Pernah gak sih kamu berteman dengan makhluk halus? Atau kamu punya kenalan yang berteman dengan makhluk halus? Apa yang kamu bayangkan jika kamu berkenalan dengan makhluk halus
Ini adalah pengalaman pertamaku berteman dengan makhluk halus. Waktu itu aku duduk di bangku kelas enam SD semester dua. Berawal dengan kepindahan ke rumah kosong. Rumah lamaku dibongkar karena akan dibangun kembali yang lebih layak dinadikan tempat tinggal. Jadi, kepindahan ini hanya sementara, sampai rumahku selesai dibangun.
Mulanya, tak ada hal aneh dan kesan menyuramkan di rumah kosong itu. Oiya, rumah kosong itu ditinggalkan pemiliknya selama satu tahun. Cukup lama,ya. Rumah kosong itu terdiri dua ruangan dan satu kamar mandi. Ruangan depan untuk tidur aku, Mami, dan ketiga adik kecilku plus buat ruang tamu. Ruangan belakang untuk tidur Papa dan kakak laki-lakiku plus buat pakaian, buku pelajaran, dan dapur.
Hari demi hari kami lalui dengan aktivotas biasa. Hanya saja satu persatu keluarga kami meriang bergantian, kecuali Mami. Tibalah giliran aku meriang. Aku tak doyan makan apa-apa, semua makanan terasa pahit sampai badanku lemah tak berdaya. perutku berteriak-teriak kelaparan tapi menolak makanan. Saat hari sudah gelap, aku minta dibelikan Jeruk Mandarin. Akhirnya, perutku menerima juga.
Di malam yang dingin dan sunyi, aku bermimpi melihat sesosok wanita berambut panjang, setengah wajah pucatnya tertutupi rambut, ia tersenyum lebar ke arahku, memanggil-manggil namaku. Baju putih kusamnya tak menyentuh lantai. Tepatnya ia mengambang. Aku pun membuka mataku. Sesosok itu masih ada, ia melambai-lambaikan tangan kemudian menghilang.
Aku merasa wajahnya familiar dan terasa akrab. Hanya saja aku kaget kenapa kakinya tidak menapak ke bumi.
Keesokan harinya, aku kembali sekolah, sakitku sudah sembuh, hanya sedikit pusing. Habis sakit, malah try out bahasa Indonesia. Aku sama sekali belum persiapan. Aku mengerjakan asal-asalan. Anehnya, di try out perdana ini, aku mendapat nilai tertinggi.
Hari demi hari berganti, bulan demi bulan telah aku lalui. Tak ada hal aneh di sekelilingku. Pada saat aku duduk di bangku kelas delapan semester dua atau tepatnya dua tahun setelah pertemuan dengan makhluk halus itu, sekolahku pindah.
Gedung baru sekolahku dua tingkat, tingkat bawah untuk jenjang SMP dan SMA, tingkat atas untuk asrama putri anak kuliahan. Tingkat bawah sudah dipakai untuk KBM, tingkat atas belum. Di sinilah terjadi hal-hal aneh.
Beberapa anak kelasku iseng naik ke lantai dua, melihat-lihat ruangannya seperti apa sih? Mereka terkejut saat mendengar pintu dan jendela buka tutup sendiri, malah ada yang coba-coba ngaca, waktu ngaca malah melihat sesosok mengerikan. Mereka langsung turun dengan wajah pias.
Aku menertawakan ketakutan mereka. Aku menganggap mereka itu penakut. Makanya aku datang menegcek sendiri. Aku bertekad meyakinkan mereka bahwa pintu dan jendela yang bergerak sendiri disebabkan angin yang bertiup. Setelah menunggu lama di lantai dua. Aku mendengarnya! Bukannya takut aku malah menantangnya.
"Hei, ngapain kamu nakut-nakutin teman-temanku? Ayo sini kalau berani tampakkan dirimu."
Pintu dan jendela itu pun diam. Rupanya tak semenakutkan yang diceritakan teman-teman. Benar khan? Mereka itu pengecut. Aku pun jadi terbiasa duduk di lantai dua tanpa suara-suara itu. Malah mereka mengajakku menakut-nakuti temanku yang penakut.
