Malam ini kami akan menginap di rumah Ica, sahabat ku. Aku Naira,dan dua sahabat ku yaitu Feby dan Kiya. Memang tidak terlalu jauh dari rumah kami, tapi cukup melelahkan. Setelah sampai kami langsung di sambut hangat.
Ibu Ica yang terkena sift malam di tempat kerjanya pun menitipkan Ica pada kami. Bukan hanya Icanya saja, tapi juga rumahnya.
"Jadi kalau ibu mu masuk malam, kamu sendirian ya Ca? " Tanya Feby lalu memasukkan kacang disco kedalam mulutnya.
"Ya gitu lah Feb. Makanya aku seneng banget karna kalian mau nemenin aku" Ica tersenyum.
Jika boleh jujur, sebenarnya aku merasa sedikit tidak nyaman di sini. Semakin malam, suasana nya..
Sudahlah, abaikan saja.
"Eh, dari pada diem dieman mending kita main. Mumpung masih pada jomlo semua, yakan... " Kiya berhasil memecahkan keheningan sesaat itu.
"Boleh tuh, mau main apa nih? " Ucap ku mencoba untuk tetap tersenyum. Lumayanlah untuk menghilangkan rasa takutku.
"Gimana kalau kita cerita yang serem serem aja. Biar menantang adrenaline.. huuuu... Mumpung udah mau malam nih" Ucap Feby menampilkan tawa menyeramkannya.
Deg..
Ica dan Kiya mengangguk setuju. Aku masih terdiam terpaku. Baru saja menghela nafas lega karena ku kira fikiran negatifku tentang tempat ini akan sirna. Tapi apa..
"Emm.. Gays.. kayaknya aku nggak ikutan deh. Aku tau itu kesukaan kalian tapi.. " Kalimatku terhenti ketika ketiga sahabatku itu tertawa. Why?
"Astaga Nai.. Hari gini lo masih takut hantu hantuan? Nggak ada yang namanya hantu" Kiya tertawa terbahak ketika mendengar kalimat penolakan dari ku.
"Jangan takut Nay.. Mereka suka sama orang yang takut pada mereka" Suara Ica terdengar begitu dekat dengan telingaku. Bahkan seperti hanya hembusan nafas saja. Tapi aku hanya mengabaikannya.
"Udah ah, kita mulai aja ya. Dari aku aja deh" Feby mulai memasang tampang seriusnya. Kalau soal cerita memang dia yang paling bisa membuat suasana seakan akan ada di dalam cerita nya itu.
Aku bisa apa?
"Wait.. Aku ambil cemilan dulu" Ica kemudian berlari kearah dapur. Tak sampai semenit Ica sudah kembali duduk dengan tiga toples cemilan yang sudah siap untuk di santap.
Feby memulai ceritanya. Seiring berjalannya waktu, seiring kalimat kalimat yang di ucapkan Feby hanyut kedalam fikiran kami. Bulu kuduk mulai berdiri.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ica.. buka pintunya.. " Suara ibu Ica terdengar dari balik pintu. Aku menoleh kearah pintu. Loh bukannya Ibu Ica bakal pulang pagi ya? Kok cepet banget. Ditambah lagi aku tidak mendengar suara Feby yang bercerita.
Betapa kagetnya aku ketika melihat ketiga Sahabtku tidak lagi duduk di depanku. Dimana mereka?
"Kiya.. Ca.. Feb.. Jangan bercanda plis.. " Suara ku bergetar. Masalahnya ruangan ini tiba tiba saja berubah. Di tambah lagi ketukan pintu yang diiringi dengan suara ibu Ica. Suaranya seakan memaksa untuk di bukakan pintu.
Bukan, bahkan sekarang aku lah yang berada di luar rumah Ica. Pintu pintu yang berjejer di seberang rumah Ica seakan ingin melahapku.
Rumah susun ini terasa begitu angker. Rasanya seperti terjebak di bangunan kosong.
Kaki ku melangkah perlahan, suara kenop pintu yang di mainkan menambah rasa takut dalam diri ini.
Tuk..
Tuk..
Tuk..
Suara bola bekel yang di pantul pantulkan berhasil mengalihkan pandanganku. Kepala ku menoleh kearah suara itu. Betapa terkejutnya aku ketika sebuah kepala terbang ingin menerkam ku.
