Pacar Bayaran.
Semua teman ku bertanya, menanyakan pekerjaan ku. Apa yang ku kerjakan sehingga menghasilkan uang banyak, 10 juta dalam sebulan.
Sempat ada gosip tentang diriku, jika aku jual tubuh. Sekeras apapun aku menyangkalnya, aku tidak bisa menghentikan orang-orang berkomentar. Baiklah, aku menerimanya dengan sabar.
Namun, aku punya batasan.
Batasan ku sampai disini, aku sudah lelah. Padahal pekerjaan ku tidak susah, hanya berakting. Namun, aku kelelahan mendengarkan komentar orang-orang. Tak bisa lagi ku acuh, karena mentalku tak sekuat baja.
"Maaf, pak. Bisakah saya mengundurkan diri secepatnya?" Pintaku pada bos.
Aku melihat tanda tanya diwajah beliau, "Kenapa?" Hanya satu pertanyaan, namun aku sangat gugup menjawabnya.
"Saya ingin berhenti melakukannya, saya merasa tidak sanggup melanjutkan sandiwara ini." Ujar jujur apa adanya.
Beliau menghembuskan nafas panjang, menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Dari posisi tersebut, aku semakin tertekan dengan tatapan mengintimidasinya. Nyaliku menciut, hanya bisa menundukkan kepala.
Jantung ku berdebar kencang, dan nafasku putus-putus. Rasanya menyesakkan, aku ingin segera mengakhirinya. Tuhan, tolong bantu kuatkan diriku.
"Belum genap 3 bulan, masih tersisa 3 hari. Tidak bisa kamu selesaikan hingga akhir?"
Mendengarnya aku segera menggelengkan kepala cepat, astaga air mataku ingin berlomba-lomba keluar. Aku mendongak sedikit, dan dengan sedikit kesusahan menjelaskan. "Maafkan saya pak, tolong akhiri malam ini." Ucapku bersama'an dengan air mata pertamaku turun melewati pipi.
Kurang lebih 3 bulan yang lalu, aku dan bos ku yang bernama Zefano Pangestu tersebut melakukan kesepakatan kerja di luar kantor. Kami melakukannya untuk melakukan sandiwara "Pasangan kekasih" dihadapan keluarga Pak Zefano.
Intinya aku bekerja sampingan, bekerja untuk bos ku. Kerjaannya menjadi kekasihnya dihadapan keluarga beliau, hanya kekasih palsu. Kesepakatannya, aku berpura-pura menjadi kekasihnya selama 3 bulan. Dan setiap bulan aku mendapatkan bayaran 10 juta.
Rencananya setelah 3 bulan berlalu, kami akan mengatakan bahwa hubungan kami harus berhenti karena tidak mendapatkan restu dari orang tuaku. Setelah itu, pak Zefano akan bersandiwara menjadi laki-laki yang trauma dengan cinta dan tidak ingin menjalin hubungan asmara dengan wanita lagi. Semuanya dilakukan Pak Zefano untuk membukam keluarganya, agar berhenti memaksanya segera menikah.
Begitulah kisah singkatnya, aku tak bisa menjelaskan lebih banyak lagi. Karena, hati ku akan semakin sakit jika mengingat waktu yang sudah ku lalui bersamanya. Iya sakit hati , karena aku sudah menaruh hati pada bos ku sendiri. Dengan hati ini aku merasa sakit, harus berpisah dengan beliau. Setelah hari ini, kami akan kembali menjadi karyawan dan bos yang tak mengenal satu sama lain. Sama seperti dahulu...
"Baiklah!" Ucapannya, yang menjadi panah tak kasat mata menusuk ke hatiku.
Seharusnya aku senang, karena tidak harus membohongi orang-orang lagi. Akhirnya aku bisa hidup menjadi diriku sendiri, dan bisa menjalani kehidupan lama ku. Bagaimana aku bisa merasa senang jika harus berpisah dengan orang yang kucintai?
Akhirnya aku mendapatkan karma, karena berbohong. Nikmatilah dengan baik Nindy.
"Malam ini tidak perlu datang ke rumah, saya bisa menjelaskannya sendirian. Dan kamu bisa lakukan prosedurnya setelah jam 7 malam ini."
Aku hanya bisa mengangguk, lalu segera melarikan diri dari ruangan CEO. Langkah kaki ku berjalan cepat menuju toilet, sesampainya disana aku mencuci muka disaat air mata ku semakin banyak mengalir membasahi pipiku.
Ceklek!
"Woalah disini kamu, aku cariin dari tadi loh." Ujar Ranti, teman kantor ku yang juga menjadi tetangga kost-an.
"Mbak duluan ke parkiran, aku mau buang ingus dulu. Hehehe mau pilek aku mbak." Ucapku tanpa menoleh, berpura-pura sibuk mengusap hidung.
"Oke, cepetan Yo!"
"Iyaa."
____
Pantes saja orang galau suka naik motor sambil nangis, karena rasanya luar biasa. Baru kali ini aku menangis sambil naik motor, bagiku angin seperti sedang memeluk ku. Menepuk-nepuk tubuh ku, isyarat menguatkan ku. Hehehehehe aku sepertinya sudah gila.
"Kamu nangis nin?" Tiba-tiba saja mbak Ranti bertanya, aku berusaha tidak terlihat gugup agar tidak ketahuan.
