BALADA GADIS DESA
Kala mengingat kehidupannya yang silam air mata bu Ani tak sanggup dibendungnya lagi,setiap mengingat masa kecilnya kenapa respon mata nya selalu seperti itu,seperti ada mesin air mata yang terus-terusan bekerja memproduksi dan mengalirkannya langsung ke pipinya yang kini mulai mengkerut,"Ah...sudahlah mungkin ini sudah takdir yang digariskan Tuhan padaku,tentunya takdir Tuhan tak akan pernah salah dan tak akan pernah mengecewakan"gumamnya dalam hati.
bu Ani yang kini adalah seorang penjual soto gerobak kecil di pinggir pertigaan jalan kecil yang tidak terlalu rame di sudut kota surabaya,lamunannya dikejutkan oleh seorang gadis yang memanggilnya untuk membeli soto."Buk mau beli soto,soto ayam nya masih ada?"ah serta merta bu ani langsung kaget dan melihat gadis ayu yang memanggilnya."oh tentu saja non masih ada kok sotonya,mau makan sini atau dibungkus?"tanya bu ani."dibungkus mawon bu,lima belas ribu"jawab gadis itu,dan kemudian dia meneruskan pertanyaannya"mikir nopo to buk jenengan kok nangis"
"boten nopo-nopo non ibu cuma kelilipan tadi"sambil tersenyum bu ani menjawab singkat pertanyaan gadis itu.
Bu ani yang kini sudah menginjak usia enam puluh enam tahun masih lincah memasak dan meracik sendiri soto yang di jualnya,berbekal pengalamannya dari seorang tetangga yang mengajarinya cara mengolah ayam potong dan memasaknya menjadi soto yang lezat,ya... mungkin bakatnya dalam memasak menjadikan apapun yang dimasaknya menjadi lebih lezat dari kebanyakan orang,tak jarang diapun dipuji oleh pelanggannya yang merasakkan kelezatan sotonya.
flash back ke masa kecil bu ani
"Ani!cepat pulang,dirumah banyak pekerjaan jangan main terus"bentak ibunya yang memnggil ani agar pulang dari bermain,saat itu usianya baru 6 tahun dan diusia itu pekerjaannya sudah terlalu berat bagai orang dewasa,pagi-pagi dia harus mencuci popok adiknya yang masih bayi sedangkan ibunya masih bermimpi entah kemana mimpinya,yang jelas dia memperlakukan anak perempuan satu satunya itu seperti pembantu saja.setelah mencuci popok adik, dia harus pergi ke tegalan utk mencari kayu bakar untuk masak sehari-hari.karena di rumah mereka masih menggunakan kayu bakar untuk memasak dan lain-lain.
kemudian kayu bakar itu dibawanya pulang sambil membungkuk bungkuk badannya karena bebannya yang terlalu berat untuk ukuran anak usia 6 tahun,sesampainya dirumah dia langsung menggunakannya utuk memasak air untuk mandi adik bayinya,memang ibunya yang memandikan adiknya tapi sembari ibunya memandikan adik dia langsung bergegas mengambil jagung untuk digilingnya dirumah tetangga,bahkan gilingan jagung pun keluarga mereka tidak punya,padahal, setiap hari membutuhkannya untuk menggiling jagung untuk mereka masak.
kaluarga bu Ani yang tergolong miskin membuat Ani yang baru 6 tahun sudah merasakan kerasnya hidup,ia sering bolos kekolah hanya karena ingin mendapatkan uang dan pergi ke sawah tetangga yang memerlukan tenaga.
pada waktu itu memeang tenaga anak-anakpun tak dipermasalahkan asal mau bekerja keras akan dibayar,tapi masalahnya bayaran yang ia nantikan harus rela ia serahkan ke ibunya untuk biaya kebutuhan sehari-hari.
meratap dan menangus adalah makanan ia sehari-hari,tak jarang ia dan adiknya yang lapar mengais tempat sampah dan menemukan sedikit makanan sisa seperti kulit nangka yang tinggal daminyapun ia makan bersama adiknya yang masih kecil.jalal nama adiknya yang penurut,dan selalu menemani Ani.
hari berganti bulan kemudian tahun setiap hari kegiatannya seperti itu,tak jarang dia di pukul ibunya sampai memerah hanya karena dia memecahkan kendi air,oh...dia berpikir"apakah aku anak tiri"seketika tangisnya pecah tak terbendug.
"mak belikan ani mukena mak,ani mau shalat jamaah di masjid,gak punya mukena"pinta ani kepada ibunya.
