semoga Kaili suka ya sama cerita saya, selamat membaca....
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
BAB 1
Pada hari itu ayah mengabaikanku lagi.
Untuk menyambut hari anak pada liburan musim panas tahun ini, perusahaan kami mengadakan festival dan bakti sosial di taman kota. Ada acara senam bersama,jalan pagi,lomba untuk anak-anak,pertunjukan drama,dan lain-lain.
Aku sudah menemani ayah sejak pidato pembukaan festival,pukul 06.30 tadi. Setelah olah raga sebenarnya aku ingin berkeliling bersama ayah untuk melihat kios-kios,tetapi ia terlihat sangat sibuk berbicara dengan para tetua dan petinggi pemerintahan.
Aku menunggu sambil menonton acara lomba di dekat tenda utama. Acaranya cukup seru,tetapi aku tidak bias berlama-lama di situ. Para tetua telah memberi tugas untuk menjaga meja minum di tenda panitia. Steven,seorang anak petinggi perusahaan yang berusia 15 tahun,mendapat giliran jaga dari pukul tujuh pagi sampai pukul dua siang. Sedangkan aku mendapat giliran jaga pukul dua siang sampai pukul enam sore.
Artinya masih ada waktu untuk menikmati festival ini. Selain berkeliling,aku ingin menonton pertunjukan drama. Semalam ibu juga sampat berkata kami sekeluarga akan piknik untuk makan siang. Aku terus melirik ayah yang semakin serius mengobrol. Apakah dia lupa? Pikirku sambil menggigit bibir.
Ini bukan pertama kalinya ayah tidak menepati janji demi mengurusi perusahaan. Tetua Vero bilang seorang ketua perusahaan tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri,tetapi aku tetap agak kecewa. Kukira karena di hari ini hari anak, ayah bisa meluangkan waktu untukku walau hanya sedikit saja.
Sudahlah. Sepertinya memang harus jalan sendirian. Keluar dari area perlombaan,aku memperhatikan anak-anak berkejaran dengan temannya. Kalau saja ada teman yang bisa di ajak main di sini…
Aku menendang kerikil di jalan. Sudah dua bulan masuk akademi,tapi belum ada teman yang akrab. Mungkin mereka malas berteman dengan orang yang tidak bisa bermain sepulang sekolah. Semenjak aku ditunjuk menjadi penerus ketua pemerintahan,ayah dan para tetua mengatur jadwal yang sangat padat.
Waktu juga banyak terpakai untuk belajar setelah terdaftar di kelas ekselerasi.di sela-sela waktu belajar,aku hanya bisa menemani adik bermain di rumah.
Aku berhenti dan melihat sekitar. Tidak jauh di depan,beberapa orang berkumpul di tenda panitia. Sepertinya mereka para relawan. Panitia menyediakan minuman dan makanan gratis untuk semua anggota perusahaan yang membantu acara. Aku memutuskan untuk mengambil makanan ringan di sana sebelum berkeliling.
Ketika aku masuk kedalam tenda, tetua Merli sedang sibuk melayani pengunjung.
“ah, Marcus! Untung kamu cepat datang,” panggilnya begitu melihatku. “Saya mendapat kabar kalau Andrew sakit. Jadi tidak ada yang melayani meja minum pagi ini. Kamu bertugas nanti siang,bukan? Apakah kamu bisa bekerja mulai dari sekarang?”
Sebenarnya aku masih ingin jalan-jalan,tetapi tetua Merli sepertinya kerepotan menjaga meja makan dan minum. Akhirnya aku mengangguk dan menghampiri tetua Merli.
“Baik,tetua Merli.”
Beliau lalu membuat minuman jeruk dingin. Tugasku adalah menuangnya kedalam gelas dan
menyajikan di atas meja,kemudian mengumpulkan dan membawa gelas kotor ke belakang. Di sana sudah ada dua orang yang piket mencuci piring dan gelas.
Tugasnya tidak sulit,tetapi karena banyaknya orang yang datang,aku harus terus mondar-mandir antara meja minum dan tempat cuci piring. Karena terbru-buru,sempat ada gelas yang terjatuh dan pecah. Tetua Merli menegurku karena kecerobohanku,lalu mengajari cara membersihkannya.
Tidak terasa aku sudah bekerja selama satu jam. Padahal pukul sepuluh pagi ibu akan datang bersama adik-adikku.
