ch:1
"Yunaa!!"
seru seseorang yang jauh disana memanggil gadis cantik yang sedang menatap langit senja.
gadis cantik itu hanya melirik sebentar ke arah suara itu datang, dan menatap langit senja yang cantik nan indah itu kembali.
"Yuna! kau tahu? semua orang mencari mu!"
"membuat lelah saja" cerocos nya yang kemudian ikut duduk disamping Yuna dan memandang ke arah Yuna memandang.
Yuna hanya diam. tak sedikitpun ia menanggapi cerocosan gadis disampingnya itu. di matanya hanya ada binar jingga langit senja yang selalu ia kagumi.
"hey! aku sedang bicara dengan mu!"
"iya, aku tahu Sifa" jawabnya sedikit berdecih karna memang sudah pusing dengan cerocosan gadis disampingnya itu yang bernama Sifa, yang tak lain adalah saudari kembarnya.
ya, Yuna dan Sifa mereka adalah sepasang saudari kembar. lebih tepatnya Sifa yang lahir terlebih dahulu tapi melihat perawakan dan watak, sepertinya wajar bila orang lain selalu melihat Yuna sebagai kakak dari Sifa. dan hal itu selalu menimbulkan rasa geram Sifa. tidak ada rasa benci, hanya kesal saja pada orang yang menganggapnya lebih muda dari Yuna. walaupun memang mereka hanya selisih 10menit, tetapi bagi Sifa itu hal yang besar bagaimana bisa adiknya dibilang lebih tua darinya sendiri? membuat kesal saja.
"mengapa kau selalu saja menatap langit? apakah tidak bosan? terlebih kau selalu mengulang hal membosankan ini setiap sore"
"karna aku suka."
"kau memang aneh"
"karna kau juga aneh"
"apa kata mu?!"
"...."
selalu saja percakapan mereka di bumbui dengan perdebatan hanya karna hal sepele. Sifa yang sensitif, dan Yuna yang dingin selalu membangkitkan amarah Sifa. tapi tidak apa-apa karna syukur nya tidak pernah ada perang fisik diantara mereka, hanya perang argumen saja yang berlebihan.
"huufftt"
"sudahlah aku lelah, aku tidak ingin berdebat dengan mu"
ucap Sifa yang entah sejak kapan ia merebahkan tubuhnya di paha Yuna. menatap wajah adik kembarnya yang begitu cantik dan tersenyum..
kau cantik karna aku juga cantik, seharusnya kau berterimakasih padaku. batin Sifa
"kau sudah memandang wajah ku selama 15detik"
sergah Yuna yang membuat Sifa sedikit terkejut. ya.. hanya sedikit karna Sifa tahu kalau Yuna- adiknya itu sangatlah cerdas. ia akui kalau kecerdasan Yuna diatas Sifa dilihat dari segi manapun Yuna berkata dan bertindak,, dan juga hasil laporan tes IQ, ia lebih unggul dari pada Sifa. hanya satu kekurangan Yuna, EQ nya sangatlah rendah. dan Sifa bangga akan hal itu. ahahahah
hampir sejam mereka memandangi dan mengagumi keindahan yang Sang pencipta suguhkan. seperti nya bukan mereka, hanya Yuna saja. Ia mengalihkan pandangan nya kebawah. entah dimenit keberapa Sifa tertidur di paha Yuna.
Yuna kembali menatap langit senja yang mulai meredupkan cahaya indahnya.karna waktu sudah menunjukkan pukul 17.50 yang artinya sebentar lagi senja akan hilang dan digantikan oleh kegelapan malam yang sunyi dan tenang.
ia tersenyum tipis
kau selalu membuat hatiku tenang. batinnya
___________________________________________________
Bulan sudah menampakkan dirinya dengan gagah. langit sudah gelap ditaburi ribuan bintang gemerlap indah yang memanjakan mata. cahaya indah bintang seolah menghiasi rumah sederhana yang bisa dibilang paling cantik diantara rumah lainnya.
didalam rumah cantik itu dihuni oleh lima orang berbeda tahun lahir dan status. Sepasang suami istri paruh baya yang terlihat sangat romantis,
seorang anak laki-laki tampan yang usianya 5tahun lebih tua dari adik-adiknya, dan terakhir,, sepasang saudari kembar yang berumur 15thn itu terlihat sangat cantik dan imut.
