"Aku mencintaimu. Menikahlah denganku, Permata."
Kalimat itu diucapkan Rio pasca kelulusannya di SMA. Seragamnya penuh coretan dan tanda tangan, sementara rambutnya berubah warna akibat cat semprot. Di hadapanku, lelaki itu menekuk kedua kakinya.
Mendengarnya mengucapkan cinta, sontak mataku membulat. Bukan hanya pernyataan cintanya, tapi panggilannya pun membuatku kehilangan lelaki kecil yang dulu sering menangis kala jajannya tak dipenuhi sang ibu.
"Aku tidak meminta jawaban sekarang, Permata," tukasnya buru-buru. "Nanti. Aku akan datang nanti."
Aku menahan tawa, lalu mengusap kepalanya. "Tidak sopan bicara sama yang lebih tua memanggil namanya. Aku tantemu, Rio. Sahabat mamamu."
Rio menunduk, menyembunyikan wajahnya yang menekuk. Aku menangkup pipinya, lalu memaksa wajah itu menengadah.
"Sekolah dulu yang bener. Masih kecil sudah cinta-cintaan."
Aku beranjak melanjutkan pekerjaan, merawat tanaman-tanaman hiasku. Aku mendengar Rio menghela napas. Kala pemuda itu kembali menduduk, aku melirik. Saat ia mengangkat wajah, tatapan kami lantas bertemu. Sorot mata itu bercerita tentang luka yang baru saja kuciptakan. Sejatuh cinta itukah ia?
Usia kami terpaut 15 tahun. Dan, tak seharusnya Rio menjatuhkan hati pada perempuan yang pernah menikah sepertiku. Harusnya.
Aku mengulum senyum kala ingatan tentang Rio kecil berkelebat dalam kepala. Bagaimana mungkin pria kecil yang dulu sering kupangku itu jatuh cinta?
.
.
"Rio apa kabar, Mbak?" tanyaku pada Santi.
Hampir sebulan pasca pernyataan cintanya, Rio tak pernah lagi menampakkan wajah. Mungkin pemuda itu tengah sibuk menyiapkan kuliah atau mungkin juga tengah sibuk menyesali kelakuannya.
Dari lisan sang ibu, akhirnya kutemukan jawaban bahwa Rio melanjutkan pendidikannya di salah satu kampus terbaik di Indonesia. Aku mengembuskan napas lega. Setidaknya, ada banyak waktu bagi Rio untuk mensterilkan kembali perasaannya terhadapku dan aku sendiri bisa tenang mengurus tanaman-tanaman hiasku tanpa perlu menanggung rasa bersalah terhadap lelaki itu.
"Sepertinya anak itu sedang patah hati." Kalimat pelan itu entah mengapa membuat detak jantungku serasa menghentak.
.
.
Kupikir, waktu harusnya mampu mengubah banyak hal, termasuk cinta monyet milik pemuda itu. Namun ternyata, jejak namaku masih terpahat sempurna dalam dadanya. Mendadak, kegelisahan kembali merayapiku: apa yang harus kukatakan agar pemuda ini mengerti bahwa usia kami umpama langit dan bumi?
Lima tahun setelah hari pernyataan cinta itu, Rio kembali lengkap dengan gelar sarjananya. Lima tahun rupanya cukup membuatnya lebih dewasa. Lengannya yang dulu kecil kini membesar dengan bisep yang memesona. Wajahnya tak lagi seperti bocah ingusan, melainkan lebih matang dengan bulu-bulu halus sekitar rahang. Satu hal yang masih sama: tatapannya yang memuja.
"Apa kabar, Permata?" Suaranya bertambah berat seperti lelaki dewasa pada umumnya.
Rio mengulurkan sebuket mawar. Aku menahan tawa. Dasar anak kecil. Apa Rio lupa kalau aku juga penjual bunga?
"Kau semakin cantik," ujarnya lagi.
Aku merasa hawa panas menjalari wajah. Ah, kenapa juga aku harus menyelipkan anak rambut ke belakang telinga? Apa sekarang aku malu dengan penampilanku sendiri di hadapan anak kecil ini?