"mukena mukena!emangnya kamu bisa sholat?,gak ada uang!ayah mu belum gajian.kalau gajianpun langsung habis untuk keperluan rumah,pinjem teman mu sana!"bentak ibunya.seperti itu kira-kira keseharian ani yang malang, yang sekolah pun tidak tamat SD cuma sampai kelas 3 tidak bisa melanjutkan karena desakan ekonomi keluarganya,juga karena kemalasan ibunya yang tak pernah mau bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.
itulah kenapa saat ini bu Ani selalu menanamkan kepada anak-anaknya,apapun keadaanya jangan malas,"jangan malas biar hidupmu tercukupi.supaya kamu tidak menderita seperti ibu dulu".itulah pesannya selau diulang-ulang.
dengan penuh tekat ketika usia ani mencapai 16 tahun,iapun berfikir untuk meninggalkan rumah dan pergi ke kota untuk mencari pekerjaan,diapun pergi kerumah temannya,Siti.untuk menanyakan apakah ada pekerjaan dikota untuknya.kebetulan siti adalah teman satu kampungnya yang juga sudah bekerja di sebuah pabrik kerupuk di kota surabaya.
"assalamualaikum,sit...siti..." suara Ani memanggil sahabatnya di teras rumah siti sore itu.
"waalaikum salam" jawab siti dari dalam rumah setelah beberapa saat mendengar namanya di panggil oleh suara yang sudah dikenalnya."ah itu Ani"gumamnya dalam hati.
"ah...kamu An sudah lama tak bertemu,kamu tambah cantik sekarang,aku jadi iri lo sama kamu"puji siti kepada ani
"gak juga sit...kamu muji atau menghina nih..?"jawab Ani
sontak mereka berdua tertawa terbahak hingga hampir hilang semua beban di hati Ani yang selama ini melingkupinya.
"Sit aku kesini mau tanya sama kamu,apakah di pabrikmu tempat kamu bekerja ada lowongan kah buat aku?"tanya Ani
"aku cape tinggal didesa terus,setiap hari terus bekerja tapi uangpun tak ada,aku ingin seperti kamu,bekerja keras pegang uang dan banyak teman" Ani meneruskan
"lo gimana maksutmu,kamu kan setiap hari kesawah,bagaimana uang tak terkumpul sih?tanya Siti heran.
"lah kan kamu tau sendiri makku gimana,setiap aku bekerja selalu beliau yang ngambil gajiku,aku tak pernah menerima sepeserpun,padahal aku sudah capek,pergi ke ladang mulai subuh hingga maghrib,tapi pas aku minta gajiku ke umi katanya gajiku hari ini dan seminggu kedepan sudah diambil makku,"pungkas Ani
mendengar cerita Ani,mata Siti pun berkaca-kaca,dalam hatinya iba melihat sahabatnya itu diperlakukan seperti itu.tapi dia tak tega memperlihatkan rasa ibanya didepan Ani.dia takut Ani akan menangis.
"iya,insya Allah ada lowongan di pabrikku,besok sore aku mau balik ke surabaya.kamu jangan lupa ya siap2 dan temuin aku besok didepan gang. jangan lupa bawa baju ganti juga."
"baiklah terimakasih Sit,tapi...hmmm..."Ani menimpali
"tapi apa an...?tanya Siti
"tapi tolong jangan bilang ke mak bapakku ya kalau aku mau ke kota sama kamu,nanti mereka pasti marah dan tak mengizinkannya.please...ya sit please..."rengek Ani
"ok baiklah terserah kamu aja,aku cuma mau kamu bahagia."pungkas Siti.
Sore itu kala sang surya sudah mulai memerah mereka pun bertemu di gang tempat mereka janjian,mereka bersama2 berjalan menyusuri jalan desa yang kanan kirinya terdapat hamparan sawah yang luas,sudah agak sepi tapi mereka sudah terbiasa dengan hal itu.
ya mereka sahabat baik,Ani dan Siti,mereka tinggal bertetangga agak jauh,di desa pacet Mojokerto.dari kecil kehidupan didesa memang agak keras,keseharian orang2 di sana adalah bertani dan berladang,jika tidak punya sawah,mereka harus bekerja buruh tani di sawah orang lain dengan gaji yang tak seberapa,ya...kadang cukup untuk keperluan sehari-hari tapi seringnya kurang.karena jumlah anak yang mereka miliki terlalu banyak,sehingga kebutuhan untuk makanan,pakaian,dan lain-lain kadang harus mengutang ke tetangga.