"Kemasukan debu mbak, tadi juga ada asep. Perih mata ku, kelihatan kayak nangis ya hahahaha." Aku tertawa diakhir untuk mendukung kebohongan ku.
Aku tak mendengar pertanyaan lagi, sepertinya mbak Ranti sudah puas. Aku tersenyum kecut, lagi-lagi berbohong.
____
Malam hari ini terasa aneh untukku, karena selama 3 bulan kurang aku setiap malam dibuat pusing memikirkan baju untuk kupakai dan berbagai macam kata kebohongan saat akan menghadapi keluarga besar bos ku. Setiap 2 hari sekali aku akan dibawa ke rumah orang tua Pak Zefano.
"Akhirnya malam damai yang ku idam-idamkan datang, namun tak sesuai ekspektasi ku. Dulu kupikir akan sangat menyenangkan bisa seperti saat ini, namun nyatanya tidak menyenangkan hahahaha"
Tawa ku tak bisa mengundang rasa bahagia, namun semakin menyakiti hati ku. Dada ku semakin sesak, dan tak lama air mata ku turun membasahi bantal tidur. Akhirnya tangisan ku lepas, mengeluarkan segala rasa yang tertahan di kantor tadi.
Dulu aku pernah seperti ini, menangis terisak tanpa suara karena harus menahannya agar tak mengundang orang. Jika dulu aku dibuat kecewa oleh teman-teman ku, dan sekarang dengan pujaan hati ku.
Jika aku mengetahui masa depan, tak akan kubiarkan diriku menerima kesepakatan yang ditawarkan oleh Zefano Pangestu. Hanya karena uang 10 juta, aku mengorbankan hatiku.
Aku tak menyesalinya, hanya menyayangkan. Mengapa caraku bertemu dengan pujaan hati harus seteragis ini?
Ting!
Notifikasi telepon ku berbunyi mengingatkan waktu, sekarang pukul 7 malam. Segera ku ambil ponsel pemberian bos ku, mengambil kartu hp lalu mematikan dayanya. Sesuai dengan prosedur pemberhentian kerja di kesepakatan kontrak kerja, aku harus melakukan ini.
Bolehkah ku jadikan kartu ini sebagai kenang-kenangan?
Aku termenung melihat ponsel genggam mewah pemberian Zefano, seutas senyum ku berikan saat mengingat kenangan diwaktu pemberian handphone ini.
Aku tak akan membuangnya atau menjualnya, karena hatiku berkata untuk mengabadikannya. Seperti kata-kata skenario yang harus Zefano katakan malam ini dihadapan keluarganya.
"Kami putus, mengakhiri hubungan indah kami sampai disini. Karena restu tak kudapatkan, dan tak bisa kutentang apa kata takdir hanya untuk keegoisan kami."
Aku mengucapkan kata-katanya, setelah jatuh cinta padanya aku selalu ketakutan jika harinya tiba mengutarakannya. Beruntungnya aku tak harus mendengarnya malam ini.
Tok! Tok! Tok!
Aku segera membuka pintu ketika mendengar ketukan pintu, dan jantung ku rasanya mati rasa ketika melihat sosoknya berdiri dihadapan ku saat ini.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu. Saya hanya ingin memberikan sesuatu sebelum terlambat."
Di mengulurkan sebuah kotak padaku, dengan tangan yang bergetar jelas aku menerimanya.
"Bukalah."
Aku melihat ke wajahnya, bertanya apa maksudnya?
"Buka!" Nadanya memerintah penuh penekanan, akupun segera membukanya.
Tak!
Tutup kotaknya terjatuh begitu saja, karena aku tak bisa menahannya ketika melihat isi kotaknya. Gaun pernikahan, dan sebuah kertas bertuliskan beberapa kata.
"Nindy Anggraini, maukah kamu menikah denganku?" Ku baca dengan sangat pelan, dan berulang kali.
Memastikan dengan membaca lebih jelas, apa mata ku sudah rabun? Bagaimana bisa ada tulisan seperti ini??
"Mau menikah dengan saya, atau tidak?" Telinga jelas mendengarnya, Zefano bertanya sekali lagi.
Plak!
"Terima kasih untuk mimpi indahnya." Ucapku usai menampar pipi sendiri agar tersadar dari mimpi.
"Kalau sudah bangun, jangan lupa dipakai gaunnya besok pagi."
Zefano tersenyum sembari berkata demikian, ya tuhan rasanya aku tidak ingin bangun dari mimpi.
"Besok nikahnya di pabrik chocolatis ya"
"Boleh."
Kami bertukar senyuman, lalu tak lama semuanya menjadi gelap.
"Mau sampaikan kapan tidur hah?" Ucap mbak Ranti padaku.
"Aku mimpi buruk mbak, masa gara-gara lihat wajah gantengnya si pak bos sampai mimpi nikah sama dia." Ujarku dengan lesu.
"Gila lu, udah punya bini dia." Ucap mbak Ranti yang menanggapi dengan mengataiku.
"Huaaaaa." Aku menangis, gini amat nasib orang jomblo.
END
Saya ucapkan terima kasih untuk yang selesai membaca cerpen ini hingga akhir, selamat ya kamu kena prank!🤣
Heheh maaf🙏🏼:)