Kamu pasti sudah pernah mendengar tentang segitiga Bermuda. Segitiga ini terbentuk di antara Kepulauan Bermuda, Miami - Florida dan San Juan - Puerto Rico. Segitiga Bermuda masih menjadi misteri dunia selama bertahun-tahun menghilangnya banyak kendaraan kapal yang melintas melewatinya.Kejadian misteri ini kerap terjadi selama ini.
Segitiga Bermuda menopang lalu lintas harian yang padat, baik melalui laut maupun udara.
Segitiga Bermuda adalah salah satu jalur pelayaran yang paling banyak dilalui di dunia.
Garis agonis terkadang melewati Segitiga Bermuda, termasuk periode di awal abad ke-20. Garis agonis adalah tempat di permukaan bumi di mana utara sejati dan utara magnet sejajar, dan tidak perlu memperhitungkan deklinasi magnet pada kompas.
Segitiga Bermuda sering mengalami badai dan topan tropis Gulf Stream —arus laut yang kuat yang diketahui menyebabkan perubahan tajam pada cuaca setempat —melewati Segitiga Bermuda.
Apa kalian tahu ??? Segitiga Bermuda kerap juga dianggap sebagai 'Segitiga Setan'
Selama bertahun-tahun, orang-orang berasumsi mengenai penyebab misteri tersebut misalnya seperti ada yang menyangkut pautkan dengan kejadian supranatural, relijius, ekstraterestrial dan masih banyak lagi.
Segitiga Bermuda adalah wilayah Samudra Atlantik Utara (kira-kira) dibatasi oleh pantai tenggara AS, Bermuda, dan pulau-pulau di Antillen Besar (Kuba, Hispaniola, Jamaika, dan Puerto Riko).
Batas pasti dari Segitiga Bermuda tidak disepakati secara universal. Perkiraan luas total berkisar antara 1.300.000 dan 3.900.000 kilometer persegi. Dengan semua perkiraan, wilayah tersebut memiliki bentuk segitiga yang samar-samar.
Segitiga Bermuda tidak muncul di peta dunia mana pun , dan US Board on Geographic Names tidak mengakui Segitiga Bermuda sebagai wilayah resmi Samudra Atlantik.
Meskipun laporan tentang kejadian yang tidak dapat dijelaskan di wilayah tersebut berasal dari pertengahan abad ke-19, frasa "Segitiga Bermuda"
Frasa tersebut pertama kali muncul di media cetak dalam artikel majalah pulp oleh Vincent Gaddis, yang menggunakan frasa tersebut untuk menggambarkan wilayah segitiga “yang telah menghancurkan ratusan kapal dan pesawat tanpa jejak.”
Ditandai dengan jejak Sejumlah kapal dan pesawat dilaporkan hilang tanpa jejak selama berabad-abad di sebuah area segitiga raksasa yang menghubungkan Bermuda, Florida, dan Puerto Rico: Segitiga Bermuda untuk pertama kalinya.
Christopher Columbus di masa awal penjelajahannya ke Dunia Baru pada 1492, adalah yang pertama mencatat soal anomali di sekitar segitiga imajiner itu.
Ketika Christopher Columbus berlayar melalui daerah itu, dia melaporkan adanya nyala api yang besar (mungkin sebuah meteor) jatuh ke laut pada suatu malam dan sebuah cahaya muncul di kejauhan beberapa minggu kemudian.
Saat kapal-kapal armadanya, "Nina", "Pinta", dan "Santa Maria" melintas Laut Sargasso, Mengenai hal itu Christopher Columbus juga menulis tentang pembacaan kompas yang tidak menentu, mungkin karena pada saat itu Segitiga Bermuda adalah salah satu dari sedikit tempat di Bumi di mana utara sebenarnya dan utara magnetik berada dalam satu garis.
Ia juga melihat cahaya aneh di cakrawala pada 11 Oktober 1492, yang hingga kini belum bisa dijelaskan.