Ani termasuk anak dari orang yang tak berpunya,tak punya sawah,tak punya ladang,cuma rumah sepetak yang dihuninya bersama kedua orang tuanya dan keempat adik juga dua kakak laki-lakinya.Ani adalah anak perempuan tunggal di keluarganya,ya seharusnya dia jadi anak istimewa yang disayangi semua anggota keluarga,tapi nyatanya...
hari sudah malam saja,tak terasa sudah tiga hari dia tinggal di sini,dikos tempat temannya Siti,bukan tempat tinggal siti,tapi kos tempat tinggal temannya Siti,Surti.karena Siti sudah menikah dan dia tinggal di kos yang berbeda bersama suaminya,Ani tidak mau mengganggu siti.alhasil dia memilih tinggal di kosan Surti agar tidak sungkan dan terlalu merepotkan Siti.bunyi diperutnya semakin keras saja,dia selalu mengganjalnya dengan air yang ada di dalam teko,sudah beranjak tiga hari dan dia belum makan apapun sejak sampai di surabaya,ya perutnya terasa lapar,tapi apalah daya uangpun dia tak ada,Ani sengaja tak mengatakan ini pada Siti kalau dia tak membawa uang sepeserpun dari rumah.oh...perutnya bunyi lagi tanda makanan harus segera mengisinya.
"kamu gak istirahat An,ayo ngasoh dulu makan siang nanti dilanjut lagi.jangan ngoyo ah kalau kerja lagian yang kaya bos kita,heheheh" ajak Arman
"sebentar man,tanggung.sedikit lagi selesai.nanti kalau ini kelar kan aku sendiri yang enak nanti"pungkas Ani
"sini aku bantuin deh.."pinta Arman
"gak usah lah..kamu makan dulu sana nanti aku susul"bentak Ani
"ah kalau makan sendiri mana enak...,aku pingin ada cewek cantik yang nemenin aku makan dong..."sanggah Arman
"ih...apaan Man...man..."sahut Ani
Memang Ani menyadari sejak pertama kali dia datang ke pabrik ini Arman lah yang selalu memberi perhatian lebih kepadanya,dari soal makan,Arman sering membelikan untuk Ani.padahal sama-sama pekerja kasar pabrik kerupuk tentunya gaji Arman tak seberapa,tapi dia selalu berusaha memberi perhatian untuk Ani,dan itu membuat dada Ani sesak bila memikirkannya.
karena dia tau Arman pun sebenarnya juga kekurangan karena dia punya tanggungan orang tuanya yang sudah tua yang ada didesa untuk hidupinya.
Tak hanya Arman banyak laki-laki di pabrik itu yang kepincut dengan kecantikan Ani.memang Ani cuma gadis desa tapi kecantikannya tak kalah dengan gadis-gadis lain dari kota.badannya langsing hampir bagai gitar spanyol,kulitnya yang putih mirip kulit gadis tiongkok.juga perawakannya yang lembut ditambah wajahnya yang ayu khas perempuan desa.menambah lengkap kecantikannya yang membuat banyak mata kaum adam tergoda olehnya.di pabrik itu dialah primadona setelah kehadirannya.
"teman-teman ada pilihan lurah ,mana nih yang dipilih..."ledek sita teman sekamar Ani
"kayaknya si Arman say..."balas Indah teman sekamar Ani juga
"masa to pilih Arman ndah,kan ada yang lebih tampan dan kaya koh Lim dong..."sita menambahkan
"ah sudah lah,sudah jangan ngeledek gitu ah,kita kan belum ada hubungan apa-apa"jawab Ani malu-malu
"ya kita lihat saja nanti yang ngelamar duluan siapa nih.."Sita meneruskan.ditengah candaan mereka itu tiba-tiba terdengar pintu diketuk seseorang.
tok tok tok"siapa" tanya sita
"Arman"jawab suara dari liar pintu
huuuu.......sontak gadis gadis itu bergumam pada Ani.