“Marcus, ibu mau mengajar kelas merangkai bunga dan batu-batuan di tenda utama.” Katanya. “Raito ikut bersama ibu tetapi Shiro tidak mau. “Apakah kamu bisa menjaga shiro sebentar?”
“Kakak!” Shiro melepas genggaman Raito dan datang memeluk sambil tertawa. Aku tersenyum dan balas memeluknya.
“Tolong ya,Marcus. Nanti ibu akan kembali kesini lagi kalau sudah selesai.”
“iya,Bu jangan khawatir.”
Ibu lantas mengecup keningku, “Terimakasih sayang.”
“Aku juga mau dicium,” Shiro menarik baju ibu dan mengangkat tangan.”
Ibu terkekeh dan memeluk Shiro,turut mengecup keningnya. Setelah itu pamit kepada tetua Merli dan meninggalkan kami. Di depan tenda, Shiro melambaikan tangan dengan semangat.
Adikku yang paling kecil ini berusia 5 tahun. Aku dua tahun lebih tua dari Raito dan lima tahun lebih tua dari Shiro. Dia anak yang ceria,selalu ingin bermain kesana-kemari,tetapi ia juga cepat bosan. Kalau sudah seperti itu ia lebih suka usil atau merengek meminta ini dan itu.
Tetapi kalau Shiro di sini…
Aku memandangi meja minuman dari kejahuan,walaupun tadi sudah ditata,orang-orang yang habis minum kembali meletakan gelas itu di sana,sehingga meja itu terlihat berantakan.aku saja yang melihatnya sudah pusing,apalagi tetua Merli,yang menjadi pengawas kegiatanku hari ini.
Beliau adalah guru dipemerinahan untuk tata cara dan kesopanan. Beliaulah yang mengajari cara mengikuti cara jamuan makan,cara menyapa dan menghormati orang yang lebih tua,cara duduk dan berbicara pada pertemuan pemerintahan,dan lain-lain. Orangnya rapi dan disiplin. Beliau tidak suka kalau aku bekerja sambil bermain-main.
Tertua Merli juga tidak suka mendengar orang yang berbisik. Aku takut beliau akan terganggu dengan keberadaan Shiro,tapi aku juga tidak tega untuk menolak permintaan ibu.
“Cilukk baa!” teriak Shiro,mengagetkanku dari belakang. “Kak ayo main ciluk baa!”
Dia lalu menggandeng tanganku dan tersenyum lebar. Tidak seperti ayah,ibu,para tetua dan petinggi perusahaan,atau orang dewasa lainnya,tatapan Shiro selalu membuatku seperti seorang pahlawan super. Aku balas tersenyum dan mengacak rambutnya.
Shiro anak yang baik. Aku akan kesepian bila dia tidak menemani disini. Sepertinya aku hanya perlu menaganya agar tidak bosan.
Tetua Merli berdehem. Dia memandangku dari meja makan sambil mengerutkan keningnya.
Ah… aku menunduk dan mengajak Shiro ke meja minuman. Sebaiknya aku segera mencarikan kegiatan yang tidak berisik untuknya.
Seharusnya itu bukan hal yang sulit bukan?
***
BAB 2
Awalnya semua baik-baik saja.
Tampaknya Shiro tertarik dengan gelas warna-warni di meja minuman,jadi aku mengajaknya menyiapkan gelas.
“Shiro,kita susun gelas di sini yuk.”
Aku menaruh tiga buah gelas di atas nampan. Dia memilih gelas dengan warna berbeda dan menata Barisannya.
“Wah,bagus sekali!” seruku. Dia terkekeh,senang. “Ayo kita taruh lagi.” Setelah beres mengisi minuman,aku mengusulkan untuk mencari harta karun. Aku menjadi kapten bajak laut,sedangkan Shiro yang menjadi petunjuk arahnya.
Kami menemukan gelas kotor dibawah kursi dan meja,di dekat meja kue,di samping tumpukan kardus,bahkan dibaik semak-semak. Dengan cepat kami berlomba menimbun harta karun di markas kerajaan cuci piring.
Tak berapa, lama rombongan makan siang pun tiba. Aku sibuk menjaga meja minuman,sementara Shiro sibuk membuat cerita sendiri menggunakan kapal kertas. Aku menunggu ayah dan ibu untuk mengajak kami piknik bersama,tapi mereka tidak datang. Tetua Merli memberi waktu istirahat selama 15 menit.
