuk mendekatkan kepadanya.
"Ada. Mama minta cucu yang gembul dan gemuk," kata Rianti dengan senyum bahagia.
"Dua aja, nak," kata Rianti lagi menaikan dan mengembangkan kelima jarinya.
"Itu bukan dua buk. Itu lima," kata mbak Astri asisten yang bekerja pada keluarga ini.
"Ndak apa-apa. Semakin banyak semakin bagus to," kata buk Indun. Pengasuh Daffa dan Nathan sejak masih kecil, namun karena dia tidak punya keluarga sampai sekarang bu Indun masih bekerja di sini.
Natalia hanya bisa tersenyum cangung. Melihat Rianti yang semangat meminta cucu padanya. Entahlah, apa jadinya kalau mereka semua tau. Jika pernikahannya dan Nathan hanya kerena kesepakatan dan rasa iba saja.
"Hehehe...." Natalia hanya bisa tertawa sumbang dan mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Menatap Rianti dengan cangung luar biasa. Ingin rasanya dia lari dari sini.
"Nanti dong ma. Baru aja kita nikah. Nanti kalau udah waktunya Nathan kasih mama cucu gemuk dan gembul," kata Nathan menyelamatkan Natalia. Dia kemudian duduk di samping bangku dekat istrinya.
Tidak lama Rama datang dan duduk. Melihat kesekeliling dan menyadari jika Daffa tidak ada. Biasanya anak sulungnya itu selalu nomor satu kalau ke meja makan.
"Daffa mana?" tanyanya.
Rianti malah menatap Nathan. Dia tau jika Nathan sedang kesal pada Daffa. Mungkin kerena ulah mereka juga yang mau cepat-cepat punya cucu.
"Jemput abangmu, Nat," katanya pada Nathan. Sekarang hanya Nathan yang tau di mana Daffa bersembunyi. Mungkin karena ikatan anak kembar.
Kembar tidak indentik ini selalu bisa menemukan saudaranya yang bersembunyi. Walupun mereka tidak pernah mengakui jika mereka kembar. Ikatan batin itu tidak bisa di sembunyikan.
Nathan bangkit dari duduknya. Sebelum pergi dia malah mengambil kesempatan untuk mengecup pipi Natalia lagi. Natalia tidak bisa berbuat apa-apa karena ada orang tua Nathan. Padahal dia ingin sekali menendang bokong Nathan.
Sementara itu Daffa sedang meringkuk kedinginan dibawah rumah pohon. Hari mulai gelap, tapi dia takut di hajar Nathan.
"Kenapa cuman gue yang kena getahnya, yang pingin gumpalam lemak kan mama, papa juga. Hedeh mana dingin lagi. Mau pulang gak berani," katanya sambil menepuk nyamuk yang hinggap di badannya. Menggosok lenganya yang tidak mengunakan baju.
"Makanya lo jangan iseng," kata Nathan dari belakang dan menyelimuti tubuh Daffa dengan jaket kesayangan. Nathan emang galak minta ampun, tapi dia sayang Daffa. Begitu juga Daffa, dia sangat menyayangi saudara kembarnya itu.
"Adek...,"
Dafa langsung memeluk kaki Nathan penuh haru. Kalau sudah seperti ini, adiknya itu sudah memaafkan perbuatan.
"Hua... lama banget datangnya. Banyak nyamuk nih. Udah di gigitin," katanya sambil terus memeluk kaki Nathan.
Buk....
Nathan malah memukul punggung Daffa keras. Sampai Daffa terbatuk.
"Ada nyamuk. Gede banget." Nathan dengan santainya meninggalkan Daffa.
"Adek tunggu abang," katanya mengejar Nathan yang lebih dulu pergi.
"Najis."
"Gue lebih cinta lo."
******
Selesai makan malam Nathan dan Natalia langsung kembali ke kamar mereka. Takut di minta cucu gembul dan gemuk.
"Ai jangan jauh-jauh napa," kata Nathan protes karena Natalia duduk menjauh darinya.
"Gue gak mau dekat-dekat lo. Lo aneh, tanhanya gak bisa diam."
"Cuman mau meluk aja Ai. Tangan gue diam kok. Suer!"
"Lo gak bisa dipercaya. Gue gak mau dekat-dekat."
