"Seharusnya aku tahu, bahwa mengikhlaskan mu adalah salah satu cara mencintai."
▪▪▪
Namaku Aileen Agatha. Usiaku saat ini, hm … ah iya! Usiaku saat ini adalah 17 tahun lewat 3 bulan 9 hari 13 jam. Terakhir aku makan itu nasi goreng yang manis pake banget, karena kebanyakkan masukin kecap. Terus, aku juga ingat. Terakhir aku sendawa adalah 32 menit yang lalu, saat Bagas memasukan ular mainan kedalam tas Buk Emili. Dan 20 menit berikutnya, saat Buk Emili membuka tasnya. Dia berteriak, lalu asmanya kambuh dan kami mendapatkan jam pelajaran kosong 2 jam berikutnya.
Pertama-tama, terimakasih untuk Bagas. Berkatnya aku tidak akan merasakan pusing akibat Matematika, dan aku tidak perlu membantu mencarikan X untuk Y.
Tapi yang ingin aku ceritakan bukanlah tentang Bagas dengan ularnya, atau Sindy dengan rambutbarunya yang super tegang kayak tali BH baru. Bukan tentang keduanya.
Bagaimana ya cara menceritakannya, aku sendiri tidak terlalu mengerti bagian mana yang harus aku ceritakan dahulu. Tapi intinya, aku baru saja putus dengan pacarku 3 hari yang lalu. Tepat pada saat aku memakan baksoku yang ke-3, dan dia terlihat melepas kalung pemberianku. Hatiku sakit, bukan hanya karena mendengar dia memutuskanku. Tapi juga karena baksoku yang jatuh dari sendokku karena kaget.
Nama pacarku? Oh, namanya Aiden Aksara. Dan saat kami pacaran, orang-orang menjuluki kami double A couple.
Dia itu bagaimana? Dimataku Aiden itu cowok yang keren! Dia jago sekali olahraga, dia juga pintar dalam pelajaran, sayangnya dia itu termasuk salah satu pelajar yang masuk blacklist di BK. Aiden nakal, tapi dia bilang nakalnya masih dibatas wajar. Karena kalau dia nakal pake banget, mungkin aku sekarang udah hamil dan dia udah jadi Ayah. Iya juga, sih.
Pertemuan kami sederhana. Dimana saat itu aku sedang keliling sekolah, dan nyasar dimarkas anak-anak nakal. Kalau cowok-cowok yang lain pada siul-siulin aku. Nah Aiden malah langsung nyosor bilang kalau aku cantik, dan dia pengen jadi pacar aku. Diterima? YA ENGGAK! Aku nggak suka dia awalnya, soalnya dia berantakkan dan rambutnya sampai nutupin mata dia.
Dia nembak aku sekali, dua kali, tiga kali, lebih! Sekitar delapan kali. Dan pada tembakkan yang kesembilan aku lumpuh. Dia berhasil mendapatkanku, karena dia udah ngerubah penampilannya dan dia nggak bandel-bandel amat lagi.
Kami pacaran kayak orang pacaran pada umumnya. Sering malam mingguan berdua, tapi nggak mewah karena Aiden bilang aku harus terbiasa susah. Aiden tidak miskin, dia kaya. Tapi dia juga nggak pelit, soalnya dia sering ngehadiahin aku beberbagai hal. Bahkan dia mau beliin aku light stick BIG BANG, boy band Korea yang kata dia leadernya gantengan dia.
Aiden itu … spesial! Dia berbeda dengan laki-laki lain. Dia bisa buat aku ketawa dengan cara dia sendiri, dan dia itu kadang misterius. Suka bikin penasaran dengan apa yang dia pikirin. Kadang aku suka nanya-nanya, kenapa dia bisa suka sama aku? Padahal kita baru ketemu. Tapi setiap kali aku nanya, dia selalu jawab : “Udah takdir yang maha Kuasa.” Katanya.
TAPI!?
Aku sekarang benci sama dia, pake BANGET. Dia mutusin aku mendadak. Padahal selama 8 bulan kami pacaran, kami nggak pernah berantam dan selalu damai. Kalaupun berbeda pendapat, kami akan berdiskusi berdua untuk menghasilkan solusi atas perbedaan yang kami miliki. Dia dewasa, dan aku cukup bijak dalam mengambil setiap keputusan. Kami cocok! Sungguh. Ini bukan asumsiku sendiri, karena teman-teman satu kelas selalu memuji setiap keputusan yang aku ambil.
