Prolog
Arya Nicholas seorang cowok cool yang terkenal badboy dengan hobby suka membully orang. Disamping itu dia juga mempunyai sahabat yang setia, selalu menemaninya, Alex Saputra dan Fahri Fahreza adalah sahabat sekaligus teman masa kecil Arya.
Sehingga mereka sudah tidak heran lagi kalau Arya sering dijuluki cowok badboy.
Namun suatu ketika ada sesuatu yang berbeda di diri Arya, dia yang terkenal badboy tiba-tiba berubah menjadi anak yang baik.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Arya jadi berbeda?
###############
Suatu hari ketika pulang sekolah Arya, Alex dan Fahri berjalan beriringan sambil bercanda, tapi di tengah perjalanan Arya melihat sekelompok anak sedang berjalan berlawanan arah dengan mereka. Tiba-tiba ide jahil Arya muncul, untuk mengganggu anak-anak itu.
"Azekk nih, lumayan juga buat hiburan gue sebelum pulang" kata Arya dalam hati sambil tersenyum smrikk, dan Alex menyadari itu.
"Ngapain Lo senyum-senyum gitu? Gila Lo?" kata Alex. Dan Fahri hanya menyimak dalam diam.
Tiba-tiba Arya pun berjalan mendahului Alex dan Fahri, lalu menghampiri anak-anak yang akan di jadikan target selanjutnya.
"Woy...Lo semua minggir!! Gue mau lewat, jangan halangin jalan Gue dan temen-temen Gue" kata Arya galak sambil menunjukan wajah sangarnya.
Anak-anak yang di bentak tadi pun hanya diam saja di tempat, lalu tak lama kemudian salah satu dari mereka yang berbadan lebih besar dengan berani maju kedepan dan berkata,
"Jalannya masih lebar, masih bisa untuk lewat, jadi kenapa kami harus menuruti perkataanmu untuk minggir?" Kata anak bertubuh besar itu yang bernama Raffi.
"Yaa...Lo harus minggir karna ini jalan kawasan Gue, jadi Gue berhak menyuruh siapapun untuk menyingkir saat Gue dan temen-temen Gue lewat! Ngertii Lo?" kata Arya dengan keras sambil menunjuk jalan yang mereka lewati.
Tapi mereka pun hanya diam saja dan memilih untuk mengalah. Dan Arya pun tersenyum senang karna targetnya hari ini hanya diam saja,
"Dasar anak cupu baru gitu doang langsung diem hahaahaa" kata Arya sambil tertawa terbahak-bahak, dan temanya pun hanya geleng-geleng kepala melihat kebiasaan Arya yang seperti itu.
##########
Keesokan harinya saat Arya dan teman-temannya duduk di sebuah warung sambil bercanda ria, tiba-tiba anak yang kemarin dia ganggu berjalan melewati mereka.
"Eeh...itu bukannya anak yang kemaren Lo hadang di jalan pas kita balik yaa?" Kata Alex memastikan penglihatannya.
"Yess...bener Lo, apa kita lanjutin yang kemaren ajh yaa? Lumayan nih jangan di sia-siain" kata Arya tersenyum, sambil berdiri hendak menghampiri anak itu.
"Ngga capek Lo bully anak orang mulu?" Kata Fahri jengah dengan kelakuan sahabatnya.
"Ngapa? Lo ngga berani?" Kata Arya sambil melihat anak yang kemarin menjadi tergetnya. Dan Fahri pun hanya mengedikan bahunya.
Arya pun mulai menunjukan wajah sangarnya,
"Permisi" kata Tama pelan sambil membenarkan kacamata yang dipakainya.
"Wah..gais liat siapa nih yang lewat?" Kata Arya meremehkan.
Namun tiba-tiba...
Bruk!!
Tama dan buku yang di bawanya pun terjatuh karna dia didorong oleh Arya.
"Dasar kutu buku kemana-mana bawanya buku, mana buku Lo udah jadul gitu lagi hahahaa!" Kata Arya sambil tertawa dan mengambil buku Tama yang sudah usang.
"Mending Lo jadi babu Gue aja deh, lumayan bisa Gue suruh ngerjain PR Gue di sekolah, yaa ngga bro?" Kata Arya sambil menghadap sahabatnya. Dan Tama pun hanya diam saja mendengarkan.
"Iyaa Lo bener banget Ar, lumayan kan otak Gue jadi ngga berpikir keras karna PR-PR sialan" kata Alex tersenyum.
Sedangkan Fahri hanya duduk manis dan menyimak kelakuan sahabatnya itu.
