TERPAKSA MENIKAH
Pagi-pagi sekali keluarga Diana sudah bersiap-siap ingin pergi ke Solo, dikarenakan kakek Diana di kabarkan telah meninggal dunia, namun Diana tidak dapat ikut serta kesana, dia harus mengikuti ujian akhir kuliahnya, yang sebentar lagi akan menjadi kan dia seorang sarjana ekonomi
"Hati-hati dirumah ya sayang, jangan pergi kemana-mana, dan langsung pulang kerumah setelah kuliah selesai!" Ucap ibu-Diana, sambil mencium anak satu-satunya yang sangat dia sayangi.
"Ya-bu, ibu juga hati-hati ya, bilangin ayah, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya!" Jawab Diana, mencium pangkal tangan ibunya.
"Sayang-kami berangkat dulu ya, hati-hati kamu di rumah!" Ujar ayah Diana dengan penuh kasih, dia mengelus rambut anaknya, yang sebenarnya tidak tega untuk dia tinggalkan sendirian dirumah.
"Iya yah, ayah juga jangan ngebut-ngebut ya bawa mobilnya, biar lambat asal selamat!" jawab Diana, sambil memeluk pinggang ayahnya, dan mereka pun merangkat ke Solo, dengan mobil pribadinya.
Jam masih menunjukkan pukul 5,30-wib, sedang kan ujian semester di mulai pukul 9,00-wib, dengan lesu Diana masuk ke dalam kamarnya kembali, karna masih merasakan ngantuk, sebab semalam dia belajar sampai larut malam, dan tampa sadar Diana lupa mengunci pintu rumahnya.
Darman tetangga rumah, komplek perumahan tempat tinggal Diana, yang juga teman kuliah Diana, seperti biasa datang menjemput Diana untuk pergi kuliah bersama.
"Tok..tok..Di-Diana!" Panggil Darman, setelah mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban, dan kebetulan pintu rumah pun tidak terkunci, Darman pun langsung masuk ke dalam rumah Diana, dan langsung menuju kamar Diana yang tidak terkunci juga.
Darman melihat Diana sedang tertidur pulas, dan kesempatan itu tidak di sia-sia kan oleh Darman, untuk melakukan sesuatu yang tidak terpuji kepada Diana, karna selama ini Diana selalu menolak cinta Darman, meski dengan sopan.
Darman langsung menciumi Diana yang sedang tertidur pulas.
"Hup-Darman apa-apaan kamu, lepasin!" Teriak Diana, yang tubuhnya sudah tertindih oleh tubuh Darman yang tinggi besar.
"Aku cinta kamu Di, maaf kan aku!" Ujar Darman, sampai akhirnya kesucian Diana pun dapat direngutnya.
"Kamu jahat Man, aku nggak sangka kamu tega melakukan ini padaku!" Ucap Diana, di sela-sela isak tangisnya.
"Maaf kan aku Di, aku mencintai kamu, aku akan bertanggung jawab dan menikahi kamu" sahut Darman, sambil memeluk tubuh langsing Diana.
Setelah kejadian itu, Diana lebih banyak diam, dia tidak tau harus berbuat apa, dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, karna mereka sudah berjuang keras untuk menguliah kan dirinya.
"Kamu kenapa nak?" tanya ibu-Diana, yang melihat sejak tadi pagi anaknya muntah-muntah terus.
"Diana juga nggak tau bu" jawab Diana, dan ibu Sari pun langsung membawa anaknya kerumah sakit, betapa terkejutnya ibu Sari setelah mengetahui, kalau Diana saat ini sedang hamil, tampa sadar ibu Sari pun menampar pipi anaknya, dan langsung menanyakan siapa laki-laki yang telah menghamili nya.
Pernikahan pun di laksanakan secara hikmat, meski hanya sekedarnya, karna keluarga Darman dan keluarga Diana, tidak mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu, sebab ayah Diana sudah memaksa mereka untuk segera menikah, maklum sebagai kepala bagian di sebuah kantor pemerintahan, nama baik itu lebih penting untuk keluarga pak Darwis.
TINGGAL DI RUMAH MERTUA
Dan diam-diam pak Darwis menjual rumahnya, yang tidak begitu jauh dari rumah Darman, dan mereka pindah di pinggiran kota Jakarta.
"Diana-kok gini hari kamu baru bangun, udah tau ibu repot di dapur, kalau mau tinggal di sini harus rajin, jangan males!"
"Semalem Darman sakit bu, jadi Diana harus mengurus dia"
"Darman-Darman, sama suami nggak ada sopan nya, emang si Darman sakit apa, masa baru kegerimisan aja uda sakit, gimana dia kasih makan anak istrinya nanti, boro-boro bantu biaya kuliah ade-adenya, ini malah nyusahin!"
Bu dewi merapikan piring yang telah di cucinya dengan kasar, Diana hanya bisa diam saja.
"Kenapa bengong, itu siapin sarapan di meja, emang nya suami kamu nggak mau kamu kasih makan?"
Setiap pagi Diana harus membantu mertuanya di dapur, tidak seperti di rumahnya dulu, ibunya selalu melarang dia untuk merepotkan diri di dapur, tujuan nya agar Diana fokus saja pada kuliahnya.