Aku kemudian mengajak Shiro ke belakang tenda,supaya kami bisa makan siang sambil duduk di bawah pohon. Ternyata di samping pohon itu ada sebuah taman bermain kecil.
“Yuk naik itu,kak!” shiro menunjuk ke arah seluncuran.
Aku menggeleng. “Shiro makan dulu,ya…baru main di sana.”
Dia cemberut,tapi lalu menurut. Setelah makan aku hendak menemaninya bermain seluncuran,tetapi tetua Merli keburu memanggil.
Aku meringis “Shiro,” panggilku. Dia terus melompat-lompat sambil memperhatikan seluncuran. Aku meraih tangannya.
“Shiro,ayo kita masuk lagi.”
Raut wajahnya langsung berubah. Dia memandangku dengan alis berkerut. “Kak,mau naik itu.” Katanya lagi,sambil menunjuk kearah seluncuran. Aku mengangguk.
‘Nanti sore kakak temani Shiro main seluncuran, ya…tapi sekarang kita masuk dulu.”
“Shiro enggak mau masuk,” katanya sambil menyentak tanganku. “Shiro mau naik itu!”
Shiro tidak mau melepas pegangannya,akhirnya aku mengalah.
“sekali saja, ya… habis itu kita masuk.”
Shiro naik dan meluncur. Dia tertawa dan kembali menuju ke atas seluncuran. “Lagi,kak,”katanya.
Aku cepat-cepat menggeleng. “Nanti saja,Shiro,kakak sudah terlambat.”
Dia merengek dan menarik-narik bajuku. Aduh, bagaimana ini?
Tiba-tiba sebuah ide datang. Aku berbalik arah,berlutut,lalu menepuk pundak.
“Naik kesini,yuk Shiro,nanti kakak gendong sampai kedalam.”
“Enggak mau! Shiro,--+755 mau naik itu!”
“Bram… tinoot…tinoot… Siapa ynag mau ikut terbang sama kakak?Sebentar lagi mau berangkat,loh…”
“Shiro!”
Shiro langsung menempelkan dirinya ke punggungku. Aku memegangnya, kemudian bangkit berdiri. Huff. Tangannya yang melingkar dileher membuat sulit bernafas. Tapi sepertinya rencana itu berhasil. Sambil tertrawa,dia menjambak rambutku dan menyuruhku jalan.
“Pegangan yang kencang ya,” pesanku sebelum terbang meliuk-liuk dari taman bermain sampai ke tenda panitia.
Di dalamtenda,tetua Merli sedang menyusun gelas minuman. Dia menoleh dan memboleh memperhatikanku saat kami masuk ke dalam tenda.
“Saya sudah memanggilmu dari tadi,tapi kenapa lama sekali?” Tanyanya degan kesal.
Aku menurunkan Shiro ke atas kursi dan segera meminta maaf. Tetua Merli lantas memberikan tugas tambahan. Selain gelas kotor,sekarang aku juga diminta untuk mencari piring kotor dan mengangkat dari tempat cuci ke tenda. Hal ini membuatku lebih banyak bolak-balik dari yang sebelumnya. Supaya Shiro tidak rewel,maka aku kembali membuatkan mainan kertas untuknya.
Stlah beberapa lama kemudian dia memanggil.
“Kaka Shiro mau itu,” katanya sambil menunjuk balon yang dibawa beberapa anak di luar. Anak lelaki memegang balon berbentuk ikan,sedangkan anak perempuan memegang balon berbentuk boneka. Balon-balon itu bisa diambil di tenda utama.
“Nanti kakak ambilkan buat Shiro,ya…”kataku.
Dia menggeleng dan memohon. ”Kak ambilin sekarang.”
Aku melirik kearah tetua Merli. Beliau pasti marah kalau aku meninggalkan tugas, tapi orang yang mengambil makanan di tenda panitia kini sudah semakin berkurang. Aku sudah membawa semua piring dan gelas kotor. Tidak ada lagi yang tergeletak di dalam tenda.
Aku meminta izin kepada tetua Merli untuk keluar sebentar beliau tampak tidak suka,tetapi mengabulkannya asalkan kami cepat kembali.aku mengiyakan dan cepat-cepat menggandeng adiku.
“Ayo kesini Shiro,kita ambil balonnya.”
