Sesungguhnya ia bukan bernama Kelana. Itu adalah nama yang disematkan oleh teman-teman sejawat sedari kanak dulu. Dia tak menolak. Bahkan menyukainya. Sehingga ketika ia genap berusia tujuh belas tahun panggilan tersebut ia tabalkan menjadi namanya. Dan kepada orang-orang pun ia memperkenalkan diri dengan nama tersebut. Kenapa teman-teman sejawat memanggil dengan panggilan tersebut, tak lain adalah karena hobi si anak yang suka berkelana.
Dulu dengan sepeda jengki milik almarhum kakek yang dirampas dari serdadu Jepang, ia sering berkelana dari satu kampung ke kampung lainnya. Dia benar-benar menghabiskan waktunya untuk berkelana. Bahkan daripada bermain dengan teman-teman sejawatnya.
Akibat keasyikan berkelana membuat ia lupa kalau ia masih harus menyelesaikan satu kewajiban utamanya sebagai seorang anak. Dia harus menyelesaikan bangku sekolahnya.
Sebenarnya dia bukan lupa tapi ia memang lebih untuk menunda-nunda, bahkan sempat juga terpikir untuk untuk menyudahi begitu saja. Tak pelak hal tersebut membuat bapak menjadi marah.Dengan berang yang teramat sangat, bapak menjual sepeda jengki itu kepada seorang kolektor dari kota.
Kelana, suka tidak suka harus balik ke bangku sekolah--sampai ia berjumpa dengan seorang lelaki paruh baya--pada satu siang yang terik di sebuah warung di pojokan sekolah.
"Paman bukan orang sini ya?" Tanya Kelana melirik dari atas ke bawah berulang. Risih, si lelaki paruh baya melirik balik. "Paman Intel ya?" Tanya Kelana tanpa tedeng aling-aling, mendekatkan mulutnya ke telinga si lelaki paruh baya. Tak pelak si lelaki paruh baya mendelikkan mata.
"Seminggu yang lalu ada seorang lelaki bertato membuat onar di pasar. Dan kemarin si lelaki bertato itu telah ditemukan di tumpukan sampah, dengan sebuah lubang yang mengangga di jidatnya."Kelana menuding ke keningnya.
Si lelaki paruh baya menganggukkan kepala. Isyarat kalau ia memahami maksud dari perkataan Kelana. "Bukan. Saya bukan orang seperti itu. Saya ini seorang musafir." Kata si lelaki paruh baya.
"Musafir!? Apa itu musafir!?" Kelana melirik bingung. "Mirip-mirip seperti seorang ilmuwan!?"
"Seorang pengelana. Orang yang hobinya berkelana." Sahut si Lelaki paruh baya seraya memainkan jari telunjuk dan tengahnya ke permukaan meja, seperti langkah kaki. Kelana manggut-manggut sambil berseru. "Ohhh..."
"Kamu gak sekolah?" Si lelaki balik bertanya. Kelana menggeleng kecil. "Kenapa? Telat? Atau bolos?" Selidik si lelaki paruh baya.
"Keduanya," sahut Kelana sekenanya.
"Sepertinya sudah kamu rencanakan sedari di rumah ya?" Si lelaki paruh baya terkikik. "Aku gak tahu kenapa aku harus bersekolah!" Sungut Kelana. Si lelaki paruh baya mengangguk lagi. "Tak satupun pelajaran itu yang aku sukai." Ucap Kelana.
"Kamunya sukanya bermain?" Tanya si lelaki paruh baya. Kelana menggeleng. Si lelaki paruh sedikit kaget dengan gelengan kepala tersebut. "Kalau bukan bermain, lalu apa!?" Tanya si lelaki paruh baya penasaran.
"Bersepeda." Sahut Kelana. "Lah sama aja," Kekeh si lelaki paruh baya. Kelana mendelik bingung. "Maksudnya?"
"Kamu sukanya bermain sepeda," si lelaki paruh baya menuding pelan ke dada Kelana. Kelana menggeleng resah. "Saya bukan bermain! Saya belajar!"
"Belajar!? Belajar apaan!? Belajar naik sepeda?!" Tanya si lelaki paruh baya seraya menyeruput secangkir kopi yang sedari tadi ia diamkan. "Saya belajar tentang apa saja," kata Kelana lugas. "Kasih saya contoh," sahut si lelaki paruh baya.
"Yang gampang saja, saya itu tahu jalan potong dari sini ke rumah saya sementara teman-teman saya tidak tahu, iya meskipun harus melewati kuburan." sahut Kelana. Si lelaki paruh baya manggut-manggut.
"Dan ternyata di areal pekuburan itu telah di makamkan seseorang tokoh besar. Yang mana ibu dan bapakku saja, orang yang lahir dan besar di kampung sini, tidak tahu kalau tokoh lokal itu di makamkan di areal pekuburan tersebut. Coba Paman bayangkan..." Kata Kelana dengan bangga.
