Surat terakhir dari sahabat
Namaku Raiqa Naura Razeta. Aku sering dipanggil Raiqa. Aku mempunyai teman bernama Aurora Lovania Anderson atau sering dipanggil Vania. Kami berdua sudah berteman sejak berumur 1 tahun. Sekarang kami duduk dikelas 5 SD. Ke sekolah pun kami selalu berangkat bersama.
Sampai hari itu tiba. Ayah Vania mendapat surat pindah dari perusahaannya. Dengan terpaksa Vania harus meninggalkan ku.
"Rai... Maaf yah, aku harus ikut ayahku ke luar kota. Aku janji akan mengirim surat untukmu." Kata Vania sembari air matanya menetes.
"Hiks... Iyaa... Janji yaa... Hiks... Jangan... Lupain... Aku yaa...!" Kataku dengan tersedu-sedu.
Mobil pun melaju kencang meninggalkan kompleks kami. Aku berlari mengikuti mobil sambil berteriak "VANIA!"
Beberapa hari setelahnya...
Setiap hari aku selalu menunggu seseorang yang biasanya selalu membawanya banyak surat. Yap! Pak pos. Tapi entah mengapa selalu tak kunjung datang.
"Iihh! Vania kok enggak ngirim surat sih! Apa jangan-jangan lupa? Tapi dia sudah janji kan!" Kataku ngambek.
"Sayang... Jangan begitu dong, mungkin aja Vania masih perlu membiasakan diri disana atau mungkin sibuk. Raiqa harus sabar dong. Kenapa enggak Raiqa aja yang ngirim surat duluan, Vania pasti akan senang." Kata ibu tersenyum.
"Iya juga ya Bu! Kenapa enggak kepikiran dari kemarin. Makasih ya Bu!" Aku langsung memasuki kamar lalu mengambil secarik kertas bermotif dan mulai menulis.
Keesokan harinya aku dengan ibu pergi kekantor pos untuk dikirim ke lokasi Vania berada. Sama seperti hari biasanya pak pos pun tak kunjung datang jua. Aku mulai kesal saat itu. Tetapi aku juga berharap Vania baik-baik disana.
Tiga tahun kemudian...
Waktu berjalan dengan cepatnya. Suatu hari ketika aku tengah asyik mengerjakan pekerjaan rumah ku, Ayah, Ibu, dan Kakakku mendatangi ku. Sontak aku bingung.
"Sebenarnya ayah agak berat mengatakan ini, tapi ini harus Ayah katakan..." Kata ayah.
"Apaan tu yah?" Kataku penasaran.
"Mulai Minggu depan ayah pindah kerjaan, jadi kalian semua juga harus ikut ayah, dan... Kebetulan lokasinya berada didekat rumahnya Vania!" Kata ayah.
"Beneran yahh?! Asyikkk!" Kataku sambil kegirangan.
"Kok malah senang sih? Aneh!" Kata kakakku sambil mengambil makanan yang ada di tanganku.
"Suka-suka dong! Tapi kok makanan ku di makan sih!Kaka jahat!" Kataku sembari di tertawai oleh ayah ibu ku.
Tunggu aku Vania! Aku ingin mendengar penjelasan dari mu karna Kamu tak kunjung membalas surat ku. Batin ku.
Hari pun tiba untuk kami pindah. Memakan waktu yang cukup panjang untuk sampai di rumah baru kami.
"Ayah! Ayah sudah tau belum rumahnya Vania? Aku mau kesana!" Ujarku pada ayah yang tengah memindahkan barang.
"Iya sayang... Sabar ya, mending Raiqa bantuin ayah." Kata ayah.
"Oke yah!"
Keesokan harinya, ibu mengantar kami untuk masuk ke sekolah baru. Padahal Aku pengen sekolah bareng Vania lagi. Tapi kasihan ibu sama ayah pasti juga punya kesibukan lain pikir ku. Akhirnya aku dan kakakku bersekolah yang jarak dari rumah cukup dekat. Sesampainya di rumah, ayah menghampiri kami yang tengah duduk di ruang keluarga.
"Ayah punya gembira nih" kata ayah.
"Apaan yah?" Kata kak Arumi.
"Ayah sudah tau rumah Vania, jadi in syaa Allah hari Sabtu kita akan kesana..." Kata ayah.
"Hah?! Beneran yah! Alhamdulillah," kata ku sambil melompat kegirangan.
"Tapii..." Sambung ayah. Saat itu aku langsung berlari ke kamarku tanpa mendengar kelanjutan ayah.
