Dua Tahun Pacaran, Ternyata Gay
Fahri Habibi itu lah namaku. Setelah putus dengan Jesslyn aku tak berniat membuka hati lagi. Bagaimana tidak Jesslyn adalah wanita yang amat aku cintai, bahkan tahun depan aku berniat akan serius kepadanya. Tapi Jesslyn dengan tega mengakhiri hubungan karena ada yang lebih baik dariku tentunya dari segi ekonomi. Aku merasa sangat frustrasi selama yang ini yang kulakukan untuknya hanya sia-sia.
Notifikasi masuk dari ponselku. Awalnya aku agak malas membuka ponsel tersebut karena pasti pemberitahuan tentang sistem facebook atau tidak dari Telkomsel, dan pada akhirnya aku memutuskan untuk tidak membukanya.
Pekerjaanku hanya sebagai karyawan swasta,. tak banyak yang menyukai pekerjaanku. Walaupun wajah di bilang cukup tampan tapi bagi wanita cantik di luar sana uang lebih dari segalanya.
Berbulan-bulan aku belum bisa move-on darinya. Diriku seakan-akan mati untuk kehidupan selanjutnya. Aku merasa duniaku tak lagi sama. Bahkan sampai hari ini air mata tak kunjung kering.
Kenapa saat wanita di sakiti menganggap semua lelaki sama aja? Tapi kenapa saat lelaki di sakiti wanita menanggap itu adalah kesalahan lelaki yang tak peka kepada wanita. Egois kan? Iya, tapi begitulah faktanya.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” ucapku dengan malas.
Pintu terbuka menampilkan Andini yang berdiri di sana.
“Kakak keluar yuk,” ajaknya dengan menarik tanganku.
“Pergi aja sana sendiri, jangan ganggu gua!” ucapku marah.
“Makanya jangan bucin, jadi kek gini kan. Yaudah lah ngapain mikirin dia, toh dia juga ada yang baru.” Ucap Andini dengan mengejek.
“Pergi gak lu!” hardikku kepada Andini.
“Bucin. Otaknya kecil, udah di khianati masih aja berharap balikan. Dan status lu itu di hapus norak! Bye ... Manusia jomblo.” Ucapnya dengan membanting pintu dengan kasar.
Aku sangat kesal dengan kedatangan Andini, karena mulutnya yang lemes sering kali buat orang sakit hati. Andini adalah adikku yang paling kecil, usia kami tak jauh beda hanya setahun saja. Tapi setelah aku pikir-pikir Andini juga tak ada salahnya. Kenapa aku harus memikirkannya? Sedangkan dia sudah bahagia dengan kekasih barunya.
Memang otakku sedikit lemot tentang perasaan. Dan beberapa minggu kemudian aku memutuskan untuk menjalani kehidupan normalku seperti biasanya. Tentunya tanpa dia.
Setelah pulang kerja biasanya aku nongkrong bersama teman-temanku di sebuah cafe.
“Whats app bro! Udah baikkan lu?” tanya David saat aku sampai di cafe.
“Udah lumayan,” ucapku pelan.
“Ngapain juga lu mikirin dia! Enjoy aja kali ya, ikan masih banyak di lautan. Wanita bukan dia aja bro,” balas Andika.
“Iya gua juga nyesel, gua aja yang terlalu bodoh berharap sama dia.” Aku mengurut keningku.
“Gimana interviunya?” tanyaku kepada Dedek,
Kelvin kerap kali namanya di panggil Dedek karena merupakan anak yang paling kecil di keluarganya.
“Belum nih, pusing gua mana akhir-akhir ini jualan Ayah sepi.” Ucap Dedek sedikit murung terlihat dari wajahnya yang berkerut.
“Yang sabar ya lu, pasti di balik ini semua ada hikmahnya,” ucap Andika.
Setelah terjadi perbincangan singkat, semuanya tampak fokus pada handpone masing-masing.
“Woi ... Woi.... Lihat nih, gila ni cewek bodynya aduhai.”
Padangan kami menuju ke arah David.
“Apaan?” tanyaku singkat.
“Lihat, wih gila badannya Mo*tok.”
Aku yang melihatnya ikut tergoda, melihat pahanya yang mulus bak orang Korea. Setelah namanya ku search di pencaharian instagram ternyata dia udah mengikutiku aku. Senang bukan main, aku tak memberi tahukan kepada temanku. Aku takut nanti bakalan di tikung.
Sampai di rumah pun rasa senang di hati ini juga ada. Entah kenapa sekarang pikiranku tertuju dengan wanita yang di instagram tadi. Setelah aku mengikuti balik tak berapa lama ada notifikasi darinya.
Aku terlonjak kaget, aku membalas cepat.
( )= Dia
[ ] =Amu
(P)
[Iya]
(Boleh kenalan gak?)
[Tentu dengan senang hati,☺]
(Aku chat kamu gak ada yang marah kan?
)
[Enggak kok, lagian aku sekarang jomblo.]
(Boleh intro gak?)
Chattan berlangsung hari demi hari. Aku merasa nyaman dengan Kesya, setelah beberapa bulan aku lantas menembaknya.
( )= dia
[ ]= aku
[Pagi sayang 😍]
(Iya, tumben kamu cepat bangun.
)
[Iya nih, cuma lagi senang aja. Oh ya kamu mau ngomong sesuatu nih sama kamu.
Sibuk gak?]
(Boleh kok, silakan.)
