Sehari sebelum malam halloween. Semua temanku sibuk membahas tentang pesta yang diadakan keluarga Lucas. Semua diperbolehkan mengikuti pesta itu. Dengan syarat harus memakai dresscode bertema halloween dan juga harus membawa pasangan.
Semua orang terlihat senang menyambut pesta tersebut. Tetapi tidak denganku. Ya.... aku mungkin tidaka akan pernah bisa hadir dalam pesta itu. Bagaimana tidak aku bahkan tidak memiliki pasangan yang bisa diajak pergi bersama. Jangankan kekasih, teman pun tak ada.
Banyak dari temanku yang memanggilku "DORA SI BURUK RUPA". Menurut mereka aku berbeda dengan mereka. Hanya karena penampilanku yang selalu terlihat sederhana. Sementara mereka selalu berpenampilan mewah dan glamor. Selama ini aku memang lebih suka menyendiri. Menyembunyikan diriku dari keramaian.
Hari ini mereka sudah benar-benar keterlaluan. Mereka mengejekku habis-habisan. Bahkan mereka juga membuat ssbuah taruhan. Mereka sangat yakin jika aku tidak akan pernah datang ke pesta malam nanti. Lagi pula siapa yang mau pergi ke pesta dengan gadis buruk rupa sepertiku.
Sebenarnya dilubuk hatiku, aku juga merasa sangat sedih. Mengapa dari sekian banyak orang. Tak ada satu orang pun yang mau berteman denganku. Tapi demi menutup mulut tajam mereka. Aku bertekad untuk hadir dalam pesta itu. Aku tak ingin terus diremehkan dan dikucilkan.
Malam mulai tiba, pesta akan dimulai beberapa jam lagi. Tetapi aku belum juga memiliki teman ke pesta. Aku sudah berusaha meminta dan membujuk beberapa temanku. Namun tak ada satupun dari mereka yang bersedia pergi bersamaku.
Aku hampir menyerah, rasanya memang tak mungkin bagiku hadir dalam pesta mewah itu. Aku mulai mengurungkan niatku. Hingga seseorang mengetuk pintu rumahku.
Tok..... tok..... tok..... Aku berjalan membukakan pintu dengan gaun masih melekat ditubuhku.
"maaf cari siapa ya?" tanyaku pada orang yang datang. Ternyata yang datang adalah seorang pria. Dia mengenakan kostum Halloween lengkap dengan aksesorisnya.
"aku datang untuk mengajakmu pergi ke pesta." jawabnya dengan sangat lembut.
"apakah kita saling mengenal?" tanyaku lagi penasaran dengan pria itu.
"kau bisa memanggilku Tom." jawabnya tersenyum. Aku berfikir sejenak, sepertinya aku tidak punya teman yang bernama Tom.
"kenapa masih diam? Ayo kita berangkat sbelum pestanya dimulai. Bukankah kau sangat ingin menghadiri pesta itu." katanya membuyarkan lamunanku. Aku bingung, aku ingin pergi tetapi aku tidak mengenal orang ini.
"mau menunggu apa lagi Dora?" tanyanya lagi.
" ah.... baiklah mari kita berangkat." jawabku menyetujui.
Aku tidak lagi berfikir panjang. Aku harus pergi ke pesta bersama dengan Tom. Meski aku tidak mengenalnya. Tetapi sepertinya dia adalah orang baik. Dia juga terlihat berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Terbukti dengan pakaian yang dikenakannya. Semua adalah barang-barang bermerk.
Aku terus mengikuti langkahnya. Semakin lama kami semakin jauh dari kompleks. Sebenarnya aku merasa sedikif aneh. Kenapa malam ini terasa begitu sepi. Bukankah setiap malam halloween akan banyak anak-anak yang berkeliling meminta permen. Tetapi malam ini benar-benar sepi.
Aku tak mau ambil pusing, yang terpenting tujuanku sekarang adalah datang ke pesta. Membuktikan pada semua temanku. Jika ada orang yang sudi mengajakku pergi ke pesta.
