"halo!..."
"halooooo!" ucap seorang gadis kecil sambil menengok ke dalam sebuah rumah kecil yang nampak gelap di tengah hutan.
Sesekali ia memandangi hujan yang lebat tepat di atasnya. Gadis itu meneguk salivanya sambil melangkahkan kaki masuk dengan tas di punggungnya.
Ia agak takut masuk lebih dalam di tempat itu, hingga memutuskan meringkuk kedinginan di depan pintu sambil menghadap keluar.
"prang!" terdengar suara barang terjatuh dari dalam yang cukup keras, membuat gadis itu kaget.
"s.s..siapa itu?" dengan suara gemetar karena takut, gadis kecil berhijab itupun memberanikan diri untuk bersuara.
Tak lama kemudian, perlahan tapi pasti, muncul seorang anak laki-laki yang tampak kumuh dan lusuh berjalan keluar menampakkan dirinya kepada Rahma.
"kamu siapa?" tanya Rahma,
tapi tak ada jawaban dari anak itu. Rahma tak sengaja melihat kaki anak itu terluka.
Ada sedikit rasa kasihan melihatnya, dengan segera Rahma membuka tasnya dan kemudian mencari sesuatu untuk membantu anak laki-laki itu. Setelah menemukan Handyplas, ia berjalan mendekat dan perlahan menempelkannya pada kaki anak laki-laki itu.
"apa sudah tidak sakit?" tanya Rahma.
anak laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya.
Rahma kemudian mengeluarkan sepotong roti, dan membagi duanya dengan anak laki-laki itu.
"makan!" ucap Rahma sambil memulai melahap rotinya tersebut.
Mereka berdua menikmati roti mereka masing-masing sambil menatap pada hujan yang dari tadi belum berhenti.
Ada banyak pertanyaan yang ingin Rahma utarakan pada anak laki-laki itu, tapi melihatnya yang dari tadi diam dan seakan tidak bisa bersuara, Rahma memutuskan untuk menatapnya saja sambil melahap rotinya.
"Rahma!, Rahma!" teriak seseorang dari luar,
"ayah!" Rahma sontak berdiri dan berteriak menandakan dia ada di tempat itu.
"Ayah!, aku di sini!"
"Rahma" Aya Rahma berlari tatkala melihat anaknya itu dan kemudian memeluknya.
Rahma berbalik ke belakang, melihat anak laki-laki itu sudah tidak ada.
Ayah Rahma kemudian membawa Rahma untuk pulang, tapi mata Rahma tetap saja menatap ke dalam rumah yang nampak gelap itu, berharap anak laki-laki itu keluar dan mengucapkan selamat tinggal padanya.
Hari berganti hari, Rahma penasaran dengan keadaan anak laki-laki itu, dan karena tempat itu cukup dekat dari sekolahnya, ia memutuskan untuk datang lagi ketempat itu sambil membawa dua bungkus roti.
Rahma berjalan kedalam hutan yang penuh dengan semak belukar yang cukup banyak memenuhi jalan setapak yang dilaluinya.
Belum sempat Rahma sampai di tempat yang dituju, tiba-tiba ada bunga-bunga yang berjatuhan dari atas pohon, membuat Rahma terdiam sejenak seakan berada di dunia fantasi.
Rahma menikmati moment itu sejenak dan menengadahkan kepalanya ke atas pohon, tapi ia tiba-tiba tersenyum menemukan anak laki-laki yang pernah dia temui beberapa hari lalu tengah berada di atas pohon itu sambil melemparkan bunga-bunga.
Tanpa sengaja, anak laki-laki itu melepaskan kantongan plastik sebagai tempat bunga-bunga yang telah ia kumpulkan, dan jatuh di atas kepala Rahma.
Anak laki-laki itu turun sambil menertawakan Rahma, Hal itu membuat Rahma yang tadinya tersenyum, malah cemberut.
Anak laki-laki itu berlari meninggalkan Rahma, sedangkan Rahma mulai mengejarnya karena kesal.
"hei! tunggu!" teriak Rahma,
"hahaha..." anak laki-laki itu hanya tertawa dikejar oleh Rahma yang masih tidak melepaskan kantong plastik di kepalanya itu.