Tak lama kemudian ada teman-teman Tama datang menghampiri mereka,
"Apa-apan ini? Lo apain temen Gue hah? Maksud Lo apa giniin temen Gue? Punya masalah apa Lo sama temen Gue?" Kata Raffi membentak tidak terima dan mendorong Arya, karna ulah Arya temannya duduk di bawah dengan buku yang berserakan di depannya. Lalu Lugito teman Tama dan Raffi ikut membantu Tama berdiri dan menata buku-buku yang berserakan itu.
"Oh...teman-teman kutu buku datang nih gaes" Kata Arya.
"Liat nih, para cupu ternyata berani juga sama kita, gede juga nyalinya" lanjut Arya sambil tersenyum smrik. Lalu…
Bugh!!
Raffi terjatuh karena tiba-tiba Arya memukul perutnya.
Tak lama kemudian datang seorang bapak-bapak berpenampilan seperti Pak Ustad.
“Ini ada keributan apa? Kenapa sampai pukul-pukulan seperti ini?” kata seorang Pak Ustad itu, sambil membantu Raffi berdiri.
“Bapak ngga usah ikut campur urusan anak muda, bapak udah tua mending pergi ajh, ngga usah ikut-ikutan, nanti nyusahin!” kata Arya dengan nada tidak sopan.
“Anak muda jaman sekarang ngga punya sopan santun, kamu tidak di didik dengan baik yaa sama orang tua kamu” kata Pak Ustad sambil menarik nafas.
“Kamu seharusnya berbicara lebih sopan sama orang yang lebih tua dari kamu, dan kalau ada masalah itu diselesaikan dengan kepala dingin, jangan malah pukul-pukulan membuat keributan seperti ini” lanjut Pak Ustad menasihati.
“Saya sudah bilang sama bapak ngga usah ikut campur, ngga usah ceramah disini, dan ini dia dulu yang mulai mendorong saya tadi!” kata Arya dengan tegas.
“Ngga Pak, sebenarnya dia dulu yang mulai, tadi dia yang mendorong teman saya sampai jatuh dan dia juga merendahkan teman saya, dan lagi kemarin dia juga mengganggu kami” kata Raffi menjelaskan.
Pak Ustad pun hanya menganggukkan kepala tanda paham.
“Udah-udah, maaf Pak di sini emang teman saya yang salah, teman saya orangnya memang jahil, jadi untuk kamu dan teman kamu, saya mewakili teman saya, mengucapkan minta maaf sudah mengganggu kalian” kata Fahri sambil menghampiri mereka.
“Ngapain Lo minta maaf, Lo ngga liat tadi dia dorong Gue?” kata Arya tidak terima kepada Fahri.
“Udah mending kita pergi aja deh daripada disini nanti malah kalian yang ribut, jadi pusing Gue lama-lama” kata Alex menengahi sambil menarik teman-temannya menjauh.
“Urusan kita belum selesai, awas aja Lo besok kalo ketemu Gue lagi, bakal abis Lo sama Gue!!” kata Arya marah kepada Raffi dan teman-temannya.
“Anak muda ingat karma selalu ada, jadi berhati-hatilah dalam bertindak dan berbicara kepada sesama” kata Pak Ustad sekali lagi menasihati Arya.
Arya pun hanya menunjukkan wajah tidak sukanya, sedangkan Alex dan Fahri pun hanya mendengarkan saja.
Sedangkan Tama, Raffi dan Lugito pun pergi meninggalkan tempat tersebut di ikuti oleh Pak Ustad yang berjalan mendekat ke warung.
“Permisi Bu, saya mau menanyakan sesuatu” kata Pak Ustad kepada pemilik warung.
“Iya…ada yang bisa saya bantu Pak?” jawab pemilik warung dengan tersenyum.
“Apa Ibu tau kenapa para anak muda tadi membuat keributan di depan situ?” tanya Pak Ustad sambil menunjuk tempat yang tadi jadi tempat keributan.
“Oh iya Pak, itu tadi anak yang duduk di sini tiba-tiba menghampiri anak yang pakai kacamata sambil membawa buku, tapi tiba-tiba anak yang membawa buku jatuh didorong oleh anak yang tadinya duduk disini Pak, kalo tidak salah sebelum terjadi keributan, dan ada kemungkinan kemarin mereka terlibat masalah hingga sekarang mereka terlihat seperti tidak akur gitu Pak” kata pemilik warung menjelaskan yang dia tau. Pak Ustad pun hanya mengangguk setelah mendengarkan penjelasan tersebut.
“Jadi gitu yaa” kata Pak Ustad mengangguk paham.
“Yasudah terimakasih atas penjelasannya Bu, silakan lanjutkan pekerjaannya, saya permisi dulu” lanjut Pak Ustad lalu meninggalkan warung tersebut.
##########
Saat di tengah perjalanan pulang dari tempat biasa mereka berkumpul tiba-tiba….
“Lo ngga capek gangguin orang mulu?” kata Fahri tenang.