Sita membuka pintu dan menyuruh Ani keluar,"ada apa Man?tanya ani
"keluar yuk jalan-jalan,mumpung masih sore"ajak Arman
setelah berfikir beberapa saat,Arman meneruskan ajakannya
"sudah..jangan banyak mikir gih ganti baju".Ani hanya tersenyum tipis dan bergegas masuk kedalam untuk ganti baju.
hari ini adalah peringatan seribu hari meninggalnya suami bu Ani,Arman,dia sudah sibuk seharian di dapur bersama kedua menantunya dan seoranga anak gadisnya di dapur untuk mempersiapkan sajian acara pengajian.mendiang pak Arman meninggalkan 3 anak.2 laki-laki Danu dan Dian,juga 1 anak perempuan yg masih gadis Puji namanya,kedua anak laki-lakinya sudah menikah dan dukaruniai masing-masing 1 orang anak.dititik ini bu Ani merasa sangat bersyukur karena dikaruniai anak dan menantu yang berbakti juga kedua cucu yang sangat lucu.
sepeninggal Arman kini bu Ani harus berjualan soto untuk menyambung hidupnya,walaupun anak-anaknya bersedia menanggung hidup bu Ani,tapi beliau merasa masih kuat bekerja dan tak mau membebani anak-anak nya.itulah prinsip bu Ani sedari dulu.selagi masih bisa berjuang sendiri beliau tidak akan mau merepotkan orang lain,termasuk anak-anak nya sendiri.
hingga pada suatu saat beliau dikejutkan oleh pelanggan yang dikenalnya di masa lalu.bu Ani tak menghiraukan saat mobil Alphard keluaran terbaru tiba-tiba parkir di depan warung sotonya yang kecil.dia bergumam dalam hati"tumben kok pengemudi Alphard mau parkir disini,apa mau nitip mobil,emang mau makan disini?hati bu Ani bertanya-tanya.setelah selesai parkir ada seorang om om berwajah oriental masuk ke warung bu ani."buk soto satu makan disini"seketika mata mereka beradu pandang,sejenak bu Ani berfikir.lalu om om berwajah oriental itu langsung mengenali bu Ani."Ani..kamu Ani kan"kata om oriental itu."ya Allah...koh Lim ya?"tanya bu Ani."loh An kamu jualan disini to,kok aku baru tau ya...?koh Lim meneruskan.kemudian pembicaraan mengalir begitu saja.
Sejak hari itu koh Lim sangat sering main kerumah bu Ani,hanya sekedar membelikan makanan,mengajak jalan-jalan tapi tentunya ditolak oleh bu Ani,karena beliau masih sungkan dengan tetangga karena status jandanya.alhasil mereka hanya ngobrol sebentar di teras rumah dan buru-butu disuruh pulang oleh bu Ani.
"kamu ingat gak An,aku dulu sempat mau ngelamar kamu,tapi...kalah cepat sama Arman."kata koh Lim
bu Ani hanya mengangguk pelan
"hah,tau dari mana?"koh Lim kaget dengan anggukan bun Ani.
"dari Sita,dia yang bilang"bu Ani menjawab
"Ya ampuuuun...terus kenapa kamu menikah dengan Arman,bukankah kamu ada hati denganku?desak koh Lim
"kamu bilang akan menungguku,dan kita akan sama-sama mencari restu dari mama,tapi kenapa?koh Lim meneruskan pertanyaannya.
"terus Sita,kenapa dia tak mengatakannya padaku kalau kamu sudah tau?aku bahkan menitipkan cincin merah delima padanya untukmu,supaya kamu menungguku.katakan An.Jelaskan!"
kata koh Lim dengan marah.
Bu Ani tak berkata apa-apa,kemudian beliau masuk ke kamar beberapa saat,kemudian keluar lagi dengan membawa cincin merah delima.
"inikah cincin nya?tanya bu Ani
"Ah...kamu masih menyimpannya,An?tanya Koh Lim
"aku menyimpan kenangan ku hanya sebagai kenangan,pada waktu menikah dengan Arman aku belajar keras melupakan anda,karena kesabaran dan cinta Arman yang besar terhadapku akhirnya aku sedikit demi sedikit tidak memikirkan anda,dan aku berhasil hingga sekarang"jelas bu Ani.
"anda tidak berhasil membujuk mama anda koh,saya kaum yang tak berada tak berani bermimpi menjadi menantu konglomerat.kemudian anda di asingkan keluar negri dengan alasan study,maka saya tau itu hanya cara untuk memisahkan anda dari saya yang hanya pipik tak berpunya"sejenak bu Ani terdiam,lalu kemudian meneruskan perkataanya"tapi saya harus terus menjalani hidup,biarlah cinta hanya dihati saja,demi orang tua saya,adik-adik saya dan yang lain yang mencintai saya."