Sifa yang sedang asik dengan ponselnya kesal lantaran ponselnya direbut secara tiba-tiba oleh kakak tertuanya
"kak Arsen! kembalikan ponselku!"
"cobalah ambil jika bisa!"
riuh suara dari kakak adik kandung itu sungguh lucu. tetapi keasyikan keusilan Arsen seketika hilang ketika adik kandung satunya lagi membuka suara.
"bisa kah kalian diam?!"
suara Yuna menghentikan riuh tawa Arsen yang senang mengusili adik-adiknya. ia merasa terganggu karna aktivitas belajarnya menjadi tidak fokus, apalagi sekarang ia sedang belajar tentang astronomi dan semacamnya yang membutuhkan ke-konsentrasi an yang cukup tetapi malah terganggu oleh suara menyebalkan dari kakak-kakaknya. walaupun Yuna masih duduk di bangku kelas 9, tapi ia sudah mempelajari tentang sistem astronomi dan astrologi. baginya pelajaran sekolah sangatlah membosankan.. ia jadikan materi diluar sekolah menjadi pelarian bosannya.memang anak cerdas itu berbeda.
mendengar ucapan Yuna, membuat Arsen dan Sifa diam. entah mengapa suara Yuna yang naik dua oktaf itu membuat tubuh mereka seketika kaku dan susah digerakkan. Yuna menatap mereka dengan tatapan yang seolah-olah mengatakan jika dia sangatlah terganggu dan ingin ketenangan.
Arsen spontan mengembalikan ponsel milik Sifa yang sedari tadi ia pegang dan Sifa kembali duduk manis memainkan ponselnya.
Arsen masih mematung dengan tubuh kaku nya sampai suara orang tua mereka meregangkan tubuh Arsen yang kaku.
"Ya ampun Arsen,, bisakah kau sehari saja tidak mengusili adik-adik mu?" suara bariton dari lelaki paruh baya yang tak lain adalah Arya, ayah mereka bertiga.
"iya.. lihatlah adikmu Yuna sedang belajar, dan Sifa juga sedang asik dengan ponselnya.. mengapa kau terus saja mengganggu mereka? haishhh"
Sena, wanita yang telah mengandung dan melahirkan mereka bertiga juga turut jengah atas perilaku Arsen, putra sulungnya.
Arsen menundukkan kepalanya, kemudian tersenyum ke arah orang tuanya
"untuk hiburan saja.. lagian rumah ini sangat sepi. adik-adik ku sibuk dengan kegiatannya masing-masing"
dengan nada polosnya ia mengatakan seperti itu.
untuk hiburan saja katanya membuat Arya dan Sena menghembuskan nafas kasar dan menggelengkan kepalanya.
Arsenio Bagaskara Putra, putra sulung dari Arya Bagaskara dan Senallin tara. dari cerita singkat diatas bisa dilihat bahwa Arsen seorang laki-laki ceria yang selalu mencari perhatian dari adiknya, Sifa natasya bagaskara putri dan Yuna lintang bagaskara putri.
Arsen mungkin terlihat menyebalkan, tapi dibalik itu semua ia sangat menyayangi adik-adiknya terlebih pada orangtuanya yang sangat berjasa dalam hidup Arsen. Arsen juga dicap sebagai pemuda jenius di manapun ia berada. juga... kulkas lima pintu menjadi julukannya dikalangan para gadis. kulkas lima pintu? iya, kamu tidak salah baca, memang seperti itulah Arsen si kulkas lima pintu. Ia seperti bunglon yang akan berkamuflase jika berada diluar rumah dan keluarganya. ia akan menjadi sangat dingin jika diluar, apalagi jika di kantor yang ia pimpin. AS GROUP, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti ia pimpin di usianya yang masih sangat muda membuat para betina selalu menjadi magnetik jika berhadapan dengan Arsen. namun ia akan sangat hangat jika sudah berkumpul dengan keluarga nya bahkan saking hangatnya Sifa dan Yuna selalu dibuat kesal olehnya, apalagi orang tuanya yang tak pernah absen memijit pelipisnya jika mereka sedang berkumpul bersama.