Lalu kenapa tiba-tiba putus? Entahlah.
Disaat itu, aku tengah meniup kuah baksoku yang panas. Dan Aiden sedang memainkan pipetnya. Disaat aku ingin memasukan baksoku yang ketiga, Aiden mendadak melepas kalung yang aku berikan seraya berkata. “Kita putus, ya? Aku rasa ini terlalu membosankan.”
MEMBOSANKAN? Yang benar aja!
Memang sih, aku tidak bisa seperti cewek yang lainnya. Aiden hanya bisa sekedar memegang tanganku, merangkulku, memelukku dan ciuman hanya sekedar dipipi dan keningku saja. Dia tidak bisa menyentuh lebih, dan aku akan marah jika dia meminta lebih. Tapi … bukankah itu sudah pernah kita diskusikan, ya? Kenapa tiba-tiba mengambil keputusan sepihak?
“Aileen, tuh dipanggil kelapangan basket.” Muara menatapku seraya memakan cimolnya, aku hanya menghela dan mengangguk. Ketua basket disekolahku, namanya Elang. Seperti kapten basket pada umumnya, dia tampan. Dan 2 bulan belakangan ini, dia suka dekatin aku. Bukannya sombong, atau bagaimana. Aku memang cantik, dan aku termasuk kedalam list gadis paling popular disekolah. Karena hal itu, bukankah seharusnya Aiden menjagaku dan tidak menyampakkanku begitu saja?
“Hallo, Kak.” Aku tersenyum tipis—sebenarnya memendam jengkel—pada Elang.
Cowok itu sedang menghapus keringatnya dengan baju basketnya yang terangkat, menampakkan badannya yang berkotak-kotak dan basah karena keringat. Andai itu Aiden, aku mungkin tidak ragu meminta dia memelukku dengan tubuh tanpa baju seperti keadaan Elang saat ini.
“Aileen,” Elang tersenyum, dia merapikan rambutnya sambil berjalan mendekatiku. “Hari ini Abang kamu chat aku, dia bilang dia nggak bisa jemput kamu. Jadi, kamu pulang bareng aku aja, ya?” seru Elang.
Dasar Jio Abang tidak tau diri, mengambil keputusan seenaknya saja. Dia bahkan tidak bertanya dahulu kepadaku, ah aku harus menjawab apa? Disaat seperti ini aku jadi merindukan Aiden, dia bersedia mengantarkanku kemanapun bahkan keujung dunia. SERIUS!? Aku tidak bohong. Dulu, aku mendadak pengen pergi ke Sumatra Barat. Jakarta ke Sumbarkan jauh, butuh naik pesawat atau menyebrang dulu. Tapi Aiden rela melakukan apa saja agar aku bisa sampai ke Sumbar, dia yang menanggung semua biayanya. Kata dia, “Asal kamu senang, aku senang.”
“Hm, bagaimana ya, Kak. Aku ada pelajaran tambahan, bakalan pulang lama. Kakak mana mau nungguin—“
“Mau.” Elang main nyerocos aja, dan aku nggak bisa menolak lagi. kalau begini, aku hanya bisa terima nasib saja.
Aku menghela, kemudian menatap kearah Elang. Mataku mendadak berhenti pada satu titik, pada seseorang yang dulu menjadi pusat tata suryaku. Iya, pada Aiden aku menatap. Pria itu saat ini sedang memungut bola-bola yang berserakkan dilapangan, dan saat dia tanpa sengaja bertemu pandang denganku dia segera membuang wajah kearah yang lain.
Hatiku sakit, sehingga tanganku dengan sendirinya terkepal. Dadaku sesak, aku ingin menangis tapi malu karena ada Elang. Pada akhirnya aku hanya bisa pamit, dan berkata sampai jumpa pada Elang.
▪▪▪
“Cie yang pulang sama Elang. Udah lupa dari Aiden, ya?” Bella, satu-satunya temanku yang berhasil lulus seleksi menggodaku. Dia terlihat mendorong-dorongku dengan tangannya, jenis-jenis cewek alay jaman sekarang. Untung saja dia temanku, kan?