Tenda utama riuh dan padat. Para pengunjung tidak hanya dari pemerintahan saja,tetapi juga semua orang yang ada. Banyak anak yang mengikuti atau berjalan-jalan bersama orang tuanya.
Aku melihat kearah panggung. Ibu sedang sibuk mengajar,Raito sedang duduk didekatnya, memperhatikan dan ikut membantu. Ayah sedang megisi acara bincang-bincang.
Aku menggigit bibir, dan teringat janji ibu. Apakah mereka sudah makan siang? Ada tumpukan kotak makan disisi samping panggung. Sepertinya sudah ada panitia yang bertugas mengantarkan makanan untuk para pengisi acara.
Ah, kenapa begini saja harus dipermasalahkan. Lain kali kami pasti bisa piknik keluarga.
Aku lalu berbelok menuju ke tempat pengambilan balon di sebelah kiri tenda utama. Balon ikan warna-warni dengan berbagi ukuran tertata rapi pada tiang disamping meja. Ada balon yang berbahan karet, ada juga balon yang berbahan plastik.
Sam sedang menjaga meja itu. Aku hanya selisih lima tahun dengan Sam.Sam adalah anak dari salah seorang petinggi pemerintahan. Sejak dulu dia sudah tidak suka denganku.
“Selamat siang kak Sam, boleh minta satu balon untuk Shiro?” tanyaku sambil berusaha menjaga kesopanan.
Sam memandang Shiro dengan malas. Lalu berkata “sudah habis.” Katanya singkat.
Aku mengerutkan kening. “Tapi…ini masih banyak bukan?”
“Ini pesanan orang,” tukasnya cepat sambil melotot.
“masa, sih? Sebanyak ini?
“iya,emang kenapa? Tananya. “aku baru bikin kalau ada yang pesan. Soalnya tadi banyak yang titip dibuatkan balon. “Kalu kamu mau,tiup saja balonnya sendiri.”
Sepertinya Sam berbohong,tapi entaklah. Aku tidak ingin membuat keributan,Shiro sudah tidak sabar,dia mau menggambil sendiri salah satu balon yang terikat. Aku terpaksa mencegahnya.
“Kaka Shiro mau balon…” rengeknya.
“Iya,sebentar ya,Shiro. Kakak tiupkan dulu balonnya.”
Warna balon plastik lebih cerah,tapi pompanya di bawa oleh Sam. Akhirnya aku ambil balon karet yang ada di toples eh transparan.
“Kamu mau warna apa Shiro?”
Shiro memilih balon ikan yang berwarna merah. Aku baru saja selesai meniup dan mengikat balon itu ketika seorang anak perempuan datang bersama ibunya. Mereka memakai Yukata dengan lambang perusahaan Hana.
“Selamat datang,” Salamku. “Ibu mau mengambil balon?”
Ibu itu mengembangkan seulas senyum,lalu bertanya pada anaknya. “Kamu suka yang mana Izumi?”
Ah… Izumi hana? Anak bungsu dari perusahaan Hana? Aku sungguh terkejut. Ayah belum pernah mengajakku ke acara perjamuan antar perusahaan,tapi dia sudah menyuruhku untuk menghafal nama-nama penerus ketua perusahaan lain.
Tiba-tiba Sam berdiri dan menyela, “balon model boneka untuk anak perempuan bisa di ambil disana bu.”
Tetapi Izumi tidak memilih balon yang berbentuk boneka melainkan yang berbentuk ikan.
Sam mengerutkan keningnya dan berniat untuk membantah. Karena aku tidak ingin terjadi masalah dengan perusahaan Hana,maka aku langsung memotong pembicaraan mereka.
“Yang berwarna orange menurutku cocok dengan yukatamu ini yang cantik, “kataku sambil mengambil salah satu balon yang dijaga Sam.
“Benarkah? Tanya Izumi dengan wajah yang bersemu.
Aku mengangguk. Izumi tersenyum dan mengucapkan “Terimakasih, ”lalu pergi bersama ibunya.
“Apa yang kamu lakukan?!”Tanya Sam kesal. “Sudah kubilang ini balon pesanan orang!”
Kenapa dia begitu marah? Inikan Cuma balo,dan dia juga bisa meniupnya lagi. Pikirku.
“Barusan itu istri dan anak bungsu ketua perusahaan Hana.”