"Di, di tempat temanku kerja, lagi cari karyawan baru, kamu sudah aku rekomendasikan disana, kamu maukan?"
"Ya aku mau" tampa pikir panjang, Diana menerima tawaran Darman, untuk bekerja di yayasan tempat teman Darman mengajar.
Dia sudah bosan mendengar ocehan mertuanya setiap hari, yang membuat perut Diana yang sedang hamil muda, jadi bertambah mual.
Ke esokan harinya Diana sudah bersiap-siap untuk ikut dengan suaminya, menemui ketua yayasan, di mana teman Darman bekerja sebagai guru.
"Baik, mulai hari ini, ibu Diana saya terima di yayasan saya ini, tapi bukan sebagai stap pengajar, melain kan sebagai stap administrasi kantor, kebetulan sesuai dengan gelar ibu Diana"
Dengan senang hati Diana menerima pekerjaan itu, lumayan meski hanya di gaji UMR, dari pada dia harus di rumah saja, yang setiap hari hanya mendengar omelan mertuanya.
Perangai Diana yang cepat ber-adaptasi dengan rekan sekerjanya, membuat Diana semakin betah saja bekerja di tempat itu,
Jam 4 sore, selesai sudah tugas Diana di kantor yayasan itu, Diana dijemput pulang oleh Darman, dengan di bonceng motornya.
"Sudah pulang, gimana, suka kerja di situ?"
Ibu Dewi menyambut menantunya, dia sengaja berdiri di depan pintu, setelah memdengar suara motor putranya, memasuki halaman rumah.
"Suka bu, tapi Diana disitu bukan menjadi guru, tapi menjadi administrasi di kantornya"
"Mungkin mereka melihat kamu sedang hamil, jangan lupa minum susu dan vitaminnya, yang dari dokter, kamu harus jaga kesehatanmu"
Sebenarnya bu Dewi, sangat perhatian pada Diana, karena dia tidak mempunyai anak perempuan, adik Darman semuanya laki-laki, namun ke kesalannya pada Darman, kadang kala, Diana menjadi sasaran kemarahannya.
"Ya bu, nanti Diana minum"
Diana menyusul suaminya ke kamar, sambil membawa secangkir teh hangat untuk Darman.
"Nih, teh nya, kamu mandi dulu, jangan tiduran, nanti kamu ketiduran lagi!" Diana mengambil handuknya, lalu menuju kamar mandi.
Setiap hari setelah pulang kerja, Darman langsung masuk kamar, dia malas kalau harus berpas-pasan dengan ibunya, sebab ibu Dewi kerap kali memarahi nya, mungkin karna ibu Dewi kecewa, karna Darman tidak sesuai harapannya.
PERTENGKARAN PERTAMA
Sebulan sudah Diana bekerja ditempat itu, gaji pertama Diana cukup lumayan, karna itu dia dapat memberi 20% dari gajinya untuk mertuanya, selebih nya dia gunakan untuk keperluan sehari-hari dan untuk di tabung.
namun tidak demikian dengan Darman setelah Diana bekerja, dia memberikan uang kepada Diana sesuka hatinya, itu membuat Diana jadi marah, dan pertengkaran pertama pun dalam rumah tangga mereka mulai terjadi.
"Kok, kamu kasih aku segini, mana gaji kamu yang lainnya, sedangkan gaji kamu kan lebih besar dari gajiku?" Tanya Diana, pada suaminya.
"Yah aku juga pengen pegang uanglah, masa uang aku dipegang kamu semua, uang kamu cukupkan buat makan kamu, dan uang dari aku bisa kamu tabungin, buat kelahiran kamu nanti!" jawab Darman, sambil berlalu dari kamarnya.
Semakin lama sikap Darman semakin tidak dapat bisa di terima oleh Diana, dia lebih senang diluar rumah, dari pada menemani Diana yang sedang hamil.
Jika Diana marah, ibu mertuanya selalu membela suaminya, sehingga Diana hanya bisa menangis menahan kepedihan yang dia rasakan, belum lagi di saat Diana libur bekerja, dia harus mengerjakan pekerjaan rumah, dan Darman tidak sedikitpun ingin membantunya, dia lebih memilih menghabiskan waktu liburnya dengan tidur, sampai Diana membangunkannya untuk makan siang.
"Man, bangun, mau makan siang nggak, hai bangun!" Diana membangunkan suaminya dengan kesal, karna sudah tiga kali Diana bolak-balik membangunkannya, Darman belum juga mau bangun.
"Brengsek, bisa nggak kalau ngebangunin orang pelan-pelan, udah tau aku semalem tidur jam dua, ah, udah sana, nanti aku bangun!" Ucap Darman dengan kasar, dan Diana pun hanya menahan kepedihannya.
Sejak dulu Diana tidak mencintai Darman, selain kasar, ibu Darman pun terkenal cerewet, di lingkungan perumahan mereka, dari itu ibu dan ayah Diana tidak begitu suka berbesanan dengan mereka, namun apa boleh buat karna perlakuan Darman terhadapnya, sekarang Diana jadi bagian keluarga mereka.
