Aku Psyche. Bukan. Bukan Psyche yang kalian kenal itu, berparas cantik dan molek yang disukai para lelaki. Istri dewa cupid. Aku hanya seseorang penghuni panti jompo di pinggiran kota.
Seperti hari-hari biasanya. Setelah melakukan aktivitas rutin di panti, aku duduk menyendiri di bangku halaman. Berteman hakpen dan bola-bola benang. Merenda, membunuh rasa bosan. Ya, bosan menjadi tua.
Aku selalu menatap keluar pagar besi itu. Saat akhir minggu seperti ini anak-anak sering berkumpul di taman bermain tepat di seberang panti. Begitu menyenangkan bukan. Berlari, berkejaran, menaiki perosotan, bermain bola. Aku ingin seperti mereka.
Tepat, tendangan seorang anak membuat sebuah bola tepat masuk ke dalam pagar panti dan mengenai kakiku. Disusul sosok perempuan berusia sekitar sembilan tahun.
"Nenek bolehkah aku minta kembali bola itu?" pintanya sopan dengan mata menatap bola yang kupegang.
"Tentu saja," sambil menyerahkan bolanya. "Siapa namamu Nona manis?" aku berbasa-basi.
"Leta," jawabnya singkat dengan memamerkan deretan gigi putihnya yang beberapa telah tanggal. Ia mengambil bola kemudian duduk di sampingku.
Aku mengacuhkannya dan kembali melanjutkan merenda topi. Benang merah hati yang aku tarik dari keranjang di samping sepertinya tersangkut. Ah bukan, saat berpaling ternyata Leta memainkannya.
"Apa kau menyukai benang ini?" tanyaku.
Leta menggeleng.
"Aku menginginkan topi itu." Ia menunjuk topi yang belum selesai di tanganku.
"Tentu. Aku akan memberikannya padamu. Datanglah lagi pekan depan, ini akan selesai." Aku tersenyum.
"Baiklah Nenek." matanya berbinar dan tersenyum riang. Lalu ia berlari meninggalkanku. Kulihat ia di seberang sana kembali bermain bola.
Sua. Seorang perawat berwajah manis kini duduk di sampingku. Ia menawari biskuit susu. Aku bergeming.
"Apa hari ini ada keluargaku yang berkunjung?" tanyaku dengan masih mengait benang di tangan.
"Belum Nek," jawabnya.
Memang benar, mereka sudah membuang perempuan tua tidak berguna ini. Sudah hampir satu tahun di sini, tidak sekalipun mereka berkunjung. Aku beranjak dan mengangkat keranjang benang. Aku tidak ingin makan biskuit susu, lebih baik tidur siang.
Kamarku begitu sepi. Aku menatap katil kosong di hadapan. Sebelumnya Moon teman sekamar yang menempatinya. Ia meninggal sebulan lalu dengan begitu mengenaskan. Tubuhnya hangus di halaman panti. Tersambar petir disiang bolong. Benar. Ini bukan istilah yang sering orang-orang gunakan. Bagaimana ada petir disiang bolong bukan? Tapi aku menyaksikan kejadian itu saat merenda.
Moon adalah teman yang baik. Bahkan setelah kematiannya. Dia mengunjungiku tadi malam melalui mimpi dan mengatakan benda berharga miliknya masih tertinggal saat keluarga mengemas barang. Benda berharga itu ia amanatkan kepadaku. Boleh digunakan kapan saja.
***
Seperti janjinya, Leta datang menemuiku akhir minggu. Dia tiba lebih awal dari waktu merendaku. Duduk menanti di kursi halaman panti.
"Selamat siang Nona? Apa kamu lama menungguku?" sapaku hangat.
Dia menggeleng.
Aku memasangkan topi yang diinginkannya. Warna merah hati dengan tambahan pom-pom putih di bagian kiri kanan telinga.
"Kau menyukainya?"
Dia mengangguk kemudian tersenyum tipis.
"Tapi, kamu tampak tidak senang?" tanyaku lagi.
"Aku menyukainya, tapi aku sedang kesal." Leta memajukan bibirnya. Khas anak-anak yang tengah merajuk.