"Aaaaaaaaaaaaaa..... " Tangan ku menutup telinga, kepalaku menunduk dalam, Mataku kututup rapat. Berharap semua ini akan segera berakhir. Air mataku mengalir. Tubuhku bergetar ketakutan. Tak bisa lagi menahan sesegukan yang membuat ku ingin pingsan saja.
Tap..
Sebuah tangan mendarat di pundakku. Membuatku semakin bergetar ketakutan.
"Nai.. Kamu nggak papa? " Suara itu.. Suara Feby yang khawatir. Perlahan ku buka mata ini dengan rasa taku yang masih menyelimuti.
Cahaya menyilaukan dari lampu ruang tamu Ica membuat ku harus mengedipkan mata beberapa kali.
Setelah memastikan bahwa itu benar benar sahabatku Feby, aku langsung memeluknya.
Ica dan Kiya ikut memelukku dari belakang. Menenangkan diriku yang masih sesegukan.
"Kamu kenapa sih Nai? Bikin takut tau" Ucap Kiya to the point.
"Iya awalnya kamu pingsan, terus tiba tiba bangun dan teriak ketakutan. Kamu bisa jelasin nggak? " Ucap Ica.
Aku pingsan?
Tangis ku semakin menjadi ketika mengetahui bahwa aku sempat pingsan. Lidah terasa kaku untuk menjelaskan hal yang terjadi padaku.
"Ya udah, kita istirahat aja yuk. Kayaknya kamu kecapean, makanya jadi pingsan tadi" Feby mencoba menenangkan ku dengan fikiran positif nya. Aku mengangguk pelan. Kami pun memutuskan untuk tidur di kamar Ica.
Tok..
Tok..
Tok..
"Ica.. Buka pintunya.. " Suara itu lagi?
"Naira... Buka pintunya... " Aku tidak berani menolehkan kepala ini. Ku abaikan saja hingga memasuki kamar Ica. Kenapa harus namaku?
Namun suara ketukan itu semakin keras. Membuatku ingin pulang saja.
"Ica.. ibu kamu pulang jam berapa? " Tanyaku bergetar.
"Jam 6 Nai. Emang nya kenapa?" Sudah ku tebak, itu bukan ibunya Ica. Aku hanya menggeleng.
BRAK..
Pintu kamar Ica tertutup dengan sendiri nya. Seperti sengaja di banting dengan keras.
Kami berempat terlonjak kaget, bersamaan menatap pintu kamar Ica yang terbanting tadi.
Ica berjalan cepat kearah pintu kamarnya. Mendekatkan mulutnya kearah pintu seperti mengucapkan sesuatu.
Sementara kami bertiga saling berpelukan. Hawa dinginnya malam mulai menusuk hingga ketulang.
Setelah Ica kembali lagi kearah kami, situasi menegangkan itu hilang. Keadaan mulai tenang.
Tapi itu tak berlangsung lama. Lampu kamar Ica padam. Kami tak bisa melihat apa apa. Aku yang merasa takut dari awal mulai menangis.
Lampu hidup kembali dengan cahaya redup. aku menghela nafas lega. Kejadian mengerikan terjadi lagi. Ternyata yang bersamaku di dalam kamar Ica bukan lah sahabat sahabat ku. Tapi mereka yang berwajah menyeramkan.
Wajah yang retak penuh darah, wajah yang setengah hangus dan wajah yang benar benar hancur tak berbentuk.
Aku sudah tak sanggup lagi untuk berteriak. Hanya tangisan saja yang terdengar di telingaku. Semakin keras tangisan ku, semakin keras tawa mereka. Mengerikan..
Ayah.. Bunda... Nai takuut..
Dengan langkah yang kupaksakan, aku berlari kearah pintu kamar. Mencoba membuka knop pintu yang tertutup.
Kenapa nggak bisa??
Makhluk menyeramkan itu semakin mengeraskan suara nya. Membuat kaki ku begitu berat untu kdi langkahkan.
"Aaaaaa.... " Salah satu dari mereka berteriak dengan suara yang melengking. Tubuhku semakin bergetar ketakutan.
