"Aku tahu ini cinta terlarang. Tapi aku sungguh mencintaimu, Yunkyoung. Dan jika aku memintamu menjadi kekasih apa yang akan kau katakan?"
Beomgyu melempar batu disekitar ke sungai Han. Ia membolos sekolah karena tak ingin bertemu Yunkyoung. Bukan membenci namun takut jika tak bisa menahan gejolak gairah dihatinya. Setiap kali melihat Yunkyoung.
"Beomgyu?"
Beomgyu menoleh ketika namanya dipanggil, "Suyun? Apa yang kau lakukan disini?"
Gadis tinggi itu duduk disamping Beomgyu dengan seragam sekolah yang masih melekat.
"Membolos seperti kau."
"Gak mungkin, kau pasti menjauh dari Yeonjun hyung 'kan? Karena hyung sudah punya Juri noona."
Suyun tertawa kecil dan meletakkan kedua tangan disamping.
"Kau juga menghindari Yunkyoung, 'kan?"
Beomgyu melotot kaget mendengar itu. Bagaimana Suyun mengetahuinya?
"Tatapanmu tiap kali lihat Yunkyoung berbeda. Seperti ingin melindunginya dan menyalurkan kasih sayang. Benar, 'kan?"
"Suyun, apa kau peramal?"
"Tidaklah."
"Suyun, aku hanya takut saja."
"Takut karena apa?"
"Kau tahu bahwa Yunkyoung adalah saudari tiriku. Dan bagaimana saudara laki-laki mengungkapkan perasaan pada saudarinya sendiri? Itu cinta terlarang."
"Bukan begitu, kau dan Yunkyoung itu tiri. Tidak ada hubungan darah sama sekali. Jadi, tidak terlarang."
"Sekarang ibunya Yunkyoung tengah hamil anak ayahku. Itu artinya tidak ada kesempatan lagi untukku bersama Yunkyoung."
Terdengar helaan napas berat Beomgyu membuat Suyun menatap simpati padanya.
"Antara sedih dan senang. Sedih karena kau tidak bisa bersama Yunkyoung padahal kalian berdua sangat cocok. Senang karena kalian akan punya adik baru."
"Yah, kau benar."
Drrt drrrtt
Dering ponsel menggetarkan saku celana Beomgyu dan lantas diangkatnya.
"Halo, Yun? Ada apa?"
" ... "
"Apa?! Baiklah, aku akan kesana!"
"Gyu, ada apa?"
"Suyun, aku harus pergi. Bye~"
Beomgyu dengan secepat kilat menuju rumahnya.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit Beomgyu tiba di pekarangan rumah tingkat.
"Kenapa pada ramai begini?" batinnya ketika hendak masuk.
Pintu pun terbuka, Beomgyu berjalan kearah ayahnya yang sudah berjalan mondar mandir seperti setrika saja.
"Ayah, bagaimana keadaan ibu?"
"Ibumu tak mau ke rumah sakit jadi ayah meminta dokter Cha menanganinya."
"Beomgyu!"
Tiba-tiba lingkaran tangan kecil hinggap pada pinggangnya. Lalu tangisan yang tak ingin ia dengar kini keluar.
"Darimana saja kau, gyu?! Aku takut terjadi apa-apa sama ibu!"
Beomgyu mengelus lembut tangan Yunkyoung. Beomgyu merasa sedih jika melihat Yunkyoung begini. Ia tak suka pujaan hatinya menangis.
"Berpikirlah positif dan berdoalah agar ibu baik-baik saja."
"Kau benar, gyu."
Tak lama dokter Cha keluar dari kamar. Ia berdiri didepan ayah Beomgyu dan Yunkyoung. Rasa cemas mulai mendominasi isi pikiran ketiga orang itu.
"Bagaimana?"
Dokter Cha yang terkenal akan ketampanan dan keahliannya dalam bidang kedokteran itu menggeleng lemah. Kabar buruk pun tiba. Ia mengatakan bahwa ....
"Bayinya tak terselamatkan. Maafkan saya. Saya ikut kehilanganmu. Permisi."
⭐⭐⭐
Ibu kandung Beomgyu betah membisu dalam kamar setelah beberapa hari atas kejadian tersebut. Beomgyu sendiri hanya bisa bersabar menghadapinya begitu juga ayah tiri dan Yunkyoung.