"Siapa?!" Tanya si lelaki paruh baya penasaran. "Almarhum Haji Nawi Harahap." Sahut Kelana menunjuk ke arah jalan. Adapun maksud dari tudingan tangan Kelana tak lain dan tak bukan hendak menyatakan kalau nama jalan ini sesungguhnya ditabalkan untuk menghormati jasa besar tokoh tersebut. Jalan yang sekarang menghampar di hadapan mereka.
Si lelaki paruh baya mengangguk-angguk kagum. "Selain itu pelajaran apa lagi yang kamu dapat!?" Tanya si lelaki paruh baya penasaran.
"Iya yang seperti kita lakukan sekarang," Kelana menunjuk ke dirinya dan ke si lelaki paruh baya secara bergantian. "Maksud kamu?" Tanya si lelaki paruh baya bingung.
"Ilmu berbicara. Kalau kata anak kuliahan ilmu komunikasi." Sahut Kelana santai. Si lelaki paruh baya cengar-cengir.
"Jadi, bapak percaya kan kalau pengetahuan itu tidak cuma ada di sekolahan!?" Tanya Kelana membulatkan matanya. "Sembilan puluh sembilan puluh sembilan persen saya setuju!" Si lelaki paruh baya mematukkan mulutnya. Kelana tersenyum bangga. "Akhirnya ada juga yang menyetujui pendapat saya setelah sekian lama."
"Dulu, saya juga seperti kamu. Meski cara dan maksud-tujuannya saja yang berbeda," ucap si lelaki paruh dengan pandangan mata yang terarah ke jalan besar. "Maksud bapak?!" Tanya Kelana.
"Kamu bersepeda, saya cuma menggunakan ini," dengan sedikit agak keras si lelaki paruh baya menepuk pahanya. "Bapak berjalan kaki?!" Kelana membelalak tak percaya, kaget dia.
Si lelaki paruh baya mengiyakan.
"Hebat!" Kelana mengacungkan kedua jempol tangannya, sorot mata Kelana menunjukkan kekaguman yang teramat sangat. "Biasa saja," sambil tersenyum kecil si lelaki paruh baya mengibaskan tangannya.
"Terus apa maksud tujuan bapak!?" Tanya Kelana menindaklanjuti. Si lelaki paruh baya mendengus panjang."Semua ini saya perbuat ketika saya berumur dua belas tahun. Bisa dibilang masih seumuranlah dengan kamu," Si lelaki paruh baya menyeruput kopinya yang telah dingin. Kelana mengangguk kecil.
"Maksud dan tujuan saya cuma satu dan memang cuma satu-satunya itu..." Lanjut si lelaki paruh baya. "Apa!?" Kelana penasaran. "Saya ingin menyusul bapak." Ujar si lelaki paruh baya.
"Maksudnya!?" Selidik Kelana.
"Hari itu tepat di hari ulangtahun saya yang ke sebelas tahun dua orang lelaki berbadan tegap datang menjemput bapak. Kata mereka bapak mau diajak merantau ke kota." Kata si lelaki paruh baya.
"Oh..." Kelana berseru seraya mengangguk-anggukan kepala. Si lelaki paruh terdiam seraya melirik ke Kelana. "Biar masih umur segini saya juga tahu apa maksud dari omongan bapak ini." Kata Kelana menunjuk ke dadanya.
"Maksud kamu," ucap si lelaki paruh baya.
"Sebenarnya saya juga sedang mencari seseorang. Dia, adik lelaki ibu saya. Sampai hari ini dia belum balik ke rumah. Dia menghilang tanpa jejak. Tapi kata orang, waktu berjalan di pasar, ada dua orang lelaki berambut cepak yang mengapitnya di kanan dan kiri kemudian membawanya pergi. Paman saya itu, kata bapak saya, orang pergerakan." Tutur Kelana. "Dia punya hobi juga sama dengan saya berjalan-jalan keliling kampung."
Si lelaki paruh baya mendengus panjang. "Saya juga berjanji, kalau nanti umur saya tujuh belas tahun saya akan mencari paman saya." Kata Kelana mantap. "Maka dari itu saya berpikir buat apa saya sekolah toh impian saya itu cuma satu dan memang cuma satu-satunya itu, membawa balik Paman saya." Tegas Kelana.
Dan hari ini, tepat dikala usianya genap lima puluh tahun, Kelana juga masih berkelana. Kelana juga masih punya cita-cita yang sama. Sebelum mengakhiri perbincangannya dengan lelaki paruh baya Kelana sempat berjanji untuk membantu si lelaki paruh baya.Ketika mereka memutuskan diri untuk menyudahi percakapan tersebut, tampak langit sudah mulai menua dan urung-burung dara, secara berkelompok-kelompok, berlomba-lomba balik pulang.
Semestinya Kelana pun berbuat seperti itu, berjalan balik ke sarang, tetapi Kelana memilih arah yang berbeda. Sampai hari ini...!