“Hanya pulang, tidak lebih.” Jawabku datar, aku tidak bersemangat membahas pria lain selain Aiden. Dihatiku, hanya tertulis nama Aiden dan Double A tidak akan pernah musnah sampai kapanpun. Bahkan, jika nanti aku menikahi pria lain. Hanya akan ada Aiden dihatiku, SUMPAH!
Aku menghentikan langkahku saat melihat Elang tengah bersandar ditembok, dia menungguku. Dan dia ternyata benar-benar serius dengan ucapannya, raut wajahnya lelah. Tapi ketika dia menatapku, dia langsung tersenyum menyembunyikan rasa letihnya. Ah, dia lumayan mirip dengan Aiden. Tapi Aiden tetap yang terbaik untukku.
“Sudah?” tanyanya basa-basi, aku mengangguk. “Sudah.” Jawabku.
Dia kemudian mengambil tasku dan menyandangnya disatu sisinya, “Lapar tidak? Mau pergi makan dulu baru pulang, atau sudah mau pulang?” tanyanya penuh perhatian. Itu menyakiti hatiku, karena Aiden juga sering menanyakan hal yang sama padaku.
“Terserah Kakak.” Jawabku. Aku harus tau diri, dia sudah baik mau mengantarkanku. Jadi aku akan menerima keputusannya, kalau dia mau mengajakku makan maka aku akan makan. Jika dia ingin pulang, maka aku akan pulang.
“OK, kita pulang.” Elang tersenyum, dia kemudian melangkah mendahuluiku. Sesaat dia berhenti, dan menoleh kebelakang. “Aku tau kamu tidak nyaman. Jadi … lain kali jangan memaksakan diri, dan berusahalah untuk menolak. OK?”
Aku menatap Elang, betapa baiknya pria didepanku ini. dan betapa jahatnya aku karena mengabaikan kebaikannya. Baiklah Aileen! Kau harus lebih kuat, kau harus bisa melupakan Aiden karena dia sudah membuangmu bagaikan sampah. Kau harus mencoba memulai yang baru, karena Elang tidak kalah tampan.
“Ayo pergi makan.” Kataku, tanpa tau malu aku mengenggam tangannya. Dihadiai pelototan lucu dari Elang, dengan ragu dia balas mengenggam tanganku dan senyumnya yang manis terukir diwajahnya yang tampan.
▪▪▪
Sehari.
Dua hari.
Seminggu.
Sebulan.
Dua bulan.
Dan ini adalah yang ke-12 kalinya aku dan Elang jalan-jalan. Kali ini kami memilih jalan-jalan kesebuah bioskop, mau menonton film horror karena aku yang meminta dan kebetulan Elang juga menyukainya. Sebenarnya, Elang tidak buruk juga. Dia hampir sama seperti Aiden, tapi dalam versi anak baik tanpa kasus. Dan bisa dikatakan, aku dan Elang mulai pacaran sejak sebulan yang lalu. Aku mulai mengenal Elang dengan baik, dan dia juga mengenalku dengan sangat baik.
Elang tidak menutut apapun dariku. Dia tidak pernah seperti Aiden yang menginginkan bibirku, dia benar-benar seperti pria dalam harapanku. Dan aku-akui, dia mulai menggantikan Aiden dalam hatiku. Dia benar-benar tulus, aku mampu merasakannya.
Bahkan disaat film mulai, dan gadis-gadis berteriak. Aku disini tersenyum bahagia sambil menyandarkan kepala pada dada Elang, nyaman sekali. Karena Elang membelai rambutku dengan lembut, dan dia juga memberikan tepukan kecil dikepalaku. Dia tau cara memperlakukanku dengan baik, dan aku semakin menyukainya.
Selesai menonton. Kami memutuskan untuk pergi makan pada salah satu café. Tapi, mulai hari ini aku akan menamai café itu café sial, karena aku malah bertemu dengan Aiden yang tengah makan malam romantis dengan Kirana—pacar barunya. Tepat 2 minggu setelah putus denganku, Aiden pacaran dengan Kirana, siswi dari SMA lain. Yang dandannya sangat menor, dan dadanya sangat besar melebihi batok kelapa. Oh, aku tau kenapa dia membuangku. Karena aku tidak bisa disentuh, dan Kira mudah disentuh. Cih, murah sekali.
“Mau pindah?”