Kami lantas berbicara apa saja seraya mengelilingi koleksi-koleksi tanamanku. Rio bercerita banyak, sebelum akhirnya kedua lengannya menahan bahuku. Kami berhadapan.
"Aku bukan lagi anak kecil, Permata. Kau tidak lupa, 'kan?"
Aku tertawa. "Apa di kampusmu kekurangan gadis-gadis cantik?"
Rio menghela napas. Tatapannya berubah sendu.
"Apa aku masih belum layak untuk seorang Permata?"
Aku mengulum senyum seraya mengusap pipinya. "Cinta tak perlu sebuta itu, Rio. Temukanlah gadis cantik yang masih muda."
"Aku tetap memilihmu."
Rio menarik napas. Pemuda itu kembali mengemasi perasaanya. Ia berlalu setelah berjanji akan kembali menemuiku pacsa menyelesaikan S2nya.
Apa Rio lupa tentang siapa aku? Apa perlu kuingatkan lagi bahwa Permata yang ia cintai adalah seorang wanita yang pernah terluka oleh pernikahan?
.
Dulu, saat berusia belasan tahun, aku jatuh cinta pada seorang lelaki sepantaranku. Cinta sungguh sebuta itu, hingga aku jatuh sejatuh-jatuhnya. Dengan modal cinta, kami menikah muda. Aku lalu menemukan banyak hal yang tak kupahami tentang cinta. Aku menemukan diriku sendiri dalam kesesatan paling nyata. Aku menemukan diriku penuh luka, penuh nestapa. Aku menemukan fakta bahwa pernikahan bukan hanya perihal jatuh cinta, lalu kami akan bahagia selamanya.
Lantas kusimpulkan bahwa cinta tak perlu seterburu-buru itu.
Lamat-lamat kurutinkan harap agar Rio menemukan cinta yang semestinya.
.
.
Bukan hanya kota, usiaku pun ikut menua bersama dengan detik-detik yang melangkah cepat.
Anehnya, Rio tetap setia mengirimkan pesan-pesan cinta. Seluruh aktivitasnya ia rangkum dalam sebuah pesan pendek berbentuk surel.
"Hari ini aku ujian. Doakan, ya."
Atau,
"Aku lulus, Permata."
Atau,
"Aku diterima bekerja di perusahaan asing. Aku harus mengikuti pelatihan di luar negeri selama beberapa tahun. Tunggu aku."
"Gadis itu menyatakan cinta. Anehnya yang kubayangkan justru dirimu. Haha. "
Aku tertawa membaca pesannya yang terakhir.
.
.
Usiaku menjelang 50 saat Rio kembali datang. Ia telah sempurna menjadi lelaki dewasa.
.
Di hadapanku, sepasang mata lelaki itu memerah.
"Apa aku masih belum layak?" tanyanya seraya menggenggam telapak tanganku yang mengeriput akibat kemo yang tak kunjung usai.
Aku mengusap pipinya. "Jangan gila. Cinta tak mesti sebuta itu, Rio."
.
.
Di sebuah brankar rumah sakit, lewat monitor yang sengaja kuminta pada perawat, aku menyaksikan Rio tersenyum lebar pada tetamu yang berjejer hendak menyalaminya.
Lalu, terngiang percakapanku dengan Rio sebulan yang lalu.
"Maafkan aku. Maafkan aku, Permata. Aku mengkhianatimu."
Aku mengusap rambut lebatnya.
"Mama memintaku segera menikah. Aku mengkhianatimu." Lelaki itu menunduk dengan bahu yang bergetar pelan.
.
Di layar monitor itu, aku melihat Rio dalam balutan tuksedo. Gagah sekali. Dulu, selalu kubayangkan bahwa aku akan berdiri di sisi Rio memakai gaun pengantin. Namun sayang, cinta harus logis, 'kan? Kami berbeda dan Rio layak mendapat yang terbaik.
Saat Rio tengah berbahagia, aku akan berjuang melawan lara.
.
Selesai