"Mana suami kamu, nggak kamu bangunin?" Kata bu Dewi,
"Sudah bu, tapi dia bilang masih ngantuk, malah Diana yang di marahin" ujar Diana.
"Orang udah punya istri kok lagaknya masih kaya bujangan, pake begadang segala" sela pak Yanto, yang hari ini libur juga kerjanya.
"Yah, orang belum puas jadi bujangan sudah di paksa nikah, kayak begitu jadinya" tampa memikir kan perasaan menantunya, ibu Dewi menyuap makanannya, dan Diana pun hanya terdiam, dia tidak bisa melawan, karna dia masih menunggu kelahiran anaknya.
Padahal hatinya ingin sekali melawan apa yang mertuanya katakan, kalau semua ini bukan karna ke inginannya, tapi anaknyalah yang memaksa untuk melakukan itu, sehingga Diana sekarang hamil dan keluarganya harus menanggung malu.
Dengan jengkel Diana melemparkan bantal kemuka Darman.
"Bangun kamu, sampe kapan kamu mau tidur, liat ini sudah jam berapa?" Ujar Diana, tak bisa menahan emosinya lagi.
"Apa-apaan sih kamu, jangan kurang ajar ya, sama aku, aku mau bangun jam berapa kek, bukan urusan kamu, urus diri kamu aja sendiri, pusing aku kalo di rumah, udah dengerin ocehan ibu, kamu lagi begitu, lama-lama aku nggak pulang sekalian!" Ancam Darman, lalu bangkit dari tidurnya, dan langsung menuju kamar mandi.
TUJUH BULANAN
Sudah menjadi tradisi, jika kehamilan pertama di masyarakat pada umumnya selalu di adakan sukuran tujuh bulanan, begitu juga halnya keluarga mertua-Diana, ibu Dewi mengundang teman-teman sepengajian dan teman arisannya, yang berada di lingkungan komplek perumahan, untuk menghadiri sukuran tujuh bulan kehamilan Diana.
"Bu, memang ibu nggak ngasi tau, besan ibu kok nggak datang?" Bisik salah satu teman pengajian ibu Dewi.
"Gimana mau di undang, rumahnya aja kita nggak tau!" Jawab ibu Dewi.
"Masa, Diana juga nggak tau rumah ibunya?"
"Yah orang pindahnya aja diem-diem, gimana dia tau!" Ibu Dewi sedikit kesal.
Dan acara pengajian pun segera di mulai, dengan tradisi tujuh bulanan yang sederhana, akhirnya kehamilan Diana pun mendapat dukungan doa dari ibu-ibu pengajian, supaya pada saat melahirkan nanti Diana tidak mengalami hal-hal yang tidak di inginkan.
Tak lupa pula mereka mendoakan agar kehidupan rumah tangga Diana tetap harmonis, dan satu-satu ibu-ibu undangan itu pun pulang ketempat mereka masing-masing, dengan membawa sekardus aneka makanan yang sudah disiapkan oleh ibu Dewi.
"Pak, memang bapak nggak ketemu pak Darwis, di kantor?" Tanya bu Dewi, pada suaminya.
"Nggak bu, kan bagian kita lain!" Pak Yanto meski satu naungan bekerja di Departemen pemerintahan yang sama, namun pak Yanto dan pak Darwis berbeda bagian tugasnya jadi susah untuk mereka saling bertemu, kecuali ada acara tertentu di kantor Departemennya.
Malam ini tak biasanya Darman memperlakukan Diana dengan mesra, dia menciumi perut Diana yang semakin membuncit, dan itu membuat hati Diana sedikit luluh, karna selama ini Diana selalu dingin bila Darman ingin mendekatinya, sebab pada dasarnya Diana memang tidak mencintai Darman.
"Semoga anak kita lahir dengan selamat ya Di, dan semoga Tuhan juga memberikan kekuatan sama kamu" ucap Darman, setelah mengecup perut Diana.
"Amin, terima kasih Man, kamu nggak mau makan dulu, itu aku udah siapkan makanannya dimeja?" Kata Diana, sambil menatap wajah Darman, yang ternyata tampan juga.
"Yuk, kita makan sama-sama" Darman memeluk pundak Diana dan mengecup pinggir kepala Diana.
"Maaf bapak dan ibu makan duluan, abis nungguin kalian lama, perut bapak udah keburu laper" pak Yanto menikmati makanannya, dengan gaya kaki di angkat sebelah ke atas bangku.
"Nggak apa pak, Darman ketiduran, Diana disuruh makan duluan nggak mau" Darman menarik bangkunya.
"Diana, kamu udah boleh kumpulin dikit-dikit peralatan untuk bayi kamu, jangan banyak-banyak, nanti suka banyak yang ngado peralatan bayi, beli yang penting-penting aja, kalo kurang, gampang nanti beli lagi!" Kata ibu Dewi.
"Iya bu" jawab Diana, sambil menuangkan nasi ke piring suaminya.
