Luison, Luiso atau Lobizon adalah sejenis mosnter dalam mitologi Guarani (Salah satu suku bangsa yang menyebar di kawasan Amerika Tengah dan Selatan, khususnya Paraguay).
Mereka adalah monster sejenis manusia serigala. Konon legenda monster ini banyak terpengaruh oleh werewolf di Eropa. Namun hal ini sulit dibuktikan kebenarannya, karena kisahnya menyebar secara lisan.
(Rangkuman berbagai sumber).
Kisah ini twrjadi di Kota Yuscaran di Honduras. Pada masa keemasannya, kota ini adalah penghasil emas, perak dan logam berharga lainnya.
Kota ini juga menjadi rumah bagi keluarga-keluarga terhormat dan berpengaruh di Honduras. Efeknya kota ini adalah salah satu kota pertama yang mendapat aliran listrik pada tahun 1898.
Saat kota ini kehabisan sumber dayanya, banyak pengusaha permeninggalkan kota dengan membawa pergu uang dan modal mereka.
Efeknya adalah kota ini menjadi sepi, miskin dan penuh dengan tindak kejahatan yang mengerikan. Kisah ini adalah salah satu di antaranya.
*****
Carlos Pineda membuka pintu mobil sedan tuanya di depan sebuah rumah tua. Letaknya jauh dari keramaian, di dalam sebuah hutan yang lebat.
Sementara itu, Jose Lopez yang duduk di sebelahnya terlihat gundah. Mendesah keras sambil memegang erat sepucuk pistol FN-5-7 semi automatic.
"Jose," Panggil Carlos seraya menyimpan pistol di belakang celana. "kenapa kau malah bengong? Cepat bantu aku!"
"Entahlah, Carlos." sahut Jose sambil keluar dari mobil. Sambil menatap purnama raksasa yang tersembunyi di balik awan mendung, pria plontos itu meneruskan ucapannya. "Tidakkah menurutmu kita sedikit kelewatan?"
"Kelewatan bagaimana?"
"Menculik anak kecil saat trick 'r treat." Jose mendesah. "Apa yang akan kita lakukan ini terhitung manusiawi?"
"Manusiawi? Terhadap dia!?" Telunjuknya tearah ke arah bagasi mobil penuh amarah. "Kita hanya menuntut keadilan dengan membunuh pembunuh putra-putra kita. Apa kau lupa betapa mengerikannya kondisi mereka? Dada dan perut tercabik, dengan isi perut dan paha termakan dengan rakus. Apa kau sudah lupa!?"
“Mana mungkin aku melupakannya, Carlos!” Jose menutup mulutnya dengan tangan sambil menangis. “Bagaimana aku lupa pada pandangan mata Manuel yang telah tewas. Tatapannya itu penuh kengerian dan juga ketakutan. Kita sudah belasan tahun bekerja pada El Ratto. Kita juga melakukan hal-hal kejam polisi atau pun para informan bajingan itu. Tapi kita tidak pernah bertindak sekejam ini, apalagi pada anak laki-laki berusia sepuluhtahun.”
“Lalu apa lagi yang menahanmu?”
"Aku tidak yakin kalau Pablo Flores sanggup melakukan tindakan itu!?” Jose menggebuk kap mobil dengan keras. “Aku mengenalnya sejak kecil. Dia bahkan sering menginap di rumahku dan akrab dengan putraku sehingga aku menganggapnya seperti putraku sendiri. Aku bahkan pernah jatuh cinta pada ibunya. Sekarang kau memintaku untuk membunuhnya? Tidak mungkin! Tidak mungkin aku tega melakukannya, Carlos!”
"Kalau begitu kau bisa tenang, Jose, karena aku sama sekali tidak ragu untuk membunuhnya.” Carlos berkata sambil menunjuk ke arah wajahnya sendiri. “Sekarang angkat bocah itu sebelum aku meledakkan kepalamu seperti semangka!”
Sejenak, Jose memandang wajah Carlos dengan wajah penuh kebimbangan.
Kemudian, dengan gerak lambat, ia membuka bagasi mobil dan menggendong seseorang yang dikurung di dalam sebuah karung goni.
“Cepat bawa masuk ke dalam.” Perintah Carlos sambil membuka pintu. “Lempar saja dia ke lantai.”
“Carlos, jangan...”
"Cepat lempar dia atau aku akan membunuhmu, Jose!” Carlos mengacungkan pistolnya sambil menjerit.
Jose mendesah sejenak sebelum melempar karung itu ke lantai. Secara samar, terdengar suara jeritan tidak jelas yang seakan berasal dari mulut yang disumpal.
"Jangan berisik!” Tanpa ampun, Carlos menendang karung itu hingga membuat orang yang ada di dalamnya menangis. “Jose, buka karung itu cepat!”