Setelah lama berusaha, akhirnya pintu itu terbuka. Tapi bukan ruang tamu yang kudapati, melainkan koridor bangunan dengan jejeran pintu pintu menyeramkan itu yang menyambutku.
Sudah lah sekarang aku hanya bisa berlari tanpa arah. Ketukan pintu yang di iringin dengan suara Ibu Ica kembali terdengar. Bahkan kini terdengar di sepanjang koridor aku berlari. Tangisanku tak berhenti.
Hingga sebuah kalimat terlintas di telinga ku seperti bisikan.
'Jangan takut Nai.. Mereka suka sama orang yang takut pada Mereka'
Ku berhentikan langkahku. Apa kalau aku berani, aku bisa keluar dari tempat menyeramkan ini?
Ku langkahkan kaki ku menuju salah satu pintu yang terus diketuk itu.
Clekk..
Cahaya menyilaukan menyambut mataku. hingga harus ku tutup dengan lenganku. Kaki ku tak bisa berhentu melangkah. Sebuah pintu mulai terlihat diujung sana.
Tanganku meraih knop pintu itu.
Mata ku mengerjap pelan. Dimana ini?
Rumah sakit?
Kenapa banyak ada banyak orang di sini?
Aku semakin di buat bingung dengan perban yang membalut kepalaku.
Apa yang terjadi?
Kenapa aku tiba tiba berada di sini?
"Tante.. Nai udah bangun.. " Suara Ica terdengar begitu parau.
"Ah syukurlah sayaaang.. hiks.. " Bunda, kenapa menangis seperti itu?
"Bunda? "
Jujur saja aku masih takut jika ini masih dalam permainan makhluk makhluk itu. Tapi melihat tempat yang sudah berbeda aku mulai percaya bahwa mereka benar benar manusia.
"Ca.. sebenarnya apa sih yang terjadi? " Tanya ku kearah Ica.
Ica mulai bercerita.
"Kejadian itu di mulai ketika Feby lagi cerita. Kamu tiba tiba saja berteriak sangat kencang sehingga membuat kami semua panik. Setelah berteriak kamu pingsan, terus terbangun sambil nangis sesegukan. Bandan kamu gemeteran Nai. Kami nggak tau harus ngapain waktu itu. Lalu tiba tiba kamu diam dan nggak sesegukan lagi. Yang bikin kami kaget, kamu tiba tiba berdiri kayak di bantu sama beberapa orang Nai..
Padahal kami cuma ngelus pundak kamu buat nenangin. Kamu masuk kedalam kamar aku terus ngebanting pintu kamar aku. Kami khawatir dan coba buat menggedor pintu kamarku. Tapi nggak ada respon, pintunya malah kamu kunci.
Terus kamu mainin lampu kamar, pas lampunya mati kamu malah nangis. Pas lampu nya hidup kamu teriak kencang banget, kayak ketakutan. Terus kamu mainin knop pintunya, seakan akan kamu terkunci didalam. Waktu itu Feby langsung nelpon ibuku supaya pulang dulu. Aku nggak bisa berkata kata lagi. Kami nangis ngliat kamu yang ngunci diri di dalam kamar Nai..
Terus pas pintu nya udah kebuka kamu malah lari ketakutan. Karna nggak hati hati kamu kepeleset dan kepala kamu terhantuk lantai.
Setelah ibu ku datang, kamu langsung di bawa kerumah sakit. Bunda kamu juga di telpon sama ibu ku. Setelah 3 hari kamu nggak sadarkan diri, ini hari ketiga mu Nai.. " Ica bercerita dengan suara yang bergetar. Setelah benar benar di ujung nafas, tangisnya pecah dan menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan Feby yang menangis.
Aku tertegun. Kenapa berbeda dari yang kualami?
Sangat jauh berbeda.
____
Sejak kejadian itu aku tak pernah lagi mengunjungi rumah Ica. Trauma itu sangat menyiksa.
Kami hanya akan bertemu di sekolah seperti biasa. Ica juga memaklumi posisiku yang mengalami hal mengerikan itu. Hingga hari ini aku terus mengingatnya. Kenangan buruk di Rumah Susun itu menjadi cerita yang paling menyeramkan dalam hidupku..