[Aku ngerasa kamu tuh beda banget dari yang lain. Entah kenapa setiap aku chattan sama kamu, hatiku jadi bergetar. Aku orangnya biasa aja, gak ganteng. Tapi aku janji bakalan tanggung jawab. Setelah kamu datang ke kehidupanku aku merasa kamu sangat berarti buatku, Mau gak jadi pacar ku?]
(Kamu serius? Gak lagi nge prank kan?
)
[Iya aku serius, aku suka beneran sama kamu! Mau gak jadi pacarku?]
(Iya, aku mau kok.)
Aku melompat-lompat di atas tempat tidur saking senangnya. Aku segera berjalan ke kamar Andini.
“Lihat gua udah punya pacar,” aku memeluk erat Andini.
“Apa sih kak, main peluk aja!” ucapnya berusaha melepaskan pelukan ku.
“Gua udah dapat pacar baru.” Aku menunjukkan poto Kesya ke arahnya.
“Bisa juga lu kak milih cewek, awas hati-hati entar kena php-in lagi lu haha.... “ ucapnya dengan tawa kencang.
"Dasar adek lucnut," batinku,
“Pergi sana sama pacar baru lu! Gangguin gua belajar aja.” Ucapnya mendorongku keluar kamarnya.
“Emangnya lu belajar? Perasaan lu main HP dah dari tadi!”
“Belajar menjadi istri yang baik.” Ucapnya dengan senyum pepsodent. Aku memutar mataku malas.
“Mimpi terus bisa di nikahi sama, tuh Jongkok!” ucapku kesal.
Entah kenapa aku mempunyai adik seperti dia. Yang setiap harinya berhalu menjadi suami boyband asal Korea tersebut. Bahkan hampir setiap hari dia datang hanya untuk mengabari bahwa idolnya tersebut sudah update sesuatu.
Aku merasa sangat senang karena Kesya. Perempuan tersebut sudah sangat berarti dalam hidupku. Kesya wanita yang baik, walaupun kami LDR, tapi perhatiannya seakan nyata. Aku pun berubah drastis, menjadi lelaki yang periang dan bodoh amat dengan segala hal. Kesya yang mengajariku bahwa kehidupan bukan hanya tentang cinta tapi juga tentang sebuah arti perjuangan.
Sudah setahun hubungan kami. Rasa bosan pun tak pernah singgah di hatiku. Karena Kesya juga orang tak egois jika obrolan sudah tak ada pada akhirnya hanya balasan pesan gak jelas yang terkirim.
Jawa-Padang. Sungguh sangat jauh, rasanya ingin aku melintas ke Padang menggunakan kantong doraemon penembus waktu.
Baru kali ini aku merasa ada cewek yang benar-benar mengerti aku. Setia saat aku susah, Kesya juga yang membantu aku bangkit kembali.
Selama pacaran kami sama sekali tak pernah video call, telepon, bahkan voice not kami hanya chat. Tapi setiap hari di selalu mengirimi foto-foto cantik dan seksinya kepadaku. Nafsu memang ada apalagi fotonya sampai membuat sang teman bangun. Al hasil kamat mandi menjadi tempat pelampiasan. Saat aku tanya kenapa dia tidak mau video call, telepon, bahkan voice not alasannya Cuma satu yaitu karena malu.
Aku menganggap hal wajar saja mungkin karena baru kali.
Kesya sangat sabar dia mengerti waktu sibukku, dia tidak menuntut untuk selalu bersamanya. Bahkan saat aku nongkrong pun dia bahkan tak melarangku. Setelah menginjak ke dua tahun aku memaksakan dia untuk video call.
( ) = Kesya
[ ]= Aku
[Lu siapa?]
Tanyaku saat panggilan tersambung.
(Aku? Kamu gak kenal aku?
)
[Maksud lu apa! Mana Kesya! Lu siapa balikin Hpnya ke Kesya!]
(Aku kesya Fahri)
[Gak lu itu laki-laki mana mungkin Kesya, gua mohon ke elu kasih Hp nya ke Kesya!]
(Kamu mau percaya atau tidak, aku Kesya sayang.)
[Gua mau lu balikin Hp nya ke Kesya gua mau ngomong sama dia!]
(aku Kesya, percaya atau gak ya itu terserah kamu!)
[balikin Hp nya ke Kesya! Dan gua gak percaya lu!]
(AKU KESYA! FAHRI!)
Aku tak dapat berkata apa-apa lagi, sungguh aku sangat syok. Aku langsung mematikan panggilan video callnya.
Aku menjambak diriku, air mataku sudah mengalir deras.
“ Gak mungkin itu Kesya! Pasti dia bohong, akhhhh....” Aku membenturkan kepala ku ke dinding berkali-kali. Sampai darah segar mengalir, rasa sakitnya tak ada lagi. Puluhan notifikasi masuk ke Hp ku.
Aku membaca satu persatu pesannya. Sungguh sesak kala Kesya yang ku kenal selama ini adalah Rio, dia menjelaskan awalnya itu hanya challenge dari temannya. Kemudian dia ingin memberi tahu tapi karena keadaan ku yang masih down dia mengundurkannya. Tapi lama kelamaan dia nyaman sama aku, makanya dia melanjutkan nya.
“Gila! Pacaran dua tahun, selama ini aku nge gay!”
“Kalau teman gua nanya gua harus jawab apa? Masa iya gua bilang pacaran sama Rio?”