"Aku lelah mengerjakan tugas matematika. Sedangkan ibu selalu memarahiku karena tidak menghabiskan sarapan. Ayah juga, ia sering kali melarang berteriak." Leta bercerita dengan mimik yang masih sama.
"Lalu kamu mau bagaimana?" tanyaku serius.
"Aku ingin cepat besar." Dia menjawab dengan kepolosan.
"Maka dari itu habiskan sarapanmu." celetukku sambil mencubit hidungnya. Ia malah terkekeh.
Setelah kejadian itu Leta selalu berkunjung di akhir minggu. Ia jadi satu-satunya pengunjung tetapku. Dia selalu datang dengan membawa banyak cerita. Berbagai kisah. Mulai dari tempat tinggalnya, kebiasaan sehari-hari, kejadian lucu di sekolah bahkan tidak jarang ia menemaniku makan siang.
Akhir minggu ini juga begitu. Leta mengunjungi tapi, aku tidak menghampirinya di kursi halaman. Sua memintanya langsung ke kamar. Badanku sedikit meriang setelah senam pagi tadi. Ada dua gelas jus melon manis yang disiapkan Sua sebelumnya. Satu milikku satu lainnya untuk Leta.
Leta bercerita seperti biasa. Hari ini ia tampak begitu gembira. Ayah membelikan sepeda baru tuturnya. Tapi, sayang ia belum mahir mengendarai.
Gelak tawa kami memecah keheningan panti. Sebelum jam makan siang seperti ini kamar-kamar kosong. Orang-orang tua lainya sibuk dengan kegiatan panti.
Aku lelah. Jus melon manis yang tersisa sedikit aku tenggak habis. Kulihat gelas leta sudah lebih dulu kosong. Kini ia meminta diri. Pulang lebih cepat dari biasanya, dia ingin segera belajar mengendarai sepeda.
***
Aku berlari dengan girang di sepanjang trotoar. Dari cerita Leta tentu saja aku ingat, tepat di tikungan itu harus berbelok ke kiri, rumah di ujung jalan dengan cat abu-abu. Itu rumahku (sekarang).
Pintu kuketuki keras seakan tak sabar ingin segera masuk. Seorang perempuan muda membukakan pintu, aku mencium pipinya. Kemudian masuk ke kamar dengan riang. Wanita itu kebingungan melihat tingkahku, ia hanya menggeleng.
Kamar ini cukup luas. Ranjang besar berbalut seprei unicorn, meja belajar dengan rak penuh buku dan sebuah lemari baju besar juga. Aku menyukai semuanya.
Kini aku melompat-lompat di atas ranjang. Berguling-guling sesuka hati. Kemudian aku teringat sesuatu, benda berharga milik Moon tertinggal di sana. Di panti jompo yang menyedihkan itu. Setelah menuangkan masing-masing setetes pada gelas jus melon milikku dan Leta tadi aku lupa menaruhnya di mana. Aku tidak ingin kembali ke sana lagi. Karena sekarang Aku telah menjadi anak-anak seperti yang ku inginkan. Ya, Aku menjadi Leta sekarang.
Sedangkan di tempat lain. Panti jompo tepatnya. Aku Psyche (yang tak lain adalah Leta) menangis tertunduk. Aku telah lelah memberontak sejak tadi. Tidak ada satu pun yang mempercayai perkataanku, mereka (para perawat panti) malah menganggapku mengalami delusi. Aku hanya ingin pulang, Ayah Ibu pasti menungguku. Tak apa jika lagi-lagi mereka memarahiku, aku hanya ingin menjadi diriku, bukan nenek tua yang bernama Psyche ini.
Pintu kamar sempit ini dikunci dari luar. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Hanya duduk di atas katil tua, meratapi takdir, sampai akhirnya mataku melihat sesuatu. Di celah ventilasi udara di atas pintu, ada sebuah kotak unik terselip di sana. Aku berusaha menggapai kotak tersebut dan membukanya. Ada dua botol berisi cairan pekat berwarna hijau tua di sana. Satu botol berbentuk bintang dan lainnya berbentuk matahari. Selain itu juga ada selembar kertas buram dengan tulisan ….
Ramuan penukar jiwa. Botol bintang untuk si muda dan botol matahari untuk si tua.
Kemudian Aku Psyche (yang lain) menyeringai.