Sam melotot dan mulutnya menganga. Aku segera mengajak Shiro pergi sebelum Sam mengomel.
Sesampainya di tenda,tetua Meli sudah menungguku. Beliau menegurku karena aku pergi terlalu lama. Aku hanya bisa menunduk dan mendengarkan nasehatnya.
Ini tidak adil,aku tidak bermaksud untuk meninggalkan tanggung jawabku,tetapi aku ingin menjadi kakak yang baik. Apakah itu salah? Tetapi aku tidak bisa membantah. Yangku bisa hanyalah menunduk dan mendengarkan nasehat tetua Merli.
Setelah ia pergi aku membereskan gelas dan piring kotor. Shiro mengajakku bermain balon,tetapi aku menggeleng dan menyuruhnya untuk bemain sendiri.
Entah kenapa saat hari menjelang sore yang datang ke tenda panitia lebih banyak. Mungkin mereka bisa beristirahat setelah seharian bekerja. Aku membersihkan keringat yang terus bercucuran di kepalaku.
Sebenarnya aku juga ingin beristirahat. Karena aku sudah berdiri di sini dari pagi hingga sore hari. Kakiku terasa sangat sakit sekali sehingga seperti copot dan tidak terasa saat digerakkan.
Aku melirik jam dinding. Sudah pukul 16.30,masih satu setengah jam sebelum tugas ini selesai. Bagaimana keadaan Shiro?kanapa tidak ada suaranya? Aku mengambil segelas air es untuk adikku,lalu berhenti saat tidak menemukannya di dekat meja minuman.
Perasaan tidak enak mulai merayap.
“Shiro?!” panggilku sambil memeriksa seisi ruang tenda.
Dia tidak ada.
Aku bergegas pergi ke depan tenda, memanggilnya dengan agak keras. Beberapa orang yang berada di sekitar situ langsung menengok seketika.
Aku menunggu dan menunggu,namun Shiro tidak kunjung menjawab panggilanku ini.
***
BAB 3
Jantungku berdebar sangat kencang.
Aku menaruh minuman dan berlari ketaman yang berada di belakang tenda. Shiro tadi beberapa memanggil untuk mengajakku bermain,tetapi aku selalu menolak dan tidak memperhatikannya.
Aku sempat memanggil orang lain dengan sebutan Shiro. “Dek apakah kamu melihat anak berumur lima tahun, memakai Yukata biru,dan membawa balon berwarna merah?” tanyaku kepada anak itu.
Anak itu hanya meggeleng,kemudian turun dari ayunan dan kabur. Aku hanya bisa melongo. Maksudnya bagaimana? Apa dia dari tadi memang tidak melihatnya,apa baru datang sehingga tidak tau,atau tidak memperhatikan sekitar,atau dia tidak mengerti apa yang kukatakan?
Uuh…
Aku melihat ke sekeliling. Di sebelah kanan terdapat deretan tenda para pedagang yang ikut festival. Di ujung sebelah kiri ada tempat cuci piring. Oh iya aku baru ingat waktu itu aku baru menggangkat piring kotor ketika terakhir melihat Shiro.
“Kaka tadi adikku kesini tidak?”
“Enggak ada anak kecil yang kebelakang sini dari tadi.”
Aku kembali masuk kedalam tenda. Tetua Merli sedang sibuk membuat kopi.
“Maaf” panggilku pelan. “Apakah tertua Merli tadi melihat Shiro?”
Beliau menoleh sambil mengerutkan keningnya. “bukannya tadi bermain bersamamu ya? Saya todak ingat.mungki saja ia pergi mencari orang tua kalian.”
Aku mengangguk dan meminta izin keluar sebentar untuk mencarinya. Tetua Merli tidak langsung menjawab. Ketika beliau berbicara nada suaranya dingin.
Dari tadi kamu bolak-balik meninggalkan tugas Marcus. Kalau kamu keluar lagi saya terpaksa menulisnya dibuku laporan kegiatanmu.
Oh…
Tiba-tiba napasku terasa berat. Tiap minggu,ayah dan para ketua perusahaan selalu mengecek semua laporan yang masuk. Mereka akan mengoreksi dan menghukum siapapun yang melakukan kesalahan. Jika tetua Merli menulis hal yang jelek didalam laporan itu apa yang akan terjadi denganku?