"Yah Ai. Gue pingin ciuman, gak cuman kecupan. Lo tau gak Ai ciuman itu ada bermacam-macam. Lo pasti gak tau kan. Jomblo sih." Nathan mulai mengejek Natalia m kalau bersama Natalia saja dia banyak berbicara. Kalau dengan orang lain dia itu dingin dan biacara seperkunya. Namun hal itu yang banyak membuat banyak wanita mengejarnya.
Semua wanita itu akan berakhir patah hati. Memang wanita itu makhluk aneh dan sulit dimengerti. Sudah tau yakitin tapi malah jatuh cinta.
"Emang iya?" Natalia mulai penasaran. Bagaimana dia itu adalah wanita muda yang sangat penasaran pada hubungan percintaan. Selama jni dia tidak punya waktu untuk diri sendiri.
Natalia yang tinggal bersama ayah dan ibu tirinya. Hidup menderita, diabaikan bahkan kebutuhan dasar Natalia saja harus di cari sendiri.
Terlebih lagi, ibu tiri dan saudara tirinya harus dilayani layaknya ratu. Kalau tidak ayahnya akan marah dan memaki-maki dirinya. Dia sibuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mancari uang untuk kebutuhan dirinya.
Tamat SMA saja sangat sulit untuknya. Untung aja Natha membantunya secara ekonomi. Natalia dan Nathan sekolah di sekolah yang sama. Sekolahnya bertaraf Internasional. Sehingga butuh banyak biaya. Namun untuk uang sekolah orang tua Nathan yang membayar semuanya termasuk uang buku dan praktek. Namun dia tidak enak kalau harus meninta lagi untuk kebutuhan lainnya.
Karena itu Natalia juga menjadi guru private dan mencari pekerjaan lainnya. Sekarang dia jugabekerja di coffe shop milik Natha dan Daffa sambil kuliah.
"Dulu gue bilang lo gak percaya. Sekarang penasaran," kata Nathan kesal.
"Kalau lo yang bilang mana percaya gue. Lo juga gak punya pacar, malah aneh kalau gue percaya begitu aja. Kalau Daffa baru gue percaya dia kan banyak ceweknya."
"Gue juga tau Ai. Gue kan non... eh gak ada."
"Lo kenapa? tadi mau bilang apa."
"Gak jadi Ai. Pokonknya gue tau, tanpa harus punya pacar."
"Iya lo tau dari mana biar gue juga percaya. Kalau bukan dari sumber terpercaya gue gak mau percaya, takut hoax."
Sekarang Nathan malah bingung menjelaskannya. Masa ngaku kalau dia pernah melihatnya di film yang khusus. Memang laki-laki pasti melihat hal itu walaupun tidak terus menerus. Mungkin hanya melihat karena penasaran atau ajakan, tapi dia malu mengakuinya pada Natalia.
"Dari mana Nat?"
Natalia semakin penasaran karena Nathan hanya diam dan tidak mau menjawab pertanyaan darinya.
"Dari Daffa, iya dari Daffa."
Daffa malah kena sasaran fitnah lagi. Sungguh lasian sekali abang kembar Nathan itu. Walaupun dia punya banyak temen cewek, tapi sebenarnya dia juga jomblo abadi. Si kembar yang tampan tapi apes kalau soal percintaan.
"Oh iya. Kalau Daffa sih pantes tau kayak gituan," kata Natalia. Padahal Daffa tidak tau apa-apa. Sekarang malahan dia sedang mengoleskan lotion ke tubuhnya yang habis digigiti nyamuk. Sungguh kasihan.
"Ayolah Ai sini dekat-dekat gue. Sini gue pingin peluk lo. Jangan jauh-jauh napa."
"Nat, jujur gue geli banget kalau dekat-dekat lo. Rasanya kayak aneh aja."
"Makanya sini. Biar sama-sama belajar. Ai gue udah gak mau mikirin kesepakatan. Gue juga udah robek surat perjanjian kita. Gue harap juga lo mau lakuin hal yang sama."
Setelah bujuk rayu dari Nathan. Akhirnya Natalia mau mendekat dan dipeluk oleh Nathan.
"Ai mama minta cucu loh. Lo tau kan harus apa?" kata Nathan memeluk Natalia kuat sehingga tidak bisa kabur lagi dari dirinya.