Tak lama kemudian kami sampai disebuah rumah yang sangat megah. Disana terlihat sangat ramai. Ternyata banyak sekali orang yang menghadiri pesta tersebut. Saat aku datang, semua orang memperhatikanku. Malam ini aku memakai kostum ala nenek sihir. Namun aku sengaja tak merias wajahku dengan tebal. Agar mereka bisa mengenaliku. Sedangkan Tom mengenakan kostum drakula.
"apa kau suka?" tanya Tom.
"aku sangat suka. Terimakasih Tom karena mengajakku ke pesta ini". jawabku tersenyum.
"kalau kau mau aku bisa membawamu ke pesta ini setiap tahun dimalam halloween. Aku akan selalu menjemputmu." kata Tom menawarkan.
"terimakasih Tom, tapi aku rasa aku tidak akan bisa menghadiri pesta seperti ini setiap tahun." kataku menatap Tom.
"mari berdansa." ajak Tom mengulurkan tangannya. Musik mulai diputar. Semua pasangan mulai menari. Dengan sedikit ragu ku raih tangan lembut Tom. Tom menarikku kedalam pelukannya. Kami pun menari bersama.
Tom begitu lihai dalam berdansa. Langkahnya teratur sesuai irama. Aku menatap wajahnya dalam. Menco mengingat sosok yang ada dihadapanku. Namun sskeras apa aku berfikir semua terasa sia-sia. Tak ada satu ingatanku tentang dirinya.
Aku sangat penasaran dengan sosok Tom. Aku pun memberanikan diri bertanya padanya.
"Tom kenapa kau memilihku untuk menemanimu ke pesta ini. Bukankah kita tidak saling mengenal sebelumnya?" tanyaku mulai menyusun kata.
"mungkin kau tidak mengenalku. Tetapi aku selalu memperhatikanmu. Sejak dulu, setiap saat aku memperhatikanmu. Setiap kali orang-orang itu membullymu. Rasanya aku ingin memberi pelajaran pada mereka. Aku ingin membalas setiap luka dan kesedihan yang kau rasakan. Tapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku hanya bisa mengawasi mereka. Tak mampu berbuat apa pun. Maaf karena tidak bisa ada untuk melindungimu." jawab Tom yang terlihat sangan kecewa pada dirinya sendiri.
"sudahlah Tom, ini bukan salahmu. Kau tak perlu minta maaf. Aku sudah terbiasa menerima ejekan dari mereka." sahutku tersenyum hangat.
"Dora..... jika aku mengatakan aku mencintaimu. Apakah kau akan menerimaku?" tanya Tom tiba-tiba membuatku syok.
"kau..... kau mencintaiku?" tanyaku terperanga tak percaya. Tom mengangguk penuh keyakinan. Aku tak tahu harus berkata apa. Aku hanya diam terpaku tak berani menatapnya.
Suasana menjadi sedikit canggung. Tom mulai mengjentikan langkah kakinya. Kami berhenti menari. Tom pun melepaskan pelukannya.
"sudahlah jangan difikirkan kata-kataku tadi. Bagaimana kalau sekarang kita menikmati hidangan. Begitu banyak makanan lezat. Jangan sampai melewatkannya." kata Tom mencoba mencairkan kecanggungan.
"baiklah." jawabku tersenyum. Tom membawaku menuju meja makan. Benar kata Tom, begitu banyak makanan lezat disana. Bahkan aku pun belum pernah memakannya seumur hidupku.
Tom mengambilkan makanan kedalam piringku. Dia sangat lembut dan perhatian. Baru kali ini aku mendapatkan perhatian saperti ini. Sepertinya aku mulai nyaman dengan Tom. Meski ini adalah pertemuan pertama kami. Tetapi Tom memberikan kesan yang mendalam untukku.