"Gyu, gimana?" tanya Yunkyoung
"Masih sama, Kyoung. Ibu tak mau bicara."
Yunkyoung pun menepuk pelan lengan Beomgyu. Sebelumnya Yunkyoung ingin mengusap pundak Beomgyu tapi karena lelaki itu lebih tinggi darinya jadilah lengan yang ia tepuk.
"Ibu akan baik-baik saja."
"Ya, semoga saja Kyoung. Eh, bentar lagi masuk. Ayo berangkat!"
Yunkyoung sempat menepuk dahinya sebelum Beomgyu berakhir menarik pergelangan tangannya. Setibanya di garasi Beomgyu dengan cekatan lompat dari anak tangga dan mendarat mulus membuat Yunkyoung kagum.
"Kyoung, ayo!"
"Iya!"
⭐⭐⭐
"Gyu, gimana nih? Gerbang belakang udah tutup."
Beomgyu tengah berpikir. Mencari jalan keluar dari masalah ini.
"Gerbang depan saja!"
"Hah?! Gila ya lo, Gyu?! Masa iya kita masuk lewat depan. Banyak guru-guru disana!"
"Ya, mau gimana lagi, Kyoung. Hanya itu satu-satunya solusi."
"Eh, kalian berdua pada telat ya?"
Beomgyu dan Yunkyoung menoleh bersamaan ketika seseorang yang sepertinya sedang berbicara dengan mereka.
"Kamu siapa?" tanya Yunkyoung
"Aku?" gadis itu menunjuk dirinya sendiri memastikan
Yunkyoung mengangguk iya.
Tiba-tiba tanpa hujan tanpa angin gadis itu berlari menuju mereka berdua. Dengan sigap gadis itu melingkarkan satu tangan pada lengan Beomgyu.
"Aku pacarnya Beomgyu!"
Yunkyoung dan Beomgyu melongo idiot. Nggak bisa dipercaya. Dengan sekali hentakan Beomgyu melepaskan gelutan tangan gadis itu, Ryujin.
"Kita pergi Kyoung!"
Yunkyoung sendiri bingung saat Beomgyu menarik tangannya. Yang bikin heran itu Ryujin, mengapa ia mengaku sebagai pacar Beomgyu. Jelas-jelas tak ada jalinan cinta spesial di antara mereka dan tentu saja Beomgyu tidak ingin bersama gadis gila itu. Ryujin, hanya itu yang Beomgyu tahu.
Sejak kelas 10, gadis itu terus mengikuti Beomgyu layaknya stalker. Beomgyu tak enak seperti itu makanya ia memberanikan bicara empat mata dengannya.
Ryujin itu suka banget, ralat, cinta mati banget sama Beomgyu. Dengan mentah-menath Beomgyu menolak perasaan Ryujin namun masih saja mengganggunya. Sampai sekarang.
"Gyu, lo kenal sama tuh cewek?"
"Namanya Shin Ryujin. Dia itu tergila-gila sama gue cuma karena ngikat tali sepatunya doank waktu kelas 10. Padahal hanya kebetulan saja gue perhatian karena lo ..."
Hampir saja keceplosan kalau saja ia lupa ada Yunkyoung.
"Gue apa, gyu? Lah, mingkem orangnya. Gyu, lo ngomong apa tadi? Gue?"
"Ah, tidak! Bukan lo!" Ini belum saatnya Beomgyu mengungkap perasaannya.
"Gaje banget sih lo!"
"Hehee ... Iya."
Kini Beomgyu dan Yunkyoung telah tiba di kelas. Untung saja Kang ssaem tidak hadir jadi jam pelajaran pertama dan kedua kosong.
"Hai, Kyoung!"
"Y-Yunseong?"
Lelaki yang semulanya duduk kemudian berdiri lalu berjalan menuju Yunkyoung yang berdiri mematung memandangnya.
"Gue denger mamah lo sakit jiwa, ya? Semoga cepat sembuh ya, eh kelupaan. Mending lo bawa deh mamah lo ke rumah sakit jiwa biar gak malu-maluin, hahaa .... "
Yunkyoung mengepal kedua tangan mendengar hinaan yang terlontar dari mantan kekasihnya, Hwang Yunseong. Pengen nampol namun Yunkyoung tahu tempat dan waktu. Jadi, ia hanya bisa diam.
"Eh, lo jangan ngatain gitu!"