Elang seolah tau kemana mataku pergi, tapi akan kelihatan pengecut sekali jika kami pindah ketempat lain hanya karena aku takut gagal move on dari mantanku. Jadi, aku memilih menggeleng dan duduk disebuah bangku, “Ayo makan.”
Elang duduk dihadapanku, dan kami memulai makan malam seperti pasangan kekasih pada umumnya. Siapa sangka Elang akan menyodorkan sebuah kotak kecil padaku, dimana terdapat sebuah cincin bertuliskan ‘E’ disana. “Agar kamu selalu ingat bahwa aku adalah pacarmu, dan hatimu tidak akan pernah mengingat pria lain selain aku.” Begitu katanya.
Aku tersenyum haru, tanpa diminta air mataku menetes. Aku bukan menangisi kebodohanku karena pernah menolaknya dulu, tapi menangisi diriku yang sangat bodoh karena masih mengharapkan Aiden kembali padaku. Seharusnya aku hanya mengingat Elang, dan tidak boleh ada pria lain dihatiku. Tapi ini terlalu sulit, aku membutuhkan hal lain agar aku tetap mengingat Elang dan tidak memikirkan Aiden lagi.
▪▪▪
Pagi hari, seperti biasanya. Elang akan menjemputku, tapi ada yang berbeda pagi ini. karena jika biasanya dia membawa motor ninja putih, maka hari ini dia membawa sebuah mobil sejenis sedang berwarna merah yang sangat elegan. Aku tersenyum kearahnya yang sedang bersandar didepan jok mobilnya, aku berjalan mendekatinya.
“Cie … mobil baru.” Godaku, dia segera menatapku dan ikut tersenyum. “Untukmu,” katanya, otomatis aku melotot. “Kok untukku?” tanyaku kaget, tentu saja kaget. Ini mobil loh, bukan kalung, coklat atau aksesoris wanita lainnya.
“Iya, untukmu. Biar kalau sampai disekolah kamu nggak bau polusi, kamu nggak kepanasan dan rambutmu tetap rapi sampai disekolah.” Elang tersenyum sampai-sampai aku bisa melihat sebuah lubang dipipi kirinya, pacarku manis sekali.
Aku tersenyum, kemudian tanpa ragu aku mengalungkan tanganku dilehernya. Aku tertawa kecil, “Terimakasih.” Kataku, dia kemudian melingkarkan tangannya dipinggangku. “Mungkin aku harus sering ngasih kamu hadiah, biar kamu mau meluk aku kayak gini.”
Aku menggeleng, kemudian menaruh kepalaku didadanya. “Nggak perlu. Aku bakal meluk kamu kalau kamu minta,” Elang tertawa, dia kemudian menggeleng. Menaruh kepalanya dibahuku, “Nggak mau minta, kesannya kamu kayak apa gitu kalau aku yang minta.”
Aku tersenyum. Sudah kukatakan bukan, Elang itu beda dengan Alden, dia tidak sebrengsek Alden. Elang tidak pernah memaksa, dia tidak pernah berbeda pendapat denganku. Elang selalu mendengarku diawal, dan dia akan menuruti setiap apa yang aku katakan. Dia benar-benar sosok sempurna yang aku impi-impikan, dan aku sangat bersyukur memilikinya. Kali ini aku benar-benar berharap, bahwa Tuhan tidak memisahkan aku dengan seseorang aku cintai seperti pada saat aku bersama Alden. Lukaku telah tertutupi atas kehadiran Elang, dan aku tidak siap untuk kehilangan yang kedua kalinya.
“Ayo berangkat.”
Didalam mobil kami menghabiskan waktu dengan bernyanyi bersama, suara Elang itu berat. Dan ketika dia bernyanyi dia begitu menggoda, jakunnya yang naik turun membuatku jadi salah fokus dan terkadang merona. Kutatap Elang dari atas sampai bawah, dia sosok yang begitu sempurna sampai-sampai aku lupa kalau kita sesama manusia. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja. Aku tersenyum, ikut bernyanyi bersama Elang.
Sesampainya disekolah. Kami tentu selalu menjadi sorotan setiap harinya. Mereka menyebut kami perfect couple, karena katanya aku yang cantik dan Elang yang sempurna. Kami benar-benar cocok bersama. Tak jarang orang-orang membeda-bedakan Elang dengan Alden, mereka selalu mengatakan Alden terlalu bodoh membuangku. Tapi mereka juga bersyukur, karena aku akhirnya mendapatkan sosok yang jauh lebih baik dari Alden.