Mereka berlari dan akhirnya sampai ditempat pertama kali mereka bertemu.
"aduh!, aku capek!" ucap Rahma sambil memegang lututnya.
"duduk yuk!" ajak Rahma,
"kruyuk...kruyuk!" terdengar suara perut dari anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu terlihat malu, dan sekarang giliran Rahma yang menertawakannya.
"hahah..."
"kamu lapar?" tanya Rahma,
"Mmm..mmm..." angguk anak laki-laki itu.
"ini!" ucap Rahma memberikan sebungkus roti.
"nama kamu siapa?" tanya Rahma, berharap kali ini dia menjawabnya.
"m...lhean.." ucapnya nampak kesulitan berbicara dengan jelas.
"Ean?"
anak laki-laki itu hanya menggelengkan kepalanya tanda Rahma salah mengucapkan namanya.
"leyhan" ucap anak laki-laki itu sekali lagi, berusaha untuk memberikan pemahaman pada Rahma.
"ohh...leyhan?, iyan?, eyang?" ucap Rahma berusaha mengerti apa yang dimaksud anak laki-laki itu.
Anak laki-laki itu memberikan kode silang pada tangannya, menandakan yang diucapkan Rahma masih salah.
"terus?, nama kamu siapa?" ucap Rahma sambil melahap rotinya.
Anak laki-laki itu menatap Rahma, dan menggerakkan tangannya sambil memberikan isyarat menulis.
"oh!..tunggu!..tunggu!" Rahma yang mengerti maksudnya langsung membuka tasnya dan mengambil buku tulis dan pulpennya.
Anak laki-laki itu segera menulis sesuatu setelah mengambil buku dan pulpen yang diberikan oleh Rahma.
Tak berapa lama, anak laki-laki itu menunjukkan apa yang ditulisnya, di situ tertulis,
"REYHAN"
Rahma baru mengerti, ternyata namanya REYHAN.
"ohhhhhh!, Reyhan"
anak laki-laki itu mengangguk,
Hari-hari selanjutnya, Rahma selalu mengunjungi Reyhan di tempat itu dan berteman dengannya.
Setelah lama mengenal Reyhan, ternyata Rahma baru mengerti, bahwa Reyhan adalah anak yang kesulitan dalam berbicara. Karena kekurangannya itulah, dia akhirnya ditinggal oleh keluarganya di rumah kosong itu sendirian. Reyhan hanya bisa mengamen untuk memenuhi kebutuhan makan dan lainnya.
Rahma sangat kasihan kepada Reyhan, dan sempat mengajak Reyhan untuk ke rumahnya saja, tapi Reyhan menolaknya karena takut merepotkan orang tua Rahma.
Sehingga, dengan sembunyi-sembunyi Rahma membantu Reyhan. Saat Reyhan mengamen, disitulah Rahma pulang bersama ayahnya menggunakan mobil, dengan kaca mobil yang hanya dibuka sedikit, Rahma kemudian memberikan uang kepada Reyhan, tanpa terlihat oleh Reyhan.
Dan hal itu ia lakukan terus menerus, hingga akhirnya Rahma ingin pindah keluar kota mengikuti ayahnya. Rahma sangat sedih, itu artinya Rahma harus meninggalkan Reyhan dan jauh darinya.
Rahma tidak ingin kepindahannya diketahui Reyhan. Tapi, saat terakhir kalinya Rahma mengulurkan tangannya dari dalam mobil untuk memberikan uang kepada Reyhan, Reyhan melihat gelang yang selalu dipakai Rahma ketika bertemu dengannya, dan itu membuatnya mengetahui bahwa yang berada di dalam mobil adalah Rahma.
Rahma hanya menggerakkan tangannya, memberikan isyarat "sampai jumpa! " kepada Reyhan dari dalam mobil sambil menghadao kebelakang, melihat Reyhan yang tengah terdiam.
Lampu lalu lintas mulai berubah menjadi hijau, Reyhan yang baru tersadar, dengan sekuat tenaga mengejar mobil Rahma,
"bruk!
Tanpa Reyhan perhatikan, sebuah mobil melaju kencang dan menabraknya.
__end