Mereka akan marah, itu sudah pasti. Tapi bagaimana dengan Shiro? Ak tidak boleh memikirkan diri sendiri dan mundur hanya karena itu,bukan? Tidak ada yang tahu dia ada dimana. Bagaimana kalau dia tertimpa masalah?
Aku harus pergi mencar. Tidak mungkin seorang kakak akan membiarkan adiknya hilang begitu saja.
“Maaf sudah merepotkan tetua Merli,”gumamku lirih sambil membungkuk hormat. “Tetapi keputusan saya sudah bulat, saya akan segera kembali.”
Aku melesat dan menerobos kerumunan di tenda utama.
Jantungku berdetak kencang. Aku berjalan cepat ke sana kemari. Pandanganku berhenti saat melihat ibu, aku berharap Shiro ada disampingnya.
Ibu tidak sengaja melihatku, ia lantas tersenyum dan melambai.
Dengan dada sakit dan perut mual aku memaksakan diri untuk tersenym,lalu mundur tak tau arah. Entah kenapa aku berhenti dimeja yang dijaga Sam. Dia sudah tidak ada di sana. Semua balon sudah ditiup, dan secarik kertas tergeletak di atas meja.
Balon gratis…
Sebuah balon ikan merah terdiam menatapku. Bentuknya mirip dengan balon milik Shiro. Tapi balon ini bukan milik Shiro, kan tadi setelah selesai meniup aku belum sempat memberi baru pemberat. Apa sampai sekarang Shiro masih membawa balon itu?
Berjalan sendirian,terhimpit orang-orang tidak dikenal,tidak tahu mana arah jalan pulang.
Uuh… dadaku semakin sesak
Bagaimana ini Shiro hilang. Apa yang harus kulakukan? Apa lebih baik aku minta tolong saja pada ayah?
Tapi…kalau sekarang aku maju kepanggun dan memberi tahu ayah pasti nanti akan heboh. Acara akan dihentikan,keadaan kacau balau. Besuk pagi akan muncul berita dikoran. “anak kepala perusahaan Kenzo hilang.”
Perusahaan lain diam-diam menertawakan dari belakang. Orang-orang akan berfikir perusahaan kami tidak biasa mengurus diri sendiri.
Aku menarik napas dengan susah payah.
Sudah berapa lama Shiro menghilang? Aku harus coba mencari dan menemukannya secepat mungkin. Mungkin akan nada petunjuk jika aku berkeliling dan menanyai para penjaga kios didekat taman bermain itu.
Aku segera berlari.
“Ya… aku melihat anak itu,tapi dia tidak memegang balon berwarna merah.” Kata paman penjual takoyaki.
“Oh iya… tadi ada anak kecil yang jatuh dari ayunan dan membawa balon berwarna merah.” Kata bibi penjual mochi.
Aku menggigit bibir, sambil menahan sakit perut. Shiro jatuh dari ayunan?apa dia luka?
Penjual lain tidak ada yang melihatnya. Seorang anak perempuan penjaga kios buku menyapa.
“Kamu tersesat? Tanyanya.
Aku menggeleng, lalu menjelaskan kalau sedang mencari adik yang mungkin terluka.
“Tadi ada seorang bapak yang mencari perban untuk anaknya,” kata anak perempuan itu sambil mengingat-ingat. :Tapi bapak itu berjalan sendiri. Kalau memang terluka mungkin anaknya menunggu di suatu tempat.”
Aku membayangkan kejadian itu.
Jika Shiro jatuh saat bermain ayunan jatuh dan terluka. Kalau hanya luka sedikit dan berdarah pasti dia akan kembali ke tenda. Tetapi kalau Shiro pingsan bisa jadi ada orang yang membawanya dan mengaku-ngaku ayahnya.
Bagaimana kalai Shiro diculik? Aku harus cepat mencari penculik itu.
Aku berlari ke kanan. Beberapa ratus meter di persimpangan sebelah kana ada kios penjual obat herbal. Pemilik kios itu adalah bu Mika.
Marcus? Panggil bu Mika. “Sedang apa kau sendirian disini?”
Jangan sampai orang lain mengetahui kalau Shiro hilang sebelum ayah dan ibu tahu…
“Begini bu tadi ada bapak-bapak yang mencari perban di tenda panitia,tapi kotak P3Knya hilang. Apa tadi bapa itu kesini bu?” tanyaku.