Namun, asal-usul legenda Segitiga Bermuda bisa dilacak 16 September 1950, saat wartawan kantor berita Associated Press, E. V. W. Jones mencatat apa yang ia deskripsikan sebagai serangkaian kejadian "misterius" hilangnya sejumlah kapal dan pesawat antara perairan Florida dan Bermuda di akhir tahun 1940-an.
"'Laut iblis' telah menjebak nasib 135 orang yang terbang atau berlayar di Atlantik dalam beberapa tahun belakangan," tulis Jones seperti dimuat Bernews.com.
Terlepas dari reputasinya, Segitiga Bermuda tidak memiliki insiden penghilangan yang tinggi. Penghilangan tidak terjadi dengan frekuensi yang lebih besar di Segitiga Bermuda daripada di wilayah lain yang sebanding di Samudra Atlantik.
Setidaknya dua insiden di wilayah tersebut melibatkan kapal militer AS. Pada bulan Maret 1918 kapal penambang USS Cyclops , dalam perjalanan ke Baltimore , Maryland, dari Brasil , menghilang di dalam Segitiga Bermuda.
Tidak ada penjelasan yang diberikan atas hilangnya kapal tersebut, dan tidak ada reruntuhan yang ditemukan. Sekitar 27 tahun kemudian, satu skuadron pembom (secara kolektif dikenal sebagai Penerbangan 19) di bawah Letnan Amerika. Charles Carroll Taylor menghilang di wilayah udara di atas Segitiga Bermuda. Seperti dalam insiden Cyclops , tidak ada penjelasan yang diberikan dan tidak ada reruntuhan yang ditemukan.
Jumlah pasti kapal dan pesawat yang hilang di Segitiga Bermuda tidak diketahui. Perkiraan paling umum adalah sekitar 50 kapal dan 20 pesawat terbang.
Puing-puing banyak kapal dan pesawat yang dilaporkan hilang di wilayah tersebut belum ditemukan.
Tidak diketahui apakah penghilangan di Segitiga Bermuda disebabkan oleh kesalahan manusia atau fenomena cuaca.
Dicatat bahwa tidak pernah mengirimkan panggilan darurat SOS meskipun memiliki alat untuk melakukannya.
Sebuah pola diduga mulai terbentuk di mana kapal yang melintasi Segitiga Bermuda akan hilang atau ditemukan terbengkalai.
Banyak sekali artikel-artikel dan majalah-majalah serta pemberitaan tentang menghilangnya para awak kapal yang melintasi segitiga Bermuda seperti
artikel di majalah "Fate" muncul. Penulisnya, George X Sand menceritakan sejumlah insiden misterius hilangnya sejumlah kapal di wilayah tersebut. Penulis, M. K. Jessup juga menyajikan kisah serupa dalam artikel "The Case for The UFO", dirilis tahun 1955 -- yang mengarahkan keterlibatan alien.
Kisah serupa kembali diulang Donald E. Keyhoe dalam "The Flying Saucer Conspiracy" [1955), juga Frank Edwards dalam tulisannya, "Stranger Than Science" [1959].
Hingga akhirnya muncullah Vincent H. Gaddis yang memperkenalkan istilah "Segitiga Bermuda" dalam artikel yang terbit Februari 1964 di Majalah "Argosy", yang berjudul "The Deadly Bermuda Triangle" -- Segitiga Bermuda yang mematikan.
Selama dua dekade terakhir, laut misterius di halaman belakang kita telah merenggut hampir 1.000 nyawa," tulis Gaddis. "Angkatan Laut AS, Angkatan Udara dan penyelidik Penjaga mengakui bahwa mereka bingung. Beberapa petunjuk yang ada hanya menambah kemisteriusannya."
Disusul tulisan Ivan T. Sanderson, "Invisible Residents" [1970] yang menyebut spekulasi bahwa Segitiga Bermuda adalah bukti adanya peradaban bawah laut yang cerdas dan berteknologi tinggi yang bertanggung jawab atas berbagai fenomena misterius. Makin banyak buku soal itu yang ditulis, dipakai inspirasi sejumlah film. Spekulasi pun makin liar.
Tulisan yang relatif masuk akal baru terbuat pada tahun 1975 oleh Larry Kusche, pustakawan Arizona State University. Ia membongkar mitos yang ia sebut sebagai "misteri yang diproduksi" dalam buku "The Bermuda Triangle Mystery-Solved".