“Aku kekelas duluan, ya,” Elang berpamitan padaku. Aku maklumi dia karena dia memang sudah kelas 12, dia sedang dalam masa sibuk-sibuknya. Tapi dia tidak pernah melupakanku barang sedetikpun, dia selalu menganggap aku yang paling berharga dari apapun yang pernah dia milikki didunia ini. dan akupun juga akan seperti itu.
Ketika aku melangkahkan kakiku menuju kelas, aku tak sengaja berpas-pasan dengan Alden. Alden kembali menjadi Alden yang dulu, sebelum dia berpacaran denganku. Bajunya kembali berantakkan, rambutnya kembali panjang, dan dia terlihat jauh lebih tidak bersahabat dibandingkan dulu. Dia bahkan menambah tindikkan ditelinganya, dan saat dia mengeluarkan lidahnya. Aku dapat melihat dia menindiknya dengan bulatan besi kecil, tentu saja sukses membuatku merinding.
“A-Alden.” Tanpa sadar aku terlalu larut dalam suasana, sehingga memanggilnya. Aku berharap dia tidak menghentikan langkahnya, tapi aku salah. Dia menghentikan langkahnya, dia mau mendengarkanku.
Aku meremas tanganku sendiri, kemudian memberanikan diri menatapnya. Ini adalah pertama kalinya kami berbicara setelah berpisah, “Ka-Kamu baik-baik saja, kan?” tanyaku. Tentu saja dia baik-baik saja, buktinya dia sudah mempunyai pacar baru yang bodynya membuatku merasa iri.
“Untuk apa menyanyakan itu?” Alden menatapku, tatapannya sedingin es dan aku membeku karenanya. Aku menggigit bibirku, seperti inilah Alden dulu. Makannya aku terus menolaknya ketika dia terus saja mengejar-ngejarku, dia benar-benar sosok pria yang membuatku merasa gugup dan takut. Tapi aku kembali mengingat-ingat masa-masa kami berdua dulu, rasa takutku sedikit memudar karenanya.
“A-Aku hanya ingin tau saja,” aku meremas rokku sampai-sampai kusut karena ulahku, dia kemudian menghela. Dia menarik poninya kebelakang, dan melangkah mendekat kearahku. Dia menunduk karena aku memang jauh lebih pendek darinya, “Selamat, ya!”
“Selamat?” aku menyerit.
“Iya, selamat. Telah menemukan sosok yang jauh lebih baik dari gue,” Alden bersedekap dada, dia kembali menjauhkan dirinya. Dan kini dia memiringkan kepalanya, “Sudah sampai ketahap pelukkan, ya?” sepertinya parfum Elang melekat pada tubuhku, karena Alden sampai mengetahuinya.
“Hei, Aleena. Tunggu saja sampai Elang meminta lebih dari lo,” nada bicaranya yang terkesan mengejek itu membuatku semakin kuat meremas rokku, aku memberanikan diri menatapnya dengan tatapan sesinis yang aku mampu. “Dia berbeda!? Dia tidak sepertimu, Al. dia tidak pernah meminta lebih, dia selalu menghargaiku.”
“Benarkah?” Alden menyeringai, “Baiklah.”
Setelah percakapan itu. Kami sama-sama tidak menyapa lagi. ternyata benar kata orang, setelah menjadi mantan. Cowok-cowok akan bersikap seperti sampah, sampah yang tidak bisa didaur ulang.
▪▪▪
3 bulan.
5 bulan.
Hari ini adalah hari terakhir aku sekolah. Karena besok sudah libur, anak kelas 12 akan UN. Dan Elang juga tentunya. Hari ini adalah hari terakhir kami bertemu. Karena sesuai permintaanku, aku tidak ingin bertemu atau berkomunikasi dengannya selama dia UN. Aku hanya ingin dia fokus pada ujiannya, dan dia tidak memikirkan hal-hal lain termasuk memikirkanku. Sebenarnya, aku juga menjadi sosok yang tersiksa disini. Tapi aku melakukannya demi Elang, dan demi diriku sendiri juga. Aku harus menahan diri, dan menguji sampai kapan aku dapat menahan rasa rindu terhadapnya.