Kami menikmati makanan. Aku berusaha bersikap anggun didepan Ton. Jangan sampai tongkahku mempermalukan Tom. Aku baru tersadar, jika sejak tadi banyak pelayan yang menaruh hormat pada Tom. Aku menjadi semakin penasaran pada Tom.
"Tom kenapa mereka begitu menghormatimu?" tanyaku mencari tahu.
"karena aku salah satu pemilik rumah ini." jawabnya tersenyum penuh kelembutan.
"kau anggota keluarga Lucas?" aku berseru tak percaya.
"ya aku anakn tertua keluarha Lucas." jawabnya menjelaskan.
"astaga mimpi apa aku bisa bertemu dengan putra tertua keluarga Lucas. Bahkab dia juga sempat mengutarakan cintanta padaku." kataku dalam hati masih tak percaya.
"Dora..... aku sungguh-sungguh dengan kata-kataku tadi. Sudah sejak lama aku menyukaimu. Mungkin sejak kita masih anak-anak. Aku selalu mengagumi keramahan dan kebaikan hatimu. Meski kau sering dijauhi oleh teman-temanmu. Tetapi tak sekali pun kau membalas mereka." Tom kembali mengungkapkan perasaannga. Aku menatapnya dan melihat ketulusan dari matanya.
"Dora.... tolong jangam ragukan aku. Aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia." lanjut Tom menggenggam tanganku. Aku tak menolak, justru kali ini aku sangat tersentuh dengan kata-kata Tom.
Perlahan Tom mulai mendekatkan wajahnya padaku. Mengetahui jika tidak ada penolakan dariku. Tom dengan berani mencium bibirku. Bibirnya terasa begitu dingin. Namun sangat lembut.
Aku sangat terkejut. Tubuhku seolah membatu. Tak menolak juga tak membalas ciuman Tom. Namun Tom tak menghiraukan reaksiku. Dia menciumku cukup lama.
"astaga apa lagi ini? Tom menciumku, ditempat umum. Ini adalah ciuman pertamaku." batinku terperangah. Tetapi tak bisa dipungkiri ada perasaan senang dalam hatiku.
"Ternyata seperti ini rasanya berciuman. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Sangan menyenangkan rasanya dicintai oleh orang." lanjutku dalam hati yang mulai menikmati ciuman Tom.
Tak lama kemudian Tom menyudahi ciumannya. Aku tertunduk malu. Tom kembalu meraih tanganku. Menggenggamnya sangat erat.
"sudah sangat malam. Ayo aku antar pulang." katanya menawarkan diri. Aku tak menjawab dan tak menolak ajakannya. Tom mulai beranjak, menuntunku dan kembali mengantarku pulang ke rumah.
Setelah Tom meninggalkan rumahku. Aku lekas masuk kedalam kamarku. Aku sangat bahagia malam ini. Bagaimana tidak aku dicintai oleh Tom. Anak tertua keluarga Lucas. Keluarga yang sangat berpengaruh dikota ini. Rasanya aku tidak ingin mengakhiri malam ini. Malam halloween ini akan menjadi malam yang selalu aku ingat.
Aku segera tidur setelah membersihkan diri. Aku ingin segera bertemu dengan Tom esok hari. Entah mengapa baru sebentar berpisah, aku sudah sangat merindukannya. Tom..... oh Tom.... kau telah mengusik hatiku malam ini.
Pagi harinya saat bangun tidur. Aku mendapati sebuah surat diatas nakasku. Ternyata surat itu dari Tom. Eh.... tapi tunggu, kapan dia memberiku surat? Mungkinkah pagi-pagi sekali dia sudah menitipkan surat itu pada ibu.