"Diana, ibu liat susu kamu kok nggak abis-abis, kemaren ibu beresin kamar kamu, obat dari dokter juga nggak kamu minum, itu harus kamu habisin Di, biar bayi dan kamu sehat!" Ibu Dewi begitu perhatian kepada menantunya.
"Iya bu, Diana suka lupa" sahut Diana.
"Kamu Man, harusnya kamu juga bantu perhatiin, istri kamukan baru hamil pertama, jadi belum ngerti banget!" Lanjut bu Dewi, yang hanya di balas senyum oleh Darman.
Selesai makan malam, seperti biasa Diana membantu mertuanya mencuci piring, yang telah di pakai, setelah selesai Diana pun segera menyusul suaminya kekamar.
Selama berumah tangga, Darman jarang sekali duduk-duduk kumpul dengan keluarganya, setiap Darman ikut kumpul, ibu Dewi selalu mengungkit-ungkit masalah kenapa Darman ingin buru-buru menikah, karna ibu Dewi berharap Darman, bisa membantu adik-adiknya dahulu, untuk membiayai kuliahnya.
"Di, kamu nggak minum susu dulu?" Tanya Darman, yang asik memainkan handponnya.
"Besok aja, sekarang aku udah kenyang!" Jawab Diana, membaringkan badannya di tempat tidur.
Darman mencoba mendekati istrinya, dia mengusap-usap perut Diana, dan Diana diam saja, tidak seperti biasanya bila Darman mengusap perutnya, Diana suka membalikkan badan membelakangi Darman, itu tidak di sia-sia kan oleh Darman, dia mencium pipi Diana kemesraan suami istri pun terjadi.
MULAI SELINGKUH
Seperti biasa Diana pergi ketempat kerja bersama dengan suaminya, sekolah swasta, tempat Diana bekerja cukup besar.
"Bu, kasih tau saja, kasihan ibu Diana, dia sedang hamil besar, sementara suaminya enak-enakan pacaran lagi" bisik pak Jamal kepada ibu Narsih.
"Bapak bener, ngeliat mereka pacaran?" Sahut ibu Narsih, belum yakin.
"Bener bu, bukan saya saja, tapi sudah banyak yang ngeliat!" Pak Jamal meyakinkan ibu Narsih.
"Ada apa bu?" Tanya Diana kepada ibu Narsih, yang sejak tadi matanya tertuju kepada Diana.
"Eh, nggak bu, ini pak Jamal minta tolong sama saya" sahut ibu Narsih beralasan.
"Soal suami saya, yang lagi deket dengan ibu Susi ya bu, saya sudah denger kok bu, dari itu hari ini saya ingin mengajukan surat pengunduran diri, karna sebentar lagi saya akan melahirkan" lanjut Diana lagi.
"Oh, ibu Diana sudah tau, kenapa ibu diem saja, nggak laporkan kepada ketua yayasan!" Kata ibu Narsih lagi.
"Biarin aja bu, biar saya saja yang berhenti dari sini" jawab Diana lagi.
Hanya empat bulan saja Diana bekerja di yayasan itu sebagai administrasi di kantornya, berhentinya Diana dari tempat itu, tidak dia diskusikan dulu dengan suaminya, itu membuat Darman menjadi marah.
"Kamu apa-apaan berhenti, kalau kamu lahir, kan bisa kamu ambil cuti saja!" Kata Darman emosi.
Dan Diana hanya diam saja, dia hanya memiringkan badannya membelakangi Darman, sambil berbaring di tempat tidur.
"Kalau di ajak ngomong nya'ut dong, aku kan lagi ngomong sama kamu!" Kata Darman , sambil membanting gelas yang di pegangnya, dan itu di dengar oleh ibu Dewi.
"Darman, apa-apaan kamu, itu gelas ibu, jangan se enak-enaknya ya, kamu pecahin, bisa ganti kamu!" Ujar ibu Dewi, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Darman.
"Iya nanti Darman gantiin, ibu tenang aja!" Jawab Darman, keluar dari kamarnya.
"Emang ada apa sih, kok sampe begitu kamu?" Tanya ibu Dewi.
"Diana berhenti dari kerjanya, di tanya alasannya kenapa, diem aja, malah pura-pura tidur!" sahut Darman.
"Kok berenti, kan cari kerja sekarang susah, kenapa berenti, Diana, bangun, jangan pura-pura tidur kamu!" Teriak ibu Dewi.
"Dia selingkuh bu, dari pada guru itu yang di berentiin, mending Diana yang berenti!" ujar Diana, tak dapat lagi menahan tangisnya.
"Siapa yang selingkuh, jangan ngarang-ngarang kamu!" Teriak Darman.
"Aku nggak ngarang, semua stap dan guru-guru sudah tau kamu pacaran dengan ibu susi, nih aku di kirimin gambarnya, waktu kamu lagi berduaan dengan dia!" Teriak Diana tak mau kalah, dan Darman pun tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Sudah-sudah, mangkanya jangan buru-buru mau kawin, udah kawin mau pacaran lagi, kalau kamu udah bosen, anterin istri kamu ke orang tuanya, jangan bikin malu keluarga terus!" Sunggut ibu Dewi.