“Ini …” Elang menyodorkan sebuah kotak kecil padaku, aku mengambilnya kemudian membukanya. Ternyata kotak music, ini adalah sesuatu yang aku inginkan dari dulu. Mungkin Elang mengetahuinya, jadi dia membelikannya untukku, “Terimakasih.” Aku tersenyum padanya,
Dia balas tersenyum, kemudian dia mengerucutkan bibirnya. “Aku akan rindu,” katanya, aku mengangguk. “Aku juga,” tentu saja ini bukan omong kosong, tepat setelah 2 bulan kami pacaran. Aku akhirnya kalah, aku jatuh cinta padanya. Benar-benar tulus, seperti pada saat aku mencintai Aiden dengan sepenuh hatiku.
“Untuk kali ini,” Elang menundukkan kepalanya, “Boleh aku meminta sebuah pelukkan?”
Akhirnya. Setelah menunggu cukup lama, aku mendengar dia meminta sebuah pelukkan dariku. Tentu saja aku mau, aku merentangkan tangankku. Mengajaknya untuk memelukku. Saat dia sampai kedalam pelukkanku, yang kurasakan adalah rasa hangat diluar dan didalam hatiku. Aku benar-benar mencintainya, dan aku tidak sanggup untuk kehilangannya.
“Elang,” panggilku.
“Hm?” Elang berguman.
“Aku mencintaimu.”
Untuk pertama kalinya, selama 6 bulan kami berpacaran. Aku akhirnya mengatakan kata-kata yang sepertinya dia tunggu-tunggu, karena dia memelukku semakin erat saat aku membisikkan kata-kata itu.
▪▪▪
Aku saat ini sedang berjalan-jalan disekitar komplek rumahku. Sudah 2 hari aku dan Elang tidak berkomunikasi, dan kudengar dia belajar dengan begitu sungguh-sungguh. Aku jadi senang karenanya.
Aku mendongkak menatap langit, sepertinya akan hujan. Tapi aku tidak peduli, moodku sedang baik dan kalaupun aku basah karena hujan. Aku tidak peduli, aku suka hujan, dan aku suka Elang. Dua hal itu menjadi favoriteku akhir-akhir ini. oh, tidak! Ada 3, karena aku juga sedang menyukai music dari Inggris yang berjudul Imagination sepertinya. Aku sendiri lupa, tapi penyanyinya cukup tampan. Meski bagiku, Elang adalah yang paling tampan didunia ini.
Tes … tes …
Air hujan menitik satu persatu, hingga pada akhirnya menjadi ratusan. Aku terus melangkah membiarkan hujan membasahiku, satu-satunya yang dingin hanya tubuhku. Tapi hatiku terus menghangat, aku bersenandung sambil lompat-lompat kecil digenangan air. Kalau Elang tau, mungkin dia akan memarahiku karena mandi hujan seperti anak kecil. Elang tidak suka aku sakit, dan dia selalu marah berujung menangis saat aku sakit. Itu lucu, dia laki-laki yang tidak akan menangis saat terluka, tapi malah menangis saat aku sakit.
Aku berhenti melangkah saat merasa air hujan tidak membasahiku lagi. aku mendongkak dan menyerit saat melihat benda transparan melindungiku dari hujan, begitu aku menoleh. Aku melotot saat melihat Aiden sedang memayungiku, rambutnya sekarang tidak terlalu panjang seperti 2 minggu yang lalu. Sepertinya dia memotong rambutnya.
“Ayo berteduh.” Katanya.
▪▪▪
Entah apa yang aku pikirkan, tapi sekarang aku dan Aiden tengah berteduh diapartemennya yang berada tidak jauh dari tempat aku berjalan. Ah, aku terlalu bersemangat berjalan kesembarang arah sampai-sampai aku nyasar kedaerah tempat apartemen Aiden berada.
Saat ini, Aiden tengah menyeduh kopi susu hangat. Dan aku sudah kering karena Aiden menyuruhku berganti baju dengan bajunya yang kebesaran, tapi aku tidak menolak karena aku tetaplah aku yang akan selalu luluh pada Aiden. Meski sekarang aku memiliki Elang dihatiku, tapi entah kenapa Aiden tetap saja masih bisa menyelip kedalamnya.
