Salah satu sifat alamiah manusia adalah merasakan apa itu yang namanya cinta. Cinta kepada Tuhannya, cinta kepada makhluk lain ciptaan-Nya, cinta pada orang tua, cinta pada teman, cinta pada lawan jenis, maupun cinta kepada seseorang yang membuat kekosongan hati jadi terisi.
Aku adalah Yustaf seorang anak tunggal dari papa dan mamaku, cinta pertamaku adalah papaku. Sosok yang selalu ada untuk ku dalam keadaan apa pun. Aku sangat mencintai papaku hingga aku selalu ingin masuk kedalam dunianya yang tak pernah untuk bisa ku jangkau.
Aku selalu bertanya kenapa dan ada apa air mata itu selalu jatuh saat dia bersamaku dan selalu memelukku seolah akan pergi jauh meninggalkan ku dibelakang. Namun aku tak pernah mendapatkan jawab atas semua pertanyaanku, yang aku dapatkan hanyalah jadilah dirimu sendiri dan jadilah penunjuk arahku untuk menemukan cintaku yang telah hilang. Ya, hanya itu yang selalu diucapkan oleh papaku yang tak pernah ku mengerti.
Hingga suatu hari aku mulai melihat dan mendengar pertengkaran antara kedua orang tuaku, aku sudah muak dengan semuanya namun aku tak bisa mengabaikan mereka begitu saja. Aku mulai melihat kesenjangan antara mereka dan mulai menjalani sekolah asrama hingga aku tak pernah tau lagi seberapa banyak mereka akan bertengkar.
Hari - hariku di asrama begitu menyesakkan sampai rasanya dadaku mau meledak karenanya tapi papa selalu bisa membuatku merasa tenang dan aman. Sampai pada hari terakhir dia menemui ku dan berkata padaku untuk menemukan cintanya dia tak pernah lagi datang karena dia telah benar - benar pergi meninggalkan ku dibelakang.
Sesak, sesal, sedih semua bercampur aduk jadi satu didalam dadaku. Di dunia ini hanya ada aku dan mamaku saja yang saling bergantung satu sama lain, dan seperginya papa mama selalu datang menjemput ku setiap akhir pekan untuk menghabiskan waktu kami bersama. Dan setiap akan kembali ke asrama aku selalu berdiam diri di ruangan tempat papaku bekerja sampai aku menemukan sesuatu yang membuatku bertanya - tanya siapa dan apa hubungannya dengan papaku.
Jawaban yang ku dapatkan dari mamaku membuat ku bertanya - tanya kemana dia pergi dan dimana dia berada, jika dia memang orang yang berarti untuk papaku kenapa dia menghilang tanpa jejak dari orang tuaku. Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku tanpa ada jawabannya.
Hingga hari - hari menyedihkan itu pun telah berlalu dan aku mulai mencobak untuk menemukan cintaku. Sampai aku pernah merasakan apa itu yang namanya jatuh, sakit, memang sakit tapi aku bangkit dan tak apa apa. Sekarang aku pun mulai bisa merasakan jatuh lagi, tapi yang ini berbeda. Jatuh yang ku maksud adalah "Jatuh Cinta". Indah rasanya, hingga aku lupa dengan keadaan sekitarku. Aku terlalu menikmatinya "Kebersamaan" indahnya "Kemesraan". Kata yang sering digunakan oleh remaja saat ini
Sering aku diam - diam tersenyum sendiri, membayangkan dirinya. Semua tingkahnya pun tak bisa lepas dariku bila dia berada di sekitarku. Ingin rasanya aku memeluk dirinya, tapi malu bila aku langsung memeluknya tiba - tiba. Hem mungkin itu akan selalu masuk ke dalam angan - anganku, karena aku jatuh cinta pada pamanku.
Semua kisahku berawal dari kejadian yang tak terduga saat mamaku melakukan perjalanan bisnis, saat mama merasa lelah dan aku mulai memandunya. Tapi entah kenapa saat tiba di kota tujuan aku merasakan getaran yang aneh dalam dadaku, seolah ada sesuatu yang menuntunku kesuatu tempat hingga mamaku merasa kesal karena kami terjebak disitu tempat yang membuatnya tak mendapatkan sinyal dari handphonenya.
Aku hanya tersenyum melihatnya terus mengomel dan merasa tak sabar, tapi aku terus berjalan masuk kedalam hutan untuk menemukan sesuatu yang mungkin bisa membantu ku mengatasi masalah mobil kami yang terjebak. Hingga aku melihat sesuatu yang mampu menggetarkan hatiku dan membuatku selalu tertarik kearahnya. Ya, dia adalah paman ku, teman terbaik papaku dan juga mamamu. Paman Alex orang yang selalu ingin ku temui sejak dulu.
"Alex, ini kau." teriak mamaku
"Gina, beneran kau." Paman Alex pun ikut kaget dan mereka berpelukan karena sudah lama sekali tak saling ketemu dan itu hampir 15 tahun lamanya.