Darman pun hanya terpaku di meja makan, karna kebetulan kamar mereka berhadapan dengan ruang makan keluarganya, dia tidak menyangka kedekatan nya dengan Susi, teman sekerja istrinya, sudah di ketahui oleh teman-teman tempatnya bekerja.
"Bersihin tuh belingnya, nanti ke injek sama istri kamu, punya uang kamu buat ke dokter!" Kata bu Dewi, membuyarkan lamunan Darman, dan Darman pun segera membersihkan pecahan kaca gelas yang di bantingnya tadi.
MELAHIRKAN
Sejak kejadian pertengkaran itu Diana tidak ingin tidur bersama Darman satu tempat tidur, dia sengaja tidur di sofa yang ada di dalam kamarnya, lama kelamaan Darman pun kasihan melihat istri nya, dia sengaja lebih dulu tidur di sofa itu, sebelum Diana tidur, meski satu kamar mereka lama saling diam, sampai akhirnya waktu melahirkanpun tiba.
"Aduh-aduh!" Rintih Diana, yang di dengar oleh mertuanya, karna mereka sedang sama-sama berada di dapur.
"kenapa Di?" Tanya ibu Dewi.
"Perut Diana sakit bu" sahut Diana, tidak lama kemudian air keluar dari alat sensitif Diana.
"Ya ampun, kamu mau melahirkan Di, ayo cepet kita ke rumah sakit!" Ujar bu Dewi, yang cepat-cepat membawa Diana keluar dari dapur.
"Den-Deni tolong panggil taxi Den, nih kakakmu mau ngelahirin!" Teriak bu Dewi, memanggil Deni adik Darman yang sedang di kamarnya.
"Ya bu, sebentar, Deni pesenin!" Sahut Deni, cepat-cepat mengambil handponnya, dan tidak lama kemudian taxi pun datang, ibu Dewi dan Deni langsung membawa Diana ke rumah sakit.
Tidak memakam waktu lama, Diana pun akhirnya melahirkan secara normal, seorang bayi perempuan yang mirip dengan Darman telah lahir dengan selamat, ibu Dewi begitu gembira melihat cucu pertamanya, apa lagi itu seorang anak perempuan, karna ibu Dewi tidak memiliki anak perempuan.
Darman bergegas menghampiri anaknya, setelah menemui Diana-istrinya, dan mengecup kening Diana dengan mesra.
"Terima kasih Di, maafkan aku ya" ucap Darman, sambil mengecup kening Diana sekali lagi, dan Diana hanya diam saja.
"Bu, sini, Darman mau azanin" ujar Darman, dan ibu Dewi memberikan cucunya kepada anaknya.
Deni yang begitu gembira melihat kakak iparnya sudah melahirkan, buru-buru menelpon bapaknya yang masih di kantor.
"Halo pak, pak kak Diana sudah melahirkan, anak nya perempuan!" Kata Deni.
"Alhamdulilah, gimana keadaannya, sehat?" Tanya pak Yanto.
"Sehat pak, alhamdulilah" jawab Deni.
"Sukur kalau gitu, nanti bapak kalau ketemu pak Darwis akan bapak kasih tau, kalau kakakmu sudah melahirkan, sekarang tutup dulu ya, bapak masih kerja!" Ujar pak Yanto, sambil menutup ponselnya.
Kegembiraan mendapatkan cucu perempuan, membuat ibu Dewi semakin sayang kepada menantunya, dia lupa akan kata-katanya yang menyuruh Diana dan Darman harus pindah dari rumahnya setelah melahirkan, justru adik Darman-Daud, yang mengalah keluar dari rumah itu, dengan mengekos dekat kampus dimana dia kuliah.
"Assalammualaikum" ucap ibu Sari dan pak Darwis, yang baru saja datang menengok anak dan cucu nya.
"Waalikum salam" sahut pak Yanto dan ibu Dewi, menyambut besannya, yang hari minggu ini benar-benar di jadikan saat-saat pertemuan mereka, selama Diana dan Darman berumah tangga.
"Silahkan duduk bu, nanti saya panggil Diana, dia lagi nyusuin anaknya!" Ucap ibu Dewi, lalu masuk memanggil Diana di kamar.
"Bu, maafin Diana" ucap Diana, mencium tangan ibu nya, yang langsung dipeluk oleh ibu Sari.
"Ibu sudah maafin kamu nak, jawab ibu Sari, dan suasana pun menjadi akrab, antara mertua dan orang tua-Diana, seolah tidak ada masalah lagi dengan pernikahan anak-anak mereka, perbincangan mereka pun dilanjutkan di meja makan.
BIKIN ULAH LAGI
Dua bulan sudah Diana melahirkan anaknya, ibu Dewi kembali mengantarkan Diana dan anaknya ke rumah sakit, untuk memeriksa kembali kesehatan mereka.
"Di, kamu jangan lupa KB, kasihan anak kamu nanti kalau kamu sampe hamil lagi!" Ujar ibu Dewi.
"Iya bu" sahut Diana, padahal sudah hampir empat bulan dia tidak di sentuh oleh suaminya, tapi pikir nya, (tidak apa-apa lah, untuk berjaga-jaga, nama nya juga masih satu kamar), dan setelah selesai, merekapun pulang.