"Nathan..." Natalia berteriak hingga bergema keseluruh kamar mereka.
malam pertama dengan sahabat
(18+)
5. Bukan lapar yang biasa.
Natalian benar-benar pusing bagiamana menghadapi sifat Nathan sekarang. Jujur dia geli, bingung, tapi juga penasaran. Sejak dia dan Nathan sudah melakukan hal itu. Dia jari merasa Nathan sangat berbeda.
Natalia juga takut. Nathan hanya sedang terbakar hasrat saja. Sehingga saat dia bosan, Nathan akan meninggalkan dirinya. Sementara dirinya sudah terlanjur terikat pada sahabatnya itu.
Padahal dia tidak tau saja. Alasan Nathan menikahin dirinya. Bukan hanya karena iba, namun juga karena ada perasaan. Daffa-lah yang tau semua itu.
Sehingga dia nekat mencampurkan obat perangsang pada makanan mereka. Daffa ingin membantu saudara kembarnya itu untuk menadapatkan wanita yang dia cintai. walaupun akhirnya dia, ingin digebuki oleh Nathan.
"Nat gue laper. Bau parfum lo makin buat gue laper banget," kata Nathan dengan mata sayu karena hasrat, namun Natalia tidak paham.
"Kan baru makan tadi Nat."
Natalia merasa aneh, baru Beberapa jam lalu mereka makan malam. Masa Nathan sudah lapar lagi. Apalagi Nathan mulai menyandarkan kepalanya pada dada Natalia dan menghirup dalam-dalam aroma tubub Natalia.
"Bukan lapar yang itu Ai. Lapar yang satunya lagi, lo mah kagak ngerti. Pala gue mulai pusing nih."
"Lo lapar kok pala lo yang pusing?"
"Gue lapar, tapi yang bisa bikin laparnya hilang cuman lo Ai."
Nathan dengan frustasi mengacak-acak rambutnya. Mata Natalia melotot saat sadar kemana arah lapar Nathan.
"Gak mau. Sakit Nat, gue gak mau lagi."
"Ayolah Ai. Gue janji pelan-pelan gak bakal sakit kok. Lo tenang aja gue gak bakal hilang kendali kayak yang pertama kali."
Nathan malai meraih tangan Natalia dan mencium telapak tanganya lembut. Melihat Nathan yang begitu teriksa akhirnya Natalia setuju untuk menghilangkan lapar Nathan.
Seperti kata Nathan. Kali ini tidak begitu sakit. Sahabatnya itu begitu lembut dan hati-hati.
Mereka benar-benar tenggelam dapat rasa yang baru mereka kenal. Terbang bersama-sama dalam indahnya menyatuan.
Natalia juga mengakui Nathan begitu piawai memberinya kenikmatan dunia. Laki-laki itu benar-benar mampu membuatnya terbang keangkasa.
"Gue takut lo bakal ninggalin gue. Setelah dapat semua Nat, gue takut itu cuman rasa penasaran dan nikmat sesaat aja," kata Natalia mengelus rambut lebat Nathan yang tertidur pulas.
Sahabatnya begitu damai dan tersenyum indah. Laki-laki yang mau menjadi sahabatnya walaupun dia tau kondisi hidup Natalia.
Dia yang begitu tulus membantu dirinya. Bahkan sampai mengorbankan diri sendir. Nathan bersedia menikahi Natalia agar terbebas dari keluarganya.
Dia yang tanpa ragu mengatakan pad ayah Natalia. Kalau dia akan menikahi Natalia dan membawanya pergi dari rumah neraka itu.
*******
"Saya yang akan menikahi Ai dan mambayar semua hutang bapak, tapi dengan syarat kalian tidak boleh lagi menampakan batanh hidup kalian di depan Natalia," kata Nathan dengan lantang saat melihat Natalia berujud di depan Hartono. Memohon agar tidak dinikahkan dengan rentenir yang ada di kampung itu.
Ayahnya terlibat banyak hutang dan tidak bisa membayar. Sehingga meminta Natalia sebagia istri keempat sebagai penebus hutang.
"Anak kecil, kamu bisa apa?" tanya Hartono begitu lantang. Menyangka dadanya di depan Nathan. Menantang sabahat putrinya yang dianggap sebagi pahlawam kesiangan.
"Bisa bayar hutang bapak. Kalau perlu kepala bapak saya bayar juga," jata Nathan tanpa gentar. Dia begitu geram saat melihat kondisi Natalia. Wajahnya begitu sembab, rambutnya kusut dan ada bekas tamparan di pipi sahabatnya.