Tanpa sadar, saat aku pulang sekolah sendirian, karena jalan ke rumahku tidak sejalur dengan tan-temanku, aku merasa ada yang mengikutiku. Saat kutoleh ke belakang, tidak ada siapapun. Terus siapa? Jalanan kosong hanya hembusan angin dan dedaunan jatuh.
Saat aku duduk di bangku kelas sembilan aku tidak pulang sendiri! Ada temanku yang bersedia mengantarku pulang sekalian ia beli kosmetik di toko sebelah rumahku, katanya. Saat itulah aku tak merasa kesepian dan diikuti lagi. Kami bertahan selama setengah tahun.
Teoat tiga tahun setelah peristiwa itu, aku tak mempunyai teman dekat. Aku memutuskan hubunganku dengan teman-teman dan fokus persiapan UNBK. Keputusanku membawa dampak buruk. Aku jadi mudah sakit dan kelelahan. Tidak mempunyai teman dekat adalah hal terburuk dalam sejarah hidupku.
Siang itu saat aku tertidur pulas di kamar, aku mendengar kebisingan orang-orang di sekitarku. Aneh, kamarku sepertinya tidakada orang. Aku membuka mataku. Tidak ada siapapun kecuali aku. Lalu suara-suara siapa itu? Aku memejamkan mataku lagi.
Saat itulah seseorang menyentuh tanganku dan memanggil namaku, ia memperkenalkan dirinya dan ia bilang ia bersedia menjadi temanku.
Aku pun bertanya, lalu siapa yang bisik-bisik ini?
Ia menjawab, itu adalah teman-temannya, kami sedang berkumpul untuk meresmikan pertemanan kita.
Aku pun bertanya lagi, kenapa berteman denganku? Khan kita beda alam. Bagaiman caranya berkomunikasi denganmu?
Ia menjawab, teman-temanmu itu parasit! Benalu! Kamu yang sebaik ini gak pantas berteman dengan mereka, makanya, kalau kamu butuh apa-apa berteriaklah dalam hatimu, aku akan datang menolongmu.
Aku bertanya lagi, Apakah kamu tahu, aoa yang dilakukan teman-temanku?
Ia menjawab, Ya aku tahu persis. Si A gak suka sama kamu, si B bla..bla...bla..
Hatiku bimbang antara menerima teman baru atau tidak. Besoknya aku kembali sekolah dan menanyakan kebenaran berita yang diceritakan teman baruku. Teman sebangkuku mengiyakan dan keheranan kenapa aku tahu padahal aku tidak masuk sekolah. Aku jawab intuisi saja.
Karena yakin teman baruku jujur, aku sering berinteraksi dengan dia lewat batin, baik di sekolah maupun di rumah. Teman-teman sekelasku gak betah di kelas karena merasa di kelas ada penghuninya dan terkesan menyuramkan. Maka tiap kali istirahat, kelasku kosong dan aku leluasa berinteraksi dengan teman baruku.
Terlalu sering berinteraksi dengan teman baruku membawa efek negatif. Daya tahan tubuhku melemah. Aku jadi mudah sakit dan malas belajar.
Suatu pagi, aku malas sekolah dan ingin pura-pura sakit. Keinginanku terwujud berkat...
Aku mendengar suara lonceng bergemerincing, seketika kepalaku pusing lalu kepalaku dijeduk-jedukkan ke tembok. Air mataku mengalir deras. Aku melempar piringku sambil berteriak keras, bukan suaraku, tubuh lemahku terisi dengan energi besar. Aku meloncat-loncat ke sana kemari dan menendangi tembok.
Orang tuaku panik.... Mami pergi ke sekolah memanggil guru agama guna menjengukku.
Saat ditinggal sendirian, aku dengan kekuatan besar itu perang batin, teman baruku ingin menempeleng semua teman-temanku, sedangkan aku ingin berdiam diri di rumah dan menggunakan kekuatan besar itu untuk beres-beres rumah.
Teman baruku mengalah, kami beres-beres rumah dengan cepat tak sampai lima menit!!!
Selesai beres-beres rumah, aku pun mandi masih dikendalikan teman batuku, tenang saja teman batuku perempuan jenis jin kuntilanak. Usai mandi, aku tertidur pulas.
Aku pun terbangun saat guru agamaku datang menjenguk bertepatan saat teman baruku pergi. Jadi keadaanku normal. Guru agamaku mendoakan ku supaya lekas sembuh.