"Ibu Dewi, itu tadi ada yang cari nak Darman, dia tanya sama saya, dimana rumahnya nak Darman" kata ibu Suti, tetangga ibu Dewi.
"Siapa ya bu, perempuan apa laki-laki bu?" Tanya bu Dewi, yang baru saja turun dari taxi.
"Perempuan bu, orangnya sepantar nak Diana gitu" jawab ibu Suti lagi.
"Oh ya bu, makasih ya" jawab ibu Dewi, buru-buru masuk ke rumahnya.
"Siapa lagi, awas aja kalo dia macem-macem, ku usir dia, malu-maluin aja!" Gerutu ibu Dewi.
"Bu, Diana mau kerja lagi bu, kata temen, di bank tempat dia kerja, lagi ada lowongan" ujar Diana, setelah membuatkan susu untuk anaknya, Diana sengaja memberhentikan anaknya, untuk diberi asi olehnya, selain Diana merasakan sakit pada bayudaranya, Diana pun berniat ingin bekerja lagi.
"Nanti anakmu bagaimana, ibu kan nggak bisa selalu ngurus anakmu?" Sahut ibu Dewi.
"Nanti Diana cari orang yang mau mengasuh vivi- bu, Diana minta tolong sama ibu, cuma ngawasin aja" ujar Diana lagi.
"Oh, ya sudah kalo begitu, tapi kamu jangan tinggalin vivi ya, kasihan cucu ibu" ibu Dewi memohon kepada Diana, karna ibu Dewi tau kalau Darman dan Diana sedang tidak akur.
Jam sepuluh malam Darman baru pulang dari kerja nya, padahal harusnya jam lima sore dia sudah sampai dirumah, ibu Dewi sudah siap menunggu di depan pintu, setelah mendengar suara motor Darman.
"Dari mana aja kamu, gini hari baru pulang, sudah punya anak bukannya bener, malah menjadi-jadi!: sunggut ibu Dewi.
"Yang penting aku pulang bu, di rumah juga punya istri nggak bisa di apa-apain!" Ujar Darman, yang langsung masuk ke kamarnya.
"Kok kamu ngomong gitu Man, kan kamu tau aku abis melahirkan!" Kata Diana.
"Diem kamu, nggak usah ikut campur, kalo kamu nggak suka, kamu boleh pulang kerumah orang tua kamu!" Kàta Darman lagi, yang membuat Diana marah.
"Kamu ngusir aku, baik aku pergi" jawab Diana, sambil mengambil koper yang berada di atas lemari.
"Siapa yang ngusir kamu, itukan kalau kamu nggak suka?" Ujar Darman lagi
"Ya, aku nggak suka, kamu perlakukan seperti ini, kamu pikir apa aku, se enaknya kamu nggak jaga perasaan aku!" Jawab Diana.
"Emang kamu, jaga perasaan aku, mana tugas kamu sebagai istri, setiap aku deketin kamu menolak, sekarang salah, kalau aku pulang malam, cari prempuan di luar?" Lanjut Darman, yang membuat sesak dada Diana.
"Jahat kamu, ceraikan aku, aku nggak mau hidup sama kamu lagi!" Teriak Diana, tak dapat menahan tangisnya lagi.
"Buka-buka pintunya!" Teriak ibu Dewi, mengedor-ngedor pintu kamar Darman, karna mendengar teriakan Diana.
"Apa-apaan kamu Man, kamu mau menceraikan istri kamu, siapa nanti yang ngurus anak kamu, jangan gila kamu, kalau kamu begitu terus, lebih baik kamu yang pergi dari rumah ini!" Teriak ibu Dewi, yang membuat Deni dan pak Yanto keluar dari kamarnya.
"Ada-apa bu, kenapa kamu Man, sadar kamu sudah punya anak, anak kamu perempuan, mau anak kamu nanti di sakitin sama suaminya?" Ujar pak Yanto, sambil memegangi istrinya, yang lemas karna menahan emosi.
Diana menarik koper, dia ingin keluar dari kamar itu, dan pergi meninggalkan rumah mertuanya.
"Mau kemana kamu?" Darman menarik tangan Diana, sambil mengendong anaknya yang menanggis, karna mendengar gedoran pintu.
"Aku mau pulang, lepasin!" Kata Diana, berusaha melepaskan tangannya.
"Jangan macem-macem kamu!" Darman mendorong Diana ketempat tidur, dan langsung mengunci pintu kamarnya lagi.
Darman berusaha menidurkan anaknya yang sudah berhenti menangis, setelah itu dia berusaha membaik-baikkan Diana yang masih menangis.
"Sudah maafkan aku, aku salah!" Darman berusaha mencium Diana yang meronta, namun tenaga Diana tidak dapat melawan tenaga Darman yang menekan nya dari atas, lagi-lagi Darman memaksa Diana untuk melakukan itu, dan Diana hanya pasrah, ketika Darman melampiaskan napsunya.
EGOIS
Seperti biasa pagi-pagi sekali Diana sudah bangun, Dia minta tolong kepada ibu Dewi untuk mengendong anaknya, sebab pengasuh vivi baru datang nanti jam setengah tujuh pagi.