“Bener kata Fahri, dan Lo emang ngga takut kena karma, kaya yang Pak Ustad bilang tadi” Kata Alex menimpali perkataan Fahri.
“Ngga ngapain Gue capek, itu kan hobby Gue, juga buat hiburan Lo pada” kata Arya mulai malas dengan pertanyaan temannya itu.
“Lo kenapa pada ngomong gitu? Udah bosen temenan sama Gue?” kata Arya nyolot.
“Kalo iya kenapa? Gue udah bosen liat kelakuan Lo yang makin lama makin parah, ngga punya hati, ngga mikirin perasaan orang, suka seenaknya sendiri!” kata fahri tegas dan pergi meninggalkan kedua temannya.
“Yaudah terserah Lo, pergi aja sana, males Gue lama-lama sama Lo!” kata Arya marah.
“Lo ngga ikut-ikutan kaya dia?” tanya Arya dengan nada tinggi kepada Alex.
“Hahahaa…gila Lo biasa aja kali ngga usah nyolot gitu, asal Lo tau Gue juga udah sabar ngikutin kelakuan Lo yang kaya gini, tapi mulai sekarang Gue udah gamau ngikutin Lo lagi” kata Alex sambil tertawa dan berjalan hendak pergi tapi berhenti
“Gue sadar kalo kelakuan Gue salah dengan ngikutin kelakuan Lo yang suka ngebully orang. Gue harap Lo bisa perbaiki kelakuan Lo, karna Lo sadar kalo kelakuan Lo selama ini salah. Gue duluan!” kata Alex tegas dan pergi meninggalkan Arya sendirian.
“Argh…sialan kenapa semua jadi gini!!” teriak Arya frustasi karna di tinggal temannya. Dan dia pun segera pulang.
##########
Keesokan harinya.
“Ngga salah liat nih Gue?” kata Arya dalam hati sambil melihat Fahri yang sedang ngobrol bersama Tama dan teman-temannya. Lalu Arya mulai berjalan menghampiri mereka.
“Ngapai Lo sama sii cupu? Sekarang Lo jadi temen dia? Hahaa” tanya Arya sambil tertawa.
“Kalo iya kenapa? Masalah buat Lo?” jawab Fahri dengan memutar kedua matanya malas.
“Ngga banget deh Lo, hahahaa mau jadi cupu juga Lo kaya dia?” kata Arya mengejek.
“Seenggaknya dia punya sopan santun dan perilaku baik, ngga kayak Lo!” tegas Fahri.
Tak lama kemudian Alex pun datang menghampiri mereka dan terkejut karna ada Arya disana.
“Ehh…Lo ngapain disini? Mau ikutan kelompok bareng kita?” tanya Alex santai.
“Mending Gue pergi dari pada ikut sama kalian” jawab Arya dan pergi meninggalkan mereka semua.
Dan mereka pun melanjutkan mengerjakan tugas kelompok mereka dan sesekali sambil bercanda.
Arya pun melihat itu semua dari kejauhan dan mengingat perkataan Pak Ustad kemarin tentang karma.
“Apa ini karma buat Gue yaa, karna selama ini Gue seenaknya sendiri?” Gumam Arya pelan.
“ Apa selama ini Gue sejahat itu yaa sama orang-orang?” lanjut Arya sambil berpikir dan mulai sadar akan kesalahannya selama ini.
“Gue harus gimana sekarang” kata Arya dengan murung karna sekarang dia sendirian tidak ada teman yang menemaninya.
Tak lama setelah Arya menundukan kepalanya di atas meja, Tama pun datang menghampirinya.
“Kamu kenapa sendirian disini? Aku pikir tadi kamu pulang, daripada disini sendirian mending kamu gabung sama aku aja di sana, kan ada teman-teman kamu juga disana” Kata Tama tenang sambil duduk di depan Arya.
Arya pun hanya diam saja menghiraukan perkataan Tama.
“Yaudah kalo kamu ngga mau kesana, aku tinggal kesana yaa” kata Tama sambil berdiri hendak kembali ke meja teman-temannya berada.
“Maafin Gue yaa, maafin Gue yang kemaren gangguin Lo sama temen-temen Lo” kata Arya tiba-tiba dengan kepala yang masih tertunduk hingga membuat Tama tidak jadi meninggalkannya dan kembali duduk di tempatnya.
“Lo mau kan maafin Gue?” tanya Arya pelan, membuat Tama bertanya.
“Barusan kamu bilang apa?” tanya Tama balik.
“Gue minta maaf, Lo mau kan maafin kesalahan Gue?” kata Arya sekali lagi dengan pelan dan membuat Tama tersenyum.
“Lo tenang aja, kita udah maafin Lo kok, yaa ngga Tam” kata Lugito yang tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua dan duduk di samping Tama.