Sambil menggelengkan kepalanya, Jose membuka tali yang mengikat karung itu, dari dalamnya terlihat seorang anak lelaki berambut hitam dengan wajah kecoklatan yang kotor karena air mata bersampur dengan tanah. Kostum halloween bajak lautnya terlihat sobek di sana-sini karena ditarik dengan paksa.
Sebelum bangkit dari jongkoknya, Jose membebaskan mulut Pablo dari sumpalan kain.
“Paman Jose, kenapa aku...”
"Diam anak sial! Kau tidak mau aku memotong lidahmu dengan pisau dapur karatan yang tumpul ini, ‘kan!” Ancam Carlos sambil menancapkan pisau yang dipegangnya ke sebuah tiang yang ada di dekatnya, “Apa kau tahu, kenapa aku membawamu ke tempat ini?”
Ketakutan, Pablo menggelengkan kepalanya.
"Jangan berlagak bodoh, karena aku tahu apa yang telah kau lakukan pada putra-putra kami.” Carlos berkata dengan geram. “Kau telah membunuh mereka dan memakannya.”
“Aku tidak melakukannya! Aku ingin pulang. Tolong, aku ingin pulang...!!!”
"Oh, kau ingin pulang.” Sambil berjongkok Carlos mengejek. “Apa kau kangen pada ayah-ibumu?”
Pablo menganggukkan kepalanya.
"Sayang sekali, Pablo, aku ini telah...” Carlos tertawa. “Aku telah membunuh kedua orang tuamu dan kedua belas saudaramu. Selain itu, aku juga membakar rumahmu untuk menutupi perbuatanku.”
“Tidak mungkin...” Pablo menangis semakin keras.
"Tapi aku memang telah melakukannya. Apa kau tahu apa sebabnya?”
Sekali lagi Pablo hanya menggelengkan kepalanya.
“Karena mereka telah menutupi perbuatanmu, keparat!” Jerit Carlos sambil menendang tumpukan peti yang ada di dekatnya hingga hancur berkeping-keping. “Dan sekarang aku membawamu ke sini untuk membunuhmu dengan mengumpankanmu pada anjing-anjing pitbull kelaparan yang sengaja kukurungdi dalam kamar itu.”
"Tapi aku sama sekali tidak membunuh dan memakan Manuel dan Eduardo.” Pablo berkata di tengah isak tangisnya.“Percayalah padaku. Aku mengatakan yang sebenarnya.”
" BOHONG!!! Kau mau tahu darimana aku tahu.” Carlos menunjuk pada Jose. “Pepe, tetangga Jose, melihatmu melakukannya, dan dia memberitahu Jose melalui mailbox sebelum kau juga membunuhnya dengan keji.”
Pablo masih membantah walaupun jelas sekali Carlos tidak mau mendengar alasannya.
"Jose, tutup kembali mulutnya.”Carlos memberi tanda dengan gerak tangannya. Dengan segera, Jose menuruti permintaan rekannya itu.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan.”Tanya Jose sambil menghapus peluh dari dahinya.
"Ayo kita angkat dan lempar dia ke dalam kamar itu."
“Kau yakin?”
"Aku tidak pernah seyakin ini.” Carlos menyeringai.
Kemudian keduanya mengangkat tubuh Pablo yang sepertinya sudah kelelahan. Tanpa banyak perlawanan, Pablo membiarkan tubuhnya diangkat dan dilempar ke dalam sebuah kamar berisi lima ekor anjing pitbull buas yang kelaparan.
Anjing-anjing itu menyambut tubuh Pablo dengan geraman dan raungan buas sebelum berebutan mengerumuni tubuh Pablo yang terikat dengan tujuan memakan daging anak itu.
“Sekarang, kita akan menunggu sebentar sebelum mengubur sisa-sisa tubuh bocah itu di dalam hutan.” Dengan puas Carlos menutup pintu ruangan mengerikan itu. “Hei kau kenapa?”
Carlos menatap Jose yang tengah menatap kosong keluar jendela dengan kening berkerut.
"Seharusnya kita jangan melakukannya pada malam ini?” Tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela Jose berkata.
“Memangnya kenapa?”
"Malam ini bulan purnama di malam Halloween pula.” Jose menatap Carlos. “Apa kau tahu apa yang biasanya datang saat purnama tengah bersinar? Luison yang haus darah. Menurut kepercayaan Guarani, kala wajah putra ketujuh terkena cahaya purnama, maka ia akan berubah menjadi mahluk haus darah, Luison. Banyak orang mempercayai hal ini. Sampai-sampai,Presiden Argentina, Juan Domingo Perón memerintahkan bahwa seluruh putra ketujuh di Argentina harus dibaptis agar tidak terkena kutukan. Selain itu...”