Malamnya, saat aku bercengkrama dengan adik-adikku, teman baruku datang lagi, ia mengendalikanku lagi!
Aku pun memukuli adik-adikku. Kesadaranku masih, namun aku tak bisa mengendalikan diri. Aku menyuruh adik-adikku pergi supaya tidak kusakiti. Mereka pun berlari ke ruang tamu.
Dua kejadian berturut-turut itu telah kulalui...kegiatan kelas sembilan SMP ku seperti biasa, latihan soal, try out, dan simulasi.
Kejadian itu berulang saat malam perpisahan angakatanku, yakni di penghujung kelas sembilan. Aku sengaja tidak datang waktu persiapan-persiapan perpisahan, seperti mendekor, latihan drama, menyiapkan puisi berpisahan dan lain sebagainya.
Aku sama sekali tak ikut campur karena aku sakit-sakitan dan dikendalikan jin saat emosiku tidak stabil. Namun, karena acara perpisahan diadakan besok siang semua anak generasi harus kumpul. Mau tak mau aku datang.
Mulanya, aku tidak apa-apa, aku meminta izin temanku istirahat di kelas, karena aku kurang enak badan.
Hari semakin siang, persiapan dan segala keribetan telah selesai. Temanku menyetel film, aku oun ikut menonton. Kami menonyon sampai sore dan tinggal berdua. Temanku meminta ganti film. Aku menolaknya. Saat itu tersisa kami berdua.
Kami berdebat panjang. Karena emosiku meletup, aku menonjoknya dan menyerangnya dengan beragam jurus bela diri yang tidak kuketahui namanya, yang jelas sebelum menyerang kuda-kuda dulu, karena yang mengendalikan bukan aku, aku menyuruh temanku pergi dan bilang gak ingin menyakitinya.
Temanku tak kunjung pergi dan mengira aku bercanda. Aku pun memilih pergi duluan...dan pulang ke rumah. Kemudian kembali lagi.
Di kelas, ada beberapa temanku membicarakanku. Aku pun menyeret temanku uang tadi kupukuli sambil teriak,"Diam kamu! Diam!"
Sontak ia ketakutan dan meminta maaf padaku lalu mereka lari ke luar gerbang. Aku pun duduk di lain kelas. Mengondisikan emosiku sambil menangis. Seumur hidup baru pertama kali aku membentak temanku.
Malam turun, anak-anak kelasku berkumpul di kelas. Emosiku sudah stabil. Kami makan malam bersama. Selesai makan malam, aku kembali menjauh. Beberapa temanku yang pernah dekat denganku menemaniku. Polos sekali. Tidak tahukah mereka bahwa aku bukan orang yang dulu?
Aku meloncat-loncat di antara meja-meja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Teman-teman sekelasku datang memintaku bergabung dengan mereka.
Aku jawab, "Hah...? Berteman dengan kalian? Memang aku gak tahu selama ini kalian munafik ke aku? Enyahlah kalian dari hadapanku, manusia-manusia gak berguna."
Teman-temanku saling oandang, menyadari bahwa gaya bicaranya bukan aku, terlebih aku terkikik, mirip sekali dengan kuntilanak.
Tapi temanku ada yang menyolot,"Karina, ayo main sama aku. Yuk lomba imut-imutan. Siapa yang paling imut di antara kita?"
"Ayo! Sudah pasti aku yang paling imut...."sambutku dengan mata melotot, senyum sinis, dan tanganku meninju tubuh gempalnya.
"Hi...." Teman-temanku menjerit dan berlari meninggalkanku, kecualu satu orang, dia pernah dekat denganku waktu duduk di bangku kelas delapan, karena dia stress sama urusan keluarganya, aku yang pertama kali mendekatinya.
"Kenapa...kenapa kamu jadi begini?"
"Kenapa, hah....? Karena pertama, aku benci sama teman-teman sok baik padahal aslinya adalah benalu. Kedua, aku benci sama teman yang sudah dekat sama aku, tapi setelah itu meninggalkanku. Ketiga....kamu gak perlu tahu."
"Apa? Cepat katakan Karina."
"Buat apa kamu tahu? Aku ga butuh teman manusia."
"Ma-maksudmu kamu berteman sama jin?"