“Ohh,yayaya… tadi ibu menemani bapak itu memakaikan perban untuk anaknya,kasihan dia jatuh dari ayunan.”
Ya Tuhan… berarti benar Shiro diculik…
Eh, tapi tunggu sebentar bu Mika juga mengenal Shiro. Tapi tadi bu Mika tidak mengenali anak itu saat memakaikan perban. Berarti anak itu bukan adikku!
Aku merasa sedikit lega karena itu buka adikku tetapi aku masih merasa panik kemana adikku pergi? Aku harus mencari adikku degan ciri-ciri apa? Apakah aku harus mencoba mencarinya dengan ciri-ciri balon berwarna merah?
Aku terus mencari Shiro menggunakan ciri-ciri balon berwarna merah. Tetapi yang ketemu bukannya Shiro melainkan anak tidak dikenal.
Aku berhenti sejenak untuk bernafas.
Tuhan dimaknakah adikku? Apa yang harusku lakukan sekarang Tuhan?
Sekali lagi aku memandang sekitar,kios di tempat ini terlihat agak sepi. Tiba-tiba aku melihat Sam yang berdiri didekat kios lukisan. Dia sedang mengobrol dengan teman sebayanya. Aku memberanikan diri untuk menemui Sam.
“Ah… Sam tau adikku memakai baju apa dan membawa balon apa. Mungkinkah dia melihat Shiro?
Aku mengepalkan tangan,dan menyeberang jalan untuk menerima apapun itu. Dia mungkin akan menertawakan,mengolok-olok,atau mempermalukan. Dia juga suka memancing perkelahian,tapi jika di depan orang banyak seperti ini tidak mungkin dia akan memukul.
Tidak ada harga yang terlalu mahal untuk menyelamatkan Shiro,sekalipun aku harus masuk ke kandang singa.
***
BAB 4
Sam berhenti berbicara. Semua temannya ikut menoleh.
Aku mengelap keringat dikening dan menyapa “Kak Sam,boleh bicara sebentar?”
Teman-teman Sam berbalik,seolah ingin tahu reaksinya,dengan wajah marah,dia melipat tangan didada.
“Kamu mau apa?” Tanya Sam ketus.
Karena Marcus tidak ingin membicarakan adiknya di tempat umum maka dia berusaha mengajak Sam ke tempat yang lebih sepi.
“Bisa ngomong berdua kak?”
“Udah ngomongnya disini aja,jangan buang-buang waktu.” Jawab Sam.
Ugh… kenapa sih dia selalu membuat orang kesal? Oke,sepertinya harus ada sedikit paksaan.
“Ini tentang pekerjaan menjaga meja balon.” Ujarku dengan nada datar.
Sam terkejut. Lalu dia menggeram dan mencengkeram lenganku,menyeretku ketempat sepi.
“Dengar ya,aku sudah meniup semua balo,aku juga sudah meninggalkan pesan di meja. Sekarang semua orang bebas mengambil balon itu. Kamu jangan sampai mengadu kepada para tetua.” Kata Sam
“Bukan,aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Aku cuma mau bertanya apakah kamu tadi melihat adikku Shiro?”
“Ya aku melihatnya. Kupikir aneh waktu kulihat dia jalan seorang siri. Kamu kehilangan dia,ya?”
“Kamu melihat Shiro di mana?”
“tidak ada informasi yang gratis.”
“Sudah bagus kamu tidak kuadukan ke para tentu, “sahutku untuk menggertaknya. “Kita impas.”
Sam tertawa, “Aku masih bisa kembali ke meja balon. Sedangkan kamu? Aku bisa membayangkan wajah ayahmu saat dia tahu bahwa Shiro hilang.”
“Aku enggak punya uang,” desisku
“Mana ada orang tua kasih uang banyak untuk anak kelas empat. Maksudku kamu harus melakukan sesuatu untukku.”
“Aku akan melakukan apapun selama kamu tidak meminta sesuatu yang dilarang oleh ayah,tetua,dan juga Tuhan.”
“Aku belum memikirkannya sih,tapi yang pasti kamu berhutang padaku.”
“Baiklah, sekarang cepat katakana dimana kamu melihat Shiro.”
“Setelah meninggalkan meja itu,aku melihat adikmu lari kearah air mancur.” Ujarnya.
“apakah dia membawa balon?” kamu lihat ada orang bersamanya? Dia dikejar orang atau bagaimana? Tanyaku.