Ia menggali bukti arsip seperti rekaman data cuaca, laporan resmi penyelidik, laporan media masa, dan dokumen lain -- fakta yang kerap diabaikan oleh para penulis sebelumnya.
Kini seorang ilmuwan Australia memberikan penjelasan mengenai misteri hilangnya kapal-kapal dan pesawat di Segitiga Bermuda. Penjelasannya tidak berkaitan dengan mistis seperti yang disodorkan teori konspirasi.
Menurut Karl Kruszelnicki dari University of Sidney, hilangnya pesawat dan kapal di Segitiga Bermuda akibat dari cuaca buruk dan kesalahan manusia (human error), seperti dikutip dari Financial Express, Rabu (11/5/2022).
Dalam penjelasannya pada 2017 silam, Karl Kruszelnicki mengatakan Segitiga Bermuda dekat dengan Khatulistiwa, bagian dunia yang kaya dan karena itu lalu lintasnya padat
Ia pun kemudian mengutip laporan Lloyd's of London dan US Coastguard, yang menyebut jumlah orang yang hilang di Segitiga Bermuda sama dengan di mana pun di dunia berdasarkan persentase sehingga tidak ada yang aneh soal itu.
Karl Kruszelnicki pun menjelaskan penyebab salah satu kasus paling terkenal di Segitiga Bermuda, hilangnya Flight-19. Ia menyebut kemungkinan penyebabnya adalah gelombang setinggi 15 meter yang menghantam Atlantik hari itu.
Flight-19 adalah penerbangan lima pesawat yang lepas landas dari Fort Lauderdale, Florida, pada 5 Desember 1945. Anggota Angkatan Laut AS melakukan pelatihan penerbangan normal selama dua jam hari itu ketika mereka kehilangan kontak dengan pangkalan.
Pesawat dan awak menghilang di udara dan tidak ada puing yang pernah ditemukan. Karl Kruszelnicki menyebut salah satu pilot berpengalaman dari Flight-19 adalah Letnan Charles Taylor, yang kemungkinan melakukan human error yang menyebabkan tragedi itu.
Misteri' Segitiga Bermuda' sekian lama menyandera imaji manusia, bahkan hingga saat ini. Sejumlah orang mencari dan mempertanyakannya ke sumber yang tepat dan terpercaya. Salah satunya, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Seperti dimuat dalam situsnya, NASA membantah spekulasi ada kaitan Segitiga Bermuda dan lubang hitam 'black holes'.
"Tidak ada lubang hitam di Segitiga Bermuda. Pada kenyataannya, bahkan tak ada yang namanya Segitiga Bermuda. Banyaknya kasus kehilangan di wilayah itu konsisten dengan yang terjadi wilayah lainnya," demikian jelas Ilmuwan NASA, Dr Eric Christian
Astrobiologis dan ilmuwan senior NASA, David Morrison juga meminta orang-orang penasaran untuk menkaji secara nyata dan fakta. "Bukan fantasi."
Lembaga pemerintah Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) yang mengurus persoalan lingkungan, di antaranya badai dan tsunami, juga pernah menjelaskan tentang Segitiga Bermuda.
Sekaligus membantah sejumlah spekulasi yang berseliweran. "Seperti mahluk ekstraterresterial yang menculik manusia untuk dijadikan kelinci percobaan, pengaruh Atlantis Yang Hilang, pusaran yang menyedot benda ke dimensi lain, dan ide-ide lain yang tak kalah anehnya." Termasuk, soal rumah iblis atau keberadaan piramida di sana.
NOAA menyebut, beberapa dugaan didasarkan pada sains, meski tanpa didasari bukti. Namun yang jelas, "Angkatan Laut AS (US Navy) dan penjaga pantai (US Coast Guard) berpendapat bahwa tidak ada penjelasan supranatural untuk berbagai bencana di laut.
“Hanya Tuhan dan laut yang tahu apa yang terjadi pada kapal besar itu,” kata Presiden AS Woodrow Wilson kemudian