Beomgyu udah narik kerah seragam Yunseong dengan tatapan menyalang.
"Baj***** lo Seong, ngehina ibu gue!"
"Gyu, itu bukan ibu lo! Tapi ibu tiri, anj***!"
"L-lo!!!"
Brak!
Debruk!
Beomgyu sudah mulai menghajar habis-habisan Yunseong tak peduli seruan dari Yunkyoung untuk berhenti.
"Ada apa ini?" tanya Jeon ssaem
⭐⭐⭐
Setelah keluar dari ruang BP, Beomgyu berniat untuk menemui Yunkyoung sekadar menanyakan kabarnya. Ia khawatir Yunkyoung jika gadis itu merenung sedih.
Ketika beberapa meter lagi jaraknya dengan kelasnya disana Yunkyoung ada di depan pintu kelas dan Yunkyoung sedang berbicara pada Yunseong. Raut wajah gadis itu nampak khawatir bagi Beomgyu. Membuat lelaki itu cemburu karena berasumsi kalau Yunkyoung lebih mencemaskan Yunseong daripada dirinya.
Dengan sengaja dan cuek Beomgyu melewati Yunkyoung begitu saja. Yunkyoung sendiri melihatnya. Ia lalu menggertak Yunseong.
"Minta maaflah pada Beomgyu nanti! Jika tidak aku akan menyebarkan foto pacarmu yang sedang selingkuh ini ke mading dan medsos!"
Yunkyoung mengejar Beomgyu yang melewatinya.
⭐⭐⭐
"Gyu!" seru Yunkyoung setelah tiba di rooftop sekolah. Ia segera menghampiri Beomgyu yang tengah memandang pemandangan.
"Lo baik-baik saja, 'kan?" tanyanya ketika hendak menyentuh luka lebam pada ujung bibir Beomgyu. Namun secepat kilat, lelaki itu menjauhkan mukanya. Perlakuan tak biasanya didapat Yunkyoung.
"Beomgyu, maafin gue. Luka lo itu semua karena gue yang gak berguna."
Beomgyu tetap mendiami Yunkyoung. Sangat enggan sekadar menatapnya. Salah apa Yunkyoung?
"Gue gak bisa jagain ibu lo, gue gak bisa diandalkan, gue gak—"
Chup~
Beongyu melayangkan kecupan singkat tepat dibibir tipis Yunkyoung. Sontak gadis itu melotot tak percaya.
"Berhenti bicara lo gak berguna untuk apapun! Jika tidak bibir manismu akan jadi santapan nikmat untukku, Choi Yunkyoung."
"Choi Beomgyu!!!"
Hampir saja wajah tampan Beomgyu jadi sasaran bogeman Yunkyoung jika saja tidak menahan tangan mungil itu.
"Dengarkan gue, Kyoung ... gue serius untuk mengatakannya."
"Katakan saja! Cepetan!"
"Sabarlah nona Choi."
"Apa?"
"Hahaa ...."
"Beomgyu!"
"Aku ingin kau jadi milikku seutuhnya, maukah kau?"
"Kita sudah jadi kaka beradik, mustahil untuk kita"
"Aku sudah lama mencintaimu Kyoung! Dan selama ini aku berupaya membuang jauh perasaan itu! Tapi gak bisa! Semakin memikirkan cara untuk menjauh semakin rindu diriku padamu!"
Beomgyu mempererat genggamannya terhadap tangan mungil Yunkyoung. Sorot mata sayunya menyiratkan ketulusan. Membuat Yunkyoung luluh dan berhasil dibuat marathon jantung.
"Aku gak memaksamu, kyoung. Tidak perlu dipikirkan. Aku lega sudah mengungkap semua rasa terkekang ini."
Beomgyu hendak melepaskan genggaman tetapi ditarik mendekat kearah Yunkyoung.
Chup~
"Siapa juga menolak lelaki tampan sepertimu ini? Aku mau!"
Yunkyoung langsung memeluk Beomgyu, "Bagaimana dengan ayah dan ibu?"
"Aku akan membicarakan hubungan kita baik-baik pada ayah dan ibu. Mereka pasti akan mengerti."
"Tidak!" Yunkyoung perlahan menjauh namun tak melepaskan kedua tangan yang telah terlingkar sempurna pada badan Beomgyu.
"Kita yang akan melakukannya. Mari kita lakukan semuanya bersama!"
-END-