________________________________________________
ch:2
Hari ini minggu yang cerah.
Matahari telah menunjukkan semangat indahnya.
sinarnya mulai masuk kedalam celah-celah jendela dan menerobos masuk keserat kain horden dan memantulkan cahaya kesetiap pojok ruangan kamar tuan putri yang sedang tertidur.
perlahan matanya terbuka, mengerjapkannya beberapa kali sampai pandangannya terlihat jelas. dan dilanjutkan meregangkan otot kaku yang menyebalkan. ia melirik jam Beker di tas meja nakas sebelah kasur king size nya. ternyata sudah pukul 06.30am.
ia turun dari kasur dan membuka jendela balkon kamarnya. dihirupnya angin hangat pagi itu dalam dalam.. dan menghembuskan nya perlahan seiring kendurnya diafragma perutnya.
"huufftt..."
sudah puas menikmati angin pagi yang menyegarkan.. ia kemudian masuk ke kamar mandi didalam kamar indah miliknya.
15menit kemudian
sang putri sudah cantik dengan pakaian kasual yang terlihat sangat ayu dan cocok dikenakan olehnya. memoles sedikit bibir merah mudanya dengan lip balm, juga pelembab wajah tak lupa ia pakai. wajah cantiknya kini terlihat lebih bersinar dan mengagumkan.tak lupa, ia selalu mengikat asal rambut indahnya yang menambah kesan dewasa sang putri.
ia keluar dari kamarnya dan turun menuruni anak tangga rumahnya. terlihat jelas dari sini wonder woman nya sedang berkutat didapur menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga kecilnya.
"Bunda.. perlu aku bantu?"
melihat Bunda nya yang sedang memasak sendirian,, menggugah hati sang tuan putri untuk membantu. Bunda nya tersenyum melihat putri kecilnya sudah bangun bahkan sudah cantik di pagi ini.
"Yuna sudah cantik rupanya"
"sarapannya sudah siap. Yuna duduk saja atau panggil Sifa dan Arsen kalau bisa? Bunda yang akan memanggil Ayah" sambungnya sembari meletakan piring berisi sayuran dan lauk keatas meja makan.
"Baik Bun" jawabnya mematuhi permintaan sang Bunda dan kembali menaiki anak tangga menuju kamar Kakak-kakak menyebalkannya.
tak sampai 10menit, semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. mereka mulai memakan makanan yang dimasak oleh wanita tercinta sang Bunda. tidak ada percakapan apapun selama mereka mengisi tenaga dipagi hari. hanya sesekali terdengar suara manja dari Sifa yang ingin diambilkan makanan oleh Bundanya, dan ya.. pasti selalu Bunda Sena kabulkan dengan senyum terbaiknya.
Setelah sarapan sakral selesai,, keluarga cemara itu berkumpul di ruang keluarga dengan kesibukannya masing-masing. Ayah dan Arsen membahas sedikit tentang perusahaan yang kini di pimpin Arsen, Bunda yang sibuk menyulam, dan sepasang saudari kembar yang cantik dan imut itu sedang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Yuna terlihat sibuk dengan laptop dan buku nya, sedangkan Sifa selalu sibuk dengan ponselnya membalas atau sekedar melihat komentar dan pesan yang masuk ke akun sosmed nya. tidak heran.. karna Sifa seorang selebram cilik yang sedang naik daun. karna kecantikan dan keterampilan nya dalam dance, ia menjadi dikenal banyak orang. tak jarang ia masuk kedalam berita di televisi ataupun di hot news sosial media.