“Dia sendirian. Tenang saja dia tidak dikejar orang tapi sepertinya dia sedang mengejar balonnya yang terlepas, karena sedikit-sedikit dia melihat ke atas.” Jawab Sam.
Oh Tuhan… syukurlah Shiro tidak dikejar orang. Tapi apakah Shiro baik-baik saja?
“Apa dia terluka? Kapan kamu melihatnya?” tanyaku lagi pada Sam.
“Aku melihatnya sekitar tiga puluh menit yang lalu. Aku juga enggak liat ada luka atau darah ditubuhnya.
Aku membungkuk dan mengucapkan terimakasih,lalu segera berangkat.
Air mancur taman kota berada di belakang tenda utama. Bundaran kolam itu ternyata merupakan persimpangan dari empat jalan. Kalau Shiro berlari lurus dari tenda utama kemungkinan menuju dermaga. Sedangkan kalau beralari dari arah tenda panitia maka kemungkinan menuju tempat piknik atas bukit.
Aku terdiam dan mengamati. Taman kota terdiri dari dataran bukit yang indah. Banyak sekali keluarga yang piknik di bawah pohon,tetapi bagaimana cara menemukan Shiro dengan cepat?.
Ya Tuhan tolong aku…
Jantungku hampir copot. Di kejauhan terlihat balon Shiro yang tersangkut di antara umbul-umbul bendera di dermaga.
Shiro…
Aku berlari sekuat tenaga. Shiro mengangkat lengan,kini hanya berpegangan di pagar dengan menggunakan satu tangan.
“Shiro…jangan!”
Aah,terlalu jauh! Aku mempercepat lari melawan sesak.
Angina bertiup sangat kencang sehingga Shiro oleng dan jatuh ke dalam dermaga.
Shiro…!
Aku langsung menyelam. Menggapai dan menarik tangan kecil adikku. Shiro sesak napas saat kembali kepermukaan,karena ia sempat tenggelam. Aku langsung membawanya ketepian untuk segera memberi pertolongan dengan cara memompa jantungnya ataupun dengan cara memberi nafas buatan.
Tak lama kemudian adikku telah sadar.
Terimakasih Tuhan enggak telah menyelamatkannya, jika aku terlambat sedikit saja aku pasti sudah mengelus kepala Shiro yang tak akan membuka matanya lagi.
“Shiro,kamu baik-baik saja?” bisikku dengan suara serak.
Dai mengangguk dan terisak.
“Balon Shiro lepas,” katanya sambil menangis.
“Enggak apa-apa Shiro kalau balonmu terlepas tinggal bilang kakak,nanti kakak tiupkan lagi.”
Dia menggeleng dan tersedu “enggak…kasihan kakak udah capek…”
Selama sehari ini hanya Shiro yang memperhatikanku. Seharusnya aku sebagai seorang kakak yang perhatian kepada Shiro tetapi apa yang kuperbuat,aku malah sibuk dengan pekerjaanku dan tidak mau menemani adikku bermain. Pikirku
“kakak enggak capek kok…jadi jangan takut,” aku melepas pelukannya dan mengecup keningnya “kakak sayang Shiro.”
“Shiro juga sayang kakak…”sembari memeluknya.
Aku lalu menggendong Shiro. Baju kami basah kuyup,kalu ayah dan itu belum selesai maka aku harus meminta izin kepada tetua Merli untuk pulang duluan dan mengurus Shiro.
Besuk pagi tetua akan memanggilku dan menanyakan laporan lengkap apa saja yang terjadi hari ini. Meminta pertanggung jawaban atas semua pekerjaan yang belum selesai dan kelalaian dalam menjaga Shiro. Setelah itu pasti mereka akan menghukumku.
Aku berjalan mendaki bukit, dengan napas yang tersengal-sengal,dan menggigil kedinginan saat angina menerpa.
Kami tidak punya alat untuk menghangatkan diri. Aku hanya bisa mengecup jari-jari kecilnya agar dia tetap merasakan hangat.
Kami terus berjalan maju,selangkah demi selangkah
Rumah kami masih sangat jauh,tetapi aku akan terus berusaha untuk mengantar adikku pulang dengan selamat.
Aku akan menggendongnya sampai ke ujung dunia kalau dia meminta
Karena adikku Shiro tidaklah berat dan bagiku dialah yang paling berharga di dunia ini
***
SELESAI