"Darman, bangun, anakmu nih gendong, udah tau ibu sama istri kamu lagi sibuk, masa gendong anak aja kamu nggak mau!" Kata bu Dewi, sambil mencubit tangan Darman.
"Ah apaan sih ibu, kan ada mamanya, nggak tau kalo orang masih ngantuk!" Ujar Darman kembali tidur.
"Dasar anak nggak tau diri, ngapain kamu pengen punya anak, kalo gendong anak aja kamu nggak mau?" Ujar ibu Dewi lagi.
"Sini bu, bapak gendong, sana ibu ke dapur lagi, susah memang kalo orang sudah punya sifat egois kaya gitu" ujar pak Yanto.
Sebenarnya Diana sudah tidak kuat berumah tangga lagi dengan Darman, selain egois Darman kerap kali berlaku kasar pada Diana, apa lagi masalah uang, Darman hanya memberi uang untuk membeli susu dan popok anaknya saja.
Sementara untuk kebutuhan sehari-hari, Diana lah yang harus mengeluarkannya, karna sekarang Diana sudah bekerja di bank swasta, Darman seperti mengandalkan semuanya pada Diana.
"Bu, Diana berangkat dulu, titip Vivi ya bu!" Ujar Diana, pamit kepada mertuanya, jam setengah tujuh Diana sudah harus berangkat ke kantornya, Darman sama sekali tidak ingin mengantarkan Diana, akhir nya Deni adik ipar Diana lah yang setiap hari mengantarkannya ke kantor.
"Terima kasih ya Den, nih buat beli bensin, kakak cuma bisa kasih segini Den!" Ucap Diana, sambil menyerahkan uang seratus ribuan kepada adik ipar nya.
"Nggak usah kak, semalem udah Deni isi bensin, motornya, itu kakak pegang aja, Deni masih ada uang kok!" Jawab Deni.
"Terima kasih ya Den, hati-hati di jalan!" Kata Diana, langsung menuju kantornya, sementara Deni menuju ke kampusnya yang memang tidak seberapa jauh dari kantor Diana.
Sebagai sarjana ekonomi Diana tidak mendapat kesulitan menjadi karyawan sebuah bank, banyak nasabah yang Diana tangani.
Deni membantu Diana untuk menawarkan pasilitas-pasilitas baru dari bank tempatnya bekerja, kepada teman mahasiswanya, sehingga pendapatan Diana naik pesat setiap bulan.Deni pun mendapat bagian dari pekerjaannya itu.
Berkat bantuan Deni, Diana pun mendapat sponsor dari atasannya, untuk naik jabatan dikantornya.
"Den, kita mampir dulu yuk kesupermarket, kakak mau belanja kebutuhan dapur" ujar Diana, setelah pulang dari kantor, seperti biasa Deni selalu menjemput kakak iparnya.
"Belanja terus kak, padahal makanan masih banyak di rumah" kata Deni,
"Ada yang sudah habis Den, kasihan ibu, nanti dia cari-cari ke warung, tapi kita mampir makan baso dulu yuk, udah lama kakak nggak makan baso!" Ujar Diana lagi, dan mereka langsung menuju kedai baso langganan Deni.
"Hai Den, cewek lo?" Tanya Sam, merangkul Deni, yang juga baru datang di kedai baso itu.
"Kakak gue!" Jawab Deni.
"Lo punya kakak cakep diem-diem aja, kenalin dong!" Bisik Sam, dan Sam pun berkenalan dengan Diana, mereka jadi duduk satu meja dengan Sam, bahkan Sam lah yang meneraktir baso Diana dan Deni.
Diana memang cantik, tubuhnya kembali seperti semula setelah melahirkan, bahkan banyak orang yang menyangka kalau Diana adalah pacar Deni, karna setiap hati Deni lah yang selalu mengantar Diana kemana-mana.
"Den, sebenarnya kak Diana mau dikasih pasilitas mobil dari kantor, tapi kakak bingung, taruhnya nanti di mana, belum lagi nanti kakak takut Darman mau pakai mobil itu, gimana ya Den?" Kata Diana, setelah mereka ada di supermarket.
"Bilang aja itu mobil untuk Deni, sebagai karyawan lepas dari bank kakak, kakak bisa kasih tau hasil penjualan Deni kepada nasabah, pada kak Darman, kak Darman pasti nggak berani pinjem, apa yang punya Deni" sahut Deni.
"Ya sudah, tapi nanti parkirnya dimana, kan ada mobil bapak?" Lanjut Diana.
"Gampang parkir sih, taruh di depan rumah kita juga nggak masalah, yang penting kita tutup aja" jawab Deni, dan mereka menyelesaikan belanjanya.
Darman sempat gusar kepada Diana, setelah tau Deni mendapatkan pasilitas mobil, dari tempat Diana bekerja.
"Di, kok bisa Deni yang dapet pasilitas mobil, kamu kok nggak, padahalkan kamu yang pegawai tetap nya?" Tanya Darman.