"Alex dia adalah putraku Yustas, dan Yus dia adalah paman Alex yang selalu ingi kau temui." ucap mama
Aku merasa mati kutu, tak bisa berbuat apa - apa di depannya. Hanya sekedar menyapanya saja bibirku kelu. Padahal, aku ingin berbicara dengannya, terlalu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan. Tapi, aku adalah aku yang akan canggung berhadapan dengan orang yang ku kagumi sekaligus ku cintai.
Aku akan terlihat sangat bodoh, bila dia tersenyum kepadaku. Bukan senyum khusus untuk orang yang dicintainya. Hanyalah senyum biasa yang ia lemparkan kepada sahabat dan juga anak dari sahabatnya. Tapi rasanya senyum itu seolah olah hanya untukku. Beribu - ribu kupu - kupu seolah terbang dan menari - nari di dalam perutku, geli dan aku sangat menyukainya.
"Lex aku harus pergi ke acara yang sangat penting, bisakah kau menjaga sayangku untuk ku? Karena dia berkata tak ingin ikut pergi dengan ku." ucap mamaku pada pamanku dan dengan senyumannya pamanku mengangguk tanda dia bersedia untuk menjaga dan merawat ku.
Keesokan hari pun mamaku pergi untuk 1 minggu dan aku menghabiskan waktu bersama dengan paman Alex, aku berfikir inilah saatnya aku mempelajari dan mengenal tentang dirinya lebih dalam lagi. Dan semakin kesini aku semakin gila. Gila karena cinta. Aku sering ceroboh, fokus ku berkurang, dan kewaspadaan ku pun mulai menurun.
"Tolong ceritakan tentang papaku, karena aku ingin mengenalnya sebab aku tak melihatnya dan tak tau tentang dia cukup banyak. Masih ada begitu banyak pertanyaan yang tak ku mengerti." aku memberanikan diri bertanya dan memulai perkataan mengenai papaku yang selalu dihindari oleh mamaku setiap saat aku bertanya.
Dari situ aku mulai tau dan mengerti kalau semua cerita tentang papaku tak hanya berhenti di mama dan aku melainkan juga pamanku, dan aku juga mulai mengerti kenapa papaku sering mengatakan kalau aku harus jadi diriku sendiri dan penunjuk arah untuk menemukan cintanya yang telah hilang. Karena yang merasakan sakit atas kehilangan papaku bukan hanya mama dan aku namun juga pamanku yang selalu terlihat baik - baik saja dan menutupi semua lukanya dengan sempurna.
Perasaanku pun semakin dalam dan besar untuk pamanku, dan itu bukan delusi atau angan - angan semu, tapi aku benar - benar jatuh cinta dengan pamanku dan itu sudah cukup lama sejak aku belum mengenal kata jatuh yang bisa membuatku merasakan rasa sakit yang dalam.
Saat mamaku kembali aku pun menceritakan semuanya dan mamaku merasa kecewa serta sangat marah. Dia membawaku kembali dengan paksa dan itu membuatku sangat sakit.
Aku selalu bertanya - tanya kenapa mereka selalu membandingkan semuanya, saat mereka melihat orang lain atau anak orang lain gay mereka akan baik - baik saja dan tak masalah, namun saat mereka melihat keluarga atau anak mereka sendiri gay itu telah menjadi bencana. Karena itulah membuat mamaku yang melihatku tidak seperti biasanya dan menganggap ku tak normal akan memanggilkan psikiater, aku membantah. Mama pikir aku gila sungguhan, tapi tidaklah seperti itu.
Hingga aku mendengarkan mamaku berbicara dengan seseorang yang membuatku sungguh sangat marah. Ku dengar mama menyalahkan pamanku atas orientasi seksual ku, bahkan mama memintanya untuk menjauhiku. Air mata mama dan teriakannya terdengar sangat menyakitkan bagiku, dan aku berfikir pasti pamanku juga merasakan rasa sakit.
Aku pun memutuskan untuk pergi dan menemui pamanku karena aku ingin menghiburnya dan mengatakan kalau semua itu bukalah salahnya. Tapi saat aku sampai disana aku tak diterima dan dengan terpaksa aku tinggal diluar rumah dalam keadaan hujan deras karena saat aku sampai hari sudah tengah malam.
Keesokannya aku terbangun diatas tempat tidur dan ku lihat paman ada di sebelahku dan aku sangat yakin kalau dialah yang membawaku masuk dan tidur bersamanya malam tadi. Ku lihat dan ku amati dengan dekat wajah pamanku yang tertutup matanya karena tertidur dengan lelap dan terlihat lelah, ku usap pelan dan ku belai hidungnya yang mancung. Aku tersenyum dan merasa sangat bahagia saat itu, hingga aku tersadar dan turun untuk membuatkan sarapan yang baik untuknya karena aku ingin merawatnya.
Sampai akhirnya kebersamaan ku dengan pamanku jadi kacau saat mamaku menyusul ku ke vila milik paman Alex dan mulai marah dengan menggila hingga membuatku merasakan sesak. Dan aku mulai beradu mulut dengan mamaku.