“Iyaa bener kata temen aku, aku dan temen-temen aku udah maafin kamu kok, kita tau kalo kamu itu sebenarnya anak baik dan pasti bisa berubah, jadi kami ngga terlalu memasukkan ke dalam hati kok” kata Tama menjelaskan dan Lugito hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Makasih yaa udah maafin Gue, Gue gak nyangka ternyata kalian itu emang bener-bener baik” kata Arya menyesal sudah jahat kepada mereka.
“Yaudah sekarang kita gabung sama yang di sana yukk?” ajak Lugito kepada Arya sambil menunjuk ke meja teman-teman yang lainnya.
“Emang gapapa nih Gue gabung sama kalian? Kan gue udah jahat sama kalian, Gue takut yang lain ngga nerima gue di sana” kata Arya sambil menundukkan kepalanya.
“ Gapapa udah ayok, ini aku yang ngajak loh” kata Tama berdiri sambil menarik Arya untuk ikut pindah ke meja yang ada teman-temannya yang lain.
Sesampainya di sana, Alex dan Fahri pun memutar bola matanya jengah karena melihat Arya bergabung bersama mereka.
“Muka Lo pada kenapa? ngga enak banget di liat” kata Karin heran dengan teman kelompoknya.
“Nggak papa, rasanya panas banget deh jadi males lama-lama disini” jawab Fahri malas dan kembali memainkan game di HPnya hingga membuat Karin bingung, karna dia tidak tau masalah yang sedang terjadi.
“Lo ngapain kesini? Bukannya tadi Lo bilang gamau gabung sama kita disini yaa?” tanya Alex sambil fokus pada game di HPnya.
“Hust…kalian gaboleh gitu dong sama temen kalian sendiri, mau gimana pun kelakuan temen kamu, dia tetep temen kamu” sahut Tama dengan bijak, dan membuat Karin memahami situasi dan posisinya yang tadinya tidak tahu apa-apa menjadi sedikit tahu kalau diantara teman-temannya habis ada masalah.
“Bener tuh kata Tama. Kalo kalian ada masalah itu diselesein baik-baik jangan malah pada marahan kayak anak kecil gini” kata Karin melanjutkan perkataan Tama.
Alex dan Fahri pun mulai berhenti memainkan game di HP masing-masing dan mulai menyadari kalau sikap mereka juga salah.
“Bener juga kata kalian, astagfirulloh-haladzim” kata Fahri sambil istigfar.
“Ar Gue minta maaf kalo kata-kata Gue kemaren ngga enakin Lo dan tiba-tiba marah sama Lo, padahal dulu Gue ngga pernah kayak gini dan” kata Fahri meminta maaf dan menyadari kesalahannya namun,
“Gue juga Ar, maafin Gue yaa, ngga seharusnya gue ikutan ngejauhin Lo karna masalah kemaren” sela Alex tiba-tiba memotong perkataan Fahri.
“Iya gapapa, justru karna Lo pada kayak gitu ke Gue malah ngebuat Gue sadar kalo kelakuan Gue selama ini emang salah, dan Gue mau berterimakasih karna kalian udah mau temenan sama Gue walaupun kemaren kita ada masalah, dan Gue juga mau minta maaf juga ke Lo pada karna sikap Gue selama ini yang kayak gini jadi ngga mikirin perasaan kalian, intinya Gue udah sadar dengan kesalahan Gue, dan Gue menyesal, Gue minta maaf sama kalian semua, makasih udah buat Gue sadar” kata Arya menyesali kelakuannya selama ini dengan panjang lebar dan sambil menundukkan kepalanya.
“Nah gitu dong kalo gini kan enak” sahut Ferry yang tiba-tiba dateng entah dari mana.
“Belum lebaran udah pada maaf-maafan, keren, Gue juga minta maaf yaa kalo Gue banyak salahnya sama Lo semua” kata Ferry sambil tertawa dan menunjukkan jempolnya.
Dan semuanya pun tertawa mendengar perkataan Ferry barusan.
“Jadi adem deh kalo gini” kata Karin di sela-sela tertawanya.
“Yaudah kalo udah selese mending sekarang kita kerjain tugas kelompok kita biar cepet selese. Gimana?” kata Tama mengingatkan tujuan mereka ada disini.
“Ternyata Lo bener-bener anak kutu buku yaa, ngga salah kalo kemaren Gue ngatain Lo kutu buku” kata Arya dan di sambut tawa teman-teman yang lain.
Dan akhirnya mereka pun mulai mengerjakan tugas kelompok dengan di bagi sama rata dan saling membantu satu sama lain.
SELESAI
Terimakasih sudah membaca cerita singkat ini, semoga bermanfaat.
Mohon support dan dukungannya yaa💙💙💙