deheman sang ayah-Arya mengalihkan perhatian semua orang di ruang keluarga itu. mengerti akan deheman sang ayah,, Sang Bunda-Sena, Arsen, Sifa dan Yuna, menghentikan kegiatannya. mereka mulai membincangkan topik ringan diluar kegiatan masing-masing. sudah jelas.. disini Arsen yang paling banyak bicara tentu hal itu juga tak luput dari pertengkaran Arsen dan Sifa. entah apalagi yang Arsen bicarakan sampai menyinggung Sifa. ayah dan bunda hanya bisa menanggapi dengan senyum dan sesekali melerai mereka. namun berbeda dengan Yuna yang terlihat santai meminum teh hijau buatan Bundanya. tidak memperdulikan riuh ricuh kakak-kakaknya yang sudah seperti kucing dan tikus saja. dasar Tom and Jerry.
________________________________________________
ch:3
Ruang keluarga yang tadi terdengar ramai, kini sepi kembali. para penghuni rumah mulai bangkit dari duduknya menyibukkan diri sendiri dengan masing-masing kegiatannya. Ayah dan Bunda pergi ke pusat perbelanjaan ibu kota untuk belanja keperluan rumah, Arsen yang tadi sangat berisik tiba-tiba menjadi diam kala mengangkat telepon dari rekan bisnisnya. Ia pamit pergi ke kantor karna ada sedikit kekacauan disana. Sifa yang tahu kakak nya akan keluar rumah, ia meminta tumpangan untuk pergi ke tempatnya berlatih dance. karna satu arah, Arsen mengiyakan permintaan Sifa.
mereka sudah pergi dari rumah menggunakan mobil masing-masing. hanya tersisa Yuna seorang dirumah. padahal ia diajak Ayah dan Bundanya untuk berbelanja, tetapi karna Yuna tidak suka keramaian,, ia menolak ikut dan memilih diam dirumah mengisi waktu luangnya dengan belajar atau sekedar menonton berita. menurutnya berpergian tidaklah penting jika memang tidak ada yang dibutuhkan maka ia tidak akan belanja atau sekedar bermain. baginya waktu adalah emas jadi untuk apa membuang waktu untuk hal yang tidak penting? melelahkan saja.
lain halnya dengan Sifa, ia sangat suka berpergian. entah itu belanja atau sekedar bermain di Mall bersama teman-teman sebayanya. atau keluar membuat konten kesana-kemari untuk eksistensi sosial media nya. baginya belajar bukanlah hal yang wajib, kalau bisa nanti mengapa harus sekarang? lebih baik membuat konten untuk menghasilkan uang endors yang membahagiakan diri.
Yuna menatap jam yang kini menunjukkan pukul 11.00am. "waktu berjalan begitu cepat" gumamnya
ia pergi menaiki tangga menuju kamar nya yang berada di lantai dua. Yuna membuka handle pintu kamar. tetapi ia bingung akan melakukan apa? belajar sudah, nonton berita dunia juga sudah, bermain,,? lupakan. Yuna tidak memiliki teman.
ceklek
ia kembali menutup pintu kamar nya.
manik coklat cantiknya menatap keseluruh penjuru rumah indah yang sudah ia tempati sedari bayi.
kaki Yuna membawanya ke lantai satu menuju halaman belakang rumah yang luas. disana terdapat kolam renang, bersebelahan dengan taman bunga yang dirawat Bundanya. disana juga terdapat sebuah gazebo kayu yang sangat nyaman.
Yuna duduk di gazebo kayu itu. menikmati angin hangat yang disertai cahaya matahari membuat tubuhnya hangat kembali. ia menutup matanya
sesuatu terlintas dibenak gadis cantik itu yang membuat hatinya teriris. kembali membuka mata coklatnya,, tetapi sekarang wajah cantik nan ayu itu berubah menjadi sendu. ekspresi yang jarang dilihat oleh orang lain bahkan orang tuanya sendiri.
"sudah lima tahun lamanya, tapi kau selalu saja menjadi hantu dalam pikiran ku."
"sampai kapan rindu ini menjadi monster dalam diriku? kapankah rindu ini terobati?"
"kapan kita bertemu lagi?"
"aku merindukan mu,"
______________________________________________