“Ini, minumlah.” Katanya sambil menaruh segelas kopi diatas meja.
Aku mengangguk, kemudian duduk didepan meja sambil mengangkat gelas kopi tersebut. aku meminumnya kemudian menatap kearahnya yang saat ini sedang duduk disofa sambil menyalakan TV. Aku dulu pernah keapartemen Aiden, hanya untuk membantunya membersihkan tempat ini dan bermain PS. Hanya itu. Tidak ada kegiatan yang lain, karena kau tau aku seperti apa orangnya.
“Tidak dimarahi pacarmu?”
Aku tanpa sadar tersenyum karena Aiden memakai kata ‘kamu’ untukku, “Dia tidak tau. Kami memutuskan untuk tidak berkomunikasi, karena dia sedang UN.” Jawabku.
Dia hanya menganggukan kepalanya. Aku selesai minum. Dan saat ini aku melangkah mendekat kearahnya, aku mendudukan pantatku disampingnya. Aku merasa cukup canggung, tapi kulihat Aiden tidak bereaksi apa-apa. Sepertinya dia sudah terbiasa duduk bersama wanita. Tapi … aku inikan mantannya! Masa tidak merasa gugup atau apapun?
“Aiden.”
“Hm?”
Aku merindukan suaranya. Tanpa sadar aku memikirkan hal itu, aku merindukan suaranya. Aku menatap tangannya, aku jadi merindukan genggamannya. Dan ketika aku menatap wajahnya, beralih kebibirnya. Aku jadi rindu kecupannya. Hal yang tidak pernah aku dapatkan dari Elang, karena dia terlalu menghargaiku sampai-sampai segan untuk menyentuhku. Hatiku berdenyut sakit, disaat bersama Elang. Aku merasa Elang yang terbaik. dan ketika aku bersama Aiden, aku merasa dialah yang terbaik.
“Kenapa?” Aiden menatapku, dia menyerit karena aku terlihat seperti akan menangis. Aku menatapnya, kemudian tanpa sadar menghela panjang. “Aiden, boleh bertanya?”
Dia mengalihkan pandangannya, “Tentang apa?” tanyanya. Aku siap untuk jawaban yang dia berikan tentang pertanyaanku, aku siap. “Kenapa—Kenapa kamu mutusin aku?”
Dia terlihat terkejut akan pertanyaanku, sedangkan aku mengigit bibirku menunggu jawabannya. Kala dia ingin membuka mulutnya, aku menutupnya dengan satu tanganku. Air mataku mengalir begitu saja, ternyata … aku tidak pernah siap akan jawabannya. Karena ketika aku menatap matanya, tempat dihatiku yang seharusnya untuk Elang. Dengan mudahnya dia geserkan.
Dia yang pertama,
Dan aku selalu berharap dia menjadi yang terakhir.
“Aileen.” Dia menyentuh tanganku yang menutup mulutnya, dia kemudian menatapku yang menutup mataku dengan satu tanganku yang kosong. Aku merasa malu karena menangis dihadapannya, aku terkesan seperti masih menyukainya. Tapi aku tidak mengerti, kenapa hatiku menunggu jawabannya.
“Aileen, tatap aku.”
Aku menggeleng. Kalau aku menatapnya, maka aku tidak akan bisa merelakannya. Hatiku akan sakit, dan aku akan menyukainya lagi. tidak! Aku tidak mau, “Aileen. Kamu harus mendengar, agar semua ini segera berakhir.”
Tidak. Tidak boleh berakhir. Aku mengaku jujur, aku masih mengharapkannya. Aku berharap dia akan merebutku dari Elang. Aku bisa berpura-pura seolah-olah aku cukup lemah, dan aku jatuh kedalam pelukannya lagi. tidak apa-apa terkesan murahan, karena aku masih ingin bersamanya. Kedua tanganku aku taruh dipipinya, aku menangkup wajahnya. Tanganku bergetar karenanya, aku memalingkan wajahku. Ternyata aku memang tidak bisa.
Aiden ikut menangkupkan wajahku, dia kemudian memaksaku untuk menatapnya. Tapi aku memejamkan mataku, aku tidak sanggup. “Ada yang harus kita selesaikan.” Katanya, tapi aku menggeleng. Tidak ada yang perlu diselesaikan, sungguh.