"Yah, berteman sama jin menguntungkan. Aku terbantu banyak hal dengan kekuatannya. Menyenangkan sekali."
"Karina, apa kita tidak bisa berteman seperti dulu lagi?"
"Berisik sekali. Keluar kamu!"
Temanku bergegas keluar. Aku kasihan sama dia. Perasaannya pasti hancur. Aku tertawa sendiri sebenyar kemudian menangis.
Temanku yang lain lagi yang oernah menemaniku pulang gantian mendekatiku. Aku tersenyum sinis.
"Mau bermain denganku?"ajakku, kuda-kuda, lalu menyerangnya habis-habisan."Ayolah, kamu khan dianggap baik oleh pemilik tubuh ini. Ayo kita main sampai puas."
"Ampun-ampun."
Beberapa saat kemudian anak kuliahan tinggal di asrama datang, karena ia bertugas menjaga kami dan ia mendapat laporan aku mengamuk.
"Kamu ngapain Karina?"
"Lagi main."
"Main kok mukuli temannya. Ikut mba' yuk."
"Ke mana?"
"Ke masjid, di sana banyak teman yang bisa kamu ajak main."
"Heh, kamu kira aku bodoh. Aku gak kesurupan. Aku hanya dikendalikan. Mau kamu rukyah aku pun gak ngefek. Karena aku masih sadar."
"Terus kamu mau apa sekarang?"
"Aku mau tidur."
"Ya udah tidur aja. Daripada berisik ganggu warga."
"Oke, mba'."
Aku kembali ke kelas, di kelas teman-teman memandangiku, tak ada yang berani menyapaku, atau minimal tersenyum. Aku pun tidur di tempat yang tadi siang aku tidur di situ.
Keesokan harinya, sebelum subuh, aku terbangun, aku kembali pindah ke kelas lain. Temanku yang kemarin sore kupukuli mengikutiku.
"Karina, aku mau tanya sama kamu."
"Iya, silahkan."
"Kamu semalam kesurupan gak sih?"
"Gak. Aku tuh dikendaliin, Sha. Kakau aku gak kuat ngendaliin emosi jadi begini. Maaf ya Sha masalah kemarin."
"Gak papa. Aku harusnya minta maaf. Aku kemarin beneran gak tahu. Kamu tuh banyak pikiran ya Rin.Harusnya kamu tuh gak usah ikut perpisahan aja. Kamu masih sakit khan?"
Aku mengangguk,"Iya Sha. Pokoknya aku minta maaf banget sama kelakuanku kemarin. Semua tuh di luar kendaliku."
"Tapi kamu tuh kuat ya Rin. Sudah sejauh ini kamu cuman dikendaliin."
"Iya, Sha. Terus baiknya gimana ya Sha? Aku lanjut ikut acara inti apa gak? Aku masih pusing Sha."
"Pulang aja Rin. Daripada kamu tambah sakit. Kamu tuh sebenernya cantik tahu Rin. Coba kamu banyakin senyum. Jangan sedih terus."
"Gitu yah Sha. Makasih ya Sha. Aku pulang dulu ya."
"Eh, mau ku antar ga? Ga takut pulang sendirian?"
"Ga Sha. Aku pulang sendiri saja. Izinin aku ya...kalau aku ga ikut acara inti."
"Insyaallah Rin. Kamu istirahat aja. Pasti kamu capek setelah energimu terkuras haabis karena semalam."
"Hehehe...tahu aja."
"Kita khan berteman sejak belum sekolah. Tahu dong hal² sekecil itu."
"Oke. Dadah!"
"Hati-hati di jalan."
Perasaanku menjadi lega. Aku pulang ke rumah saat fajar telah nampak. Waktunya istirahat.
Matahari tergelincir ke arah barat, saat itulah aku terbangun dari tidurku. Aku teringat aku belum mengembalikan buku ensiklopedia milik temanku. Aku berharap acara inti belum selesai. Aku bergegas kembali ke sekolah guna mengembalikan buku. Acara penutupan, aku diajak makan-makan. Teman baruku menolak makan bersama. Ia terus berdiri di belakangku sampai aku beranjak dari sana.*the end*
Bagaimana pendapatmu dari cerita nyata ini? Silahkan komentar, kalau suka beri like, dan jangan lupa mampir ke novelku yah... Thank you very much...