"Apa salahku ma, apa aku salah mencintai orang yang mampu mengisi kekosongan hatiku. Apa aku salah mencintai orang yang sama dengan orang yang dicintai oleh papa." teriakku pada mamaku malam itu
"Diam, apa yang kau bicarakan. Apa kau tak malu mengatakan semua itu. Kenapa kau ingin merusak reputasi ku." bela mama yang merasa takut akan nama baiknya.
"Kenapa mama selalu melarikan diri, aku tau apa yang terjadi pada papa saat itu. Apa mama pikir aku tak bisa melihat semuanya? Aku sudah mengetahui semuanya sejak awal, apa alasan papa pergi dan meninggal, dan papa bukan kecelakaan karena alkohol." teriakku pada mama
"Kamu jangan bicara sembarangan, kamu tak tau apa pun." bela mamaku
"Lalu apa? Harusnya mama menerima kenyataan kalau papa dulu sangat mencintai om Alex, dan aku sekarang juga mencintainya." teriakku lagi
"Kau jangan membuatku gila, aku hanya ingin kau kembali normal bukannya semakin gila." mamaku semakin marah.
"Cukup.! Sudah cukup kalian." teriak paman Alex dan pergi meninggalkan meja makan.
Setelah cukup lama kami terdiam satu sama lain, aku mencobak menjelaskan semuanya sama mama dan ku lihat dia menangis merasakan rasa sakit yang dalam "Apa kamu pernah mendengar Alex mengatakan cinta padamu? Apakah dia juga merasakan perasaan yang sama dengan apa yang kau rasakan untuknya, pernahkah kau mendengarnya? Atau kau hanya merasakan cinta sepihak saja." Mamaku menangis menatapku.
"Aku telah siap untuk menanggung rasa sakit, tapi yang jelas aku tak akan meninggalkan mama." jawabku dan keluar dari kamar mama.
Aku melihat paman Alex di kamarnya dan mulai bicara degannya tapi semuanya tak berjalan lancar karena paman Alex tak mau mengakui semua perasaannya. Dia terus mendorongku menjauh dan menolak ku berkali - kali.
"Kenapa, kenapa paman tak mau mengakuinya apa yang paman takutkan, coba jelaskan padaku." pintaku
"Tak ada yang harus aku jelaskan atau ku jawab, sebaiknya kamu realistis dengan semuanya karena hidup tidaklah mudah." sangga paman Alex
"Apa, apa ini? Paman selalu bertindak sok bijak hanya untuk menghindar sama seperti mama. Paman tak pernah mau bilang apa yang dikatakan oleh papa saat itu karena paman tak mau mengakuinya. Papa bilang kalau dia mencintaimu dia selalu mengatakan itu hingga akhir hidupnya, tapi paman selalu lari dari kenyataan dan berfikir kalau semua akan baik - baik saja. Tapi semua tak ada yang baik, semua menanggung rasa sakit. Mama, aku, dan paman sendiri. Yang tak sakit hanya papa karena dia telah tiada." aku mulai tak sabar dan mengungkap segalanya. "Papa mencintai paman sama seperti aku mencintai paman saat ini, tapi paman selalu melakukan hal yang sama, lari, lari dan terus saja lari. Aku tak mengerti apa yang sebenarnya paman takutkan dan cemaskan." Aku menekan paman Alex di dinding dengan kesal.
"Diam dan menjaulah dari ku." Paman Alex mendorongku hingga aku jatuh membentur tempat tidur dan saat aku mau bangun paman Alex mendorong meja dan membuat bola dunia yang ada diatasnya terlempar kearah ku dan membuat bibirku luka.
Keesokan paginya aku dan mama pun pergi meninggalkan vila paman Alex, aku berpamitan pada paman Alex dan meminta satu permintaan terakhir untuk memelukku dan melakukannya dengan jujur pada perasaannya padaku karena aku menginginkan kehangatannya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Sebab aku tau kalau paman Alex juga memiliki perasaan yang sama seperti yang aku rasakan padanya, karena aku sangat percaya dengan insting dan juga sinyal yang selalu dia kirimkan untukku.
Aku dan mama pun pergi meninggalkan vila paman Alex dan kulihat paman Alex berdiri dibalik pintu, sendu wajah sendu yang ku lihat tapi dia tak bisa berlari kearah ku karena takut kehilangan sahabatnya (mamaku). Hingga aku sadar, aku tak akan bisa menggapai dia. Dia terlalu tinggi untukku, terlalu sempurna. Aku coba melupakannya perlahan demi perlahan. Tapi, aku tak bisa benar - benar melupakannya. Ia masih berada di ruang hatiku dan menguasai seluruh hatiku, hingga saat ini. Hanya air mata dan sebuah buku pemberiannya yang berjudul "risalah cinta" yang selalu menemaniku dan menjadi saksi hancurnya cinta pertamaku, dan aku tak akan pernah melupakanmu paman Alex, tak akan pernah. Aku akan selalu mengingatmu untuk selamanya.
"Aku mencintaimu, Alexander."