"Tapi kenapa yah?" Kata ibu. Ayah hanya menunduk lesu. Di kamar aku menulis di buku diary tentang keseharian ku dan juga rencana ku di hari Sabtu mengunjungi rumah Vania.
Hari Sabtu pun tiba. Raiqa bergegas keluar dari kamarnya.
"Ayah kapan jalannya?" Tanya ku pada ayah yang tengah sarapan.
"Setelah sarapan, sekarang Raiqa sarapan dulu, kalau enggak sarapan enggak di bawa lohh" kata ayah.
"Oke yah!" Kata ku bersemangat. Ibu ku menatap ku sangat aneh hari ini. Seperti ada yang ingin diungkapkan tapi tidak bisa.
Setelah sarapan kami pun segera pergi ke rumah Vania. Perjalanan yang kami tempuh cukup jauh. Di tengah perjalanan, samar-samar aku melihat orang tua dari Vania.
"Yah,itukan orang tua Vania. Berarti itu rumahnya Vania kan?" Tanya ku pada ayah.
"Iya sayang, nanti kita ke sana tapi sebelum itu ada tempat yang harus kita datangin" kata ayah.
Sampailah kami di sebuah tempat. Di sana terdapat papan yang bertuliskan 'pemakaman kaum muslimin'. Pandangan Raiqa tertuju pada mobil yang dikendarai oleh orang tua Vania. Tidak ada seorang anak yang keluar dari mobil itu. Timbul rasa khawatir, cemas, dan bingung.
"Yah, kita mau ke makam siapa?" Tanya ku.
Ayah hanya diam. Semuanya seketika membisu. Sampai akhirnya aku melihat sebuah batu nisan berukir nama AURORA LOVANIA ANDERSON BINTI REZA PUTRA ANDERSON.
"Yah kok namanya sama kayak nama Vania?" Kataku sembari air mata yang mulai berjatuhan.
Mama Vania langsung memeluk ku sambil menangis.
"Maafin Tante ya Rai, tapi inilah tempat terakhir Vania. Maaf Tante tidak memberitahu Raiqa soal penyakitnya Vania, itu karena Vania lah yang melarang Tante untuk tidak memberitahu, dia khawatir kalau Raiqa tambah sedih soal penyakit yang diderita Vania..." Ucap mama Vania.
"Justru Raiqa tambah sedih Tante... Hiks... Vaniaaa!" Aku tak kuasa menahan semua ini.
Kami pun kembali ke rumah Vania. Sungguh terasa sepi sekali. Disini bukan aku saja yang sedih tetapi orang tua Vania lebih sedih daripada aku.
"Raiqa sayang, sebenarnya tujuan utama kami untuk pindah adalah memberi pengobatan yang terbaik bagi Vania, Vania tau akan hal itu. Sesampainya kami disini, penyakit Vania kambuh. Saat itulah kondisi Vania sangat lemah..." Ucap mama Vania menjelaskan kepada Raiqa.
"... Vania juga sedih karena tidak dapat membuat surat, ia tidak sanggup untuk berbohong, maka dari itu ia hanya diam, sampai akhirnya surat Raiqa sampai. Vania menangis membaca suratnya. Maafkan Vania, sayang, Vania tidak bermaksud mengingkari janji kalian, tapi kondisi lah yang membuatnya seperti itu..." Aku masih menangis mendengar tuturan mama Vania.
Akulah yang bodoh, tak tahu kondisi sahabatku sendiri. Maafkan aku juga Vania. Aku menyayangimu.
"Ini surat terakhir dari Vania, Tante juga terkejut ketika mendapati surat didalam tas, sepertinya Vania tau ia akan menghadap sang illahi, ambilah dan sebaiknya Raiqa membaca dirumah" kata mama Vania.
"Iya Tante terima kasih banyak" aku mengambil sepucuk surat, tampak biasa saja tapi sangat berharga untuk ku.
Sesampainya di rumah aku langsung memasuki kamar. Aku mulai membaca kata demi kata.
Assalamualaikum Raiqa cantik, maafkan aku karena tidak bisa berbasa-basi dulu, aku... aku minta maaf karna tidak bisa membuat surat padamu terlebih dulu, dan aku sangat senang sekali kamu mengirim surat, dan akhirnya aku tau kamu pasti akan benci padaku. Maaf aku tidak memberitahu soal penyakit ku. Mungkin ketika kamu baca tulisan ini aku sudah tidak ada di samping mu. Tetap semangat yaa Rai!
Salam manis
Vania uwwu(。♡‿♡。)
TAMAT