"Bisa lah, dia kan yang banyak menjual saham kepada nasabah, meski Deni karyawan lepas, dia juga yang banyak membantu aku" jawab Diana.
"Berarti aku juga bisa dong kerja di kamu?" Tànya Darman lagi.
"Bisa, kalau kamu mau cari nasabah, sebagai sales di bank tempatku bekerja!" Jawab Diana lagi, dan Darman hanya diam, karna dia sudah merasa nyaman menjadi stap kantor disebuah perusahaan swasta.
CEMBURU
Vivi begitu senang bila di gendong oleh Deni, setiap minggu pagi Deni selalu mengajak keponakannya bermain di taman yang berada di lingkungan kompleknya, tidak sedikit tetangganya yang mengatakan, kalau Deni lebih sayang kepada Vivi, daripada Darman, Diana pun jadi lebih dekat dengan Deni, dari pada kepada Darman,
"Vivi kemana?" Tanya Darman, kepada Diana.
"Dibawa Deni ketaman, tumben kamu gini hari sudah bangun?" Jawab Diana.
"Suka-suka aku lah, mau bangun jam berapa!" kata Darman, sambil keluar dari kamarnya.
"Bu, Deni suruh pulang, Vivi jangan terlalu lama di bawa keluar!" Ucap Darman, kepada ibunya.
"Tumbenan kamu udah bangun, biarin aja Vivi di ajak maen sama pamannya, orang anaknya anteng kok!" Ujar ibu Dewi.
"Ah, di mana sih maennya, anak segede gitu di biasain maen diluar, nanti nggak betah di rumah lagi!" Jawab Darman kesal, lalu dia keluar mencari anaknya yang di ajak bermain oleh Deni.
"Dasar, sekalinya bangun pagi, bikin ribut!" Gerutu ibu Dewi, yang sudah kesal melihat tingkah laku Darman, yang setiap malam minggu selalu pulang larut malam.
"Bu, kak Darman apa-apaan sih, masa ngomelin aku di depan orang banyak, kalau memang suruh pulang, suruh pulang aja, jangan orang di omelin gitu, aku kan malu!" Ujar Deni, yang baru saja pulang dengan wajah kesal.
"Eh Darman, apa-apaan kamu, nggak tau sopan santun, ngomelin adik kamu di depan umum, emang adik kamu masih kecil, kalau kamu nggak mau anak kamu di pegang Deni, kamu pindah dari sini, bawa istri kamu dan anak kamu dari sini!" Ucap ibu Dewi.
"Ya nanti aku pindah dari sini, bu aku punya hak atas anak aku, jadi kalau aku bilang jangan dibawa kesana, ya, jangan!" Teriak Darman, yang membuat Deni jadi emosi.
"Eh, jangan kurang ngajar lo ya, sama ibu, lo siapa, lo cuma numpang di sini, kalo lo nggak suka, lo boleh keluar dari sini, gue cuma ajak maen anak lo, lo sebagai ayah emang suka gendong dia, nggak tau terima kasih lo!" Ujar Deni kasar, karna dia benar-benar emosi.
"Sudah-sudah, pagi-pagi sudah ribut, malu sama tetangga, kamu Darman kalau mau marahin orang liat-liat, nggak pantas kamu sebagai seorang kakak bersikap seperti itu, kamukan bisa ngomong baik-baik di rumah, bukan di tempat umum!" Ujar pak Yanto, melerai pertengkaran kedua anaknya.
"Kamu kenapa sih Man, orang Vivi biasa kok di ajak main sama Deni" ujar Diana, mengambil Vivi dari gendongan Darman.
"Diam kamu, kita pindah dari sini, aku sudah nggak betah!" Bentak Darman.
"Apa-apaan kamu, siapa nanti yang jagain Vivi, aku nggak mau!" Sahut Diana.
"Oh gitu ya, ternyata memang kamu pengen selalu deket sama adik aku ya?" Ujar Darman, sambil melotot kepada Diana.
"Kamu sudah gila ya, masa kamu cemburu sama adik kamu sendiri, eh Man, kalau aku mau, di luar sana banyak yang mau sama aku!" Sahut Diana.
"Plak!" Darman menampar pipi Diana yang sedang mengendong anaknya, Vivi menjerit melihat mama nya di tampar oleh Darman.
"Kurang ngajar kamu, beraninya kamu pukul istri kamu, keluar kamu!" Ujar pak Yanto, sambil memukul bokong Darman, Darman pun buru-buru keluar, dengan membawa motornya.
"Sudah Di, kamu tetep tinggal disini, bisa rusak kamu di pukulin kalau kamu pisah dari sini!" Ujar ibu Dewi, sambil mengambil cucunya dari gendongan Diana.
Malam ini Darman tidak pulang, entah dia tidur di mana, Diana sudah tidak perduli lagi, dia sudah benar-benar sakit hati oleh perlakuan Darman terhadap dirinya.
Sebemarnya Diana sudah ingin pulang kerumah orang tuanya, namun dia merasa kasihan bila melihat Vivi anaknya, walau terkadang dia suka menyesal, mengapa Vivi harus lahir, seandainya saja Vivi tidak lahir, mungkin Diana sudah mengugat cerai Darman