"Gak usah sombong kamu anak ingusan. Emang kamu sekaya apa," tanya Hartono geram.
"Jauh lebih kaya dari bapak yang bisanya cuman berhutang tidak mampu bertanggung jawab pada anak." Nathan tidak mau kalah.
Setelah itu Daffa juga datang dengan kedua orang tuanya. Rianti langsung memeluk Natalia dan membawanya dalam perlindungan seorang ibu yang lembut.
"Kalian gak usah ikut campur dengan urusan keluarga kami. Pergi sana, pergi!"
"Kami tidak akan pergi. Apalagi ini berusan dengan sahabat putra saya." Rama ikut berbicara. Badannya yang tinggi besar membuat nyali Hartono menjadi ciut. Apalagi wajahnya yang telihat marah.
Rama tidak habis pikir ada seorang ayah yang begitu tega pada anaknya. Hanya karena uang, masa depan putrinya akan hancur.
"Kami yang akan membayar semua hutang itu dan Natalia menjadi bagian keluarga kami," katanya dengan lantang.
"Ok, bawa saja anak tidak berguna itu."
"Suatu saat penyesalan akan menghapiri anda," kaya Rama tegas.
Natalia yang melihat ayahnya lebih memilih uang daripada dirinya. Bener-bener terluka. Padahal selama ini dia sudah melakukan yang terbaik.
Dia tidak pernah meminta apapun selain kasih sayang. Dia juga selalu menerima cacian dan makian ayahnya. Sekarang dia di buang layaknya sampah.
"Kamu tenang saja sayang. Masih ada kami, sekarang Lia sudah bagian dari kami." Rianti mengusap air mata Natalia dengan lembut lalu membawanya pergi dari rumah neraka. Rama juga ikut menyusul.
Sebelum pergi nathan mendendang jendela yang ada di dekat pintu masuk hingga pecah. Tidak memedulikan makian dan teriakan pemilik rumah.
"Nangung," kata Daffa kemudian menendang jendela sebelah kiri hingga pecah.
Selaim kehilangan seorang putri. Hartono juga kehilangan dua buah jendela karena tendangan si kembar.
Dari situlah awal mulanya perjanjian Nathan dan Natalia. Mereka menikah karena kondisi Natalia. Satu lagi yang membuat Natalia merasa pernikahannya dengan Nathan hanya karena kesepakatan. Adalah kondisi nenek Nathan yang sakit dan meminta cucunya untuk segera menikah.
Kebetulan Natalia dekat dengan nenek Nathan. Nenek juga sangat menyukai Natalia. Sehingga dia tidak tau kalau ada maksud lain selain kesepakatan.
*****
"Ai kok lo nangis. Gue bikin lo sakit," kata Nathan yang tiba-tiba bangun dan mengucek matanya.
"Enggak kok. Gue cuman bangun dan nguap. Makanya air mata gue netes," kata Natalia berbohong. Namun Nathan tau jika Natalia berbohong.
Nathan menyadarkan tubuhnya pada sandaran ranjang dan memeluk Natalia.
" Ai, lo gak usah mikirin apapun. Gue tau lo bingung dan merasa aneh, tapi gue minta lo gak usah mikirin apa-apa. Kita jalanin aja dan mencoba yang terbaik." Pinta Nathan dengan lembut. Berharap Natalia mau melupakan perjanjian mereka dan mencoba hidup baru dengannya.
Natalia juga memeluk erat tubuh sahabatnya. Berdoa semoga keadaan tidak pernah berubah.
"Ai mau tidur lagi atau lanjut, hehehe...,"
"Nathan mah. Pikiran lo gak waras mulu. Pingin gue gebukin."
Natalia kemudian mengambil bantal dan memukuli Nathan. Mereka kemudian tertawa bersama-sama.
Sementara itu Daffa masih dengan menderitanya mengobati badannya yang masih bentol-bentol kerena gigitan nyamuk. Sungguh ngenes sekali nasibnya.
Padahal dia paling berperan penting dalam pernikahan Nathan dan Natalia. Dia yang bolak-balik ngurus surat-surat. Dia juga yang membawa orang tuanya ke rumah Natalia, sementara Nathan pergi tanpa persiapan.
Daffalah yang mejadi ibu peri untuk mereka berdua, tapi dia ibu peri yang nasibnya ngenes.