“Jose, di sini bukan Argentina atau Uruguay, kenapa kau percaya isapan jempol murahan seperti ini. Kau bahkan bukan turunan Guarani.”
“Aku memang bukan, tetapi Pablo adalah keturunan Paraguay-Guarani, dia juga putra ketujuh dan yang terpenting, ...dia belum dibaptis.”
“Apa...?”
Carlos terdiam saat secara tiba-tiba terdengar suara anjing-anjing yang ada di dalam kamar melolong dan melengking ketakutan sebelum suaranya hilang sama sekali.
“Apa yang terjadi?”
“Itu buktinya Carlos!” Jerit Jose ketakutan. “Pablo adalah Luison! Anak sialan itu adalah manusia serigala.”
"Jangan konyol, cepat buka pintu itu agar aku bisa langsung menembak kepalanya!” Jose mengangguk sebelum dia membuka pintu. Tetapi di dalam sangat gelap, karena lampunya tidak menyala.
“Carlos, bagaimana ini?” Tanya Jose ketakutan.
"Cepat masuk kedalam dan nyalakan lampunya, bodoh!”
" Tetapi ...."
"Cepat!"
Berkali-kali, Jose melirik ke arah Carlos untuk meminta belas kasihan. Kemudian dengan sangat terpaksa, pria berpenampilan kasar itu masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita.
Suasana hening sejenak.
"Apa ini!" terdengar suara jeritan Jose. “Jangan mendekat! Aaaa...!!!”
Dari dalam kamar terdengar tembakan membabi buta.
“Tahan tembakanmu, keparat! Bagaimana kalau aku kena!” Dengan penuh amarah Carlos berteriak. “Jose! Hei, Jose! Kau kenapa!?Jose!?
"Dari dalam kamar tidak ada jawaban. Sambil menelan ludah, Carlos Pineda berjalan maju. Membuka pengaman pistolnya. Kemudian dari dalam kamar, terlempar sesuatu berbentuk bulat yang menggelinding hingga ke dekat kaki Carlos yang mengenakan sepatu boots tentara yang kusam.
“Astaga!”
Carlos merasakan darahnya turun saat menyadari bahwa benda berbentuk bulat itu adalah kepala Jose yang terpenggal.
Dari bekas luka d lehernya, terlihat jelas, kepala itu putus dengan cabikan taring binatang buas.
Dari dalam kamar, keluarlah Pablo yang menatap ke arah Carlos dengan mulut bergerak-gerak seperti tengah mengunyah makanan.
Sementara itu tubuh telanjangnya bersimbah darah segar. Tangan kanan bocah dua belas tahun itu terlihat memegang jantung manusia yang sudah separuh di makan.
“Setan macam apa kau ini sebenarnya?” Desis Carlos sambil mengacungkan pistolnya ke arah Pablo.“Cepat jawab!”
"Bukankah Paman Jose telah mengatakannya.” Pablo menyeringai sambil memamerkan gigi-giginya yang semakin lama semakin runcing dan panjang. “Paman benar. Akulah yang telah membunuh Manuel dan juga Eduardo. Mau bagaimana lagi. Saat itu aku merasa sangat lapar. Ibuku tidak ada uang untuk membeli makanan. Jadi..., aku terpaksa melakukannya.”
Pablo tertawa terbahak-bahak.Carlos melirik ke luar jendela.
"Purnama kembali tertutup awan.” Carlos tersenyum. “Itulah sebabnya kau kembali ke wujud manusiamu, iyakan?”
"Pintar.”Desis anak mengerikan itu sambil menyeringai.
"Berarti aku bisa membunuhmu selama purnama masih tersembunyi di balik awan, iyakan?”
Pablo melirik ke arah purnama yang kini hanya tertutup oleh awan tipis.
"Lebih baik kau menyerah saja, Paman.” Pablo berkata sambil melempar sisa jantung yang belum habis termakan ke lantai.
" Ini saatnya kita mencari tahu bukan.” Carlos menembakkan pistol semi-automatic-nya, seiring dengan kembali terlihatnya purnama yang bergantung rendah di langit yang kelam.
Di kegelapan malam. Di dalam sebuah kabin yang berada jauh di dalam hutan. Terdengar suara tembakan yang diikuti oleh raungan binatang buas. Tidak lama,terdengar jerit kesakitan Carlos Pineda. Pria kasar yang berprofesi sebagai algojo cartel narkoba itu menemui hasil yang mengenaskan.
Kemudian suasana di malam halloween itu kembali hening. Tidak ada yang terdengar selain lolongan manusia serigala.
TAMAT