Aku membaca isi surat itu. Ada sebuah paragraf yang membuatku bersemangat. Dia menasehatiku penuh pengertian. Katanya "Jangan perdulikan apa yang orang katakan. Percaya dirilah, kamu bukanlah si buruk rupa. Kamu sangatlah canti dan menawan. Dimataku kamu akan tetap bersinar. Rasanya aku ingin membawamu bersamaku. Agar kita bisa selalu bersama. Tetapi aku tidak bisa memaksa dirimu. Aku akan menunggumu, sampai kau sendiri yang datang menghampiriku. Aku akan terus mengawasimu dari kejauhan."
Seminggu kemudian aku tak pernah lagi bertemu dengan Tom. Rasanya sangat aneh, setelah malam itu aku tak mendapat kabar apa pun darinya. Alangkah bodohnya aku saat itu tak meminta nomor ponselnya. Padahal aku sangat ingin bertemu dengannya. Bisa dibilang aku merindukannya. Mungkinkah aku telah jatuh cinta padanya? Pada orang yang hanya aku kenal dan aku temui selama semalam? Sungguk konyol diriku ini.
Sepertinya hari ini sedang ada gosip hangat. Semua orang membahas tentang gosip ini. Apa lagi kalau bukan tentang keluarga Lucas. Aku juga tidak tahu berita apa yang begitu heboh. Sampai-sampai para emak-emak yang sedang berbelanja sayur didepan rumahku pun asik bergibah. Kasihan sekali tukang sayur itu Harus meladeni emak-emak itu.
Aku pun dibuat penasaran. Saar ibu masuk kedalan rumah. Aku segera menghampirinya. Aku jadi kepo nih.... 😅😅. Siapa tahu kan aku bisa dapat kabar plus tentang Tom.
"ada apa sih bu? pada heboh gitu?" tanyaku penasaran.
"itu lo hari ini keluarga Lucas hendak mengadakan peringatak kematian anak tertuanya. Hampir setiap tahun hari ini selalu diperingati. Masa kamu tidak tahu?" jawab ibu justru mengejekku.
"anak tertua keluarga Lucas bu? siapa bu?" tanyaku semakin penasaran. Aku tak pernah curiga sedikitpun. Aku malah berfikir mungkin yang dimaksud ibu adalah kakaknya Tom.
"kalau tidak salah namanya Thomas. Dia meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil." jawab ibu sembari melengos pergi kedapur.
"Thomas??? Apakah itu Tom?? Tapi tidak mungkin dimalam halloween seminggu yang lalu aku baru saja bertemu dengannya. Aku harus cari tahu informasinya." gumamku segera berlari menuju kamarku.
Aku langsung melakukan pencarian informasi tentang keluarga Lucas. Terutama tentang kecelakaan mobil dua tahun lalu. Aku terus menelurusi halaman pencarian online.
Tibalah pada sebuah artikel. Semua yang dikatakan ibu tadi benar adanya. Anak tertua mereka mengalami kecelakaa, dan yang membuatku lebih terkejut lagi adalah foto yang terpampang disana adalah foto Tom. Orang yang menghabiskan malam bersamaku saat malam halloween. Satu lagi yang membuatku terkejut. Saat aku melihat foto masa kecilnya. Aku langsung teringat dengan seorang bocah laki-laki teman sekelasku waktu TK. Dulu kami sama-sama dijauhi oleh teman.
"apakah ini benar!!! Tom sudah meninggal dua tahun yang lalu. Kalau begitu kemarin yang bersamaku adalah hantunya? Berarti aku kemarin juga berciuman dengan hantu?? Aku juga jatuh cinta pada hantu?? Ah..... ini sungguh tidak bisa dipercaya." seruku tak percaya.
Tapi seperti apa pun aku mengelak. Semua tak akan berubah. Toh aku juga tak pernah bertemu dengannya lagi. Bahkan surat yang aku temukan pagi tadi pun lenyap entah kemana. Aku berusaha melupakan malam itu. Biarkan semua itu ku anggap layaknya mimpi. Walau pun demikian aku tak pernah bisa benar-benar melupakan Tom. Meski malam itu aku berkencan dengan hantu. Tetapi setidaknya dia telah memberiku semangat hidup yang baru.