“Aku sadar, semua masih tertahan pada hari itu. Aku meninggalkanmu begitu saja, dan aku tidak sempat memberikan alasan yang logis.” Aku mendengarkan, tapi mataku tetap terpejam. “Ailen, aku … Aiden. Dari dulu sampai sekarang, masih tetap mencintaimu sepenuh hatiku. Aku ingin pergi bukan karena hubungan kita membosankan. Kamu tidak pernah membosankan, menatapmu saja sudah menyenangkan. Apalagi mendengar suaramu, mungkin aku akan meledak karenanya. Aku selalu ada untukmu.”
Aku membuka mataku, aku akhirnya menatapnya.
“Tapi Aileen. Tidak semua hal yang kita inginkan akan menjadi milik kita. Seperti aku, aku ingin kamu menjadi milikku selamanya. Tapi tidak bisa, karena … aku,” dia menunduk, menghela sebentar. Kemudian kembali menatapku, “Aku bukan Aiden.”
Apa katanya? Dia bukan Aiden. Lalu, dia siapa?
“Aiden hanya nama samaran. Aku bukan Aiden, nama asliku adalah rahasia. Karena sebenarnya, aku adalah agen Negara. Bisa kamu katakan, aku seorang detektif. Usiaku bukan 18 tahun, tapi 23 tahun. Aku menyamar menjadi seorang murid disekolahan untuk mengungkap sebuah kasus. Tapi sialnya, sialnya … aku malah jatuh cinta padamu.”
Ini terdengar tidak masuk akal. Sungguh.
“Aileen. Lupakan aku, aku tidak baik untukmu. Aku berbahaya, dan kamu memang pantas bersama Elang.”
Aku merasa hatiku sedikit menghangat. Kenapa?
Ketika dia mendekatkan wajahnya kearahku, aku tidak menolak. Bukan tidak ingin menolak, tapi tidak bisa menolak. Kala itu, hujan menetes dengan derasnya. Dan tubuhku menghangat karena Aiden—bukan Aiden, tapi siapapun dia—, bibirnya yang dingin bertemu dengan bibirku. Untuk pertama kalinya, aku membiarkan seseorang menyentuhku lebih dari kadarnya.
Sekarang aku mengerti.
Hatiku memang sudah melupakan Aiden. Aku sudah mencintai Elang. Kenapa hatiku sakit dan merasa tertekan saat menatap Aiden? Itu karena aku membutuhkan jawaban yang pasti atas alasan kenapa dia meninggalkanku. Bukan karena hubungan kami membosankan, tapi karena takdir memang tidak menginginkan kami bersatu.
Setelah hari itu.
Aiden menghilang dari sekolah.
Dan satu-satunya yang tertinggal hanyalah kenangan kami berdua.
Hari itu … aku akhirnya sadar, Aiden memanglah sosok yang bukan ditakdirkan untukku. Karena dia mempunyai tugas yang lebih penting dari sekedar bersamaku.
Dan Double A, perlahan-lahan menghilang dari ingatan public. Tapi … Double A akan selalu ada dalam hati dan ingatanku.
Setelah itu?
Setelah itu. Semua kembali normal.
Oh, ya! Aku kembali bertemu dengan Aiden, tapi bukan disekolah. Melainkan dialtar pernikahanku dengan Elang, dimana dia tersenyum kearahku. Dan saat dia memelukku, dia berkata ; “Aku mencintaimu.” Tapi, aku hanya tersenyum dan tertawa. Aku tidak merasakan apapun saat dia mengatakan itu, dia ikut tertawa dan tersenyum.
Tujuanku menulis ini, bukan karena ingin membuat kalian bingung dengan ceritaku. Tapi karena aku ingin mengajak kalian. Untuk sama-sama mengingat Aiden. Agar aku bukan satu-satunya sosok yang mengingatnya sebagai pria paling luar biasa didunia ini. aku ingin, kalian juga mengenangnya didalam hati dan ingatankan.
Teruntuk kamu, gadis yang beruntung mendapatkan Aiden. Aku ingin mengatakan, tolong jaga dia, cintai dia. Dan jangan pernah memberikan dia jamur, karena dia akan pingsan setelah memakan itu.
Sekian, tertanda aku Aileen Agatha.
Usiaku sekarang, 26 tahun. Dan aku sudah memiliki seorang bayi laki-laki bernama, Aiden.
▪▪▪