"ya Tuhan...maafkan aku An,aku pikir kamu sudah tak mencintaiku lagi,sepulang dari Australia aku langsung ke kosan kamu dulu,tapi mereka bilang kamu sudah menikah dan pindah ke Semarang,kampung tempat tinggal orang tua Arman,dan akupun marah sejadi-jadinya,sejak saat itu aku tak percaya dengan cinta,mama sering mengenalkan aku dengan gadis-gadis cantik,tapi pikiran ku terus ke kamu.maafkan aku"pungkas koh Lim
"sudahlah koh,sekarang koh Lim sudah tau kenyataanya,dan marilah kita hidup di masa tua dengan tenang,koh Lim bisa mencari wanita yang sederajat dengan anda dan menikahinya kemudian hidup bahagia bersama istri dan cucu-cucu yang lucu seperti saya sekarang"kata bu Ani
"TIDAK"tolak koh Lim tegas
"sampai saat inipun aku masih memikirkanmu dan tak bisa melupakan.untuk saat ini biarlah hatiku yang kuperturutkan,aku melamarmu hari ini.maukah kau menikah dengan ku?"tanya koh lim dengan bersungguh-sungguh.sesaat keduanya terdiam kemudian lanjut koh Lim "aku beri waktu kamu satu bulan untuk memikirkannya,aku kira itu waktu yang cukup.dan aku berharap kamu tak menolakku,cintaku sama seperti lima puluh tahun yang lalu,dan kamu harus percaya itu.bulan depan aku akan kesini lagi dan mendengar jawabanmu"ungkapnya kemudian.
"bukan begitu koh...kita kan sekarang sudah tua mana bisa to..."sanggah bu Ani yang saat itu hati nya sedang kacau balau karena penjelasan koh Lim,dia malu dia bingung juga tak tau harus berbuat apa.di usia yang sudah tua ini harus mengatakan hal-hal yang biasanya hanya dikatakan anak muda."aduh...gmn ini"gumam bu Ani lirih.
satu bulan ini bu Ani banyak melamun,perkataan koh Lim sangat mempengaruhi mood nya,di sisi lain dia malu karena sudah merasa tua dan tak ingin direpotkan dengan hal-hal romansa seperti itu.tapi hati kecilnya berteriak kencang dia adalah cinta pertamamu An kamu gak boleh melepaskannya kali ini.ingat betapa kamu menginginkannya dulu,kamu mencintainya lebih dari hatimu sendiri,bahkan Arman yang super perhatian pun kalah dengan kharismanya waktu itu.kenapa kamu sekarang An.hatinya terus bergejolak,jiwanya tak tenang.beliau lalu bersujud di tengah malam memohon pada Tuhan jalan yang terbaik untuknya.
melihat hari-hari ini ibun
ya agak sering termenung puji pun mendatangi ibunya yang saat itu sedang melamun lagi di teras rumah,dia menggenggam tangan ibunya sambil berkata"bu,puji dan juga mas Danu Mas Dian sudah sepakat untuk setuju dengan pernikahan ibu dengan koh Lim,ibu menikah aja ya..."
"apa nak yang kamu katakan,kamu tau semuanya kah?"tanya bu Ani
"ya tau dong bu,saya mendengar semuanya waktu ibu ngobrol dengan koh Lim,dan aku cerita ke mas Danu dan Mas Dian,dan kita gak ada masalah kok,kita sepakat untuk menyetujui pernikahan ibu dengan koh Lim..."jawab Puji.
"tapi nak kamu kan belum nikah,ibu gak mau ah.."senggah bu Ani kemudian.
ani merasa takjub dengan ibunya yang sampai saat ini pun tak berhenti memikirkan kebahagiaan anak-anaknya,Ani terdiam sesaat kemudian menjelaskan."buk urusan jodoh itu tak bisa ditunda-tunda,kalau sudah waktunya datang,sama-sama suka dan direstui harus segera dilaksanakan.puji ingin ibu bahagia.jangan selalu memikirkan puji saja,puji yakin kok dlm waktu dekat juga menikah,hahahah"puji menjelaskan sambil terbahak.
waktu yang dijanjikanpun datang juga,sekitar pukul 4 sore koh Lim sudah mengetuk pintu rumah bu Ani dan beliaupun mempersilahkannya masuk,dengan ditemani ketiga anak bu Lim dan juga kedua menantunya,koh Lim mengatakan yang sebenar-benarnya sambil berbinar-binar.dia siap ditolak tapi juga sangat berharap untuk dirterima,dengan pelan dan berwibawa dia tulus melamar bu Ani,
"trus gimana An jawabanmu?"koh lim bertanya sambil berdebar dihatinya.
bu Ani tak menjawab nya hingga beberapa saat diapun mengangguk pelan diausul ekspresi kelegaan koh Lim dan seluruh yang hadir disana."Alhamdulillah..."sontak mereka semua kegirangan dan bencengkrama sambil tertawa lepas.
SEKIAN